Zinnia Arunika terlahir tanpa suara. Tapi malam itu, di tepi pantai saat perpisahan kampus, bahkan jika ia bisa berteriak sekalipun, mungkin tak akan ada yang mendengar.
Niatnya menolong seorang pria yang diduganya hendak mengakhiri hidup justru berakhir menjadi malam paling kelam dalam hidupnya.
Pria itu, Arvid Danendra, berada di bawah pengaruh obat dan kehilangan kendali. Ia merenggut kesucian Zinnia.
Sebelum pergi karena keadaan darurat, ia meninggalkan sebuah cincin dan janji tanggung jawab.
Siapa sangka, Zinnia malah mengandung anak dari malam yang ingin ia lupakan. Ia memilih diam, tak menuntut haknya karena dunia pria itu berbeda darinya. Arvid pewaris keluarga konglomerat dan keluarganya tak pernah dirancang untuk menerima gadis sepertinya.
Zinnia yang bisu memilih membisu. Namun bagaimana saat takdir memaksa mereka kembali bertemu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana 17 Oktober, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
18. Di Balik Pintu UGD
Zinnia duduk di kursi penumpang dengan tubuh sedikit membungkuk. Satu tangannya menekan perut, sementara tangan lainnya masih menggenggam ujung jas Arvid.
Sesekali ia memejamkan mata rapat-rapat ketika nyeri kembali menyerang. Jemarinya meremas kain jas itu seolah hanya benda tersebut yang bisa menahannya agar tidak kehilangan kesadaran.
Arvid meliriknya sekilas sebelum kembali memerhatikan jalan. “Sebentar lagi sampai. Bertahanlah.”
Zinnia tidak menjawab. Ia bahkan tidak mengangkat wajahnya.
“Dengar, akan saya bawa kamu ke rumah sakit. Kamu gak perlu takut.”
Genggaman Zinnia justru mengerat.
Arvid mengembuskan napas pelan. Ia tidak tahu apa yang sebenarnya dirasakan perempuan di sebelahnya itu. Namun, setiap kali melihat wajahnya yang pucat dan keningnya yang basah oleh keringat, dadanya terasa semakin sesak.
Mengapa ia merasa begitu khawatir? Ia bahkan tidak mengenal perempuan ini.
Namun, ada sesuatu dari dirinya yang terasa familiar. Entah postur tubuhnya, caranya menatap, atau perasaan aneh yang muncul sejak pertama kali Arvid melihatnya di restoran.
“Siapa nama kamu?” tanyanya lagi.
Zinnia membuka mata. Ia menoleh sedikit ke arah Arvid, tetapi nyeri yang kembali menyerang membuatnya buru-buru memejamkan mata. Jemarinya mencengkeram ujung jas Arvid lebih kuat.
Arvid tidak bertanya lagi.
Untuk sementara, ia memilih mempercepat laju mobil tanpa mengabaikan keselamatan di jalan.
Begitu tiba di rumah sakit, Arvid segera turun dan berlari mengitari mobil untuk membukakan pintu penumpang.
“Tolong! Ada yang bisa bantu?”
Dua perawat yang berjaga di dekat pintu masuk segera menghampiri setelah melihat kondisi Zinnia. Salah seorang dari mereka memanggil petugas lain untuk membawa brankar.
“Bu, bisa dengar saya?” tanya perawat sambil membungkuk di dekat Zinnia. “Bagian mana yang sakit?”
Zinnia hanya menekan perutnya.
“Baik, jangan banyak gerak dulu, ya.”
Kedua perawat itu membantu memindahkan Zinnia ke atas brankar. Namun, ketika mereka hendak mendorongnya menuju UGD, gerakan mereka terhenti.
Zinnia masih menggenggam tangan Arvid.
“Pak, kami harus segera membawanya masuk,” ujar salah seorang perawat. “Mohon lepaskan tangannya dulu.”
Arvid menunduk, baru menyadari bahwa jemari Zinnia melingkari tangannya begitu erat.
“Aku di sini,” katanya kepada Zinnia. “Kamu harus diperiksa dulu.”
Namun, Zinnia menggeleng lemah. Ia tidak tahu bagaimana menjelaskan bahwa ia belum bisa membiarkan pria itu pergi. Ia belum mendapatkan jawaban yang dicarinya. Wajahnya memang belum terlihat jelas ketika pria itu berjalan meninggalkannya di restoran, tetapi suara dan aroma parfumnya terasa begitu familiar.
Jangan-jangan ....
Tidak. Ia belum bisa memastikan apa pun.
Zinnia mencoba mengangkat tangannya, tetapi tubuhnya terlalu lemah. Setelah beberapa kali berusaha, jemarinya akhirnya terlepas dari tangan Arvid.
Brankar mulai bergerak.
Sebelum melewati pintu UGD, Zinnia mengangkat tangannya dengan sisa tenaga yang dimiliki. Tangannya terulur ke arah Arvid, gemetar, seolah memintanya untuk tidak pergi.
Langkah Arvid terhenti. Ia menatap tangan itu, lalu wajah Zinnia yang semakin jauh darinya.
Ada dorongan kuat untuk mengikuti brankar tersebut. Namun, seorang perawat segera menghalangi jalannya.
“Maaf, Pak. Kami harus menangani pasien terlebih dahulu. Silakan menunggu di luar.”
