NovelToon NovelToon
SULUNG

SULUNG

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyelamat / Action / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: DIFAN2

Sebuah kisah tentang dua dunia yang berpijak pada bumi yang sama, antara kehidupan moderen dan primitif yang akhirnya akan bersatu karena Cinta dua manusia yang saling bertemu dalam gelombang ketidak sengajaan.

Kisah dengan semua yang bercampur aduk, antara logika, cita-cita, cinta dan perburuan yang seru dan menegangkan, degan bumbu tawa yang tak disengaja.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DIFAN2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perdebatan

Ketegangan di bawah bayang-bayang dua pohon raksasa Alas Purba semakin memuncak. Jarum jam taktis di pergelangan tangan Hera terus bergerak maju.

Berkas cahaya dari senter taktis Baskara memotong kabut, menciptakan siluet panjang yang menyeramkan di atas tanah merah.

Di depan mereka, Dream Flower terus berdenyut lembut, memancarkan pendaran ungu berbingkai emas yang begitu memikat.

"Profesor Hera, saya minta dengan hormat. Mundur tiga langkah ke belakang," suara Baskara terdengar berat dan penuh tekanan militer.

Tangan kanannya yang memegang parang taktis tetap kokoh, sementara mata elangnya menyisir kegelapan di balik pita merah tebal yang membatasi kedua pohon.

Hera tidak bergerak setapak pun. Tangannya terkepal di sisi tubuh, wajahnya mengeras memancarkan kekeraskepalaan mutlak. "Baskara, singkirkan parangmu. Kita tidak sedang menghadapi musuh bersenjata. Yang ada di depan kita ini adalah revolusi medis!"

Kevin melangkah maju dengan tergesa-gesa, membetulkan letak kacamatanya yang melorot karena keringat dingin. Dia menyodorkan layar tablet digitalnya yang berkedip-kedip merah tepat di hadapan wajah Hera.

"Prof, tolong lihat ini! Ini bukan sekadar takhayul orang desa. Alat sensor kita mendeteksi lonjakan radiasi non-ionisasi dan fluktuasi medan magnetik hingga titik tidak normal di sekitar area akar pohon itu! Secara biofisika, paparan medan magnet sebesar ini dalam radius sedekat ini bisa mengacaukan ritme jantung dan merusak memori jangka pendek kita!"

Hera melirik sekilas ke arah layar tablet Kevin, lalu mendengus remeh. Sebuah senyuman menantang tersungging di bibirnya.

"Kevin, kamu ini asisten profesor atau mahasiswa tingkat satu? Gunakan otak ilmiahmu! Lonjakan Tesla yang dibaca alatmu itu bukan anomali gaib atau radiasi berbahaya. Itu adalah fenomena bio-electromagnetik skala masif!"

Kevin tertegun, menatap Hera dengan bingung.

"Maksud Profesor?"

"Struktur tanah di bawah Alas Purba ini kaya akan endapan feromagnetik purba," jelas Hera, suaranya naik satu oktav, mendominasi suasana malam yang sunyi.

"Kelompok bunga Dream Flower itu menyerap ion logam tersebut melalui akar mereka untuk memicu proses bioluminesensi.

Pendaran ungu-emas itu adalah hasil eksitasi elektron akibat interaksi antara getaran frekuensi rendah tanaman dan medan magnet bumi! Tekanan magnetik tinggi itu justru yang menjaga kestabilan senyawa aktif alkaloid di dalam kelopaknya agar tidak rusak oleh udara terbuka. Itu alasan ilmiah kenapa bunga ini hanya mekar di malam hari!"

"Tapi, Prof" Kevin mencoba memotong, namun Hera langsung menepisnya dengan lambaian tangan tegas."Tidak ada tapi-tapi, Kevin! Sebagai ilmuwan, kita tidak boleh tunduk pada ketakutan terhadap angka yang tidak kita pahami.

Data yang kamu pegang itu adalah bukti otentik bahwa hipotesis saya benar! Bunga itu hidup di lingkungan ekstrem, dan ekstrak selnya adalah satu-satunya zat di dunia ini yang memiliki densitas molekul cukup tinggi untuk menembus blood-brain barrier pada otak Mama yang rusak akibat kanker stadium tiga!"

