NovelToon NovelToon
Bencana Akhir Zaman: Seluruh Kota Tenggelam

Bencana Akhir Zaman: Seluruh Kota Tenggelam

Status: sedang berlangsung
Popularitas:31
Nilai: 5
Nama Author: Novi

Arga Bayu Pratama, mantan prajurit Kopassus, terbangun di kamar kosnya yang sempit.
Tanggal di ponselnya: 10 November 2040 — dua hari sebelum kiamat.
Di kehidupan sebelumnya, ia bertahan selama enam tahun di dunia yang hancur. Ia menyaksikan hujan api menghujani kota, zombie berkeliaran di jalanan, dan manusia saling membunuh demi segenggam beras. Ia mati sendirian, tanpa apa-apa, tanpa siapa-siapa.
Tapi sekarang ia kembali. Dengan seluruh ingatan masa depan di kepalanya. Dan satu kekuatan baru yang membuatnya bisa mendengar pikiran setiap orang di sekitarnya.
"Kali ini, aku tidak akan menjadi yang paling lemah."
Sambil membeli puluhan karung beras, air mineral, dan gas elpiji sebelum dunia runtuh, Arga mulai menyusun rencana: membangun tim terkuat, menguasai kota, dan mencari tahu siapa — atau apa — yang sebenarnya menyebabkan kiamat ini.
Karena kiamat bukan kebetulan. Seseorang sedang menonton dari atas sana.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 5

Bab 005 - Kotak Pertama

"UNDIP," kata Arga pelan. "Aku datang."

Ia tidak langsung membuka pintu.

Selama tiga menit, ia berdiri di baliknya, mendengar.

Koridor lantai dua puluh satu sudah hampir mati. Kerumunan yang memukul pintu dan menuntut makanan sudah hilang. Di sudut jauh hanya tersisa napas pendek, gesekan kain basah, dan bau asam dari tubuh manusia yang terlalu lama melawan panas.

Arga membuka deadbolt perlahan.

Klik.

Pintu suite terbuka selebar tubuh.

Udara koridor menampar wajahnya. Panas, busuk, lembap, dan pahit oleh sisa Hujan Api. Di dinding, lampu darurat mati. Karpet yang dulu tebal kini keras oleh lumpur kering dan jejak kaki hitam. Dua tubuh tergeletak dekat tangga darurat, tidak bergerak.

Arga melangkah melewati mereka tanpa berhenti.

Ia bukan dokter.

Ia juga bukan penyelamat.

Malam ini, setiap detik miliknya harus dibayar dengan hasil.

Tangga darurat turun seperti mulut sumur gelap. Ia menyalakan senter kecil, menutup cahayanya dengan telapak tangan agar tidak terlalu mencolok. Lantai dua puluh. Lantai sembilan belas. Di bawah sana air masih menggenang di beberapa titik, tapi arus utama sudah turun cukup banyak untuk dilalui.

Pada lantai tujuh belas, ia mendengar suara.

"Siapa itu?"

Arga berhenti.

Seorang pria kurus duduk di anak tangga, memeluk lutut. Matanya merah, bibirnya pecah, tapi ketika melihat ransel di bahu Arga, pupilnya bergerak cepat.

Makanan?

Air?

Ambil saja kalau dia lengah.

Arga tidak menjawab. Ia hanya mengangkat pisau dapur sedikit, cukup agar kilau bilah terlihat.

Pria itu langsung menunduk.

Arga lanjut turun.

Di lantai dasar, lobi hotel sudah tidak berbentuk. Meja resepsionis miring. Sofa mengambang setengah tenggelam di air keruh setinggi betis. Kaca pintu putar pecah. Bau selokan, logam terbakar, dan daging busuk bercampur di udara.

Ia keluar melalui pintu servis.

Semarang di luar seperti kota yang ditinggalkan setelah perang.

Air masih menutup sebagian jalan. Aspal retak. Mobil-mobil bertumpuk di persimpangan, sebagian gosong, sebagian terseret sampai menabrak dinding toko. Pohon tumbang menghalangi jalur. Di kejauhan, gedung rendah hanya menyisakan atap hitam di atas air.

Arga mengencangkan tali ransel.

Jalan menuju UNDIP tidak boleh diambil lurus.

Rute utama pasti dipenuhi orang putus asa. Ia memilih gang yang lebih tinggi, lewat sisi bangunan, melompati pagar rendah, dan bergerak dari bayangan ke bayangan. Tubuhnya masih manusia biasa, tapi insting Kopassus dan enam tahun kiamat membuat langkahnya efisien.

Tiga puluh menit kemudian, ia memasuki area jalan yang lebih sepi dekat bangunan ruko terbakar.

Di sana, dua pria bertato muncul dari balik mobil boks yang terbalik.

Yang pertama memegang besi panjang. Yang kedua menyembunyikan sesuatu di belakang paha.

Pisau.