Arvid tidak mengatakan apapun. Tatapannya masih tertuju pada Zinnia sampai pintu UGD tertutup di hadapannya.
Ia berdiri beberapa detik tanpa bergerak. Lalu, perlahan, ia menurunkan tangannya.
Anehnya, ia merasa seperti baru saja meninggalkan seseorang yang sangat berarti baginya.
Padahal, ia bahkan tidak tahu siapa perempuan itu.
“Pak!”
Arvid menoleh ketika mendengar seseorang memanggilnya dari arah pintu masuk rumah sakit.
Seorang perempuan berseragam kerja bergegas menghampirinya. Napasnya sedikit terengah-engah, wajahnya menunjukkan kecemasan yang belum reda.
“Maaf, Pak. Saya Bu Rina, supervisor di Aurelle. Saya dapat kabar salah satu pegawai kami dibawa ke rumah sakit setelah mengalami kecelakaan di restoran.”
“Perempuan yang baru dibawa masuk tadi?” tanya Arvid.
Bu Rina mengangguk cepat. “Iya, Pak. Namanya Zinnia. Gimana kondisinya? Apa tadi dia jatuh cukup keras?”
“Saya gak tau seberapa parah lukanya. Dia ngeluh sakit di bagian perut.”
Wajah Bu Rina semakin cemas. “Ya Tuhan. Padahal dia baru mulai kerja di tempat kami.”
Arvid menatapnya. “Dia pegawai baru?”
“Betul, Pak. Baru beberapa hari. Hari ini dia bertugas membersihkan area restoran.”
“Siapa namanya tadi?”
“Zinnia, Pak. Zinnia Arunika.”
Nama itu membuat Arvid terdiam sejenak.
Zinnia Arunika.
Ia mengulang nama tersebut dalam hati, berusaha mencari sesuatu yang terasa akrab, tetapi belum berhasil menemukan jawabannya.
“Apakah dia memang gak banyak bicara?” tanyanya kemudian.
Bu Rina tampak sedikit terkejut mendengar pertanyaan itu.
“Zinnia tunawicara, Pak. Dia bisa mendengar seperti kita, tapi berkomunikasi pakai bahasa isyarat atau tulisan.”
Arvid mengangguk pelan. Pantas saja perempuan itu tidak menjawab pertanyaannya di mobil.
Selama perjalanan tadi, ia sempat mengira Zinnia tidak mampu berbicara karena menahan sakit. Ia tidak menyangka perempuan itu memang berkomunikasi dengan cara berbeda.
“Sudah berapa lama dia kerja di Aurelle?” tanyanya.
“Belum lama, seperti yang saya bilang tadi. Kami masih dalam tahap pengenalan pekerjaan.”
Arvid terdiam sejenak sebelum kembali bertanya, “Apa sebelumnya dia kerja di tempat lain?”
“Setahu saya, belum. Dia baru lulus S-1.”
Arvid mengernyit. “Lulusan S-1?”
“Iya, Pak. Saya juga sempat heran ketika membaca berkas lamarannya. Dia punya ijazah sarjana, tapi malah melamar jadi petugas kebersihan.”
Arvid tidak segera menanggapi. Ia tidak bermaksud merendahkan pekerjaan Zinnia. Justru, ia bertanya-tanya apa yang membuat perempuan dengan pendidikan setinggi itu memilih pekerjaan tersebut.
Namun, ia sadar bahwa ia tidak berhak menilai pilihan hidup seseorang hanya dari ijazahnya.
“Maaf, Pak,” ujar Bu Rina kemudian. “Bapak yang bawa dia ke sini, ya? Saya sangat berterima kasih. Kalo bukan karena Bapak, kami mungkin masih kebingungan nyari tau ke mana dia dibawa.”
Arvid mengangguk singkat. “Saya kebetulan ada di sana saat kejadian.”
Ia kembali menatap pintu UGD. Zinnia. Nama itu tiba-tiba membawanya pada sebuah ingatan. Gelang dengan bandul berbentuk huruf Z.
Benda yang ditemukan Juki di pantai, pada malam ketika hidupnya berubah dengan cara yang tidak pernah ia bayangkan.
Arvid segera merogoh saku dan mengeluarkan ponsel. Ia membuka percakapan dengan Juki, lalu mencari foto gelang yang pernah dikirimkan asistennya.
Bandul Z itu tampak jelas di layar. Arvid menatap foto tersebut, kemudian kembali memandang pintu UGD.
Zinnia. Apakah ini hanya kebetulan?
Ia hampir menekan tombol panggilan untuk menghubungi Juki. Namun, jarinya terhenti. Belum ada bukti bahwa gelang itu milik Zinnia. Huruf Z saja tidak cukup untuk menghubungkan keduanya.
Arvid mengunci layar ponselnya. Ia tidak ingin menarik kesimpulan terlalu cepat. Namun, sejak tadi, perasaan familiar itu semakin sulit diabaikan.
...🔸🔸🔸...
...“Terkadang, jawaban tidak datang dalam bentuk kepastian, melainkan melalui petunjuk-petunjuk kecil yang mengajarkan kita untuk lebih jeli, sabar, dan tidak terburu-buru menyimpulkan.”...
..."Nana 17 Oktober"...
...🌸❤️🌸...
.
To be continued
semoga Arvid bida menyelidiki dan mengetahui kebenarannya dan mengakuinya di depan ibunya...
Keburu kehamilanmu membesar