NovelToon NovelToon
AKULAH SANG PENGUASA JIWA

AKULAH SANG PENGUASA JIWA

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Action / Fantasi
Popularitas:6.4k
Nilai: 5
Nama Author: Otna Forever

Xiao Yi pernah menjadi pembunuh yang ditakuti dunia. Namun sebuah konspirasi merenggut nyawanya.

Ketika membuka mata kembali, ia justru terbangun di Benua Yanlong, dalam tubuh seorang tuan muda lemah yang baru saja dikhianati tunangannya dan dibunuh sepupunya sendiri.

Semua orang menganggapnya sampah.
Mereka tidak tahu bahwa Xiao Yi yang dahulu telah mati.

Kini, di tubuh itu hidup seorang petarung yang terbiasa berjalan di antara darah dan kematian. Lebih mengejutkan lagi, Pedang Bingluan yang ikut menyebabkan kematiannya muncul kembali sebagai Jiwa Bela Diri misterius.

Dengan kehidupan kedua dan kekuatan yang seharusnya tidak dimilikinya, Xiao Yi hanya memiliki satu jawaban bagi mereka yang ingin menginjaknya lagi:

Jika dunia ini menghormati yang kuat, maka ia akan berdiri di puncaknya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Otna Forever, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23: Lawan yang Sebenarnya

Ular Awan Api bukanlah Jiwa Bela Diri biasa.

Asalnya merupakan Binatang Roh yang sangat ganas. Dibandingkan Serigala Api maupun Banteng Api Liar, kekuatan makhluk itu berada pada tingkatan yang sama sekali berbeda.

Seekor Ular Awan Api dewasa bahkan mampu menelan Binatang Roh yang lebih lemah dalam sekali serangan.

Tak mengherankan jika setelah berubah menjadi Jiwa Bela Diri, tingkatnya mencapai Tingkat Kuning.

Di atas arena, tubuh ular raksasa yang diselimuti kobaran api itu hampir memenuhi sepertiga panggung.

Ekor panjangnya bergerak.

Bam!

Permukaan batu langsung pecah dan membentuk lubang.

Para anggota Klan Xiao yang menonton menarik napas.

“Hanya kibasan ekornya saja sudah sekuat serangan penuh kultivator Alam Penempaan Tubuh Tingkat Delapan!”

“Xiao Yi memang kuat, tapi perbedaan Jiwa Bela Diri mereka terlalu besar.”

“Kalau sampai Ular Awan Api menggigitnya, mungkin pertarungan langsung selesai.”

Sebagian besar orang mulai merasa Xiao Ruohan akan menang.

Memang, teknik Xiao Yi terlihat aneh dan ganas.

Namun dari ukuran saja, harimau api yang terbentuk dari perpaduan Xingyiquan dan Binatang Pengendali Api tampak jauh lebih kecil dibandingkan Ular Awan Api.

“Mengaum!”

Raungan harimau mengguncang arena.

Xiao Yi justru menjadi orang pertama yang menyerang.

Ia melesat lurus menuju ular raksasa.

Melihat itu, Xiao Ruohan mencibir.

“Benar-benar mencari mati.”

Ia menggerakkan tangannya.

“Telan dia!”

Ular Awan Api membuka mulut.

Api berkumpul di antara taringnya.

Dalam sesaat, kepala raksasa itu menerjang Xiao Yi.

Namun tepat ketika rahangnya hampir menutup—

Wus!

Kecepatan Xiao Yi tiba-tiba meningkat.

Tubuhnya berbelok tajam ke samping.

Gigitan Ular Awan Api hanya mengenai udara kosong.

“Apa?”

Xiao Ruohan membelalakkan mata.

Belum sempat bereaksi, Xiao Yi sudah melompat.

Kedua tangannya berubah menjadi cakar.

Xingyiquan—Bentuk Harimau!

Cakar Xiao Yi menghantam bagian leher Ular Awan Api.

Sret!

Suara seperti kain tebal yang disobek terdengar.

Cahaya api pecah.

Xiao Yi tidak berhenti.

Kedua tangannya menyeret turun sepanjang tubuh ular tersebut.

Sret—!

Tubuh Ular Awan Api terbelah dari leher hingga bagian tengah.

Boom!

Seluruh Jiwa Bela Diri raksasa itu pecah menjadi cahaya dan menghilang.

Arena mendadak sunyi.

“Mustahil!”

Xiao Ruohan terpaku.

