Alexander Wijaya hanyalah pengacara magang berpenghasilan pas-pasan, menanggung uang kos dan biaya kuliah adiknya sendirian — sampai malam ia dipermalukan habis-habisan oleh mantan kekasihnya, Priscilla Salim, di depan umum. Amarah dan keterhinaan itu justru membangunkan Sistem Pengacara Terkuat: panel status rahasia, kemampuan membaca pikiran, dan analisis bukti secepat kilat yang hanya bisa dilihat olehnya sendiri.
Sejak saat itu, setiap lawan yang meremehkannya berakhir mati sosial di ruang sidang. Namun di balik kebangkitannya, tersimpan luka lama: kematian ayahnya 27 tahun silam yang penuh kejanggalan, dan sebilah golok berdarah warisan keluarga yang menyimpan rahasia kelam.
Ketika seorang profesor dijatuhi vonis mati atas tuduhan yang tidak pernah ia lakukan, dan waktu eksekusi tinggal menghitung hari, Alexander harus membuktikan satu hal yang bisa mengubah segalanya — bahwa keadilan yang tak terlihat, lebih berharga untuk diperjuangkan daripada nyawanya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Galaxy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 30
Anwar Halim datang ke Kantor Hukum Adiwangsa membawa dua kantong besar nasi kotak.
Di belakangnya, delapan pengemudi MakanYuk ikut masuk dengan jaket kerja yang sudah pudar, helm di tangan, dan wajah yang masih canggung berada di kantor hukum.
"Pak Alexander ada?" tanya Anwar kepada resepsionis.
Alexander baru keluar dari ruang kerja ketika Rafi mengangkat kantong plastik kecil.
"Kami tidak bawa apa-apa yang mahal, Pak. Cuma makan siang."
Gunawan Kusuma muncul dari ruang rapat, melihat rombongan itu, lalu menatap Alexander.
"Kau mengundang demonstrasi ke kantor?"
Anwar panik. "Bukan, Pak. Kami cuma mau terima kasih."
Gunawan menatap kantong nasi kotak.
"Kalau begitu masuk. Terima kasih yang membawa makanan tidak boleh berdiri di lobi."
Ruang rapat kecil hari itu berubah menjadi tempat pertemuan paling sederhana yang pernah dihadiri Alexander. Tidak ada spanduk. Tidak ada pidato panjang. Hanya nasi kotak, teh tawar, dan para pengemudi yang saling duduk terlalu rapat karena masih merasa tidak pantas memakai kursi rapat kantor.
Yanti Halim ikut datang. Ia membawa map berisi salinan putusan yang sudah diberi sampul plastik.
"Saya ingin menyimpan yang asli di rumah," katanya. "Tapi satu salinan ini untuk kantor. Supaya kalau nanti ada orang seperti kami datang, mereka tahu pernah ada yang menang."
Alexander menerima map itu dengan dua tangan.
"Terima kasih, Bu."
Anwar berdiri. Tangannya masih sedikit gemetar oleh emosi yang terlalu lama tertahan.
"Kami tahu putusan ini belum tentu langsung selesai. Perusahaan bisa banding, bisa menunda, bisa macam-macam. Tapi sebelum Pak Alexander datang, kami bahkan tidak tahu harus marah ke mana. Sekarang setidaknya kami tahu kami punya hak."
Rafi menunduk, lalu berkata pelan, "Dan saya tidak jadi menjual tanda tangan saya seharga Rp 7.500.000."
Beberapa pengemudi tertawa pendek.
Tawa itu tidak besar, tetapi ringan.
Alexander menatap wajah-wajah mereka.
Ia pernah melihat mereka di lorong rumah sakit, ruang sidang, ruang tunggu pengadilan, dan malam-malam ketika uang obat lebih kuat daripada prinsip. Hari itu mereka duduk di kantor hukum, makan nasi kotak, dan untuk pertama kalinya tidak terlihat seperti orang yang meminta belas kasihan.
Mereka terlihat seperti orang yang sudah berdiri.
Gunawan mengetuk meja dengan ujung sendok.
"Sebelum makanan dingin, saya umumkan satu hal."
Semua orang menoleh.
Alexander ikut menoleh, merasa tidak enak.
"Secara administrasi kantor, Alexander sudah menjadi Advokat Tetap," kata Gunawan. "Tapi hari ini saya menutup status lamanya di hadapan orang-orang yang menjadi saksi paling keras bagi pekerjaannya."
Ia menatap Alexander.
"Alexander Wijaya bukan lagi anak magang yang kebetulan menang perkara. Mulai hari ini, ia memegang jalur penuh sebagai advokat muda kantor ini. Ia masih akan saya marahi, tentu saja. Itu fasilitas permanen."
Ruang rapat tertawa.
Alexander menutup wajah sebentar.
Gunawan melanjutkan, lebih tenang.
"Tetapi jangan salah. Ia sampai di sini bukan karena berteriak paling keras. Ia sampai di sini karena belajar bahwa hukum hanya berguna kalau berani turun ke tempat orang lemah sedang terjepit."
Anwar bertepuk tangan duluan.
