Seorang Pemuda Pengangguran Terdesak pinjol ia pun nekat menjadi Dukun Palsu/Gadungan karena menemukan beberapa barang kuno lalu muncul ide menjadi Dukun..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Al-Ashar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mbah Jambrong Mulai Curiga
Kabar tentang kesaktian "Ki Mamat Sastrogati" yang sanggup melenyapkan Jin Sengkolo, memicu semburan api gaib, hingga menarik barang hilang menggunakan Keris Bengkok Brajamukti tidak berhenti di batas RT Kampung Kalisari. Seperti bau busuk bangkai yang terbawa angin malam, desas-desus itu menyeberangi jembatan bambu Kali Garang dan merayap masuk ke wilayah Kampung Randusari—wilayah kekuasaan Mbah Jambrong.
Mbah Jambrong bukanlah dukun gadungan sembarangan seperti Mamat. Pria tua berusia enam puluhan dengan kumis melintang tebal, gigi kehitaman akibat sering mengunyah sirih, dan leher yang dipenuhi kalung taring babi itu adalah dukun kawakan yang sudah puluhan tahun membuka "praktek" pasang susuk, santet, hingga pengasihan di daerah tersebut. Bagi Mbah Jambrong, ilmu gaib adalah bisnis mata pencaharian utama yang menjamin dapur rumahnya tetap mengepul.
Malam itu, di dalam padepokannya yang remang-remang bertabur kemenyan asli dan tengkorak kera, Mbah Jambrong sedang mendengarkan laporan dari salah satu murid sekaligus calonya, Jumadi.
"Jadi... si Mamat kerempeng pengangguran itu sekarang dipanggil 'Ki Sastrogati'?" tanya Mbah Jambrong dengan suara berat garau, menyemburkan ludah merah bekas sirih ke wadah kaleng di sampingnya.
"Betul, Mbah!" jawab Jumadi berapi-api. "Hari ini saja ada hampir sepuluh orang warga Kalisari yang antre di rumahnya! Mbak Rini anak pabrik sama Mbak Wiwin janda kembang itu bahkan sudah jalani ritual 'Penyucian Jiwa'! Pasar kita di Kalisari sedot habis sama si Mamat, Mbah. Pasien yang biasanya berobat ke sini gara-gara suaminya selingkuh, sekarang larinya ke si Mamat semua!"
Mbah Jambrong mengepalkan tangannya hingga buku-buku jarinya berkerotok. Matanya yang merah menatap tajam ke arah nyala lilin di tengah ruangan.
"Mamat... anak almarhum Budi yang matanya agak juling itu?" gumam Mbah Jambrong heran bercampur murka. "Bocah ingusan yang kemarin-kemarin suka nyuri ayam sama diutang pinjol itu kok tiba-tiba punya ilmu sakti? Dari mana dia dapat pusaka Brajamukti?"
"Katanya ditarik langsung dari dasar Kali Garang, Mbah! Ada semburan api biru dua meter tiap kali dia mantrai kerisnya!" timpal Jumadi menambahkan bumbu cerita yang makin liar.
Mbah Jambrong menyeringai dingin. Sebagai dukun tua yang kenyang asam garam dunia kegelapan—maksudnya, dunia tipu-tipu mistis dan sedikit kuis psikologis—ia mencium bau ketidakberesan yang sangat menyengat. Mbah Jambrong tahu betul taktik-taktik penipuan paranormal. Mana ada ilmu gaib instan yang bisa dikuasai oleh pemuda pemalas hanya dalam waktu semalam tanpa tirakat dan puasa mutih berbulan-bulan?
"Semburan api biru... keris menyala..." Mbah Jambrong tertawa terkekeh-kekeh, suara tawa yang mirip gesekan batu asahan. "Bocah ingusan itu sedang bermain-main dengan api di wilayahku. Dia cuma pakai trik sulap pasar kaget buat membodohi emak-emak lugu Kalisari!"
Mbah Jambrong bangkit berdiri dari tumpukan bantal kusamnya, merapikan sarung tenun hitamnya. "Jumadi! Besok malam Selasa Kliwon, kita datang ke rumah si Mamat. Aku sendiri yang bakal membongkar 'kesaktian' palsunya di hadapan warga! Kalau dia memang sakti, biarlah keris bengkoknya bertarung lawan keris pusakaku!"
Sementara bahaya besar mulai merayap dari Kampung Randusari, Mamat sama sekali tidak menyadari bahwa nyawanya sedang dipertaruhkan. Di dalam rumahnya, Mamat justru sedang sibuk mengatur strategi belanja besar-besaran bersama dua sahabat karibnya, Darto dan Bowo.
