Judul Novel: TUMBAL 1000 NYAWA
Sinopsis:
Sekte ghaib Kala Hitam berniat membangkitkan sosok Penguasa Abadi yang haus darah. Untuk mewujudkannya, sekte ini menebar teror Sumpah Sewu—sebuah ritual kelam yang menuntut seribu tumbal nyawa manusia di tujuh cabang wilayah terisolasi di Pulau Jawa.
Arya, seorang pemuda wewaris kekuatan kuno Minyak Naga Sakti, mendapati takdirnya terikat pada ancaman besar ini. Didampingi oleh Baskara—ayahnya yang merupakan petarung veteran penuh trauma masa lalu, Mbak Sekar—seorang praktisi mystik senior, serta Kirana—putri pakar gaib yang dibekali rajah ular beracun, Arya memulai perjalanan berbahaya untuk memutus rantai sumpah terlarang tersebut.
Satu per satu jangkar ritual harus mereka hancurkan: mulai dari teror ilmu pelet di Desa Alas Mayit, ilusi ingatan Pasang Tuwuh di Hutan Kelabu Gunung Lawu, gending nyanyian kematian Langgam Sukma di Lembah Rawa Bangkai, hingga kekejaman tempaan pusaka jiwa di Kawah Candradimuka. Baca untuk melanjutkan nya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Banjoriuga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bayangan Hutan Kelabu
Matahari mulai meninggi di atas kaki Gunung Lawu, namun pancaran cahayanya seolah enggan menembus kanopi tebal yang menutupi kawasan Hutan Kelabu. Di tempat ini, pepohonan tinggi menjulang dengan dedaunan pucat keabu-abuan berdiri kaku bagaikan pilar-pilar batu. Kabut tipis beraroma kemenyan dan tanah basah merayap rendah setinggi lutut, menyamarkan akar-akar raksasa yang meliuk licin di atas tanah.
Arya menghentikan langkahnya di depan gapura kayu tua yang membatasi jalan setapak menuju wilayah dalam hutan. Di kayu yang melapuk itu, terukir rajah-rajah Jawa Kuno yang digores menggunakan cat merah yang mengering pekat. Peta kulit lembu di dalam saku jaketnya berdenyut hangat, merespons hawa dingin beracun yang memancar dari balik rimba.
"Ki Ageng Larang sudah tahu kita tiba," ujar Kirana seraya merapatkan jubah hitamnya. Rajah ular berkepala tiga di tangannya bergetar pelan, menunjukkan keberadaan gelombang gaib yang mengepung mereka dari berbagai arah. "Ilusi Hutan Kelabu tidak menyerang fisik secara langsung, melainkan menggerogoti ingatan dan kesadaran siapa pun yang menginjakkan kaki di sini."
Baskara pasang badan seraya mencengkeram erat rantai besinya. "Tetap saling menatap dan jangan pernah terpisah. Di hutan ini, suara orang yang paling kau sayangi bisa menjadi jerat maut."
Baru beberapa puluh langkah mereka menembus keheningan Hutan Kelabu, suara bisikan halus mendadak bergema di telinga Arya. Suara itu terdengar samar namun begitu familiar—suara jeritan minta tolong Mbak Sekar yang terpisah di balik kabut, padahal wanita tua itu jelas-jelas berjalan tepat di samping ayahnya.
Arya memusatkan pikirannya, menghentakkan aliran energi keemasan Minyak Naga Sakti yang mengalir di dalam dadanya. Pijar hangat merambat ke matanya, seketika memecahkan ilusi kabut keunguan yang berusaha menyesatkan pandangannya. Di depan mereka, bukannya jalan setapak, melainkan sebuah jurang terjal bertatahkan batu runcing yang siap menelan siapa saja yang terperdaya.
"Jebakan ilusi Pasang Tuwuh," desis Mbak Sekar seraya memercikkan serbuk beras kuning ke udara untuk membersihkan pandangan mereka dari tipu daya ghaib.
Dari balik pepohonan pucat di seberang jurang, bermunculan sosok-sosok manusia berpakaian lusuh dengan wajah rata tanpa mata dan hidung. Mereka melayang kaku di atas tanah, memancarkan aroma kemenyan bakar yang kian pekat. Pimpinan cabang kedua Kala Hitam telah menyiagakan pasukan ilusi jiwa untuk menyambut kedatangan mereka.
Sosok-sosok melayang tanpa mata dan hidung itu mengambang kian dekat, menerobos tebalnya kabut kelabu dengan gerakan kaku bagaikan dedaunan kering yang dihempas angin mati. Dari rongga mulut mereka yang menganga lebar tanpa gigi, keluar suara derik halus berfrekuensi tinggi—sebuah gelombang mantra penyeret jiwa yang membuat dinding telinga Arya berdengung hebat dan pandangannya mengabur sejenak.
"Jangan dengarkan gesekan suara itu!" teriak Baskara seraya memutar rantai besinya di atas kepala.
Gema dentang rantai besi yang dilayangkan Baskara memutus gelombang suara berdengung di udara. Baskara menghantamkan ujung rantainya lurus ke dada sosok tanpa wajah terdepan. Namun, alih-alih meledak atau hancur, tubuh sosok itu meliuk seperti asap tebal, menyerap sabetan besi tanpa terluka sedikit pun sebelum kembali merapat membendung jalan.
Kirana melangkah maju, membiarkan rajah ular berkepala tiga di pergelangan tangannya membara merah terang. "Mereka bukan makhluk bernyawa atau arwah terikat! Ini adalah Sukun Kelabu—boneka ilusi yang diciptakan dari sisa-sisa ingatan warga desa yang telah kehilangan jiwanya!"
"Jika mereka hanya ilusi, bagaimana cara memusnahkannya?" tanya Arya seraya mengepalkan tangan kirinya. Tanpa belati perunggu, ia merasai pendar keemasan Minyak Naga Sakti yang mengalir di balik urat nadinya bergetar hebat, siap untuk disalurkan.
"Cari simpul benang gaib yang menancap di tengkuk mereka!" sahut Mbak Sekar dari belakang seraya membakar segenggam daun kelor kering di atas telapak tangannya. Asap hijau pekat meluncur menerobos kabut, memperlihatkan benang-benang hitam tipis yang terhubung dari tengkuk setiap boneka tanpa wajah menuju ke dalam kegelapan rimba jati di atas bukit.
Arya mengangguk paham. Ia menghentakkan kaki kirinya ke tanah, memicu pendar energi keemasan yang menjalar dari telapak kakinya hingga menyelimuti seluruh jemari tangannya. Dengan kecepatan yang tajam, Arya menerobos kepungan asap kemenyan, melompati jangkauan tangan-tangan boneka kelabu, lalu memotong benang-benang gaib di udara menggunakan sabetan tangan berselimut api murni.
KREK!
Setiap kali benang hitam terputus, sosok tanpa wajah meraung melengking sebelum meluruh menjadi debu kelabu yang diterbangkan angin. Puluhan boneka ilusi itu musnah dalam sekejap, menyisakan keheningan di atas jurang terjal.
Namun, dari kedalaman Hutan Kelabu, tawa renyah seorang pria tua bergema memantul di antara batang-batang pohon mati.
"Selamat datang di wilayahku, anak-anak penumpas..." suara Ki Ageng Larang bergema manis namun beracun. "Mari kita lihat, seberapa lama ingatan kalian sanggup bertahan sebelum berubah menjadi debu kelabu seperti mereka."
mampir juga diceritaku yah😊