NovelToon NovelToon
The Last Survivors

The Last Survivors

Status: sedang berlangsung
Genre:Zombie / Hari Kiamat / Horor
Popularitas:122
Nilai: 5
Nama Author: Pineapple banana

Wabah misterius meluluhlantakkan peradaban dalam semalam, mengubah manusia menjadi makhluk haus darah yang tak kenal lelah. Di tengah kota yang sunyi dan penuh mayat hidup, sekelompok orang yang tak saling kenal terpaksa bersatu. Mereka bukan hanya harus bertahan dari serangan para mayat hidup, tapi juga menghadapi pengkhianatan, kelaparan, dan kenyataan pahit bahwa mereka mungkin adalah sisa-sisa manusia terakhir di muka bumi. Antara harapan dan keputusasaan, mereka harus memilih: bertahan hidup sendiri, atau mati bersama sebagai satu-satunya harapan umat manusia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pineapple banana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6. Tempat Berlindung Sementara

Suara benturan pada gerbang besi di belakang mereka makin lama makin keras, seolah besi itu akan lepas dari engselnya kapan saja. Jodie mengeratkan cengkeramannya pada sebilah besi yang ia temukan tadi, matanya berkilat menatap bangunan ruko dua lantai tak jauh dari sana.

"Hei lihat di sana ada ruko, sepertinya kosong. Lebih baik kita masuk ke sana, sebelum mayat-mayat itu mendatangi kita," bisiknya cepat namun tegas.

Danu segera mengarahkan pandangannya ke arah yang ditunjuk. Ruko itu tampak gelap dan sunyi, namun setidaknya dindingnya kokoh dan pintunya masih tertutup rapat.

"Oke... Kita ke sana," angguk Danu mantap, lalu segera memberi perintah. "Aldo kamu sama aku di belakang, Imran, Rafli, dan Jodie kalian barisan depan. Dan untuk yang lainnya, tetap waspada di barisan tengah, jangan sampai ada yang terpisah!"

Satu per satu mengangguk paham. Mereka pun bergerak serentak, langkah cepat namun ringan, menjaga jarak rapat satu sama lain. Danu dan Aldo berjalan paling belakang, mata mereka tak henti memindai setiap sudut lorong gelap di belakang, memastikan tak ada yang menyelinap mengikuti jejak mereka. Sementara Imran, Rafli, dan Jodie memimpin di depan, senjata teracung siap sedia menembak Apa pun yang tiba-tiba muncul.

Dalam hitungan menit, mereka sudah berdiri di depan ruko itu. Pintu kayu kusen tua yang sudah agak lapuk masih tertutup, dilindungi jeruji besi yang berkarat namun masih kuat. Rafli memberi isyarat tangan singkat kepada Jodie dan Imran. Dengan hati-hati mereka berdua mencongkel pengunci jeruji hingga terbuka, lalu mendorong pintu kayu itu perlahan agar tak menimbulkan suara berisik.

Rafli segera menyalakan senter kecil yang cahayanya ia tutupi sebagian, mengarahkan ke dalam ruangan yang remang. Ia masuk duluan, diikuti Andri yang sigap menutupi sisi lain. Sinar senter menyapu setiap sudut—rak barang yang kosong, meja berdebu, dan lantai yang berserakan kertas bekas. Tak ada gerakan mencurigakan, tak ada suara geraman.

"Ruangan depan aman," bisik Rafli lewat isyarat tangan, lalu mereka berdua memeriksa ruangan belakang dan lantai atas dengan teliti. Tak lama kemudian keduanya kembali ke pintu dan mengangguk memberi kode.

"Semua aman, masuklah cepat!" bisik Rafli setengah berbisik.

Tanpa membuang waktu, mereka satu per satu menyelinap masuk. Begitu semua berada di dalam, Jodie dan Danu segera menutup kembali pintu kayu dan mengunci jeruji sekuat tenaga, lalu menyandarkan batang kayu berat di gagang pintu sebagai pengaman tambahan.

