Gagal total merantau di kota, Arga terpaksa pulang kampung dengan dompet kosong dan niat setengah hati untuk bertani di lahan tua peninggalan kakeknya. Namun, nasib sialnya mendadak berbalik 180 derajat ketika sebuah layar biru hologram muncul di pagi buta, mengaktifkan "Sistem Check-in Harian" yang terus memberinya hadiah gila-gilaan setiap hari, mulai dari saldo puluhan juta rupiah, benih super ajaib, hingga barang-barang mustahil lainnya. Kini, dengan cangkul di tangan dan sistem overpower di sisinya, Arga bersiap menampar mulut julid para tetangga, menendang tengkulak serakah, dan membangun kerajaan bisnis pertaniannya sendiri untuk menjadi petani paling sultan yang pernah ada.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cherlly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 33
Layar biru transparan Toko Sistem berpendar terang di tengah kegelapan malam yang mulai menyelimuti halaman belakang rumah Arga.
Arga mengusap dagunya sambil membaca deretan bibit tanaman magis yang harganya membuat mata orang biasa copot.
"Sistem, aku ingin menukar uang dua puluh juta rupiah dari saldo rekeningku menjadi koin sistem sekarang juga." Arga memberikan perintah tanpa ragu sedikit pun.
[Konfirmasi diterima, memotong saldo sebesar Rp 20.000.000 dari rekening Host.]
[Transaksi berhasil, 20.000 Koin Sistem telah ditambahkan ke dalam dompet virtual.]
Ponsel Arga bergetar menandakan uangnya telah keluar namun dia hanya tersenyum karena ini adalah investasi mutlak baginya.
"Sekarang beli satu paket Benih Bawang Merah Penambah Darah dan satu paket Benih Sawi Penguat Tulang."
[Pembelian berhasil, memotong 10.000 Koin Sistem untuk dua paket benih tingkat A.]
[Benih telah dikirimkan ke dalam Inventaris Sistem Host.]
Dua buah kantong kertas muncul dan jatuh tepat ke telapak tangan Arga yang sudah bersiap menampungnya.
Kantong pertama berisi puluhan siung bawang merah kecil yang warnanya merah segelap darah segar.
Kantong kedua berisi biji-biji sawi berukuran sangat kecil yang memancarkan pendar cahaya hijau keputihan seperti kalsium murni.
"Masing-masing kantong ini bisa ditanam untuk sepuluh petak tanah, ayo kita mulai kerja lembur malam ini." Arga bergumam semangat sambil mengenakan kembali Sarung Tangan Tenaga Badak miliknya.
Dia berjalan menuju area tanah hitam magis yang sudah dia gemburkan sore tadi.
Dengan kecepatan tangan yang ditingkatkan oleh efek sarung tangan Arga menanam bibit bawang merah dan sawi itu dengan sangat presisi.
Hanya butuh waktu setengah jam baginya untuk menyelesaikan proses penanaman benih bernilai puluhan juta rupiah tersebut.
Arga kemudian berjalan menuju Sumur Air Suci Kehidupan dan menimba beberapa ember air biru bercahaya itu.
Byur byur byur.
Dia menyiramkan air suci itu ke seluruh petak tanah yang baru ditanaminya tanpa terlewat satu sentimeter pun.
Kres kres kres.
Suara gesekan yang sangat keras terdengar dari atas tanah hitam magis tersebut.
Tunas-tunas bawang merah dan sawi hijau langsung menembus permukaan tanah secara serentak bagaikan pasukan tentara yang bangkit dari bumi.
Hanya dalam hitungan detik daun-daunnya memanjang rimbun memenuhi petak tanah kosong tersebut dengan pemandangan yang luar biasa hijau dan segar.
Pertumbuhannya baru berhenti di fase vegetatif akhir menandakan bahwa tanaman itu butuh waktu sekitar dua hari lagi untuk siap dipanen.
