NovelToon NovelToon
HALAMAN TERAKHIR

HALAMAN TERAKHIR

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Teen School/College / Cinta pada Pandangan Pertama / Kehidupan di Sekolah/Kampus / Tamat
Popularitas:236
Nilai: 5
Nama Author: T.K. OKVIANDI

Bagi Rindu Setia Wiratman, hidup adalah buku catatan yang penuh dengan aturan ketat, ekspektasi, dan kesempurnaan semu. Sebagai gadis populer yang selalu memegang kendali, ia tidak pernah menyangka bahwa takdir akan menuliskan babak paling menyakitkan di saat ia merasa paling rapuh—ketika keluarganya runtuh dan dunianya hancur perlahan.

Di sisi lain, ada Langit Batara Nugroho, cowok arogan yang kehadirannya selalu berhasil menyulut emosi Rindu. Di balik sikapnya yang menyebalkan, Langit menyimpan luka masa lalu yang belum tuntas dan sebuah rahasia besar yang sengaja dikubur rapat-rapat.

Pertemuan mereka bukanlah sebuah kebetulan, melainkan bagian dari halaman-halaman berat yang harus mereka balik bersama. Ketika badai menerpa hidup Rindu, justru Langit—seseorang yang paling ia benci—menjadi satu-satunya tempat untuk bersandar.

Namun, pertanyaannya: apakah mereka akan bertahan hingga akhir babak cerita, atau justru terhenti di halaman terakhir kisah ini?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon T.K. OKVIANDI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

HALAMAN DUA PULUH ENAM

Langit bersama yang lainnya akhirnya tiba di penginapan, Pak Amir pun langsung memarkirkan mobil di tempat parkir. Tidak lama mereka segera turun dari mobil satu persatu. Ferry mencoba membantu Langit berjalan menggunakan tongkatnya , sementara yang lain berjalan masing-masing menuju kamar.

Ferry tetap semangat membantu Langit berjalan dan menaiki anak tangga walau Langit sudah memakai tongkat untuk membantunya berjalan. Tanpa terasa Ferry dan Langit tiba di depan pintu kamarnya yang masih belum terkunci, mungkin rekan sekamar mereka tidak mau repot membukakan kunci dikalau mereka pulang. Ketika mereka berdua masuk kedalam kamar, rekan sekamar mereka menyadari kedatangan mereka walaupun sudah tertidur. Kedua rekan sekamar mereka langsung bangun dan membantu Langit untuk merebahkan tubuhnya diatas tempat tidur.

"Kak Langit kenapa? Kok tadi saya denger, kakak dibawa tim Prabu?" tanya salah seorang rekan sekamar Langit.

Langit seketika melirik ke arah Ferry mengisyaratkan agar tidak semua siswa mengetahui hal yang sebenarnya. Langit takut membuat semua jadi kepikiran dan tidak fokus dalam babak final nanti. "Nggak apa-apa kok, tadi cuma keserempet motor aja pas lagi nyeberang jalan, jadi terkilir ini kaki, kebetulan ada anggota Prabu lewat jadi ditolongin" jawab Langit berusaha menutupi semuanya.

"Udah istirahat lu, kalau butuh apa-apa bilang gue" ucap Ferry.

"Nggak ngantuk gue dari tadi udah tidur mulu, lu aja pagi mau bertanding kan, eh tapi tolong ambilin laptop gue dulu dong, tolong ya" pinta langit Langit.

"Et dah lu, lagi sakit-sakit bukannya istirahat masih aja sempet-sempetin buka laptop" jawab Ferry sambil berjalan kearah lemari untuk mengambil laptop Langit.

"Heheheh maklum ngejar setoran gue" ujar Langit.

"Nih, udah kan? Gue mau molor ya, tadi nggak bisa molor gue di rumah sakit" pamit Ferry sambil berlalu menuju tempat tidurnya.

"Thanks ya, besok harus fit lu biar menang kita, walau tanpa gue" ujar Langit.

Ferry dan kedua rekan sekamar Langit akhirnya sudah tertidur , sementara Langit masih terjaga dan menghidupkan Laptopnya. Diletakkan Laptopnya dipangkuan Langit, dan Langitpun melanjutkan tulisan novelnya dengan cahaya laptop yang diredupkan.

" .................... Entah apa yang ada dipikiran DIA, memberanikan diri sendirian keluar dari penginapan tempat kami bermalam hanya untuk mencari pulsa. Padahal , sudah jelas-jelas banyak info yang memberitahukan bahwa daerah sini sedang riskan dengan aksi-aksi setan jalanan hehe genk motor maksudnya. Mendengar DIA keluar seorang diri, mau gak mau gue harus menyusulnya.