Uang tunai tujuh ratus ribu rupiah hasil "praktek" sehari diletakkan di atas meja kayu. Darto dan Bowo menatap lembaran uang merah dan biru itu dengan mata berbinar-binar bagai menemukan harta karun Kuno.
"Gila, Mat! Asli gila!" seru Darto sambil menepuk dadanya sendiri. "Cuma modal teler kena bau kapur barus sama minyak kayu putih, emak-emak Kalisari pada pasrah ngasih uang seratus ribuan! Kamu bener-bener pahlawan kita!"
"Ingat, To! Uang ini kita bagi secara profesional," kata Mamat dengan gaya sok bos mafia. "Tiga ratus ribu buat bayar denda pinjol via minimarket malam ini, biar nomor WA-ku ndak diteror lagi. Dua ratus ribu buat modal beli perlengkapan ritual lanjutan. Sisanya dua ratus ribu... kita pakai makan sate kambing tiga porsi lengkap sama es jeruk!"
"SETUJU!" jerit Bowo gembira. "Tapi Mat, modal ritual lanjutan itu mau dibelikan apa saja? Masa mau pakai kapur barus terus? Tadi si Pak Sastro keluar rumahmu kepalanya teler banget, hampir nyemplung got!"
Mamat terkekeh sambil menyulut rokok kretek barunya. "Itu dia kecerdasanku! Kapur barus itu cuma tahap dasar. Buat malam Selasa Kliwon nanti—pas Mbak Wiwin datang bawa pakaian dalam hijau muda buat ritual—aku butuh efek yang lebih dahsyat!"
Mamat merogoh sakunya dan mengeluarkan secarik kertas catatan belanja gila buatan tangannya sendiri:
Tiga kantong kapur barus putih (ditumbuk lebih halus).
Dua botol obat nyamuk semprot aroma jeruk (buat disemprot ke udara biar ada sensasi dingin menusuk).
Bubuk mesiu dari petasan banting tiga bungkus (buat efek ledakan kecil di mangkuk sajen).
Senter kepala LED warna merah (dipasang di bawah meja sajen biar ada pantulan cahaya gaib dari bawah).
"To, kamu sama Bowo tugasnya beli semua bahan ini ke pasar kota besok pagi," perintah Mamat. "Ingat, jangan sampai ada warga Kalisari yang lihat kalian beli petasan banting sama senter merah! Ini rahasia dapur perusahaan Ki Mamat Sastrogati!"
"Siap, Bos Ki Mamat!" Darto menerima uang modal belanja dua ratus ribu rupiah itu sambil menyeringai lebar. "Oh iya, Mat... besok kan malam Selasa Kliwon. Katanya Mbak Wiwin mau datang ritual sendirian malam-malam. Kamu beneran mau 'nepuk' punggungnya?"
Pikiran Mamat langsung melayang membayangkan paras cantik Mbak Wiwin dengan daster batiknya. Senyum mesum terukir jelas di wajahnya yang juling.
"Ya jelas toh! Itu bagian dari janji ritual penyucian!" kata Mamat membela diri dengan alasan palsu. "Aku harus membebasakn Mbak Wiwin dari aura Jin Banaspati itu. Ini tugas suci paranormal!"
"Suci matamu pitek!" celekit Bowo sambil tertawa terbahak-bahak. "Bilang saja kamu mau menang banyak, Mat! Tapi ingat, jangan sampai keasyikan. Kalau warga tahu kamu cuma melancarkan niat mesum pakai kedok dukun, kamu bisa diarak keliling kampung tanpa celana!"
"Tenang saja, semuanya teratur dengan rapi," sahut Mamat percaya diri.
Malam Selasa Kliwon yang ditunggu-tunggu pun tiba. Langit di atas Kampung Kalisari tertutup awan hitam pekat tanpa bintang satu pun. Angin malam bertiup agak kencang, membawa aroma tanah basah dan desir daun-daun pisang yang saling bergesekan, menambah kesan mencekam yang alami.
Sejak pukul tujuh malam, Mamat sudah bersiap di dalam kamar belakangnya. Senter LED merah yang dibeli Darto sudah terpasang rapi di balik lipatan kain sarung hitam yang menutupi meja sajen, memancarkan pendaran cahaya merah remang-remang yang sangat menyeramkan di tengah kegelapan kamar. Tempat pembakaran kuningan di atas lantai sudah dipenuhi racikan baru: campuran kapur barus, bubuk mesiu petasan banting, dan kelopak bunga mawar layu.
