NovelToon NovelToon
Batas Dimensi Takdir

Batas Dimensi Takdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Time Travel / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:963
Nilai: 5
Nama Author: R251Aje

Setiap malam, Alena selalu memimpikan seorang pria. Seorang raja tampan yang kejam kepada semua orang, tetapi mencintainya dengan gila-gilaan.

Dalam mimpi itu, Alena adalah tunangannya. Mereka tinggal di sebuah kerajaan yang tidak pernah ia kenal. Sang raja selalu memeluknya, mencium keningnya, bahkan berjanji akan menjadikannya permaisuri.

Alena selalu mengira semua itu hanya mimpi. Sampai suatu pagi, setelah sang raja menciumnya dalam mimpinya, ia menemukan bekas kemerahan di lehernya.

Bekas itu nyata. Sejak saat itu, Alena mulai bertanya-tanya... Apakah ia benar-benar sedang bermimpi?

Sampai seorang pria baru datang ke tempat kerjanya sebagai bos baru. Begitu melihat wajahnya, Alena langsung membeku. Pria itu memiliki wajah yang sama persis dengan raja dalam mimpinya.

Namun sebelum Alena sempat melarikan diri, pria itu justru menghampirinya dan memeluknya erat.

“Kau... masih hidup?”

Alena panik dan segera mendorongnya. “Maaf, Pak. Apa kita pernah bertemu?”

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R251Aje, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18 Pura-Pura PDKT

Arka tertawa pelan. “Pantulan yang membuat sensor energi lab berbunyi? Aku tidak yakin.” Dia mencondongkan tubuh sedikit. “Kau tahu sesuatu tentang benda itu, Alena?”

Alena tidak langsung menjawab. Dia menaruh cangkir, lalu membalik pertanyaan. “Kenapa kau begitu tertarik menceritakan semua ini padaku? Biasanya data museum belum dipublikasikan tidak dibagikan sembarangan.”

Arka terdiam sejenak, lalu tersenyum jujur. “Karena aku ingin mengenalimu lebih jauh. Bukan hanya soal artefak. Kemarin di museum, aku merasa… ada sesuatu pada dirimu. Seperti kau mengerti benda itu lebih dari yang kau akui.”

Alena menatapnya tenang. Dia sudah menduga arah pembicaraan ini. “Arka, aku datang karena artefaknya. Bukan untuk hal lain.”

“Aku tahu,” jawab Arka lembut. “Tapi aku tetap ingin mencoba. Kalau kau tidak keberatan, boleh aku menghubungimu lagi? Soal artefak… atau soal lainnya.”

Alena memikirkan sebentar. Niat tersembunyinya membutuhkan akses. Jika menolak mentah-mentah, kesempatan itu bisa hilang. Jika terlalu terbuka, Arka bisa curiga.

Akhirnya dia mengangguk pelan. “Kalau soal artefak, boleh. Aku ingin tahu lebih banyak. Bahkan… jika memungkinkan, aku ingin melihatnya lagi dari dekat. Di lab, mungkin.”

Arka tersenyum lebih lebar. “Itu bisa diatur. Aku punya akses. Besok atau lusa, aku bisa bawa kau masuk ke ruang lab setelah jam kunjung. Tapi… sebagai gantinya, boleh aku minta satu hal?”

Alena menatapnya waspada. “Apa?”

“Jangan tutup pintu untukku sepenuhnya,” kata Arka pelan. “Aku tidak akan memaksa. Tapi biarkan aku mencoba mendekatimu.”

Alena terdiam. Di dalam hatinya, dia hanya memikirkan Raka yang terluka di dimensi lain. Segala tipu daya ini hanyalah alat.

“Baik,” jawabnya singkat. “Tapi prioritasku tetap artefak itu.”

Arka mengangguk, menerima. “Cukup untuk saat ini.”

Mereka menghabiskan sisa waktu dengan membahas detail teknis artefak—ukuran, material, dan lokasi penggalian. Alena mencatat setiap informasi penting di ingatannya. Saat akhirnya berpamitan, Arka mengantarnya sampai ke luar kafe. “Aku hubungi lagi untuk jadwal lab,” katanya.

Alena mengangguk, lalu berjalan menjauh. Begitu di luar pandangan Arka, ekspresinya berubah. Dia menghela napas panjang, menatap langit sore yang mulai memerah. “Maafkan aku, Raka…” bisiknya. “Aku harus melakukan ini supaya bisa menemuimu.”

Di genggamannya, ponsel bergetar. Pesan baru dari Arka sudah masuk—ucapan terima kasih dan janji akan segera mengatur kunjungan lab.

Alena menyimpan ponsel, lalu melanjutkan langkah.

Satu tahap berhasil dilewati. Berikutnya… mendapatkan artefak itu ke dalam tangannya. Dua hari kemudian, Alena kembali ke museum sesuai janji Arka. Kali ini ia masuk lewat pintu staf, dipandu langsung menuju ruang laboratorium artefak di lantai bawah.

Lab itu sejuk, berlapis putih, dengan beberapa meja kerja dan lemari kaca berisi temuan penggalian. Artefak cincin permata kusam sudah dikeluarkan dari kotak penyimpanan dan diletakkan di atas meja khusus di bawah lampu observasi. “Selamat datang di lab,” kata Arka sambil tersenyum. Dia menyerahkan kartu pengunjung sementara pada Alena. “Jangan khawatir, aku yang jamin. Kau bisa melihat lebih dekat hari ini.”

