NovelToon NovelToon
KEPERCAYAAN YANG BERHARGA

KEPERCAYAAN YANG BERHARGA

Status: sedang berlangsung
Genre:Selingkuh / Cinta Terlarang / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Obsesi / Mengubah Takdir / Trauma masa lalu / Chicklit
Popularitas:350
Nilai: 5
Nama Author: Lewier Lisye

Sebuah kisah nyata tentang kehidupan seorang gadis cantik berhati lembut yang dipenuhi dengan beragam kebohongan yang ia buat hanya karena ia takut dengan apa yang akan ia hadapi,
Hingga akhirnya berujung dengan pernikahan yang membuatnya harus mengubur dalam dalam rasa penyesalannya karena harus berusaha untuk mencintai hal yang dicintai oleh suaminya, termasuk agama dan keyakinan pria yang menjadi pemuja hatinya itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lewier Lisye, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 28: Pintu Maaf yang Terbuka

Bagian 1: Rahasia di Balik Lembaran Suci

Sinar matahari pagi yang menembus sela-sela tirai renda di kediaman Ardiansyah memancarkan kehangatan yang telah lama hilang. Aroma kayu manis dan seduhan teh hangat memenuhi udara Puncak yang segar. Di ruang tengah, Naya duduk bersimpuh di atas permadani, memangku bayi Rayyan yang terkekeh pelan sembari menggapai-gapai jemari ibunya. Senyum indah yang dulu sempat terenggut oleh teror dan ketakutan kini kembali menghiasi wajah cantaknya.

Gavin duduk di samping Naya, menatap istri dan buah hatinya dengan pandangan mata yang sarat akan rasa syukur. Setelah badai fitnah yang dilancarkan oleh Baskara berhasil ditumpas, kehidupan mereka perlahan menemukan ritme kedamaian yang sejati. Tidak ada lagi ketakutan akan kebohongan masa lalu, tidak ada lagi kecemasan akan rahasia darah yang menghantuinya. Kebenaran telah memerdekakan jiwa Naya di bawah naungan iman yang diajarkan oleh suaminya.

"Gavin," panggil Naya lembut, memutus keheningan yang syahdu. "Terima kasih... Terima kasih untuk tidak pernah melepaskan genggaman tanganmu saat aku hampir tenggelam dalam ketakutan."

Gavin tersenyum, mengusap lembut pipi Naya yang merona. "Humairah-ku, aku tidak pernah menggenggam jemarimu karena ketaksempurnaanmu. Aku menggenggamnya karena Allah telah mempercayakan jiwamu padaku. Saling percaya adalah mahkota dari pernikahan kita."

Ketika Gavin hendak beranjak untuk mengambil berkas kantor di perpustakaan pribadi almarhumah ibunya, matanya tertuju pada sebuah Al-Qur'an tua berukuran besar dengan sampul beludru hijau yang tergeletak di rak teratas. Al-Qur'an itu adalah peninggalan almarhumah Eleanor—ibu kandung Gavin yang sewaktu hidupnya dipenuhi dengan obsesi, dendam, dan rasa benci yang mendalam kepada Naya.

Dengan penuh rasa hormat, Gavin mengambil kitāb suci tersebut. Namun, saat ia membuka lembaran demi lembaran awal, selembar amplop berwarna merah hati yang sudah sedikit memudar terjatuh dari balik lipatan pembatas ayat.

"Surat apa itu, Mas?" tanya Naya, reflek memanggil Gavin dengan sebutan hangat yang membuncah dari lubuk hatinya.

Gavin memungut amplop tersebut. Di bagian depannya, tertera tulisan tangan yang sangat dihafalnya—tulisan tangan Eleanor yang tajam dan tegas, namun kali ini terlihat agak gemetar.

Untuk Putraku, Gavin Ardiansyah. Dibaca saat hatimu telah dipenuhi cahaya yang tak bisa kupahami.

Dada Gavin berdesir hebat. Ia duduk kembali di samping Naya. Dengan tangan bergetar, Gavin membuka segel amplop tersebut dan membacakan corresponds tersebut di hadapan istrinya.

Bagian 2: Pengakuan Sang Penguasa Jiwa yang Terluka

Gavin, putraku yang sangat kucintai...