Mamat duduk bersila di atas tikar pandan. Keris Bengkok Brajamukti terselip anggun di pinggangnya, sementara jemarinya tak berhenti memutar-mutar batu akik merah besar.
Klek... klek... klek...
Pintu depan rumah berderit pelan. Langkah kaki yang sangat halus menyusuri lorong rumah.
Mamat menarik napas panjang, merapikan duduknya, lalu mengulurkan tangannya menyalakan tombol senter LED merah di bawah meja. Pendaran cahaya merah misterius seketika menerangi wajah juling Mamat dari bawah.
Ketika pintu kamar belakang terdorong terbuka, sosok Mbak Wiwin muncul dari balik kegelapan. Malam ini, Mbak Wiwin tampak sangat memesona sekaligus tegang. Ia mengenakan kebaya tipis warna krem dengan kain jarik terikat di pinggangnya. Di tangan kanannya, ia memegang sebuah kantong plastik hitam ketat yang berisi minyak serimpi dan—sesuai syarat absurd Mamat—selembar pakaian dalam warna hijau muda.
"Ki... Ki Mamat Sastrogati..." bisik Mbak Wiwin dengan suara gemetar saat melihat pendaran cahaya merah dan asap pekat yang mulai mengepul dari mangkuk sajen Mamat.
"Masuklah, Nyai Wiwin..." panggil Mamat dengan suara bernada berat dan bergema, menahan degup jantungnya yang mendadak melompat gila saat menatap lekuk tubuh Mbak Wiwin di bawah pendaran cahaya merah. "Malam Selasa Kliwon telah tiba. Alam ghaib telah membuka pintunya untuk penyucian auramu."
Mbak Wiwin melangkah pelan, berlutut dan duduk bersimpuh tepat di hadapan Mamat. Bau wangi parfum melati yang dipakai Mbak Wiwin langsung menyerbu hidung Mamat, bertarung sengit dengan racun uap kapur barus di ruangan itu.
"Ini... ini barang syarat yang Ki Mamat minta," kata Mbak Wiwin malu-malu, menyerahkan kantong plastik hitamnya dengan tangan bergetar.
Mamat menerima kantong itu dengan gerakan lambat nan anggun. Ia mengintip sedikit ke dalam kantong, melihat sekilas kain hijau muda di dalamnya, lalu mengangguk-angguk sok bijaksana.
"Bagus. Persyaratan telah lengkap," kata Mamat. "Sekarang, berbaliklah membelakangi saya, Nyai Wiwin. Lepaskan selendangmu dan pasrahkan jiwamu. Ritual Tepuk Punggung Penyucian Brajamukti akan segera dimulai!"
Mbak Wiwin menunduk pasrah, lalu dengan pelan membalikkan badannya membelakangi Mamat. Ia melepaskan selendang tipisnya, menyingkapkan leher mulus dan bagian atas punggungnya di bawah pendaran cahaya LED merah.
Mamat menelan ludahnya yang terasa berat. Tangannya yang agak gemetar mulai terangkat ke udara, bersiap menyentuh punggung janda tercantik di Kalisari itu. Otak mesum Mamat sudah bersorak-sorak merayakan kemenangannya.
Namun, tepat pada detik ketika jemari Mamat hendak menyentuh kulit punggung Mbak Wiwin—
BRAAAAKKKKK!
Pintu depan rumah Mamat mendadak didobrak kencang dari luar hingga terhempas menghantam dinding kayu!
"MAMAT BONGKOK! KELUAR KAMU DUKUN GADUNGAN PENIPU WARGA!"
Suara bentakan menggelegar penuh aura permusuhan itu memecah kesunyian malam Selasa Kliwon. Mbak Wiwin jerit histeris dan langsung berbalik memeluk dadanya sendiri, sementara Mamat meloncat kaget dari duduknya hingga senter LED merah di bawah meja tersenggol dan menggelinding ke lantai!
Dari balik kepulan asap kamar, muncul sosok Mbah Jambrong berdiri gagah bersama Jumadi dan Pak RT Sugino beserta beberapa warga kampung yang menyusul di belakangnya! Mbah Jambrong menunjuk wajah Mamat dengan keris berluk tujuh miliknya yang berkilat tajam.
Panggung sandiwara Ki Mamat Sastrogati baru saja kedatangan musuh utama yang siap membongkar segala penipuannya!