Arhan Hamid harus belajar kehilangan, padahal ia belum pernah siap.
Satu kalimat dari dokter meruntuhkan seluruh dunianya — usia Anya, istrinya, tinggal 30 hari. Karena kanker.
Sejak hari itu, Arhan memilih memikul semuanya sendirian. Di depan Anya, ia tetap menjadi suami yang utuh. Yang tertawa paling keras, yang membuatkan teh paling hangat, yang mencintai lebih dari separuh jiwanya sendiri.
Padahal di dalam dadanya, ia hancur pelan-pelan.
Ia menutupi air mata dengan tawa. Menutupi takut dengan doa-doa yang ia bisikkan diam-diam setiap malam.
Mampukah Arhan tetap kuat ketika waktu terus menghitung mundur?
Dan di antara 30 hari yang tersisa, mungkinkah semesta masih menyisakan satu keajaiban untuk mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Idents, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14
Mendengar permintaan Anya itu, Ibu Nisa segera melengkapi 29 bunga itu dengan menambahkan satu bunga yang indah berwarna putih.
Tangan Ibu Nisa meraih ember di sudut toko. Di sana ada lily putih yang masih sangat segar, kelopaknya belum terbuka penuh, batangnya hijau tua dan kuat. Bunga itu terlihat paling bersih di antara yang lain, seperti baru dipetik.
"Yang putih ini ya, Anya? Masih bagus sekali, baru datang tadi pagi," kata Ibu Nisa sambil mengangkatnya dan memperlihatkannya.
Anya mengangguk pelan dari atas kursi rodanya. Matanya menatap lily putih itu lekat-lekat, ada binar kecil di matanya yang pucat.
"Iya, Bu. Yang putih itu," jawab Anya dengan suara pelan. "Saya suka yang putih."
Ibu Nisa memotong batang lily putih itu dengan gunting taman yang tajam. Cekrek. Batangnya terpotong rapi. Ia kemudian merapikan 30 bunga di atas meja kayu yang sudah lama. Mawar merah, lily kuning, krisan ungu, anyelir pink, dan satu lily putih di tengah-tengahnya. Warna-warni itu terlihat ramai dan hidup, tapi lily putih itu justru yang paling mencolok dan paling menenangkan.
"Nah, sudah 30 bunga, Anya. Cantik-cantik semua, masih segar-segar. Nanti sampai rumah langsung masukin air ya, biar tahan lama," kata Ibu Nisa sambil tersenyum.
Anya tersenyum lebar. Untuk pertama kalinya hari itu, senyumnya terlihat utuh tanpa ditahan. Ia mengulurkan tangannya yang kurus, menyentuh kelopak lily putih itu dengan ujung jarinya yang dingin.
"Terima kasih, Bu Nisa. Cantik sekali. Rumah saya pasti wangi," kata Anya.
Arhan segera membayarnya. Ia melangkah maju, merogoh dompet tipis dari saku celananya. Ia mengeluarkan beberapa lembar uang kertas yang sudah ia lipat rapi dan ia siapkan dari rumah.
"Berapa semuanya, Bu Nisa?" tanya Arhan dengan suara yang ia buat setenang mungkin.
Ibu Nisa menyebutkan harganya. Harga yang cukup mahal untuk 30 bunga segar di pagi hari. Tapi Arhan tidak menawar sama sekali. Ia langsung menyodorkan uang itu.
Ibu Nisa mengambil uang kembalian dari laci kayu di bawah mejanya. Saat memberikan uang kembalian, Ibu Nisa menggenggam pelan tangan Arhan. Genggamannya hangat dan erat. Jari-jarinya yang kasar karena sering memotong batang bunga menekan punggung tangan Arhan dengan lembut.
Genggaman itu memberi isyarat untuk bersabar.
Arhan hanya mengangguk. Ia tidak bisa berkata apa-apa. Tenggorokannya terasa tercekat dan penuh. Ia takut jika ia membuka mulut, suaranya akan pecah menjadi tangis di depan Anya. Ia hanya mengangguk kecil, menatap Ibu Nisa dengan mata yang berkaca-kaca.
Ibu Nisa mengangguk balik, seolah mengerti semua tanpa perlu dijelaskan. Ia melepas genggamannya perlahan.
Anya pun pamit. Ia melambaikan tangannya yang masih memegang satu batang lily putih itu.
"Terima kasih banyak ya, Bu Nisa. Bunga-bunganya cantik. Nanti saya kesini lagi," kata Anya.
"Iya, Anya. Hati-hati di jalan ya, Nak. Semoga bunganya bikin rumah jadi wangi dan Anya cepat segar lagi," jawab Ibu Nisa dengan suara yang sedikit bergetar. Ia melambaikan tangan sampai kursi roda Anya keluar dari halaman tokonya yang penuh bunga.
Arhan menata 30 bunga itu di pangkuan Anya. Sebagian ia ikat dengan tali rafia coklat, sebagian ia letakkan di keranjang kecil yang ada di depan kursi roda. Aroma bunga yang bercampur menjadi satu langsung menyeruak, wangi segar, manis, dan sedikit menusuk hidung.
Selanjutnya, Arhan mengajak Anya membeli sarapan. Tempatnya tidak jauh dari toko bunga, hanya sekitar dua ratus meter. Sebuah warung tenda sederhana yang menjual bubur ayam, dengan gerobak kayu yang dicat kuning dan kompor yang mengepul.
