Dua tahun menikah
berpisah setelah akad bahkan belum pernah malam pertama
amira menunggu dengan sabar
mengabdi kepada keluarga suami
tapi setelah dua tahun berpisah
kata yang pertama dari suaminya adam "Amira aku akan menikah lagi"
bagaimana kelanjutannya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi damayanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 32 persiapan survey
Alya dan Adam saling pandang di lorong kantor. Wajah Adam pucat pasi, napasnya tersendat.
“Bagaimana ini, Al?” bisik Adam ketakutan, matanya bergerak liar mencari pegangan.
Alya menggelengkan kepala, giginya bergemelutuk menahan amarah pada Hera yang membakar dadanya. Kurang ajar kamu, Hera! maki Alya dalam hati. Bagi seorang penipu licik seperti Alya, tidak ada yang lebih menyakitkan daripada disadarkan bahwa dirinya baru saja ditipu mentah-mentah oleh orang lain.
“Ya sudah, ayo ke sana!” ucap Alya mencoba bersikap tegar. Di dalam benaknya, berbagai macam rencana darurat sudah berputar cepat—termasuk rencana membuang Adam dari hidupnya jika pria itu sampai dipecat dan menjadi pengangguran tak berguna.
Dengan langkah gemetar, mereka berdua berjalan menuju ruangan Ibu Santi. Setiap ketukan sepatu di atas lantai granit terasa bagaikan hitungan mundur menuju hari penghakiman. Jantung Adam berdegup begitu kencang sampai dadanya terasa sesak.
Pintu kayu mahoni itu terbuka. Mereka melangkah masuk dengan kepala tertunduk, lalu duduk canggung di hadapan meja kerja Ibu Santi.
Ibu Santi melepaskan kacamata bacanya, lalu menatap Adam dan Alya dengan pandangan dingin nan tajam. Suasana ruangan mendadak begitu hening hingga suara pendingin udara terdengar amat keras.
“Besok pagi, kalian berdua ikut Tuan Yamada untuk melakukan survei langsung ke dapur AR Catering,” ucap Ibu Santi datar tanpa basa-basi.
Adam dan Alya mendongak bersamaan, mata mereka membelalak tak percaya.
“Kenapa? Kalian keberatan?” tanya Ibu Santi, menaikkan satu alisnya.
“K—kami... kami sangat bersedia, Bu!” jawab Adam terbata-bata, suaranya sarat akan rasa lega yang membuncah.
“Bagus. Kalau begitu siapkan diri kalian. Besok berangkat lebih pagi, jangan sampai Tuan Yamada menunggu,” tegas Ibu Santi kembali memakai kacamatanya. “Sudah, kalian boleh keluar.”
“Baik, Bu. Terima kasih banyak!” ucap Adam membungkuk berkali-kali.
Begitu pintu ruangan tertutup di belakang mereka, beban berat yang tadinya menghimpit dada Adam seketika terangkat lunas. Ia menghembuskan napas panjang seraya mengusap dadanya.
“Kamu berhasil, Sayang!” puji Adam dengan mata berbinar bangga, memegang kedua bahu Alya. “Mbak Hera benar-benar sakti!”
Alya melipat tangan di dada, membusungkan dadanya dengan senyum jumawa meski hatinya masih sedikit curiga. “Iya, kan? Makanya aku bilang apa... punya koneksi di jajaran atas itu sangat penting.”
Mereka kembali ke ruangan kerja mereka. Di sana, Hera rupanya sudah berdiri menunggu dengan waja tanpa dosa.
“Kalian dari mana saja?” tanya Hera berpura-pura kasual.
“Dari ruangan Ibu Santi, Mbak,” jawab Alya dengan nada dibuat semanis mungkin. “Terima kasih banyak ya, Mbak Hera... Mbak benar-benar sudah banyak bantu kami.”
Hera terkekeh pelan, mengibaskan tangannya seraya berbisik, “Aduh, iya... tadi aku agak terlambat karena menunggu kiriman paket kopi dan cerutu khusus untuk Pak Yusuf. Untung saja barangnya datang tepat waktu. Tadinya stoknya habis, jadi aku harus kasih uang ekstra ke kurirnya supaya diantar cepat.”
“Aduh, tenang saja, Mbak Hera. Nanti kekurangannya aku transfer lagi ke rekening Mbak,” sahut Alya cepat.
“Nanti saja kalau sudah jam pulang kerja, jangan bicarakan di sini,” bisik Hera melirik sekitar, lalu berlalu dengan senyuman puas karena berhasil memerah Alya lebih banyak lagi.