Jika kamu membaca surat ini, artinya aku sudah tidak lagi bernapas di dunia yang selama ini kubangun dengan kesombongan dan kemarahan. Aku tahu, di matamu dan di mata wanita yang kamu pilih—Naya—aku adalah sesosok ibu yang kejam. Aku adalah wanita yang terobsesi dengan kehormatan keluarga, wanita yang menyebarkan racun prasangka, dan wanita yang hampir menghancurkan kebahagiaanmu demi mempertahankan ego masa laluku.

Namun Gavin, dosa terbesarku bukanlah kebencianku pada Naya. Dosa terbesarku adalah rahasia haram yang kusimpan rapat-rapat dari dunia selama delapan belas tahun ini.

Jauh sebelum kamu menikah, jauh sebelum tuduhan cinta terlarang dan skandal yang menguncang keluarga kita terjadi, aku pernah melakukan kesalahan fatal di masa mudaku. Saat rumah tanggaku dengan ayahmu berada di ambang kehancuran karena kekuasaan dan harta, aku terjerumus dalam perselingkuhan singkat dengan seorang pria pengusaha di London.

Dari hubungan terlarang itu... aku melahirkan seorang anak perempuan.

Naya menahan napasnya. Tangannya menutup mulutnya yang bergetar seketika. Gavin menghentikan bacaannya sejenak, matanya membelalak penuh ketidakpercayaan. Peluh dingin mulai membasahi dahinya.

Aku terlalu pengecut untuk mengakui keberadaannya, lanjut isi surat itu. Aku takut nama besar Ardiansyah hancur. Aku takut kehilangan posisi dan kehormatanku. Maka, begitu bayi perempuan itu lahir di sebuah klinik terpencil di pinggiran kota London, aku menyuap pengasuh dan membuang anak itu ke sebuah panti asuhan Katolik di kota kecil Bristol. Aku memberinya nama Ayla.

Selama belasan tahun, aku mencoba mengubur ingatan tentang Ayla di bawah tumpukan harta dan kekuasaan. Namun, setiap kali aku melihatmu tumbuh menjadi pria yang jujur, rasa bersalah itu menggerogoti jiwaku bagaikan racun. Aku menjadi wanita yang pemarah dan penuh dengki karena hatiku sendiri mati dimakan penyesalan.

Gavin... Ayla adalah adik kandungmu seibu. Dia tidak bersalah atas dosa-dosa ibumu. Dia tumbuh tanpa kasih sayang seorang ibu, hidup dalam panti asuhan dengan label anak yang dibuang. Saat ini, Ayla mungkin sudah berusia delapan belas tahun. Jika di dalam hatimu masih ada sedikit rasa ampunan untuk ibumu yang berdosamu ini... carilah dia. Selamatkan dia dari penderitaan yang kubuat.

Dan untuk Naya... jika surat ini jatuh ke tanganmu, aku tidak meminta maaf atas apa yang telah kulakukan padamu, karena aku tahu dosaku terlalu besar. Namun kuketahui satu hal: keimanan dan kepasrahan yang kamu miliki adalah hal yang tidak pernah kupunya sepanjang hidupku. Bimbinglah anakku yang terbuang itu... agar dia tidak berakhir malang seperti ibunya.

Bagian 3: Goncangan Jiwa dan Pilihan Hati

Keheningan yang menyiksa kembali melingkupi ruangan tersebut. Surat di tangan Gavin perlahan terkulai ke tanah. Pria berdarah dingin yang biasanya selalu tampil tegap dan tangguh itu kini menyembunyikan wajahnya di balik kedua telapak tangannya. Bahunya naik turun, menahan isak tangis yang pecah dari kedalaman jiwanya.

Ibu yang selama ini disangka hanyalah korban dari kerasnya persaingan keluarga, ternyata menyimpan trauma masa lalu dan luka kelam yang begitu melukai kesucian rumah tangga mereka. Perselingkuhan, anak yang dibuang, dan obsesi yang menutup mata hati—semuanya kini terhampar telanjang di hadapan Gavin.

"Ibu..." ratap Gavin dengan suara serak yang memilukan. "Mengapa Ibu tega melakukan ini? Mengapa Ibu menyimpan rahasia sebejat ini sembari menghakimi orang lain?!"

Naya merangkul bahu suaminya dari samping, membiarkan Gavin menumpahkan rasa kecewa dan kehancuran hatinya. Naya paham betul apa yang dirasakan Gavin. Ia pernah berada di posisi itu—posisi di mana rekam jejak kebohongan dan trauma masa lalu meremukkan kepercayaan diri seseorang.

