Setelah ditinggalkan oleh istrinya dan kehilangan putri kecilnya Bai Xinxin yang berusia enam tahun, hidup Bai Ruchen berubah sepenuhnya. Di tengah kesepian dan rasa bersalah, sebuah cahaya muncul — Sistem Pria Merana, sistem misterius yang memberinya kekuatan luar biasa setiap kali ia melakukan login harian.Namun, alih-alih menggunakan kekuatan itu untuk dirinya sendiri, Bai Ruchen mengirimkan setiap hasil login kepada Xinxin, yang sedang berkelana di dunia untuk mencari ibunya. Tanpa disadari, setiap hadiah yang diterima sang putri membuatnya tumbuh menjadi sosok kuat yang dikenal seluruh benua.Sementara dunia mulai mengguncang oleh nama “Dewa Tersembunyi”, Bai Ruchen hanya tersenyum — karena bagi dirinya, semua kekuatan itu hanyalah cara untuk melindungi putrinya dari jauh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon WANA SEBAYA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6: Terpaksa Mengandalkan Pil Buatan Ayah
Su Wanqing menyipitkan mata melihat pasukan yang sudah menunggu di atas lembah. Ia tahu Pangeran Mingze tidak mungkin datang sendirian. Namun karena ada Qiu Xuanfeng di sisinya, ia tetap tenang.
"Kau kira Guru sedang tak berdaya, lalu kau bisa mengalahkanku? Siapa yang memberimu keberanian? Leluhur Pedang Darah? Sekalipun kau tahu aku di sini, apa yang bisa kau lakukan?"
Qiu Xuanfeng memang lebih ahli mengobati daripada bertarung, tetapi obat bisa menyelamatkan sekaligus membunuh. Satu-satunya andalan Mingze, Leluhur Pedang Darah, hanya berada di Tingkat Surga tahap menengah. Qiu Xuanfeng tidak akan gentar menghadapinya.
Namun Mingze justru tertawa terbahak-bahak. "Untuk menghadapi si tua Lei Zhentian dan adikku tersayang, aku sudah bersiap sepenuhnya. Mana mungkin aku salah hitung terhadap orang lumpuh ini? Keluarlah, kalian semua!"
Puluhan sosok bermunculan di atas lembah: empat ahli Tingkat Bumi tahap akhir, lebih dari lima puluh ahli Tingkat Mendalam, dan seorang kakek Tingkat Surga tahap menengah yang menggenggam pedang merah darah dan memancarkan hawa jahat. Pasukan ini hampir dua kali lipat lebih kuat daripada rombongan Su Wanqing. Ia memang sengaja membawa sedikit orang agar tidak menarik perhatian, tetapi rahasianya bocor dan lawan menyerang saat ia lengah.
Mata Mu Qingyu terbelalak. Di samping Mingze berdiri seorang wanita cantik berusia dua puluhan yang membawa pedang.
"Yun Qinger? Kenapa kau bersama bajingan itu?"
Su Wanqing dan yang lain langsung mengerti. Tatapan mereka membeku. Pantas saja keberadaan mereka bocor.
"Yun Qinger! Berani-beraninya kau mengkhianati Yang Mulia dan Guru? Guru mengajarimu seperti putrinya sendiri, dan Yang Mulia menganggapmu saudari. Apa kami pernah memperlakukanmu dengan buruk?" bentak Mu Qingyu, gemetar menahan marah.
Yun Qinger mencibir. Ia bersandar di bahu Mingze dengan wajah puas. "Kalian memang baik padaku. Tapi aku sudah lama mengagumi Pangeran Mingze, dan aku rela melakukan apa saja untuk orang yang kucintai, termasuk mengorbankan kalian. Karena kalian sebaik itu, relakan saja nyawa kalian demi aku."
Semua orang mual melihat tingkahnya. Mingze menahan rasa jijik, lalu merangkulnya seolah sedang bersandiwara. "Akan kuberi tahu satu hal. Dia bukan hanya melaporkan keberadaanmu. Racun di tubuh si tua itu juga dia yang menaburkannya. Tak disangka, bukan? Dia sudah menjadi orangku. Tenaga dalam si tua itu terkunci, jadi dengan apa kau akan melawanku, adikku? Setelah pengganggu itu mati, seluruh Kerajaan Zixia jadi milikku. Hari ini kita selesaikan semua urusan lama!"
Wajah Su Wanqing tetap dingin. Sekalipun Dewa Pedang lumpuh, ia yakin Qiu Xuanfeng cukup untuk melindungi mereka. Lei Zhentian di atas tandu tak setenang itu. Ia memuntahkan darah. "Murid durhaka! Dasar murid durhaka!"
"Tenang, Lei Tua," ujar Qiu Xuanfeng sambil mengibaskan lengan jubahnya. "Dengan pedang darah itu saja, dua puluh ribu tahun lagi pun dia tidak akan menang melawanku. Kalian tamu di rumahku. Kalau kalian celaka di sini, apa kata orang tentang namaku?"
Tak disangka, Leluhur Pedang Darah malah tertawa dan mengaku kalah. "Kau benar, aku memang tak bisa mengalahkanmu. Tapi lawanmu hari ini bukan aku. Tugasku hanya membunuh si tua itu. Untukmu, sudah ada orang lain."