Hening sejenak menyelimuti mereka. Hanya suara napas berat yang terdengar saling bersahutan. Di balik dinding tebal itu, mereka masih bisa mendengar samar-samar suara geraman dan langkah berat yang melewati tempat tadi mereka bersembunyi. Untuk saat ini, mereka aman. Namun semua sadar, ini hanyalah jeda sebentar sebelum bahaya kembali datang.

Mereka duduk berhimpitan di sudut ruangan yang paling gelap namun terlindung, mengumpulkan sisa tenaga di tengah keheningan yang mencekam.

"Setidaknya kita bisa tidur dengan nyenyak malam ini. Ada yang mau bergantian berjaga?" sahut Jodie memecah keheningan pelan.

"Aku... Biarkan aku berjaga duluan," sahut suara lantang namun sedikit bergetar dari seorang remaja pria yang berdiri agak terpisah. Namanya Simon.

Jodie menoleh dengan senyum sarkas yang penuh kekhawatiran. "Hei, kau yakin anak remaja? Menjaga di dunia yang sudah gila ini bukan sekadar menunggu teman bermain."

"Aku yakin, Paman. Aku bisa," jawab Simon mantap, dadanya sedikit membusung. "Umurku tidak terlalu muda untuk berjaga sampai larut malam. Aku sudah sering menjaga kebun karet sendirian di tengah hutan."

Danu mengangguk pelan, lalu merogoh sarung pinggangnya. Ia mengeluarkan pistol yang masih terisi peluru, lalu menyodorkannya perlahan kepada Simon. "Baiklah jika itu keputusanmu. Pegang ini erat-erat. Mulai sekarang, kau harus selalu berbekal senjata. Kita akan bergantian nanti. Yang lain cobalah istirahat, besok jalan kita masih sangat panjang dan berbahaya."

Mereka semua mengangguk patuh, perlahan merapikan tempat duduk menjadi alas tidur seadanya. Andri memilih meringkuk di sudut ruangan yang paling dalam, Rafli tidur dengan senjata masih digenggam erat tepat di dekat pintu utama, sementara Jodie berbaring di dekat jendela yang sudah tertutup rapat. Mega berbaring di samping Dokter Rizal, saling menjaga satu sama lain, sedangkan Aldo, Danu, dan Natalia tetap terjaga menemani Simon di bagian depan.

Natalia menatap bayangan samar di balik jendela, suaranya terdengar lirih penuh kepahitan. "Aku masih berharap ini hanya mimpi buruk yang akan usai saat aku terbangun. Tapi ternyata... ini semua nyata."

Aldo menghela napas panjang, pandangannya menerawang jauh seolah melihat kembali masa lalu yang tak terduga. "Aku pun begitu, Nat. Saat itu aku masih bertugas di perbatasan Papua. Tiba-tiba atasan memerintahkan kami kembali ke pusat dengan alasan darurat keamanan. Kami menduga ada serangan teroris atau pemberontakan. Tapi semakin kami mendekat, semakin kami sadar... ini bukan perang biasa. Ini adalah kelalaian, atau mungkin lebih tepatnya... permainan yang diatur oleh mereka yang berkuasa."

Danu menatap tajam ke arahnya, suaranya rendah namun penuh selidik. "Apa yang sebenarnya kau ketahui, Aldo? Jika wabah ini memang sengaja diciptakan atau dibiarkan terjadi oleh pemerintah?"

Aldo menggeleng pelan, genggamannya pada senjata semakin erat. "Sayangnya aku belum memiliki bukti pasti. Hanya bisikan-bisikan yang kudengar sebelum komunikasi terputus total... Bahwa ada percobaan medis yang gagal, yang kemudian ditutup-tutupi hingga menyebar tak terkendali."

Di tengah gelapnya malam itu, satu pertanyaan besar mulai menghantui pikiran mereka: apakah mereka benar-benar sekadar korban tak berdosa, atau ada yang sengaja dibiarkan hidup untuk menjadi bagian dari rencana yang jauh lebih mengerikan?

Bersambung

1
Abyyasdemons
keren
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!