Alena mengangguk, matanya langsung tertuju pada artefak. “Terima kasih sudah mengatur ini.”

Arka mendekat, berdiri di sampingnya. “Hati-hati. Jangan disentuh tanpa sarung tangan.” Dia mengambil sepasang sarung tangan nitrile dan memberikannya pada Alena—gerakan yang terasa lebih personal daripada profesional. “Pakai ini.”

Saat Alena memakai sarung tangan, Arka dengan sengaja membantu menarik ujungnya agar pas. Jari mereka sempat bersentuhan.

“Maaf,” katanya pelan sambil tersenyum. “Kebiasaan.”

Alena hanya mengangguk singkat, tidak menanggapi lebih jauh.

Tidak lama kemudian, beberapa rekan Arka masuk ke lab. Arka langsung memperkenalkan Alena dengan ramah. “Ini Alena, dari perusahaan yang sedang riset motif kuno. Dia sangat tertarik dengan temuan cincin permata kusam kita.”

Sebagian rekan menyapa dengan ramah. Tapi ada satu gadis berambut pendek yang hanya mengangguk datar. Namanya Retha, asisten lab senior. Matanya menyipit saat melihat jarak Arka dengan Alena yang cukup dekat.

Sepanjang sore, Arka terus memberi perhatian kecil. Dia menarikkan kursi untuk Alena, menuangkan air minum, menjelaskan detail artefak dengan suara lembut, bahkan sesekali mencondongkan tubuh terlalu dekat saat menunjuk ukiran. Setiap kali Alena bertanya, dia menjawab dengan sabar dan tersenyum.

Retha mengamati semuanya dari meja seberang dengan wajah semakin tidak senang. Saat Arka dipanggil sebentar oleh rekan lain di luar lab, Retha akhirnya berjalan mendekati Alena.

“Kau bukan dari kalangan arkeologi, kan?” tanyanya datar.

Alena menoleh. “Bukan. Saya hanya butuh referensi untuk pekerjaan.”

Retha tersenyum tipis, sinis. “Aneh. Biasanya Arka tidak semudah itu membawa orang luar ke lab. Apalagi sampai digandeng terus seperti tadi.”

Alena tetap tenang. “Dia yang menawarkan.”

“Tentu saja,” gumam Retha. Lalu, dengan gerakan seolah tidak sengaja, dia menyenggol nampan kecil di ujung meja. Beberapa alat pembersih artefak dan botol cairan konservasi jatuh, hampir mengenai artefak dan baju Alena.

Alena cepat menghindar. “Hati-hati!”

Retha berpura-pura kaget. “Ups. Maaf. Tangan saya licin. Atau mungkin… meja ini terlalu penuh karena ada orang luar.”

Nada suaranya jelas menyiratkan ketidaksenangan. Alena menatapnya datar. “Kalau ada masalah dengan kehadiran saya, bilang saja langsung.”

Retha tertawa kecil. “Masalah? Tidak ada. Hanya saja, beberapa orang di sini sudah lama menunggu perhatian Arka. Jangan sampai kau salah paham hanya karena dia ramah.”

Sebelum Alena sempat membalas, Arka kembali masuk. Dia langsung melihat situasi dan mengerutkan dahi. “Retha, ada apa?”

Retha segera memasang wajah polos. “Tidak apa-apa. Tadi saya tidak sengaja menyenggol nampan. Sudah saya bereskan.”

Arka menatapnya curiga, lalu beralih ke Alena. “Kau tidak apa-apa?”

“Baik-baik saja,” jawab Alena singkat.

Arka menghela napas, lalu dengan sengaja berdiri lebih dekat ke sisi Alena, seolah memberi batas. “Kalau begitu, kita lanjut. Aku ingin tunjukkan hasil scan 3D artefak ini.”

Retha mengatupkan bibir, lalu berbalik kembali ke mejanya dengan langkah kaku. Sepanjang sisa waktu, dia terus melirik ke arah mereka dengan tatapan tajam.

Alena menyadari satu hal, kedekatannya dengan Arka meski pura-pura—sudah mulai menimbulkan gesekan. Tapi dia tidak peduli. Selama bisa mendekati artefak dan mencari cara membawanya keluar… semua ini masih sepadan.

Saat sore semakin larut, Arka mengantar Alena ke luar lab. “Besok aku masih bisa bawa kau masuk,” katanya pelan. “Kalau kau mau.”

Alena menatapnya, lalu mengangguk. “Tentu saja aku mau.”

Di belakang mereka, dari balik kaca lab, Retha berdiri diam. Jari-jarinya mencengkeram tepi meja hingga memutih.

Beberapa hari berlalu. Alena semakin sering datang ke lab dengan alasan riset. Setiap kunjungan, dia berusaha mendekati Arka—bertanya lebih banyak, tersenyum lebih sering, bahkan sesekali menerima tawaran kopi atau makan siang singkat. Semua dilakukan dengan perhitungan. Dia butuh kepercayaan Arka agar suatu saat bisa berada di lab tanpa pengawasan ketat… dan membawa artefak itu keluar.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!