Amara yang sejak tadi gemetar di belakang Kevin akhirnya tidak tahan lagi. Dia maju dan memberanikan diri menggenggam ujung jaket gunung Hera.

Air mata kecemasan mulai menggenang di sudut matanya yang bulat.

"Prof Hera, tolong dengarkan kami kali ini saja," mohon Amara dengan suara bergetar cemas. "Aku tahu Profesor sayang banget sama Ibu Soraya. Aku juga pengin Ibu sembuh. Tapi ingat peringatan Pak Danu sore tadi. Penduduk desa sudah menjaga tempat ini selama ratusan tahun. Pita merah ini bukan cuma pajangan. Mereka bilang ini batas dunia lain! Kalau terjadi apa-apa sama Profesor, gimana dengan Ibu? Siapa yang bakal mengolah obatnya kalau Profesor sendiri tidak bisa pulang?"

Kalimat Amara sempat membuat sorot mata Hera melembut selama satu detik. Dia menatap asisten cerianya yang kini tampak sangat ketakutan.

Namun, ego ilmiah dan rasa bersalah yang mendalam atas kondisi ibunya yang kian sekarat di rumah sakit kota kembali mengeraskan hatinya.

"Amara, ketakutan penduduk desa lahir dari ketidaktahuan mereka terhadap sains," jawab Hera dengan nada yang lebih tenang namun tetap tidak tergoyahkan. "Ratusan tahun lalu, orang menganggap gerhana matahari adalah kutukan dewa. Sekarang kita tahu itu hanya bayangan bulan. Pita merah ini hanya batas psikologis yang dibuat manusia untuk menjauhkan orang dari medan magnet tinggi agar tidak pusing atau tersesat karena kompas mereka kacau. Itu saja."

Baskara melangkah mendekat, memposisikan tubuh tegapnya tepat di depan pita merah, memblokir pandangan Hera terhadap Dream Flower.

"Profesor Hera, argumen ilmiah Anda mungkin masuk akal di dalam laboratorium kota. Tapi tugas saya di sini adalah memastikan keselamatan fisik Anda berdasarkan perintah langsung dari Tuan Leonardo. Saya tidak peduli tentang eksitasi elektron atau medan magnet. Yang saya tahu, malam semakin larut dan insting tempur saya mengatakan tempat ini tidak aman. Kita kembali ke kamp. Sekarang."

Yudha yang berjaga di perimeter belakang ikut mengangguk setuju. "Betul, Prof. Suhu udara di sekitar pohon ini turun terlalu drastis. Ini sudah menyentuh sepuluh derajat Celsius.

Tubuh kita bisa hipotermia kalau terus berdebat di sini."

Hera menatap Baskara dengan pandangan tajam, mengukur kekuatan tekad kepala pengawalnya itu. Dia tahu, berdebat lebih lama di bawah pengawasan ketat Baskara dan Yudha hanya akan membuang waktu secara percuma. Jam tangannya kini menunjukkan pukul 23.50. Waktu mekar sempurna Dream Flower semakin dekat.

"Baiklah," ucap Hera akhirnya sambil menghela napas panjang, berpura-pura menyerah. Dia membalikkan badannya membelakangi pohon raksasa itu. "Kita kembali ke kamp. Kita bicarakan lagi strategi pengambilan sampel ini besok pagi setelah suhu sedikit menghangat."

Kevin mengembuskan napas lega yang sangat panjang, langsung menurunkan tablet digitalnya. "Keputusan yang bijak, Prof. Kita bisa melakukan kalibrasi ulang pada alat sensor malam ini di tenda."

"Iya, aduh, syukurlah. Jantungku rasanya mau copot," timpal Amara sambil mengusap dadanya, senyum cerianya mulai kembali perlahan.

Baskara tidak langsung mengendurkan kewaspadaannya. Dia menatap punggung Hera yang berjalan mendahului mereka menuju area tenda.

Sebagai pria yang sudah bertahun-tahun mengawal keluarga Grahansa, dia tahu betul bahwa kepatuhan yang tiba-tiba dari seorang Hera Grahansa biasanya menyimpan rencana lain.

Baskara memberikan isyarat mata kepada Yudha untuk tetap siaga penuh sepanjang sisa malam ini.