“Ular Awan Api milikku adalah Jiwa Bela Diri Tingkat Kuning!”

“Ditambah Qi Sejati Alam Penempaan Tubuh Tingkat Sembilan... bagaimana mungkin dihancurkan seperti itu?”

Kerumunan di bawah arena lebih terkejut lagi.

“Dia menghancurkannya!”

“Jiwa Bela Diri Tingkat Kuning dihancurkan hanya dengan satu serangan!”

“Teknik apa yang digunakan Xiao Yi?”

Di atas arena, Xiao Yi hanya menatap Xiao Ruohan dengan dingin.

“Tidak ada yang mustahil.”

Sorot matanya perlahan berubah.

“Dan sekarang...”

“Sudah waktunya kita menyelesaikan semua urusan lama.”

Begitu kalimat itu selesai—

Wus!

Xiao Yi menghilang.

Bentuk Macan Tutul!

Xiao Ruohan hanya melihat bayangan melintas.

Detik berikutnya—

Bam!

Punggungnya dihantam.

Tubuhnya jatuh ke depan.

Belum sempat bangkit, Xiao Yi sudah berada di atasnya.

Tinju pertama menghantam wajah.

Buk!

Darah langsung mengalir dari sudut bibir Xiao Ruohan.

Dalam hati, Xiao Yi berkata,

Pukulan ini untuk Xiao Yi yang kau bunuh di tebing.

Tinju kedua menghantam perut.

Bam!

“Puiiih!”

Darah menyembur dari mulut Xiao Ruohan.

Pukulan ini karena kau mengirim Yang Fu dan membuat Yiyi terluka.

Tinju ketiga jatuh ke dada.

Buk!

Ini untuk semua jebakan yang kau buat.

Tinju berikutnya kembali menghantam.

Yang ini seharusnya menjadi bagian ayahmu.

Buk!

Yang ini karena wajahmu memang membuatku kesal.

Buk!

Xiao Yi berhenti sejenak.

Kemudian memukul lagi.

Yang ini tidak punya alasan.

Hanya karena aku belum puas.

“Puiiih!”

Darah kembali keluar dari mulut Xiao Ruohan.

Pukulan demi pukulan jatuh seperti hujan.

Di bawah arena, semua orang tercengang.

Xiao Ruohan adalah jenius nomor satu generasi muda Klan Xiao selama bertahun-tahun.

Alam Penempaan Tubuh Tingkat Sembilan.

Jiwa Bela Diri Tingkat Kuning.

Namun sekarang...

Ia bahkan tidak memiliki kesempatan untuk membalas.

Alasan sebenarnya sederhana.

Pada tingkat kultivasi yang sama, pengalaman bertarung Xiao Yi berada terlalu jauh di atasnya.

Lima Bentuk Xingyi telah ditempa melalui pertarungan hidup dan mati yang tak terhitung jumlahnya.

Sekarang, setelah digabungkan dengan Qi Sejati serta kekuatan Jiwa Bela Diri, keganasannya meningkat berkali-kali lipat.

Xiao Ruohan memang berbakat.

Namun dibandingkan Xiao Yi dalam pertarungan jarak dekat...

Ia masih terlalu muda.

Wajahnya mulai membengkak.

Napasnya menjadi berat.

Darah menodai pakaian.

Namun Xiao Yi tetap tidak berhenti.

Ia sangat mengetahui orang seperti Xiao Ruohan.

Ular berbisa tidak menjadi jinak hanya karena dipukul sekali.

Selama masih memiliki kesempatan, orang seperti itu akan kembali menggigit.

“Tetua Kedua!”

Di tempat duduk para tetua, Tetua Kelima akhirnya tidak tahan.

Ia berdiri dengan wajah merah karena marah.

“Xiao Yi sudah berlebihan!”

Aura kuat langsung meledak dari tubuhnya.

Namun baru hendak bergerak—

Sebuah sosok menghadang.

Xiao Zhong.

“Tetua Kelima.”

Sorot mata Tetua Ketiga dingin.

“Pertandingan belum selesai.”

“Duduk.”

“Kau!”

Tetua Kelima menggertakkan gigi.

Tetua Kedua juga membuka suara.

“Cukup.”

“Tidak ada yang boleh ikut campur sebelum pertandingan berakhir.”

Tatapannya tetap tertuju pada arena.

“Selama aku berada di sini, tak akan ada yang mati.”

Tetua Kelima terpaksa menahan diri.

Namun tepat saat itu—

Di atas arena, tangan Xiao Ruohan tiba-tiba bergerak.