Memang DIA itu menyebalkan , rese, judes , dan sebagainya deh, tapi tetep aja DIA itu adalah embun yang menghantarkan kesejukkan dipagi gue. Benar saja, apa yang ditakutkan terjadi, ketika DIA berada di sebuah minimarket, segerombolan remaja bersenjata tajam dengan ciri 2 buah pedang dijaketnya berbuat onar. Tanpa perasaan mereka merusak dan merampok minimarket tersebut, DIA berusaha lari dari genk tersebut maksudnya, namun apa daya DIA hanya seorang perempuan, secepat apa sih bisa lari menghindari genk tersebut. Dalam larinya DIA berpas-pasan dengan gue , hingga akhirnya kami memutuskan berlari bersama. Namun apalah daya , saat salah satu dari mereka menembakkan senapan angin ke arah kaki gue, alhasil kaki gue tertembak dan susah untuk berlari cepat. Bersukur ada tim Prabu yang lewat hingga kami selamat. Walau boleh dibilang ini salah DIA, gue tetep aja rasa ini gak berubah, apalagi disaat DIA menemani gue selama di RS tanpa tidur, hingga akhirnya sempat tertidur dibahu gue pas perjalanan kembali ke penginapan..."

Langit mulai mematikan laptopnya dan meletakkan di belakang kepalanya. Perlahan Langit mulai memejamkan matanya untuk beristirahat menyambut partai final dipagi nanti, walau dia hanya berperan sebagai penonton saja kali ini.

Waktu telah menunjukkan pukul 06.00, Langit baru saja membuka mata dari tidurnya. Saat terbangun Langit sudah melihat Ferry dan 2 rekan kamar lainnya telah selesai bersiap mengenakan seragam basket untuk Ferry dan seragam tim medis untuk 2 rekan lainnya.

"Lah udah pada siap? Kok gue nggak dibangunin jam 05.00, hp gue mati, alarm nggak bunyi " gerutu Langit sedikit kesal karena tidak dibangunkan lebih pagi.

"Tadi Pak Amir pagi-pagi banget jam 04.00 sms gue, sebenernya pak Amir bilang supaya lu jangan dibangunin, biar istirahat aja, soalnya abis selesai kompetisi kita balik lagi kepenginapan kok, buat jemput lu sama bawa barang-barang, emang sih awalnya mau langsung aja, tapi kata pak Amir gak jadi" ucap Ferry menjelaskan kepada Langit.

"Engak Fer, gue tetep ikut, seenggaknya gue mau ngeliat lu pada bertanding, gue juga mau ikut ngerasain bahagia disana kalau tim kita juara" tolak Langit yang diminta beristirahat saja sambil bangkit dari posisi tidurnya.

"Kalau itu mau lu yaudah gue nggak bisa ngelarang. Sekarang lu mandi dulu sana gue tungguin" ucap Ferry.

"Gue di lap aja paling, takut kesiram perbannya, lagian buru-buru" jawab Langit sambil berjalan menuju kamar mandi dengan tongkatnya.

Langit terlihat masuk kedalam kamar mandi, sementara di kamar terlihat Ferry membuka tas miliknya dan mengeluarkan pakaian seragam SMA yang kebetulan dia bawa. "Lu nanti pake seragam gue aja ya, gue tau lu ga bawa seragam SMA, masa iya lu nonton pake seragam basket nanti dipaksa tanding lu" teriak Ferry sambil meletakkan seragam SMA nya diatas tempat tidur.

"Oke deh, thanks ya Fer, iya gue nggak bawa baju SMA abis buat apaan gue bawa" ucap Langit dari dalam kamar mandi.

Tidak berselang lama , Langit keluar dari kamar mandi menggunakan celana pendek dan kaos singlet di tubuhnya. Dengan menggunakan dongkat, Langit berjalan menuju tempat tidur untuk segera berpakaian seragam SMA yang sudah disiapkan Ferry. Selesai mengenakan seragamnya, Langit berserta Ferry langsung pergi meninggalkan kamar menuju ruang kamar. Langit yang sudah merasa mendingan berusaha berjalan sendiri dengan tongkatnya tanpa dibantu Ferry.

Suasana di ruang makan telah dipenuhi seluruh siswa SMA Merah Putih dan beberapa orang yang menginap dipenginapan tersebut. Terlihat Rindu dan Allisya telah duduk dengan piring berisi makanan di depan mereka. Dari arah luar terlihat Ferry datang bersama Langit yang menggunakan tongkat. Langit berjalan mencari tempat duduk yang masih kosong, hingga tanpa disadari dia berjalan melintasi meja dimana Rindu dan Allisya berada.

"Udah lu duduk aja disini, gabung nggak apa-apa kan lu cowok sendirian, tenang aja nggak bakal digigit kok, biar gue aja yang ngambilin makan buat lu" ajak Rindu sambil bangkit dari tempat duduknya.