Sementara itu, di Dapur AR Catering, suasana tak kalah sibuk. Amira berkeliling memastikan setiap detail persiapan untuk menyambut inspeksi Tuan Yamada besok pagi.
Saat sedang memeriksa kebersihan meja persiapan, Fitri—seorang pekerja perempuan tuna rungu—mendekati Amira. Tangan Fitri bergerak cepat, menyampaikan bahasa isyarat yang dipahami Amira dengan baik.
“Aku... besok... tidak... masuk... Aku... takut... bikin... kamu... malu...” jemari Fitri bergerak gemetar, matanya menatap lantai dengan minder.
Amira tersenyum hangat. Tangan Amira bergerak membalasisarat itu dengan lembut, “Jangan... Kamu... pekerja... paling... cekatan... di sini...”
“Nanti... bos besar... marah... dan... proyek... gagal...” isyarat Fitri tampak makin panik.
Amira menggenggam kedua tangan Fitri, menatap matanya dalam-dalam seraya memberi isyarat tegas, “Aku... lebih... memilih... kamu... daripada... proyek itu.”
Matanya seketika berkaca-kaca. Tanpa sanggup membendung emosinya, Fitri maju dan memeluk Amira erat-erat sebelum akhirnya kembali ke posisinya dengan dada bergemuruh lega.
Rika yang memperhatikan dari samping melangkah mendekati Amira. “Amira... apa perlu kita ubah tampilan dapur kita sedikit supaya kelihatan lebih sederhana?”
Amira mengernyitkan dahi. “Memangnya kenapa?”
“Ya... kemarin Tuan Yamada kan mengira kita ini cuma UMKM kecil. Kalau dia lihat dapur kita secanggih ini, takutnya dia mikir macam-macam,” ujar Rika ragu.
“Tidak usah memanipulasi apa pun,” jawab Amira mantap. “Tampilkan saja apa adanya. Usaha kita dibangun dengan cara yang jujur, jadi untuk apa berbohong? Lagi pula, kalaupun mereka membatalkan DP lima puluh persen itu, kita masih bisa mengajukan pinjaman modal ke bank.”
Rika menghela napas lalu tersenyum tipis. “Ya sudah, kalau begitu aku ikut semua pengaturanmu.”
Mereka kembali berkeliling. Dapur itu berdiri megah berkat kerja keras bertahun-tahun. Monitor digital terpasang rapi di tiap stasiun kerja, mencatat alur bahan baku, jumlah porsi yang sudah matang, hingga durasi memasak secara otomatis. Di sudut lain, tim Quality Control sibuk mengecek suhu dan rasa masakan sesuai standar higienis.
“Amira... Bibi sama Bi Odah besok izin tidak masuk dulu, ya?” seru Bi Janah yang tiba-tiba mendekat seraya mengusap celemeknya.
“Kenapa begitu, Bi?” tanya Amira heran.
“Bibi sama Odah kan sudah tua, umur kami sudah enam puluh tahun lebih. Takutnya kalau bos Jepang itu lihat, kami dianggap melanggar aturan kerja atau membebani dapur,” ucap Bi Janah cemas.
Amira menggeleng pelan. “Besok atau kapan pun, mereka pasti tahu, Bi. Bibi tidak usah sembunyi. Besok dandan yang cantik, bersiap seperti biasa. Tampilkan saja dapur kita apa adanya. Kalau mereka menolak bekerja sama karena ada pekerja tua, kita masih tetap bisa berdiri sendiri.”
Amira kemudian mengedarkan pandangan ke sudut area pembersihan, lalu menatap Bi Janah dengan tatapan peringatan yang hangat. “Awas ya, Bi... jangan coba-coba melarang Tono dan Toni masuk kerja besok.”
“Tapi mereka kan...” Bi Janah menggantungkan kalimatnya, matanya mulai berkaca-kaca.
“Kalau aku suruh mereka masuk, ya wajib masuk. Kecuali kalau mereka sedang sakit,” potong Amira lembut namun tidak bisa dibantah.
Tono dan Toni adalah anak kembar penyandang down syndrome. Tugas mereka adalah menjaga kebersihan dapur. Cara kerja mereka luar biasa teliti; mereka bahkan tidak rela melihat setitik debu atau cipratan air menempel di keramik lantai.
“Baik, Amira... baik...” gumam Bi Janah menyapu air mata di pipinya.
Sudah dua tahun ini hidup Bi Janah dan kedua anak kembar itu jauh lebih sejahtera. Dulu, orang tua Tono dan Toni menyerahkan kedua anak istimewa itu kepada Bi Janah karena malu memiliki anak down syndrome. Nenek tua itu berjuang sendirian membesarkan mereka, bahkan pernah menahan lapar seharian karena tak punya uang. Kehidupan mereka baru berubah drastis setelah bertemu dengan Amira.