Tatapannya yang semula tampak lemah langsung berubah penuh kebencian.

Ia ternyata menunggu kesempatan.

Ketika perhatian Xiao Yi sempat teralihkan oleh teriakan ayahnya—

Boom!

Api kembali meledak.

Ular Awan Api terbentuk sekali lagi.

“MATI!”

Xiao Ruohan tertawa ganas.

Serangan itu terlalu dekat.

Mulut Ular Awan Api sudah terbuka hanya beberapa meter dari tubuh Xiao Yi.

“Kali ini kau tidak akan sempat menghindar!”

“Begitu kau tertelan, api Ular Awan Api akan membakarmu menjadi abu!”

“Hahaha!”

Tetua Kelima diam-diam tersenyum.

Serangan mendadak ini bahkan lebih sempurna daripada perkiraannya.

Namun Xiao Yi hanya mencibir.

“Ayah dan anak benar-benar sama liciknya.”

Ia tidak mundur.

Tangan kanannya kembali berubah menjadi cakar.

Bentuk Harimau!

Xiao Yi bersiap menghancurkan Ular Awan Api untuk kedua kalinya.

Namun ketika pandangannya bertemu dengan mata ular tersebut—

Tubuhnya tiba-tiba membeku.

Dingin.

Bukan dingin dari api yang padam.

Melainkan dingin yang seakan muncul langsung dari dalam kesadaran.

Tubuh Xiao Yi terasa seperti terjebak dalam es.

“Tuan Muda!”

Xiao Zhong langsung berubah wajah.

“Jangan lihat matanya!”

Beberapa anggota klan baru menyadari apa yang terjadi.

“Itu kemampuan bawaan Ular Awan Api!”

“Mata Ular!”

“Konon siapa pun yang menatapnya akan jatuh dalam ketakutan dan tubuhnya membeku!”

Jiwa Bela Diri bukan sekadar bayangan.

Setiap Jiwa Bela Diri dapat memberikan kemampuan berbeda kepada pemiliknya.

Banteng Api Liar memberikan kekuatan serta api.

Serigala Api memberikan kecepatan dan kendali api.

Sedangkan Ular Awan Api memiliki kemampuan yang jauh lebih berbahaya.

Tatapan Pembeku.

Bukan benar-benar membekukan tubuh dengan es.

Melainkan menyerang pikiran dan menimbulkan rasa takut yang begitu kuat hingga tubuh kehilangan kemampuan bergerak.

Dalam pertarungan antara kultivator setingkat...

Satu tarikan napas saja sudah cukup menentukan hidup dan mati.

“Telan dia!”

Xiao Ruohan berteriak.

Ular Awan Api menerjang.

Di kursi tetua, Tetua Kedua mengernyit.

“Sudah waktunya kuhentikan.”

Ia baru hendak bergerak—

Namun tiba-tiba berhenti.

“Hm?”

Di arena...

Xiao Yi kembali bergerak.

Tatapan kosongnya hanya berlangsung sesaat.

Cakar tangan kanannya langsung mencengkeram rahang Ular Awan Api.

Bam!

Kepala ular berhenti.

“Apa?!”

Xiao Ruohan membeku.

Xiao Yi mengangkat wajah.

Tatapannya sedingin pedang.

“Hanya begini?”

Kemampuan Ular Awan Api memang mengerikan bagi orang biasa.

Namun inti serangannya hanyalah ketakutan.

Dan jika ada satu hal yang hampir tidak dapat mengguncang Xiao Yi...

Itulah rasa takut.

Dalam kehidupan sebelumnya, ia pernah menghadapi kematian berkali-kali.

Pistol.

Ledakan.

Pengepungan.

Pembunuh.

Tentara bayaran.

Bahkan saat tubuhnya hancur oleh ledakan pada detik terakhir, pikirannya tetap jernih.

Bagaimana mungkin ilusi ketakutan seperti ini mampu menghancurkan kehendaknya?

“Trik seperti ini...”

Xiao Yi mencengkeram rahang ular semakin keras.

Kraaak!

Cahaya api mulai retak.

“...jangan dipamerkan di depanku.”

Boom!

Ular Awan Api kembali hancur.

Tubuh Xiao Yi melesat.

Bang!

Satu pukulan menghantam dada Xiao Ruohan.

“Puiiih!”

Darah kembali menyembur.

Tetua Kedua tidak dapat menahan kekagumannya.

