Soraya anak bungsu dari tiga bersaudara, ceria, mudah bergaul dan sedikit pintar. Keluarganya berkecukupan tapi sederhana. Hari Pertama SMA kelas 10 bertemu Aldrian yang kelas 12, Aldrian orang yang pendiam, perhatianya tidak diucapkan. Soraya dan Aldrian memiliki hari hari yang canggung disekolah. Banyak interaksi tak pernah terjalin komunikasi. Soraya akhirnya harus terpisah dengan Aldrian. Aldrian yang sudah lebih dulu lulus pergi tanpa kata tanpa berpamitan, membuat hari hari Soraya disekolah selalu mengingat Aldrian.
Setelah 2 tahun terpisah akhirnya mereka bertemu kembali. Aldrian mempunyai keberanian untuk menemui Soraya dirumahnya.
Soraya dan Aldrian dari keluarga yang sangat berbeda, keyakinan yang berbeda membuat mereka mempunyai banyak cerita.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MayRedN, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cukup melihatnya dengan cara yang sunyi
Rasa cemas sudah memenuhi hatiku, membaca segala kemungkinan. Aku sudah terjebak dalam pikiran pikiran yang tak ada ujungnya. Isi kepalaku berputar putar memulai peperangan melawan segala kemungkinan.
Aku memendam perasaan yang kacau ini. Putri terus saja melihatku dengan senyum penuh tanda tanya. Putri sepertinya menyadari membaca sesuatu.
"Bisa bisanya kamu senyum senyum begitu disaat aku akan menghadapi peperangan Put!"
"Udah tenang aja, kamu tuh enggak perlu mikir jauh jauh. Selama belum ada kabar berita berarti kamu aman, peperangan berakhir sebelum dimulai!"
"Tapi kamu tau sendiri dia itu idola"
"Iya tau, tau banget malahan kalau dia itu idola kamu"
"Idola banyak wanita kali"
"Enggak usah serius serius kenapa! Kak Aldrian aja dipikirin sampai lupa makan. Makan tuh dihabisin, setidaknya buat kekuatan menghadapi kenyataan"
"Aku enggak cuma butuh makan tapi butuh berfikir mencari strategi"
"Strategi perang?" Putri menatapku dengan tertawa terbahak bahak.
Habis juga makanan didepan kami, belum sempat aku memperhatikan kelas diseberang tanpa terasa waktu istirahat selesai. Bel sudah berbunyi, semua sibuk kembali ke kelas masing masing. Balkon depan kelas mulai sepi
Suasana kelas yang ramai dan bising berubah menjadi sangat tenang dan damai. Pelajaran Matematikan akan segera dimulai. Bu Dewi sangat tidak menyukai kebisingan dan keributan sampai kelasnya selesai.
Siang ini matahari semakin terik, sekolah yang tadi ramai berlahan sudah mulai sunyi, hanya beberapa yang tersisa mengikuti kegiatan ekskul.
Lorong di belakang hanya ada aku dan Putri yang melewatinya. Entah Tamiya lari kemana lagi. Dengan kekuatan penuh kami bersiap menghadapi latihan.
Didalam lapangan basket sudah mulai terisi semua pemain, seragam putih abu abu telah menjelma menjadi hitam kuning, Namun ada satu putih abu abu terselip diantara lautan hitam kuning.
Aldrian, dia masih mengenakan seragam sekolahnya berbaur diantara teman temannya.
Aku tetap melihatnya dengan cara yang sama, selalu mencoba tanpa melibatkan perasaan. Perasaan ingin tau tentangnya, perasaan ingin mengenalnya memenuhi isi kepalaku, tapi aku tak pernah berhenti untuk berusahan membuangnya.
Entah sejak kapan semua bermula seperti arah angin yang aku sendiri tak bisa menebak dari mana asalnya. Cukup melihatnya dengan cara yang sunyi tanpa berharap dia akan menyadari.
Dari ruang guru pak Herman berjalan keluar bersama seorang pria yang mungkin lebih mudah sedikit dari pak Herman dan dua orang pria yang mungkin umurnya masih sangat muda mungkin masih kuliah. Mereka semakin mendekat dan wajah salah satunya aku mengenalnya. Dia adalah mas Alan sahabat mas Nandito dari SMA.
Pak Herman mulai membuka sesi latihan dengan memperkenalkan pelatih baru yang akan membantu selama masa latihan menjelang pertandingan.
"Selamat siang menjelang sore anak anak semua, Perkenalkan ini Pak Wisnu, mungkin sebagian sudah ada yang kenal, pak Wisnu ini mantan atlet nasional. Suatu kehormatan berkenan melatih team kita. Dan 2 kakak pemain basket yang sudah banyak pengalaman mengikuti turnamen"
Pak imam yang berdiri di depan pak Herman "Kakak kakak yang tampan ini namanya kak Alan dan kak cristian mereka ini banyak pengalaman dan masih kuliah"
Kebiasaan kami sebagi kaum hawa kalau tidak ribut tidak seru. Teman teman sudah pada heboh:
"Wowww Wisnu ada disekolah kita"
"Pak Imam dan pak Herman hebat bisa datengin mereka"
"Perpaduan yang sempurna"
"Perhatian semuanya... kita mulai pemanasan dulu, lari 10 kali mulai!" Pak Herman membunyikan peluit panjang
Prrrittttttt...
Semua yang ada dilapangan ikut peregangan otot berlari memutari lapangan basket. Secara tiba tiba Arya sudah berada disampingku "Ay, tadi kamu kemana aja sih?"