Lalu seluruh ruang rapat ikut bertepuk tangan.
Tidak megah.
Tidak sempurna.
Tetapi dada Alexander terasa lebih penuh daripada saat kamera wartawan menyala.
Panel Status muncul diam-diam di tepi penglihatannya.
Ting!
Ringkasan Jilid 1: Kebangkitan Sang Pembela selesai.
Kasus utama terselesaikan: Anthony Wongso, Anwar Halim vs MakanYuk, Mira Lestari.
Reputasi sosial: dikenal di kalangan hukum Kota Cahaya dan komunitas pekerja rentan.
Status jalur: Advokat Pemula terkunci.
Ting!
Level meningkat: Lv20 Advokat Pemula.
Panel itu belum hilang.
Peti Perunggu yang tertunda sejak misi penyelamatan Anwar Halim terbuka.
Hadiah diperoleh: Penguatan Pengumpulan Bukti - Arsip dan Dokumen Lama.
Alexander menahan napas.
Di dalam kepalanya, deretan rak seolah tiba-tiba diberi label. Ia tidak mendapat jawaban instan atau bukti ajaib. Yang muncul hanya kemampuan mengenali pola usia dokumen, rantai penyimpanan, cap lembaga, dan bagian kecil yang biasanya luput ketika orang membaca terlalu cepat.
Hadiah itu datang tepat setelah nama Herman Wijaya kembali menjadi pertanyaan.
Alexander menatap map salinan putusan dari Yanti.
Mungkin sistem tidak pernah memberi hadiah tanpa alasan.
Sore itu, setelah para pengemudi pulang satu per satu, Alexander berjalan keluar kantor bersama Gunawan.
Jalanan Kota Cahaya sedang padat. Pengemudi ojek, kurir makanan, pegawai kantor, pedagang kecil, dan mahasiswa melewati trotoar yang sama tanpa saling mengenal. Beberapa orang menatap Alexander sedikit lebih lama setelah mengenali wajahnya dari koran, tetapi tidak ada yang menghentikannya.
"Bagaimana rasanya menutup jilid pertama hidupmu?" tanya Gunawan.
"Seperti belum selesai."
"Bagus. Kalau terasa selesai, kau akan malas."
"Pak Gunawan selalu punya cara membuat ucapan selamat terdengar seperti ancaman."
"Itu juga fasilitas permanen."
Alexander tertawa.
Ponselnya bergetar.
Pesan dari Nathan:
Bang, Ibu menemukan amplop lama di dasar kotak jahit. Katanya jangan dibuka sebelum kamu pulang.
Alexander berhenti di trotoar.
Gunawan memperhatikan wajahnya. "Ada apa?"
Alexander membaca pesan itu sekali lagi.
Dasar kotak jahit.
Tempat Herlina menyimpan hal-hal yang terlalu penting untuk dibuang dan terlalu menyakitkan untuk dilihat.
"Sepertinya pintu Jilid 2 baru diketuk dari rumah," kata Alexander.
Gunawan tidak bertanya lebih jauh.
"Kalau itu soal ayahmu, jangan datang hanya dengan marah."
"Saya tahu."
"Datang dengan bukti."
Alexander menggenggam ponsel.
"Itu yang Ibu bilang kemarin."
Malamnya, di kontrakan baru yang masih berbau cat murah, Herlina duduk di meja kecil. Nathan berdiri di belakang kursinya, wajahnya tegang. Di atas meja ada amplop cokelat tua yang tepinya sudah rapuh.
Nama di bagian depan ditulis tangan:
Untuk Herlina, jika Alexander sudah cukup kuat.
Di sudut kanan bawah, ada cap pudar.
Institut Riset Nasional.
Di bawah cap itu, sebaris kode hampir hilang dimakan waktu.
IRN-27/YP.
Alexander tidak langsung menyentuhnya.
Herlina menatapnya dengan mata yang sama seperti di makam.
"Ibu menemukannya waktu merapikan kotak jahit."
"Ibu tahu isinya?"
"Sebagian."
"Kenapa baru sekarang?"
Herlina menyentuh amplop itu, tetapi tidak membukanya.
"Karena kemarin aku berjanji pada ayahmu di depan makam. Dan hari ini, kotak itu seperti ikut mendengar."
Nathan menelan ludah. "Bang..."
Alexander mengambil lencana Herman dari saku dan meletakkannya di samping amplop.
Logam kuning tua itu tampak kecil di samping dokumen yang mungkin menyimpan nama-nama besar.
Tetapi bagi Alexander, keduanya sama berat.
Ia menarik kursi.
"Kita buka bersama."
Herlina memejamkan mata sebentar.
Lalu ia mengangguk.
Di luar kontrakan baru, suara motor lewat satu per satu, membawa kota yang sama seperti biasa.
Tetapi di meja kecil keluarga Wijaya-Halim, sebuah amplop lama baru saja mengubah arah hidup mereka.
Jilid pertama ditutup dengan nasi kotak dan tepuk tangan sederhana.
Jilid kedua dimulai dengan cap pudar yang selama dua puluh tujuh tahun menunggu untuk dibaca.