Rombongan kecil itu berjalan kembali menembus kabut menuju kamp mereka yang berjarak seratus meter. Sesampainya di kamp, Hera langsung masuk ke dalam tenda pribadinya tanpa mengucapkan sepatah kata pun lagi, menutup ritsletingnya dengan rapat.

Di dalam temaramnya tenda, Hera duduk memeluk lututnya di atas matras. Dia mendengarkan lamat-lamat suara kasak-kusuk Kevin dan Amara yang sedang bersiap tidur di tenda sebelah, serta derap langkah kaki Baskara yang sedang mengatur jadwal ronda malam dengan Yudha di dekat sisa bara api unggun.

Hera membuka tas ransel kecilnya. Dia mengeluarkan beberapa tabung sampel steril, sebuah pisau bedah kecil, dan sarung tangan lateks. Matanya kembali melirik jam taktisnya.

23.55.

Lima menit menuju tengah malam. Ketegangan taktis di luar tenda perlahan mereda seiring dengan keheningan hutan yang kembali pekat. Namun, di dalam dada Hera, badai tekad dan watak keras kepalanya justru semakin membara. Dia menunggu dengan sabar, menghitung setiap detik yang berdetak di dalam kegelapan, bersiap untuk mengeksekusi rencana nekatnya: menyelinap keluar sendirian demi mendapatkan bunga penyembuh itu, tidak peduli apa pun risikonya.

1
FiaNasa
namanya sungsang,,apa waktu lahir kedunia dia dalam keadaan sungsang kah😄,,,hemmm...suka dg karakter sungsang ini,,kek nya dia pria jenaka n sangat menghargai wanita..kau hoda lah terus kakak mu yg pintu kulkas 2 pintu itu sungsang😂😂😂bolehlah kugoda juga si sungsang ini🤣🤣🤣🤣
FiaNasa
kok masih pada ragu akan kemampuan Hera ya padahal Hera lo.sudah banyak membantu para prajurit n rakyat alas purba
falea sezi
sulung ini jin apa demit thor secara klo. manusia kn g mungkin ya 🤭
DIFAN2: ikut i terus alur ceritanya kak,👍🙏
total 1 replies
falea sezi
mampus jd orng gk percaya mistis
FiaNasa
Hera,,,jika kau tidak bisa bersama sulung,,biar AQ saja yg menggantikan nya,,,,waddawwww🤣🤣🤣
FiaNasa: 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
total 2 replies
FiaNasa
ternyata endingnya dipending😂😂😂padahal degup jantung kalian berisik smpai terdengar ketempatku,,kupikir jafi😂😂😂😂😂
FiaNasa: kehabisan stok sabar🤣🤣🤣
total 2 replies
FiaNasa
wadidawwwww...fuananssss....fuanasssss....merinding sebadan²😂😂
DIFAN2: 😄😄😄😄😄😄😄
total 3 replies
FiaNasa
haredanggggggg🤣🤣🤣🤣
FiaNasa
tenang saja,,nanti Hera juga diantar pulang kok sama sulung
E F
dr bab brp thor?????
E F: heehhe
okey thor💪😍
total 2 replies
neni nuraeni
lnjut💪💪💪 kak thor
FiaNasa
mas sulung bener² udah posesif sama Hera,,udah jatuh cinta ...tidakkah kau merasakan getaran² cintahhh Dimata sulung her,,jgn kau abaikan cintanya mas sulung,klau kau tidak sanggup mencintainya .biar AQ saja yg mencintainya 🤣🤣🤣meledakkkkkk🤣🤣🤣
E F
lanjutty💪🙏😍
FiaNasa
sudah deh deh an beruntung mas sulung segera pulang
FiaNasa
kau pasti bisa melawannya Hera,,ayo tunjukkan kemampuanmu
E F
lanjutttt thor💪🙏😍
DIFAN2: Siap kak 👍
total 1 replies
Luna
next kak
DIFAN2: ditunggu ya kak 🙏
total 1 replies
FiaNasa
part menegangkan...
FiaNasa
pak tetua adat..klau lumutnya kurang ditempatku banyak Lo,,disawah²
FiaNasa: mau berapa kilo😄😄
total 2 replies
FiaNasa
kok AQ jadi curiga ya,,jgn² authornya ini ahli fisika😄
FiaNasa: pasti nya ini😄😄
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!