Melihat riak kecemasan masih memancar dari wajah para pekerjanya, Amira memutuskan untuk mengumpulkan seluruh staf. Ia berdiri di tengah ruangan bersama Rika dan seorang penerjemah bahasa isyarat.
“Semuanya, dengarkan saya sebentar,” panggil Amira dengan suara jernih yang menenangkan.
Seluruh pekerja—mulai dari ibu-ibu sepuh, para janda, hingga belasan remaja tuna rungu—menghentikan aktivitas mereka dan menatap Amira.
“Besok... kalian tidak perlu tegang,” ucap Amira tersenyum manis. “Pagi-pagi mandi yang wangi, berdandan yang rapi tapi jangan berlebihan. Jangan pernah merasa minder atau bersikap canggung. Tampilkan saja diri kalian apa adanya. Kalian semua adalah keluarga saya. Besok mungkin akan menjadi awal perubahan besar bagi usaha kita menuju perusahaan yang lebih maju. Tapi ingat, jangan terlalu bergantung pada penilaian orang lain. Bagi saya, kalian tetaplah keluarga saya. Bekerja saja yang baik seperti biasa, paham?”
“Siap, Bu Amira!” seru para pekerja kompak.
Di sudut ruangan, Tono dan Toni saling berpelukan erat seraya melompat-lompat kecil. Entah mereka paham secara utuh atau tidak, tetapi melihat derai tawa dan sorak gembira di ruangan itu, kedua anak istimewa itu yakin bahwa esok adalah hari yang sangat membahagiakan.
Sore harinya, Adam dan Alya berjalan menuju mobil dengan raut wajah ceria. Perasaan terbebas dari ancaman pemecatan membuat suasana hati mereka membumbung tinggi. Adam tak hentinya memuji kehebatan Alya di sepanjang jalan.
“Aku sudah keluar uang dua juta rupiah lebih, Mas, demi mengamankan posisi kita ini,” keluh Alya berpura-pura lelah, menyandarkan tubuhnya di kursi penumpang saat mobil mulai membelah kemacetan Jakarta.
Adam yang fokus menyetir tersenyum lebar. “Tenang saja, Sayang. Nanti kalau gajian, uangmu akan aku ganti dua kali lipat!”
“Beneran, ya? Kamu sudah janji lho, Mas!” tagih Alya cepat.
“Iya... kapan sih aku pernah ingkar janji sama kamu?” sahut Adam penuh percaya diri.
TING!
Ponsel Alya di atas pangkuannya bergetar. Sebuah notifikasi pesan masuk dari ibunya terpampang di layar. Alya membuka pesan itu dan membacanya:
Ibu: Alya, lusa Ibu sama Bapak mau ke Jakarta. Mau berkunjung ke rumah ibu mertuamu. Kamu siapkan oleh-oleh yang banyak ya! Malu Ibu kalau pulang kampung tidak bawa buah tangan yang mewah.
Membaca pesan itu, Alya menghembuskan napas panjang yang amat berat. Keserakahan orang tua dan keluarganya bagaikan sumur tanpa dasar—seberapa banyak pun uang yang ia berikan, tak pernah ada habisnya dan selalu menguap begitu saja.
“Kenapa kamu kelihatan cemas begitu, Al?” tanya Adam melirik sekilas.
Alya mengusap wajahnya yang letih. “Lusa... Ibu dan Bapak mau datang berkunjung ke rumah Ibumu, Mas.”
Adam seketika tersenyum gembira. “Oh, ya? Bagus kalau begitu! Kita harus bersiap menyambut mertuaku dengan baik.”
“Beneran kamu mau menjamu mereka, Mas?” tanya Alya memastikan.
“Tentu saja! Mereka kan jauh-jauh dari kampung dan jarang ke kota. Kita harus memperlakukan mereka dengan sangat istimewa,” jawab Adam antusias.
Alya tersenyum lega, lalu menyandarkan kepalanya di bahu kiri Adam yang sedang memegang kemudi. “Makasih ya, Mas... Kebetulan kalau tidak salah, lusa kan jadwal gajian pertama kita.”
“Ah, benar juga!” sahut Adam tertawa kecil.
Alya tersenyum gembira di balik bahu Adam. Setidaknya, ada Adam yang bisa dijadikan tameng untuk menanggung seluruh beban finansial dan keserakahan keluarganya
Firasat Bu Mirna tentang kepergian Alya,perlu diberi /Good/
kelrg ada sama aliya 11/12🤭