“Kekuatan pikiran yang sangat hebat.”

“Tidak goyah oleh ketakutan, tidak kacau dalam keadaan berbahaya.”

Ia mengusap janggut.

“Dengan bakat dan mentalitas seperti ini...”

“Selama tidak mati di tengah jalan, pencapaiannya kelak tidak akan sederhana.”

Xiao Yi tidak memedulikan komentar tersebut.

Ia kembali menyerang.

Kali ini pukulannya semakin berat.

Tulang rusuk Xiao Ruohan mulai retak.

Meridiannya terguncang.

Walaupun tidak membunuhnya, Xiao Yi berniat memastikan pria itu tidak bisa bangun untuk waktu yang lama.

Ia sangat tahu batasannya.

Wasit masih berada di arena.

Sembilan tetua juga mengawasi.

Jika dirinya benar-benar mengarahkan pukulan mematikan ke kepala Xiao Ruohan, para tetua pasti akan segera campur tangan.

Karena itu, Xiao Yi memilih cara berbeda.

Tidak membunuh.

Namun membuat lawan mengingat rasa sakit ini sepanjang hidupnya.

Tetua Kelima akhirnya menyadari maksud tersebut.

“Tetua Kedua!”

“Cukup!”

“Kalau dibiarkan, meridian Ruohan bisa hancur!”

Tetua Kedua mengangguk perlahan.

Memang sudah waktunya mengakhiri pertandingan.

Namun Xiao Yi membaca gerakannya.

Berakhir sekarang?

Belum.

Tangannya mengepal.

Satu pukulan lagi.

Targetnya—

Dantian.

Jika pukulan ini mengenai sasaran, Xiao Ruohan mungkin harus terbaring berbulan-bulan.

Xiao Yi mengangkat tinjunya.

Namun sebelum pukulan itu jatuh—

Wus!

Sesosok bayangan merah tiba-tiba melesat ke arena.

Cepat!

Terlalu cepat!

Tangan orang itu menangkap pergelangan Xiao Yi.

Bam!

Pada saat yang sama, sebuah pukulan menghantam dada Xiao Yi.

“Uh!”

Tubuh Xiao Yi terlempar.

Ia mendarat beberapa meter jauhnya dan terhuyung dua langkah sebelum berhasil berdiri.

Sedikit darah muncul di sudut bibirnya.

Mata Xiao Yi langsung menyipit.

Kuat.

Jauh lebih kuat daripada Xiao Ruohan.

Ia mengangkat wajah.

Seorang pemuda berjubah merah berdiri di antara dirinya dan Xiao Ruohan.

Usianya tidak jauh berbeda, tetapi aura yang dipancarkannya jelas berada pada tingkatan lain.

Kerumunan di bawah panggung mendadak gempar.

“Itu...”

“Xiao Ruokang!”

“Kakak Xiao Ruohan!”

“Bukankah dia sudah meninggalkan Klan Xiao sejak lama?”

Seseorang langsung berseru,

“Aku dengar Xiao Ruokang bergabung dengan Sekte Api Mendalam sejak usia muda!”

“Bakatnya bahkan lebih tinggi daripada Xiao Ruohan!”

“Kenapa dia tiba-tiba kembali?”

Di tempat duduk para tetua, ketegangan di wajah Tetua Kelima akhirnya menghilang.

Senyum tipis muncul.

Ruokang.

Akhirnya kau kembali.

Ia memandang Xiao Yi dengan mata dingin.

Selama beberapa minggu terakhir, bocah itu terus menghancurkan rencananya.

Namun sekarang...

Orang yang benar-benar ia tunggu telah tiba.

Di tengah arena, Xiao Ruokang berdiri dengan tenang.

Di belakangnya, Xiao Ruohan terbaring penuh darah.

Sedangkan beberapa meter di depannya, Xiao Yi perlahan menyeka darah di sudut bibir.

Kedua pemuda itu saling memandang.

Tidak ada yang berbicara.

Namun hanya dari benturan tatapan mereka...

semua orang dapat merasakan bahwa pertarungan hari ini belum benar-benar berakhir.

......................

Bersambung...

1
Momu
👍👍👍
Momu
👍👍
Jojo Shua
🫡🤣
Jojo Shua
😄
Jojo Shua
7
Jojo Shua
3🫡
Momu
👍👍
Ryyy
up trusthor🤭 semangat 💪💪💪💪
Ryyy
semangat thor💪
Adek Darmansyah
smngt trusss thorrr
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!