"Mas..." bisik Naya lembut, menahan air mata yang ikut menetes membasahi pipinya. "Jangan membenci almarhumah Ibu. Beliau telah kembali kepada Sang Pencipta, membawa seluruh penyesalannya."

Gavin mengangkat wajahnya, menatap Naya dengan mata merah yang dipenuhi duka mendalam. "Naya... Ibu telah sangat kejam padamu. Beliau menghina masa lalumu, meragukan kesucianmu, bahkan berulang kali berusaha memisahkan kita. Dan sekarang... beliau meminta kita menerima anak dari perselingkuhannya? Anak dari wanita yang pernah hampir menghancurkan hidupmu?"

Gavin menggenggam kedua tangan Naya, suaranya bergetar penuh rasa bersalah. "Aku tidak akan menyalahkanmu jika kamu menolak ini, Naya. Aku tidak akan memaksa jiwamu untuk menerima bayang-bayang dari wanita yang telah melukaimu begitu dalam. Ini terlalu berat untukmu."

Naya memandangi wajah suaminya, lalu mengalihkan pandangannya pada bayi Rayyan yang tertidur lelap dalam buaian. Pikiran Naya melayang pada perjalanan hidupnya sendiri.

Dahulu, Naya adalah seorang gadis yang hidup dalam cangkang kebohongan demi melindungi dirinya dari siksaan mental. Ia pernah berpura-pura, berbohong, dan menyembunyikan identitasnya demi bertahan hidup. Namun di atas sajadah cinta bersama Gavin, ia diajarkan tentang arti keikhlasan, taubat, dan pengampunan tanpa syarat. Agama Islam yang dianut suaminya tidak mengajarinya tentang dendam, melainkan tentang membuka pintu maaf seluas-luasnya bagi jiwa-jiwa yang tersesat.

"Mas," ucap Naya dengan keteguhan hati yang memancarkan keindahan iman seorang wanita muslimah. "Anak gadis itu... Ayla... dia tidak pernah meminta untuk dilahirkan dari dosa masa lalu ibunya. Dia adalah korban dari ketakutan dan kesombongan."

Naya memegang dada suaminya, menyalurkan kehangatan yang mengalir dari lubuk hatinya yang paling suci.

"Jika dulu Allah menggerakkan hatimu untuk menerimaku dengan segala kebohongan dan trauma masa laluku... jika dulu kamu sudi membimbingku dari kegelapan menuju indahnya Islam... maka bagaimana mungkin aku menutup pintu rumah dan hatiku untuk adik kandungmu sendiri?"

Gavin tertegun, matanya membelalak menatap Naya dengan rasa takjub yang tak terhingga. "Naya... kamu... kamu bersedia memaafkan Ibu dan menerima Ayla?"

"Aku sudah memaafkan Ibu Eleanor sejak pertama kali aku bersujud pasrah di atas sajadahmu, Mas," jawab Naya dengan senyuman yang teramat tulus meski air mata terus mengalir di pipinya. "Cinta yang kupelajari darimu adalah cinta karena Allah. Dan karena Allah pulalah, pintu maaf di hatiku akan selalu terbuka wide untuk adikmu."

Gavin tak sanggup lagi menahan haru. Ia merengkuh Naya ke dalam pelukannya yang erat, mencium dahi istrinya berulang kali dengan rasa hormat dan cinta yang kian membumbung tinggi. Wanita yang dulu dianggapnya lemah dan penuh rahasia kini telah bertransformasi menjadi sosok malaikat pelindung yang membawa kedamaian abadi dalam hidupnya.

Bagian 4: Pencarian di Kota Berkabut

Dua minggu kemudian.

Keputusan telah diambil dengan bulat. Didorong oleh rasa tanggung jawab moral dan bisikan nurani, Gavin dan Naya terbang menuju Inggris, membawa serta bayi Rayyan dan seorang pengasuh kepercayaan. Perjalanan menuju kota Bristol diiringi oleh hujan gerimis yang membasahi kaca jendela kendaraan yang mereka tumpangi dari Bandara Heathrow.

Kota Bristol yang dingin dan dipenuhi bangunan berarsitektur Victoria seolah menggambarkan aura kesepian yang selama belasan tahun ini melingkupi kehidupan Ayla.

Melalui bantuan pengacara keluarga Ardiansyah di London, jejak Ayla berhasil dilacak. Gadis itu tidak lagi berada di panti asuhan tempat ia dibuang. Setelah berusia delapan belas tahun dan keluar dari sistem panti, Ayla hidup melarat, bekerja sebagai pelayan di sebuah kedai kopi tua di pinggiran dermaga kota, sembari tinggal di sebuah kamar sewaan yang sempit dan kumuh.

