kalau adaa yang salah atau enggk nyambung ceritanyaa maapp yaaaahhh soalnya baru pertama bikin cerita kayak ginii (◠‿◕)
Siapa sangka gadis yang berisik, ceroboh, dan selalu bikin keributan itu justru jadi satu-satunya yang bisa meluluhkan hati ketua osis paling dingin, cuek, dan ditakuti seantero sekolah?
Dari yang saling tak suka, jadi tak bisa terpisahkan. Ini kisah gadis barbar yang mencuri hati ketos dingin yang tak pernah tersenyum pada siapa pun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desty Haris Wahyuni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BISIK, ANCAMAN, DAN KITA YANG BERTAHAN.
Hari-hari setelah itu nggak gampang. Bisik-bisik di belakang punggung gue makin sering terdengar. Buku gue tiba-tiba hilang, kursi digeser pas gue mau duduk, air tumpah di baju gue — hal-hal kecil, nyebelin, tapi nggak ada yang pernah mengaku. Gue selalu pura-pura nggak dengar, nggak lihat. Tapi di dalem hati, capek banget.
Siang itu di kantin, Raka nggak tahan lagi. Mukanya merah padam.
"Mereka keterlaluan! Kenapa kalian diam aja?!"
Gue tarik napas pelan. "Kalau kita balas, sama aja kayak mereka kan? Biar waktu yang jawab."
Bela pegang tangan gue erat. "Tapi mereka makin berani, Luna. Lo nggak boleh sendirian."
Arka diam dari tadi, matanya gelap, tangan mengepal di meja.
"Mereka salah paham soal satu hal," suaranya rendah tapi tegas. "Mereka pikir gue diam karena takut. Padahal gue diam karena nggak mau ribut. Tapi kalau mereka terus sakiti lo… gue nggak akan sabar lagi."
Gue pegang tangannya pelan. "Gue tahu lo sayang sama gue. Tapi tolong… jangan balas kekerasan dengan kekerasan. Kita tunjukin kalau kita lebih baik dari itu."
Dia natap gue lama, lalu mengangguk pelan. "Oke. Gue coba. Tapi janji — kalau ada apa-apa, bilang ke gue langsung. Jangan di simpan sendiri."
"Janji," jawab gue mantap.
Tapi Kirana nggak berhenti.
Sore itu gue sendirian di perpustakaan. Dia masuk, kunci pintu dari dalam.
"Lo nggak capek?" suaranya dingin, menghadang jalan gue. "Pura-pura tenang… padahal semua orang tahu lo nggak pantas di sini."
Gue berdiri tegak, nggak mundur. "Gue nggak pura-pura, Kirana. Arka pilih gue sendiri, bukan karena trik. Kalau lo sakit hati, itu bukan salah gue."
Dia maju selangkah, matanya menyala. "Karena lo nggak tahu kebenarannya! Kalau Arka tahu semua yang gue tahu, dia pasti pergi ninggalin lo!"
"Kebenaran apa?!" gue maju, tatapnya lurus. "Kalau ada hal yang lo simpan, bilang sekarang! Jangan sembunyi di balik bisikan!"
Kirana diam seketika. Mulutnya terbuka, tapi kata-kata nggak keluar. Tiba-tiba pintu terbuka — Arka berdiri di sana, wajahnya sedingin es.
"Dia sudah minta bilang, Kirana," suaranya tenang tapi bikin bulu kuduk berdiri. "Bilang sekarang, atau jangan pernah berani deketin Aluna lagi."
Kirana mundur pelan, wajahnya pucat. "Arka… lo nggak paham…"
"Gue paham satu hal," potong Arka tegas. "Lo menyakiti orang yang gue sayang. Dan itu nggak bisa dimaafkan."
Dia melangkah masuk, berdiri tepat di depan gue — melindungi sepenuhnya.
"Kalau ada rahasia, sampaikan di depan kami berdua. Sekarang. Atau pergi dan jangan kembali."
Kirana menatap kami bergantian — gue yang tenang, Arka yang siap lindungi gue. Matanya berkaca-kaca, tapi bukan sedih — marah. lalu Dia memutar badan, pergi tanpa sepatah kata, membanting pintu keras di belakangnya.
Ruangan hening seketika.
Arka berbalik cepat, cek wajah gue. "Lo nggak apa-apa? Dia enggak nyakiti lo kan?"
Gue geleng, meski jantung masih berdegup kencang. "Nggak. Gue baik. Tapi… dia beneran simpan sesuatu ya?"
Arka pegang kedua bahu gue erat. "Apa pun itu, kita hadapi bareng. Nggak ada rahasia antara kita. Kalau dia berani bilang, kita dengar bareng."
Gue peluk dia erat. "Makasih ya udah datang tepat waktu."
Dia kecup kening gue lembut. "Gue selalu ada buat lo. Ke mana pun lo pergi, gue nggak akan jauh."
Pulang hari itu, langkah kami terasa lebih ringan. Ancaman belum hilang sepenuhnya, tapi beban di pundak gue berkurang — gue nggak sendirian.
Malamnya, kita duduk di teras.
"Menurut lo… apa yang dia sembunyikan?" tanya gue pelan.
Arka diam sebentar, lalu menghela napas. "Gue nggak tahu. Tapi apa pun itu, gue percaya sama lo. Dan itu yang paling penting."
Gue sandarkan kepala ke bahunya. "Gue juga percaya sama lo. Selamanya."