"Kombinasi tanah magis dan air suci ini benar-benar gila, aku serasa sedang bermain game menanam sayur dengan kode cheat yang tidak terbatas." Arga tertawa lepas di tengah kebunnya yang kini terlihat seperti perkebunan profesional.
Malam itu Arga tidur dengan perasaan yang sangat damai tanpa mempedulikan ancaman boikot dari Pak Bowo si tengkulak desa.
Kukuruyuk. Suara kokok ayam jantan kembali menyapanya di pagi hari yang cerah.
Arga membuka matanya dan langsung menyambut layar biru yang sudah setia menunggunya di depan wajah.
"Lakukan check-in harian hari kedelapan sistem."
[Check-in Hari Kedelapan Berhasil!]
[Selamat! Anda mendapatkan Hadiah Harian: Saldo Tunai Rp 10.000.000 dan 5 Buah Karung Penyimpan Kesegaran.]
"Uang tunai sepuluh juta dan karung ajaib lagi, terima kasih banyak sistemku yang paling pengertian." Arga segera mengecek ponselnya untuk memastikan saldo rekeningnya kembali sehat.
Dia lalu bergegas mandi dan memakai kemeja biru tua kesayangannya untuk menyambut Nona Siska hari ini.
Sebelum tamu VVIP-nya itu datang Arga berjalan menuju kebun belakang untuk memeriksa pohon tomat kristalnya.
Benar saja dugaannya sepuluh pohon tomat itu kini kembali dipenuhi oleh buah merah bercahaya yang ukurannya jauh lebih besar dari panen pertama.
"Efek dari air suci kehidupan rupanya membuat ukuran dan jumlah buahnya meningkat drastis." Arga tersenyum lebar melihat gerombolan tomat yang bergelantungan lebat.
Dia memanggil Keranjang Anyaman Spasial miliknya dan mulai memetik tomat-tomat itu dengan gerakan tangan yang sangat cepat.
Kali ini Arga berhasil mengumpulkan sebanyak seratus lima puluh buah tomat kristal kualitas super tanpa cacat sedikit pun.
[Panen Tomat Kristal Ronde Kedua Berhasil Dilakukan.]
[Seluruh 150 buah tomat telah tersimpan sempurna di dalam keranjang spasial.]
Arga baru saja selesai mencuci tangannya di sumur ketika dia mendengar suara bising mesin diesel yang berat dari arah depan rumah.
Tin tin.
Klakson mobil berbunyi dua kali menandakan tamunya sudah tiba di pekarangan.
Arga berjalan ke depan dan melihat sebuah pemandangan yang sedikit berbeda dari biasanya.
Selain mobil MPV hitam mewah milik Siska hari ini ada sebuah truk boks pendingin berukuran sedang yang ikut parkir di halaman rumahnya.
Siska turun dari mobil MPV-nya mengenakan kemeja putih berlengan digulung dan celana jeans biru yang membuatnya terlihat lebih kasual namun tetap mempesona.
"Selamat pagi Mas Arga, seperti janji saya kemarin hari ini saya membawa truk pendingin khusus untuk mengangkut hasil panen Anda." Siska menyapa dengan senyum cerah.
"Selamat pagi Nona Siska, Anda benar-benar rekan bisnis yang sangat tepat waktu dan tidak pernah main-main." Arga membalas sapaan itu sambil berjalan menghampiri mobilnya.
Sopir truk dan dua orang kenek berseragam restoran langsung turun dan bersiap menerima instruksi dari Siska.
"Apakah tomat kristalnya sudah siap dipanen Mas Arga, kami sudah menyiapkan kotak-kotak khusus berlapis busa di dalam truk itu." Siska menunjuk ke arah boks truk yang sudah terbuka.
"Sudah saya panen semua pagi ini Nona, silakan ikut saya ke belakang untuk mengecek barangnya." Arga mempersilakan Siska berjalan menuju lorong samping rumah.