Mobil sedan hitam yang ditumpangi Gavin dan Naya berhenti di depan kedai kopi beratap kayu yang kusam. Hawa dingin merasuk hingga ke tulang saat mereka melangkah keluar.

Naya menggandeng lengan Gavin dengan erat. Di dalam kedai yang remang-remang itu, mata mereka menangkap sosok seorang gadis muda yang sedang mengelap meja kayu. Gadis itu mengenakan sweater rajut yang sudah berserabut di bagian lengannya, rambut pirang kecokelatan terikat asal-asalan, dan wajahnya tirus dengan lingkaran hitam di bawah matanya.

Namun, yang membuat dada Gavin bagaikan dihantam ombak besar adalah garis wajah gadis itu. Hidungnya yang mancung, bentuk bibirnya, dan sorot matanya yang dingin... sangat persis dengan almarhumah Eleanor!

"Ayla..." bisik Gavin lirih, suaranya tercekat di tenggorokan.

Gadis itu mendongak saat mendengar langkah kaki mendekat. Matanya yang tajam dan penuh defensif menatap Gavin dan Naya dari atas ke bawah.

"Kami sudah tutup," ucap gadis itu dalam bahasa Inggris dengan nada suara yang kasar dan dingin, khas seorang anak jalanan yang terbiasa bertahan hidup dari kekejaman dunia. "Silakan keluar."

Gavin melangkah maju satu tapak, matanya berkaca-kaca. "Ayla... namamu Ayla, bukan?"

Gadis itu mengerutkan keningnya, pegangannya pada kain lap mengeras. "Siapa kalian? Bagaimana kalian tahu namaku? Jika kalian dari lembaga sosial atau penagih sewa kamar, aku sudah bilang aku akan membayar minggu depan!"

"Kami bukan penagih utang, Ayla," potong Naya lembut, melangkah mendampingi suaminya. Naya menatap gadis itu dengan pandangan mata yang dipenuhi kehangatan seorang kakak perempuan, tanpa ada sedikit pun jejak kebencian atau penghakiman. "Kami datang dari Indonesia... jauh-jauh ke sini hanya untuk mencarimu."

Ayla tertawa sinis, sebuah tawa yang sarat akan kepahitan hidup. "Indonesia? Aku tidak kenal siapa pun di Asia! Jangan ganggu aku, atau aku akan memanggil pemilik kedai!"

Gavin merogoh saku jasnya, mengeluarkan selembar foto tua yang didapatnya dari dokumen rahasia Eleanor. Foto itu memperlihatkan Eleanor sewaktu muda, memegang seorang bayi mungil di sebuah rumah sakit di London, dengan gelang identitas bertuliskan nama Ayla.

Gavin meletakkan foto itu di atas meja kayu. "Wanita di foto ini... adalah ibumu. Nama beliau adalah Eleanor Ardiansyah."

Ayla membeku. Kain lap di tangannya terjatuh ke lantai. Matanya terpaku pada foto tua tersebut. Bayangan masa kecilnya di panti asuhan—saat ia hanya bisa menangis iri melihat anak-anak lain dijemput oleh orang tua mereka—kembali menyeruak dengan hebat. Rasa benci, penolakan, dan rasa dibuang yang terkumpul selama delapan belas tahun meledak seketika di dalam dadanya.

"Bohong!" teriak Ayla histeris, menyapu foto itu hingga terbang melayang jatuh ke lantai! "Ibu saya sudah mati! Dia membuangku seperti sampah di panti asuhan! Aku tidak punya ibu! Aku tidak punya keluarga!"

Napas Ayla terengah-engah, matanya memerah menahan tangis kegetiran yang amat sangat. "Untuk apa kalian datang sekarang?! Setelah belasan tahun aku membusuk di tempat ini, dingin dan kelaparan, kenapa baru sekarang kalian datang berpura-pura peduli?!"

Bagian 5: Air Mata di Atas Sajadah Pembawa Damai

Melihat histeria Ayla, Gavin hendak melangkah mendekat untuk menenangkan adiknya. Namun, Ayla mendorong dada Gavin dengan kasar, meluapkan seluruh kemarahan dan rasa sakit hati yang terpendam.