"Nggak usah Rin, biar gue ambil sendiri aja, kalau duduk ya nggak apa-apa deh gabung, tapi kalau ngambil makan gue aja , ngga enak ngerepotin lu lagian lu juga lagi makan kan" jawab Langit yang menolak untuk diambilkan makanan oleh Rindu.

"Udah nggak apa-apa gue yang ngambilin aja, gue maksa nih ya, lu duduk aja" paksa Rindu sambil menyodorkan kursi kepada Langit untuk diduduki.

"Ya udah deh kalau lu maksa sih, bisa apa gue, takut digigit gue" jawab Langit sambil tersenyum meledek.

Langit duduk di kursi yang diberikan oleh Rindu, sementara Rindu meninggalkan piringnya diatas meja untuk kembali menuju tepat makanan disajikan mengambil makan untuk Langit. Selang beberapa menit , Rindu datang kembali membawa piring yang sudah berisi nasi beserta lauknya untuk diberikan kepada Langit.

"Eh buset, nggak salah ini? perasaan gue nggak abis nguli deh" Langit terkejut saat melihatnya dikarenakan Rindu mengambil nasinya terlalu banyak.

"Udah makan aja, habiskan, kalau nggak nanti nasinya nangis loh" ledek Rindu diakhiri dengan menjelekkan wajahnya.

Langit segera menyantap makanannya bersamaan dengan Rindu dan kawan semejanya. Beberapa kali Langit menghadapkan wajahnya ke arah Rindu, matanya berhenti berkedip setiap kali melihat senyuman diwajah Rindu. Langit terkejut disaat dirinya sedang terdiam terpaku menatap senyuman Rindu, dan Rindu membersihkan bibir Langit yang kotor terkena sisa makanan dengan sehelai tissue.

Tanpa terasa waktu sudah menunjukkan pukul 06.50, sebagian siswa telah selesai sarapan dan langsung menuju tempat parkir bis. Sementara Langit masih bingung, makanannya tidak mungkin habis karena Rindu mengambilkan lebih dari porsinya. Rindu yang melihat Langit masih berusaha menghabiskannya walaupun terlihat jelas Langit sudah tak sanggup, akhirnya meminta Langit untuk membiarkannya saja tidak perlu dihabiskan.

"Hehehe udah sih nggak usah dipaksain kalau udah kenyang. Daripada nanti luber dikeluarin lagi" ucap Rindu.

"Lagian lu tega banget ngambilin nasi gue seakan gue gak makan seminggu" ucap Langit.

"Hehehe ya udah maaf ya Langit, yuk kita ke bis takut telat nanti sampai ke lokasinya" balas Rindu sambil bangun dari tempat duduknya.

Langit meraih tongkatnya dan berusaha untuk berdiri. Perlahan Langit mencoba bangun seorang diri namun terasa sulit, Rindu yang melihatnya spontan langsung membantu Langit hingga Langit berdiri dengan kaki kiri dan tongkatnya. Ditemani Rindu dan Allisya, Langit pergi meninggalkan meja makannya. Terlihat Langit sudah mulai terbiasa berjalan menggunakan tongkat, hingga beberapa kali saat Rindu ingin membantu ditolak oleh Langit dengan lembut.

Di tempat parkir, terlihat sisawa dan guru mulai menaiki bis satu per satu, sedangkan kepala sekolah beserta istri berada didalam minimus miliknya. Langit yang sudah berada didepan pintu bis, berusaha untuk menaiki tangga bis seorang diri , namun dia bingung membawa tongkatnya sementara kedua tangannya nanti berpegangan pada besi di tangga tersebut. Rindu tanpa segan langsung membantu Langit memasuki bis, dia membawakan tongkat Langit sementara Langit sendiri sedang berusaha menaiki anak tangga dibantu oleh rekannya dari dalam bis.

Langit akhirnya memasuki bis diikuti oleh Langit dibelakangnya. Bagaikan selama di sekolah mereka sama sekali tidak ada konflik, mereka berjalan menuju kursi yang sama untuk duduk berdua di sana. Tidak lama setelah Langit dan Rindu duduk dikursinya, bis terlihat mulai berjalan meninggalkan penginapan. Tersirat dalam pandangan Rindu yang menatap Langit, seakan Rindu mengetahui isi kepala Langit yang penuh beban pikiran terhadap pertandingan tim basket yang harus bertanding tanpa dia, seorang yang diandalkan dalam posisi center.

"Udah nggak usah dipikirin, Insya Allah yang lain bakal berjuang abis-abisan kok buat menang walau lu nggak ikut bertanding, lu cukup support dan bantu doa aja" Rindu mencoba menenangkan pikiran Langit.

"Iya Rin, makasih ya" jawab Langit sambil berusaha untuk tersenyum.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!