"Kemana? Enggak kemana mana tuh Ar, masih disini disekolah kita"
"Tadi waktu istirahat kamu udah dikantin tapi hilang gitu aja, aku cari cari tetep enggak ketemu?"
"Oh.. Tadi waktu istirahat tiba tiba aku kepengen ke toilet, trus lari kebelakang"
"Kok enggak balik lagi ke kantin?"
"Ngapain balik lagi muter muter, dibelakang juga ada kantin"
Buk... Lengan Arya tertabrak Aldrian yang berlari mendahului Aku dan Arya.
Kak Yudha dari belakang berlari disamping kami "Jangan ngobrol aja, lari! Aldrian bukanya tadi sudah izin ya Ar? ngapain tu anak masih ikutan lari"
Arya berteriak menjawab sambil mendahului aku dan kak Yudha "Lari jangan ngobrol!"
Kak Yudha menambah kecepatannya berlari meninggalkan Aku untuk mengejar Arya.
"Hati hati Al, tuh tangan masih cidera" Arya mengejar Aldrian meneriaki dari belakang.
Setelah 10 kali putaran akhirnya pendingan selesai semua berkumpul, Nafas kami masih memburu, pak Wisnu memberikan penjelasan tentang simulasi pertandingan internal dengan menerapkan peraturan resmi.
Pak Herman dan pak Imam hebat dalam olahraga dan pintar bermain basket tetapi mereka bukan berasal dari basket. Pak imam mantan atlet lempar lembing sedangkan pak Herman dari jaman kuliah sudah sering menjuarai perlombaan lari. Mungkin dengam pertimbangan itu beliau beliu selalu mengundang pelatih profesional untuk setiap persiapan pertandingan.
Pak Wisnu wajahnya terlihat bersahabat menyenangkan tetapi kalau dilapangan berubah menjadi garang, penuh penekanan seperti komandan yang memberikan intruksi ke prajuritnya, termasuk 2 asistennya.
Mas Alan terlihat sangat berbeda, yang biasa lemah lembut dan sopan bertutur kata ternyata dilapangan bisa menjadi harimau yang lapar meraung raung.
Pertandingan akan segera dimulai, team cowok yang mendapat giliran pertama sedang dalam persiapan, pak Wisnu dengan bariton keras menjelaskan strategi yang akan dilakukan masing masing team.
Kami team cewek mendapat giliran terakhir berjalan keluar dari lapangan, sebuah lengan yang tiba tiba merangkul diatas dipundakku membuat jantungku berdegup kencang lalu berbisik didekat telingaku "Soraya Jumantara Suryana apa kabarmu?"
Aku menunduk memutar badan dengan cepat melepaskan rangkulan dari pundakku. Aku menoleh menghembuskan nafas lega, menjumpai wajah yang dekat dengan wajahku "Bikin kaget aja!"
Mas alan memandangku dengan lekat lalu melipat kedua tangannya di dada "Kenapa melepaskan rangkulanku, jangan bilang dari tadi kamu enggak liat aku?"
Putri menelisik melihat kak Alan "Kok kakak kenal Soraya?"
Mas Alan tersenyum, menangkup wajahku tanpa basa basi jari telunjuk dan jempolnya langsung menjepit kedua belah pipiku, lalu mencubit dan mengguncangnya sengan gemas "Bagaimana mungkin aku tidak mengenal bayi yang sudah aku besarkan?"
Kedua tanganku mencengkeram tangan mas Alan berusaha melepaskan dari pipiku "lepasin, malu tau!"
Mas Alan melepaskan tangannya, matanya mencari sesuatu lalu bertanya "toilet dimana"
Aku menunjukan dengan jari telunjukku ke arah toilet "Tuh sana sana dibelakang ada toilet tapi diruang guru juga ada lebih bagus"
"OK aku ketoilet dulu" Mas Alan berjalan berlalu meninggalkan aku dan Putri.
Aku dan teman teman yang lain duduk dibawah pohon disamping lapangan basket. Pak Imam mengikuti kami keluar dari lapangan "Nanti kalau cowok cowok udah mulai main diperhatikan betul betul ya, coba nanti dievaluasi"
"Siap Pak"
"Ok Pak"
"Laksanakan Pak"
Jawaban kami yang tidak kompak tapi serempak bersamaan.
Pak Imam berjalan duduk disebelah Aldrian "Gimana ceritanya bisa cidera Al? Biasanya kamu jadi orang yang super berhati hati"
"Jatuh biasa cuma pergelangan tangan buat tumpuan badan"
"Sampai ke rumah sakit segala biasanya parah, tapi masih aman kan?"
"Aman enggak parah, kemarin cuma cek aja pak"
"Syukurlah kalau gitu, cuma absen satu minggu kan? semoga baik baik saja "
Setidaknya hatiku sedikit tenang dan bernafas lega, mendengar kabar yang terucap dari suaranya. Dia mengatakan dengan detail penyempurnaan isyarat yang dia berikan pagi tadi. Sebenarnya aku ingin sekali membalikan badanku, melihat ekspresi apa diwajahnya saat membicarakan tangannya yang cidera.
Mendengar suaranya adalah penjagaan paling tenang. Rencana yang tak tau kapan dimulainya cukup dengan melihatnya tak menjauh. Aku menghormati semua yang telah dia ciptakan. kami adalah hubungan dalam diam tanpa merusak jeda yang dia jaga.