Telepati menangkap rencana mereka sebelum mulut mereka selesai tersenyum.

Yang depan ajak bicara. Kalau dia lihat ke kiri, aku tusuk dari belakang.

Ranselnya pasti ada air. Ambil airnya dulu. Orangnya buang ke banjir.

"Bang, santai," kata pria yang memegang besi. Suaranya dibuat ramah, tapi giginya terlihat terlalu banyak. "Kami cuma cari bantuan. Ada air?"

Arga berhenti lima langkah dari mereka.

"Ada."

Mata pria itu menyala.

"Bagi sedikit, Bang. Kita sama-sama korban."

"Tidak."

Wajah ramah itu pecah.

"Jangan sombong. Di zaman begini, orang yang pelit biasanya mati cepat."

Pria kedua mulai bergerak memutar, pelan, mencoba masuk ke sisi kanan Arga.

Arga membiarkannya sampai jaraknya tepat.

Lalu ia bergerak lebih dulu.

Pisau dapur di tangannya menusuk ke bawah, bukan ke dada, tapi ke pergelangan tangan pria kedua yang hendak mengangkat pisau. Jeritan pecah. Pisau lawan jatuh ke air dangkal.

Pria pertama mengayunkan besi.

Arga maju, bukan mundur. Besi itu lewat di belakang bahunya. Sikutnya menghantam rahang lawan, lalu pisau dapur menebas sisi leher dengan gerakan pendek.

Darah hitam oleh cahaya malam menyembur ke baju Arga.

Pria pertama jatuh sambil mencengkeram tenggorokan.

Pria kedua mundur panik, tangannya berdarah deras.

"Ampun! Ampun, Bang!"

Pikirannya tetap berteriak.

Bunuh dia. Ambil pisaunya. Ambil ransel.

Arga menatapnya tanpa emosi.

"Di depan saya, jangan berpikir terlalu keras."

Pria itu belum sempat memahami kalimat itu ketika Arga sudah melangkah masuk. Satu tusukan ke dada. Satu dorongan. Tubuhnya jatuh ke samping mobil boks.

Hening kembali.

Arga mencabut pisau, membersihkannya pada pakaian pria itu, lalu mengambil satu botol Aqua dari ransel. Ia minum dua teguk, tidak lebih.

Tangan pertamanya yang membunuh di kehidupan ini tidak gemetar.

Di kehidupan sebelumnya, ia membunuh jauh lebih lambat. Ia ragu. Ia muntah. Ia hampir mati karena memberi kesempatan pada orang yang lebih dulu berniat membunuhnya.

Kali ini tidak.

"Kalian hanya datang terlalu awal," katanya, lalu melanjutkan perjalanan.

Pukul 23.51, Arga mencapai kawasan UNDIP.

Gerbang kampus retak. Pohon-pohon besar di tepi jalan menghitam oleh Hujan Api. Gedung-gedung fakultas berdiri gelap, beberapa jendelanya pecah. Dari arah asrama, ada suara tangis jauh, lalu cepat hilang ditelan angin panas.

Gedung olahraga masih berdiri.

Arga masuk lewat pintu samping yang setengah terbuka. Lantainya licin oleh lumpur tipis. Ia naik ke lantai dua, masuk ke ruang istirahat kecil, lalu mematikan senter.

Pukul 00.00.

Langit di atas kampus retak.

Bukan suara petir.

Lebih seperti kain raksasa disobek dari dalam.

Dari celah hitam di udara, gelembung-gelembung transparan turun satu per satu. Di dalam setiap gelembung ada tubuh kaku berwarna pucat. Begitu menyentuh tanah, gelembung itu pecah.

Zombie pertama berdiri.

Lehernya miring. Mulutnya terbuka. Matanya keruh, hampir tidak fokus. Namun hidungnya bergerak, telinganya menangkap suara kecil dari kejauhan.

Tingkat 1Zombie.

Lemah, bodoh, tapi cukup untuk membunuh manusia biasa yang panik.

Dalam waktu beberapa menit, kampus berubah menjadi ladang jatuhnya monster. Gelembung pecah di lapangan, di jalan setapak, di atap rendah, di dekat asrama. Lalu sebuah jeritan perempuan terdengar dari arah gedung kos mahasiswa.

Semua Zombie di sekitar memutar kepala bersamaan.

Mereka bergerak ke arah suara.

Arga menyaksikan dari balik jendela lantai dua.

Bagus.

Penglihatan mereka buruk. Pendengaran dan penciuman tajam. Sama seperti sebelumnya.

Ia tidak turun. Tidak bermain pahlawan. Tidak membuang tenaga untuk orang yang tidak ia kenal.

Kotak itu baru turun pukul sembilan.

Malam berjalan lambat. Arga duduk bersandar di dinding ruang istirahat, pisau di pangkuan. Ia tidur dalam potongan pendek, bangun setiap kali ada suara terlalu dekat. Beberapa Zombie lewat di bawah jendela, tapi tidak naik. Lantai itu terlalu sunyi dan tidak menyimpan bau darah segar.