Anya melihat list menu yang terpajang di luar. List menu itu ditulis dengan spidol hitam di atas kertas karton putih yang sudah agak lusuh.
Anya membaca list itu dengan teliti dari atas kursi rodanya. Arhan berdiri di belakangnya, memegang pegangan kursi roda dengan kedua tangan.
"Han, aku mau yang sederhana aja ya. Bubur ayam tanpa kacang dengan telur rebus," kata Anya sambil menunjuk tulisan di list menu. "Yang biasa aja. Tidak usah pakai yang lain."
Arhan setuju. Ia tau perut Anya tidak bisa menerima makanan yang terlalu berat atau terlalu banyak kacang goreng.
"Iya, An. Yang sederhana aja. Sama kayak kamu," kata Arhan sambil tersenyum kecil.
Dia pun memesan dua bubur.
"Pak, pesan dua bubur ayam tanpa kacang dengan telur rebus ya. Bungkus," kata Arhan kepada penjual bubur yang sedang mengaduk bubur panas di dalam panci besar.
"Siap, Mas. Dua bubur tanpa kacang pakai telur rebus di bungkus. Ditunggu sebentar ya, Mas. Antre sebentar, yang di depan masih dua bungkus lagi," jawab penjual itu dengan ramah.
"Siap, Pak. Tidak apa-apa," jawab Arhan.
Sambil menunggu, suasana pagi itu terasa tenang. Aroma bubur ayam yang gurih bercampur dengan aroma 30 bunga di pangkuan Anya.
Sambil menunggu, Anya melihat anak-anak sekolah yang menyeberang di jalan. Sekelompok anak SD dengan seragam merah putih, tas ransel besar di punggung, tertawa-tawa sambil menyeberang dengan hati-hati. Mereka terlihat sangat ceria dan penuh tenaga.
"Dulu aku juga seperti mereka ya, Han. Lari-lari pagi," kata Anya pelan sambil tersenyum menatap anak-anak itu.
"Iya, An," jawab Arhan sambil mengelus bahu Anya yang tertutup mantel.
Tidak lama, dua bungkus bubur itu sudah jadi. Masih panas dan mengepul. Arhan menerimanya, menggantungkan plastik bubur itu di pegangan kursi roda, di samping keranjang bunga, dengan hati-hati agar tidak tumpah.
"Terima kasih, Pak," kata Arhan.
"Makasih ya, Pak," kata Anya juga dari kursi rodanya.
Mereka pun melanjutkan perjalanan. Tujuan selanjutnya adalah apotek. Apotek itu letaknya di ujung jalan, sekitar tiga ratus meter dari warung bubur. Jalanan agak menanjak sedikit, membuat Arhan harus mendorong kursi roda dengan sedikit tenaga.
Angin pagi berhembus pelan. Aroma bubur dan aroma 30 bunga bercampur menjadi satu.
Di tengah perjalanan ke apotek itu, Arhan melihat genggaman bunga di tangan Anya hampir terjatuh.
Satu batang lily putih yang dari tadi Anya genggam erat di tangan kanannya, kini genggamannya melonggar. Batang bunga itu miring, melorot sedikit demi sedikit dari sela-sela jarinya yang kurus dan pucat. Kelopak putihnya bergetar tertiup angin pagi.
"An, bunganya pegang yang erat ya, An. Nanti jatuh," kata Arhan pelan sambil terus mendorong kursi rodanya.
Tidak ada jawaban dari Anya. Kursi roda tetap melaju pelan.
Arhan menunduk sedikit untuk melihat wajah Anya dari samping. Dan di sanalah ia melihatnya.
Arhan melihat Anya menatap kedua matanya yang tertutup. Anya sudah tertidur. Kepalanya miring pelan ke sandaran kursi roda, bibirnya sedikit terbuka, napasnya pelan dan teratur. Wajahnya yang pucat terlihat sangat tenang di bawah sinar matahari pagi yang hangat.
Ia tertidur pulas. Pagi belajar memasak, perjalanan dari rumah ke toko bunga, memilih bunga satu per satu, mengobrol dengan Ibu Nisa, dan membeli sarapan. ternyata sudah menghabiskan seluruh tenaganya pagi ini.
Arhan langsung berhenti mendorong. Ia berjongkok di samping kursi roda, di tengah jalan yang sepi menuju apotek itu. Ia menatap wajah Anya yang tertidur itu lama.
Dengan sangat hati-hati, Arhan meraih batang lily putih yang hampir jatuh dari genggaman Anya. Ia tidak mengambilnya. Ia hanya mendorongnya pelan kembali ke dalam genggaman Anya, merapatkan jari-jari Anya yang dingin itu agar bunga itu tidak jadi jatuh ke aspal.
Ia merapikan genggaman itu dengan lembut.
30 bunga masih ada di pangkuan Anya. Dua bungkus bubur tanpa kacang masih tergantung di pegangan kursi roda. Dan Anya tertidur dengan satu bunga putih di tangannya.
Arhan tidak membangunkan. Ia tetap berjongkok di sana, menahan kursi roda agar tidak goyang, membiarkan Anya tidur lima menit lebih lama di dunia luar, di perjalanan menuju apotek.