"Pergi! Aku tidak butuh belas kasihan kalian! Pergi dari sini!" jerit Ayla dengan suara serak yang memilukan, air mata frustrasi akhirnya pecah membasahi pipinya yang pucat.

Di tengah guncangan emosi yang membakar kedai tersebut, Naya bertindak di luar dugaan. Ia tidak mundur, tidak takut, dan tidak merasa tersinggung oleh sikap kasar Ayla. Sebaliknya, Naya melangkah maju dan langsung merangkul tubuh Ayla yang bergetar hebat ke dalam pelukannya!

Ayla terperanjat. Tubuhnya mematung kaku. Ia berusaha merontak, mendorong bahu Naya. "Lepaskan aku! Jangan sentuh aku!"

"Menangislah, Ayla... Menangislah..." bisik Naya lembut di telinga Ayla, mempererat pelukannya. "Keluarkan semua rasa sakit dan amarah yang kamu simpan sendirian selama ini. Kamu tidak perlu lagi berpura-pura kuat."

Sentuhan hangat dan kelembutan pelukan Naya seolah meruntuhkan dinding pertahanan yang dibangun Ayla selama belasan tahun. Rasa dingin yang membekukan hatinya melumer seketika oleh ketulusan yang tidak pernah ia rasakan dari siapa pun di dunia ini.

Ayla akhirnya berhenti meronta. Tangannya perlahan meremas belakang mantel Naya, dan gadis muda itu terisak-isak hebat di bahu Naya, menangis meraung-raung meluapkan penderitaan seorang anak terbuang yang mendambakan kehangatan sebuah keluarga.

"Kenapa... kenapa dia membuangku?" rintih Ayla di sela isak tangisnya yang memilukan. "Apa salahku? Kenapa dia meninggalkanku di tempat dingin itu?"

Naya mengusap punggung Ayla dengan penuh kasih sayang, air matanya sendiri menetes membasahi bahu gadis itu.

"Ibumu telah berbuat salah yang sangat besar padamu, Ayla..." ucap Naya dengan suara bergetar penuh empati. "Beliau hidup dalam ketakutan dan kesombongannya sendiri hingga akhir hayatnya. Tapi di akhir nafasnya, beliau sangat menyesal... Beliau meminta kami untuk mencarimu, untuk membawamu pulang."

Gavin melangkah mendekat, berlutut di samping adiknya dan mengusap kepala Ayla dengan lembut.

"Aku adalah kakakmu, Ayla," ucap Gavin penuh keteguhan. "Aku Gavin... abang kandungmu seibu. Aku tidak tahu seberapa besar rasa sakit yang telah kamu lewati, tapi aku bersumpah di hadapan Allah, kamu tidak akan pernah lagi merasa sendirian atau dibuang. Rumah kami adalah rumahmu."

Ayla mendongak, menatap Gavin dan Naya bergantian melalui bayangan air matanya. Di mata pria tegap itu, ia tidak melihat kebohongan. Dan di mata wanita muslimah berhijab lembut di hadapannya, ia menemukan sebuah kedamaian dan pengampunan yang tak terbatas.

Bagian 6: Cahaya Baru di Rumah Puncak

Satu bulan kemudian.

Hawa sejuk kawasan Puncak kembali menyapa pagi yang cerah. Di halaman belakang rumah keluarga Ardiansyah, rumput hijau segar basah oleh embun pagi. Gemericik air kolam dan suara burung-burung berkicau menyambut hari baru yang penuh dengan harapan.

Ayla duduk di kursi kayu di beranda, mengenakan pakaian hangat yang sopan. Wajahnya yang dulu tirus dan pucat kini mulai berisi dan memancarkan rona kehidupan. Di pangkuannya, bayi Rayyan sedang tertawa terkekeh-kekeh saat Ayla menggoyangkan mainan kerincingan di depan matanya. Senyum tipis yang tulus akhirnya terukir di bibir gadis muda yang dulu selalu dipenuhi kehitaman dendam itu.

Dari balik pintu kaca, Naya melangkah keluar membawa nampan berisi teh hangat dan camilan tradisional. Naya mengamati interaksi antara Ayla dan Rayyan dengan rasa syukur yang memenuhi seluruh relung dadanya.

"Dia sangat menyukaimu, Ayla," ujar Naya lembut sembari meletakkan cangkir teh di atas meja.

Ayla mendongak, menatap Naya dengan canggung namun penuh rasa hormat. "Mba Naya... terima kasih. Untuk semuanya. Untuk tidak membenciku... padahal aku tahu dari Mas Gavin betapa almarhumah Ibu dulu pernah sangat jahat padamu."