Pukul 08.50, langit kembali bergetar.

Kali ini bukan celah hitam yang menurunkan Zombie.

Cahaya biru keemasan membuka garis lurus di atas gedung olahraga.

Arga berdiri.

Sepuluh menit kemudian, sebuah kotak logam jatuh dari langit, melambat sebelum menyentuh tanah, lalu mendarat di halaman depan gedung olahraga tanpa suara keras. Permukaannya hitam perak, dengan garis cahaya biru yang berdenyut seperti nadi.

Airdrop Box Legendaris.

Di sekitar halaman, tiga Zombie tertarik oleh cahaya itu. Mereka mendekat, mengendus, berputar tanpa arah.

Arga turun.

Ia mengambil pecahan batu dan melemparkannya ke sisi kiri halaman.

Tak!

Dua Zombie menoleh ke suara itu. Yang ketiga tetap dekat kotak.

Arga bergerak cepat. Ia mendekati yang paling dekat dari belakang, menusukkan pisau ke dasar tengkorak, lalu menariknya sebelum tubuh itu jatuh. Zombie kedua mendengar suara jatuh dan berbalik, tapi terlambat. Pisau masuk dari bawah rahang.

Zombie ketiga menerjang.

Arga menendang lututnya, membuat tubuh pucat itu jatuh ke depan. Pisau menghunjam ke kepala.

Tiga mayat diam.

Arga tidak membuang waktu mencari Kristal terlalu lama. Ia merobek bagian belakang kepala mereka dengan gerakan yang sudah ia kenal dari masa depan. Tiga Kristal kecil, keruh kebiruan, masuk ke saku.

Lalu ia berdiri di depan Airdrop Box.

Tangan kanannya menyentuh panel biru.

Garis cahaya menyebar.

Klik.

Kotak terbuka.

Cahaya dingin memancar keluar, menerangi wajah Arga yang akhirnya menunjukkan sedikit senyum.

Satu Cincin Dimensi, cincin logam gelap dengan garis biru halus.

Dua Pedang Hi-Tech, bilah ramping dengan gagang hitam.

Satu Combat Suit, terlipat padat seperti kulit kedua.

Dua kotak makanan otomatis.

Dua botol air otomatis.

Satu Antidot.

Satu Serum Evolusi Tingkat Tinggi.

Sepuluh item.

Tidak kurang satu pun.

Arga mengambil Cincin Dimensi lebih dulu. Begitu cincin itu menyentuh jarinya, rasa dingin menusuk kulit, lalu ruang kosong muncul di benaknya. Lima ratus kilogram kapasitas. Cukup untuk mengubah semua strategi bertahan hidupnya.

Ia menyimpan Pedang Hi-Tech, Combat Suit, Antidot, kotak makanan, botol air, dan sisa barang ke dalam ruang cincin satu per satu.

Barang-barang itu lenyap tanpa suara.

Rasa puas yang tajam melintas di dadanya.

Kemarin, ia masih membawa ransel kecil seperti pengungsi.

Mulai sekarang, ia membawa gudang.

Terakhir, ia menggenggam Serum Evolusi Tingkat Tinggi.

Cairan di dalam tabung kecil itu berwarna perak pucat.

Arga membuka tutupnya dan meminumnya tanpa ragu.

Rasa sakit datang seketika.

Ototnya seperti dicabik dari dalam. Tulangnya berderak halus. Pembuluh darah di leher menonjol. Ia jatuh berlutut, satu tangan mencengkeram tanah, gigi mengatup sampai gusi terasa asin.

Tiga menit.

Lima menit.

Sepuluh menit.

Ketika rasa sakit mereda, dunia berubah.

Angin yang melewati halaman terdengar lebih jelas. Bau darah Zombie di tanah lebih tajam. Berat pisau dapur di pinggang terasa nyaris tidak ada. Ia mengepalkan tangan, dan udara seperti terdorong keluar dari sela jarinya.

Tiga kali tubuh manusia biasa.

Belum Evolver.

Tapi fondasi ini akan membuat setiap kenaikan Tingkat setelahnya menjadi jauh lebih mengerikan.

Arga berdiri. Kali ini, gerakannya ringan.

Ia memasukkan tiga Kristal ke Cincin Dimensi, lalu berbalik hendak masuk kembali ke gedung olahraga.

Saat itu, ia merasakan tatapan.

Bukan Zombie.

Terlalu tenang untuk Zombie.

Arga mengangkat kepala.

Di jendela lantai dua gedung olahraga, seorang gadis berdiri setengah tersembunyi di balik tirai robek. Wajahnya pucat, rambutnya berantakan, lengannya penuh luka gores.

Matanya menatap Arga, penuh ketakutan.

Dan di balik ketakutan itu, ada sesuatu yang lebih kuat.

Keinginan untuk hidup.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!