Begitu ia selesai bicara, serangga beracun tak terhitung jumlahnya terbang dari kejauhan dan menutupi langit. Awan hitam itu membawa seorang pria berjubah hitam yang auranya dingin menusuk.
"Lama tidak bertemu, Kakak Senior Qiu Xuanfeng."
Qiu Xuanfeng langsung waspada. Lei Zhentian pun putus asa. "Luo Yuanhe! Kau benar-benar bersekongkol dengan mereka!"
"Jangan bicara sembarangan. Luo Yuanhe selalu bekerja sendiri, mana mungkin bersekongkol? Aku juga tak ingin melawan Kakak Senior, tapi tawaran mereka terlalu besar."
Ia menyeringai. Kabut hitam menyelimuti tubuhnya, dan di mana pun kabut itu lewat, pepohonan layu. Bahkan Mingze dan anak buahnya menjauh. Orang takut padanya karena siapa pun yang melawan Luo Yuanhe akan mati keracunan dalam tiga langkah.
Hati Su Wanqing dan rombongannya ciut. Senyum Qiu Xuanfeng pun lenyap.
"Cukup omong kosong! Setelah membereskan si lumpuh ini, aku akan menghabisi seluruh lembahnya!"
Luo Yuanhe berubah menjadi kabut dan menukik ke arah Qiu Xuanfeng. Tenaga dalamnya berwujud ular piton raksasa yang membuka mulut hendak menelan. Qiu Xuanfeng menghantamkan kedua tangan ke roda kursinya. Ia dan kursi itu melambung ke udara, dan tenaga dalamnya berubah menjadi kucing hitam raksasa. Kucing dan ular bertarung dengan sengit. Langit menggelap, batu-batu tebing berguguran, dan bau racun bercampur bau obat memenuhi lembah. Dua ahli puncak itu memindahkan pertarungan mereka ke angkasa dan meninggalkan dasar lembah bagi yang lain.
Xinxin ternganga. Hanya karena berkelahi, langit bisa runtuh dan bumi retak? Kalau Ayah marah, sehebat apa jadinya? Pantas Ayah tidak pernah marah. Tapi pertarungan ini berbahaya. Ayah bilang pria sejati tidak berdiri di bawah tembok yang mau roboh. Haruskah ia kabur? Kakak cantik dan Kak Mu baik sekali padanya, dan sayang kalau mereka sampai mati. Xinxin tak mau mereka terluka.
Su Wanqing menaruh Xinxin di samping Lei Zhentian dengan wajah bersalah. "Xinxin, ini salahku. Kalau aku tidak membawamu, kamu tidak akan terseret kekacauan ini. Tenang, apa pun yang terjadi, aku akan membawamu keluar. Tunggu di sini bersama Kakek Lei dan jangan ke mana-mana."
Ia melambaikan tangan. Mu Qingyu dan sekitar dua puluh ahli Tingkat Mendalam menyerbu ke arah musuh. Su Wanqing sendiri melesat ke udara, aura Tingkat Surga tahap awalnya meledak. Perisai es dari es abadi menyelimuti tubuhnya, dan suhu sekitar turun drastis. Dengan pedang esnya, ia menyerang Leluhur Pedang Darah dan Mingze sekaligus.
"Kakak cantik, hati-hati!" teriak Xinxin, tetapi suaranya tenggelam dalam hiruk-pikuk pertempuran.
Berkat bakat luar biasa dan kekuatan Qi Kekaisarannya, Su Wanqing bisa menahan dua lawan itu, meski dengan susah payah. Mu Qingyu dan pasukannya yang kalah jumlah dua kali lipat cepat terdesak. Xinxin makin cemas. Kalau kakak cantik ini mati, siapa yang akan membantunya mencari ibunya?
Dari dekatnya terdengar umpatan lemah penuh amarah. "Sialan! Harimau jatuh ke dataran, dipermainkan anjing! Kalau aku tidak diracun, satu pedang saja cukup membunuh mereka semua. Setelah seumur hidup berjaya, tak kusangka aku mati di tempat seperti ini."
Lei Zhentian menyaksikan muridnya bertarung dengan hati getir. Jangankan bertarung, merangkak pun ia tak sanggup.
"Kakek Bermulut Besar," kata Xinxin hati-hati, "kalau Xinxin menyembuhkan racunmu, Kakek mau melindungi kakak cantik itu?"
"Tentu saja! Jalan pedangku adalah jalan membunuh. Siapa di dunia ini yang menandingiku? Mereka cuma ayam dan anjing yang tinggal dipotong," jawab Lei Zhentian lemah.
Xinxin langsung merogoh kantongnya. "Hmph, tadi kalian meragukan pil Ayah, tapi sekarang kalian tetap harus mengandalkannya. Lihat saja, setelah racun kalian hilang, kalian pasti percaya Ayah memang hebat. Dan kalau kakak cantik ini jadi ibu tiriku, dia pasti cantik sekali."
Pada saat yang sama, di halaman rumahnya, Bai Ruchen sedang menggali tanah untuk menanam kubis. Tiba-tiba ia menerima pemberitahuan dari Sistem.