Naya duduk di samping Ayla, menggenggam jemari adik iparnya itu dengan hangat.

"Ayla, di dalam keyakinan yang kupelajari dari suamiku, tidak ada dosa yang ditanggung oleh orang lain. Masa lalu ibumu adalah urusan beliau dengan Sang Pencipta. Tugas kita yang masih hidup adalah saling menyayangi dan memperbaiki apa yang telah rusak."

Naya menatap ke arah bukit yang menghijau di kejauhan. "Dulu, aku adalah wanita yang hidup dalam ketakutan dan penuh dengan kebohongan. Aku takut pada dunia, takut pada masa laluku sendiri. Namun cinta dan agama yang dibawakan oleh Mas Gavin mengajariku bahwa kebenaran dan keikhlasan adalah satu-satunya jalan menuju kedamaian abadi. Jika aku bisa mendapatkan kesempatan kedua untuk bahagia, kamu pun berhak mendapatkannya."

Mata Ayla berkaca-kaca. Ia menyandarkan kepalanya di bahu Naya dengan penuh rasa aman—rasa aman yang tidak pernah ia dapatkan sepanjang hidupnya. "Mba Naya... maukah Mba mengajariku? Mengajariku tentang kedamaian yang Mba miliki... tentang cara memaafkan seperti yang Mba lakukan?"

Naya tersenyum manis, mengusap lembut kepala Ayla. "Dengan senang hati, Adikkku... Kita akan belajar bersama-sama."

Dari arah dalam rumah, Gavin melangkah keluar mengenakan baju koko putih yang bersih pascashalat Dhuha. Langkah kakinya terhenti saat melihat pemandangan indah di depannya: istrinya, adiknya, dan buah hatinya berkumpul dalam kehangatan cinta yang utuh. Keraguan, dendam, dan trauma masa lalu yang pernah mengancam untuk meremukkan ikatan mereka kini telah sepenuhnya lebur, disucikan oleh air mata pengampunan dan keikhlasan iman.

Gavin mendekati mereka, merangkul bahu Naya dan Ayla secara bersamaan, memandang langit biru Puncak yang membentang luas tanpa awan gelap.

Duka dan kebohongan masa lalu memang telah mengukir garis luka yang dalam. Namun di atas sajadah cinta dan keimanan yang suci, luka-luka itu kini telah berubah menjadi benih kebahagiaan manis setelah patah hati—sebuah takdir baru yang diridai oleh Sang Maha Pengasih hingga ke jannah-Nya.

Catatan Cerita Lanjutan (Menuju Bab 29)

Ketika kedamaian dan kehangatan keluarga Ardiansyah tampak telah sempurna dengan hadirnya Ayla di tengah-tengah mereka, sebuah ancaman baru yang tak terduga mulai mengintai dari kegelapan. Masa lalu kelam Ayla di Inggris ternyata menyimpan sebuah ikatan terlarang yang belum usai. Seorang pria berbahaya dari geng jalanan Bristol—pria yang dulu pernah memanfaatkannya dan memiliki obsesi gelap padanya—tiba-tiba melacak keberadaan Ayla hingga ke Indonesia!

Di sisi lain, muncul sebuah ujian baru dalam keharmonisan rumah tangga Naya dan Gavin ketika hasil pemeriksaan kesehatan pascapersalinan Naya menunjukkan sebuah kondisi medis yang mengancam jiwanya jika ia tidak segera menjalani perawatan intensif di luar negeri. Mampukah Gavin melindungi adik dan istrinya sekaligus dari kejaran obsesi masa lalu dan ancaman takdir yang memilukan? Saksikan ketegangan dan keharuan yang semakin membakar emosi dalam BAB 29: Di Bawah Bayang-Bayang Cinta dan Pengorbanan!

#Hai readers, mau tahu bagaimana kelanjutan perjuangan Gavin dalam melindungi Naya dan Ayla dari ancaman masa lalu tersebut? like komen dan subscribe dulu dong, mau kritik juga boleh banget yah, kuy lanjut 😘

1
Renjana
hadir kak😊
Lisye Aisyah Hematang: Makasih kak 🙏
total 1 replies
azza Binury
mudahan pembacanya rame ya kak. Kata-kata nya bagus lho ... aku masih belajar
Lisye Aisyah Hematang: Amin, makasih kak... Semangat yah kak, pasti bisa 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!