NovelToon NovelToon
Terjebak Nikah Kilat dengan Kapten Dingin yang Diam-diam Memujaku

Terjebak Nikah Kilat dengan Kapten Dingin yang Diam-diam Memujaku

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Cinta setelah menikah / Kapten
Popularitas:8
Nilai: 5
Nama Author: Elara Aisyah

**Demi menyelamatkan pernikahan mewah sang kakak, Kayla dijadikan tumbal keluarga sendiri.**

Diberi obat bius, dijebak masuk ke kamar hotel untuk dijadikan "simpanan" demi melahirkan ahli waris keluarga Chandra—begitulah rencana kakak dan calon iparnya. Tapi takdir salah alamat: nomor kamar tertukar, dan Kayla justru terdampar di suite **Kapten Adrian Gunawan**, pria berwajah dingin yang katanya paling anti disentuh perempuan.

Malam itu mengubah segalanya.

Untuk lepas dari jeratan keluarga yang ingin menjual harga dirinya, Kayla nekat menikah kilat—dan pria yang dijodohkan padanya, entah kebetulan atau takdir, ternyata Adrian yang itu juga.

*"Kalau kau berharap bisa menjebakku dan menuntut tanggung jawab, jangan harap."*
*"Kebetulan sekali. Aku juga tidak mau kau bertanggung jawab,"* balas Kayla dingin.

Semua orang mengira pernikahan ini cuma kontrak tiga tahun yang cepat atau lambat berakhir cerai. Semua orang mengira Kapten Adrian tidak mungkin mencintai dokter IGD berlatar keluarga toko sembako itu.

Sampai orang-orang mulai memergoki sang kapten dingin memapah istrinya dengan sebutan *"sayang"* di setiap kalimat…

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elara Aisyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 9

Bab 9

Ancaman Keluarga Chandra

Ancaman itu datang ke depan pintu empat hari kemudian.

Petugas keamanan Cluster Peony menelepon Kayla menjelang siang. Ada tiga orang yang mengaku keluarganya dan memaksa masuk.

"Siapa nama mereka?" tanya Kayla.

"Wilson Chandra, Vera Halim, dan Nyonya Chandra."

Kayla menutup mata sebentar. Adrian sedang melakukan panggilan daring di ruang kerja lantai atas. Ia bisa menolak mereka di gerbang, tetapi Chandra akan terus datang ke rumah sakit atau mengirim ancaman lewat nomor baru.

"Izinkan masuk. Catat plat mobil mereka dan jangan hapus rekaman gerbang."

"Baik, Nyonya."

Kayla mengirim pesan singkat kepada Adrian, lalu menunggu di ruang tamu.

Bel berbunyi beberapa menit kemudian.

Wilson masuk lebih dulu begitu pintu dibuka, seolah rumah itu miliknya. Vera dan Tante Fen mengikuti. Mata ketiganya bergerak cepat mengamati langit-langit tinggi, sofa kulit, dan taman belakang yang terlihat dari pintu kaca.

"Baru menikah beberapa hari, sudah tinggal di rumah sebagus ini," kata Vera. "Ternyata kau memang pandai memilih sasaran."

"Kalian punya lima menit," jawab Kayla. "Setelah itu keluar."

Tante Fen duduk tanpa dipersilakan. "Jangan bicara seperti itu kepada orang yang lebih tua. Kami datang menyelesaikan urusan keluarga."

"Tidak ada urusan keluarga di antara kita."

Wilson tersenyum dan berdiri terlalu dekat. "Jangan begitu, adik manis. Pernikahan kilat tidak menghapus kesepakatan sebelumnya."

"Kesepakatan dibuat oleh orang yang setuju. Aku diberi obat dan diseret ke hotel. Itu kejahatan, bukan kesepakatan."

Vera mengeluarkan ponsel. Di layarnya ada potongan video Kayla memasuki lift Grand Regalia dalam keadaan terkulai di antara Vera dan Tante Fen. Sudut videonya sengaja dipotong agar tidak terlihat siapa yang menopangnya.

"Kalau bagian ini tersebar," kata Vera, "orang hanya akan melihatmu masuk ke lantai suite malam-malam, lalu menikahi laki-laki yang kamarnya kau masuki. Menurutmu rekan rumah sakit akan percaya cerita siapa?"

"Rekaman asli menunjukkan kalian menyeretku."

"Rekaman asli bisa hilang," balas Tante Fen.

Kayla merasakan ujung jarinya mendingin. Mereka datang bukan hanya untuk mengancam. Mereka sedang memberi tahu bahwa seseorang di hotel bersedia membantu menghapus jejak.

Wilson menyentuh sandaran sofa di belakang Kayla. "Kita tidak perlu membuat ini buruk. Kau tetap bisa memenuhi rencana awal. Suamimu seorang kapten. Dia sering pergi berhari-hari."

Kayla menatap tangannya. "Jauhkan tanganmu dari saya."

"Atau apa?"

"Atau aku yang akan menjauhkannya."

Suara Adrian terdengar dari tangga.

Ia turun tanpa tergesa, mengenakan kemeja hitam dengan lengan digulung. Tatapannya berhenti pada jarak antara Wilson dan Kayla.

Wilson menarik tangannya dari sofa.

Adrian berdiri di sisi Kayla. "Istriku meminta kalian keluar."

Tante Fen tersenyum kaku. "Kapten Adrian, ini hanya salah paham di antara keluarga."

"Memberi obat kepada perempuan, membawanya ke hotel, lalu mengancam dengan rekaman bukan salah paham."

Wajah Vera berubah. "Kau tidak punya bukti soal obat."

"Aku punya rekaman utuh koridor, daftar akses lift, rekaman restoran, dan pesan perubahan kamar 2010 menjadi 2001. Aku juga punya hasil pemeriksaan sisa minuman dari kamarku."

Adrian tidak menjelaskan seberapa kuat masing-masing bukti. Ia tidak perlu. Keraguan yang melintas di wajah Tante Fen sudah cukup.

"Kalau kalian menyebarkan video yang dipotong," lanjut Adrian, "kami akan mengunggah versi penuh bersama laporan polisi atas dugaan pemberian obat, pelecehan, ancaman, dan pencemaran nama baik."

Wilson tertawa mengejek. "Kau pikir karena memakai seragam kapten, kau bisa menakuti keluarga Chandra?"

"Tidak." Adrian mengeluarkan ponsel. "Aku pikir polisi dan pengacara bisa."

Ia menelepon Nico dengan pengeras suara.

"Siapkan salinan bukti Grand Regalia dan hubungi petugas keamanan Cluster Peony. Ada tiga tamu yang menolak pergi."

"Siap," jawab Nico. "Apakah perlu menghubungi Kompol Firman?"

Nama polisi itu membuat Vera menoleh kepada Tante Fen.

"Tidak perlu untuk saat ini," kata Adrian. "Mereka masih punya kesempatan keluar sendiri."

Tante Fen berdiri. "Kita pergi."

"Tante!" Wilson memprotes.

"Sekarang."

Vera meraih tasnya. Sebelum keluar, ia berhenti di depan Kayla.

"Kau bersembunyi di belakang suamimu dengan cepat sekali."

Kayla menatapnya tanpa mundur. "Aku berdiri di rumahku sendiri. Kalian yang datang beramai-ramai untuk menakutiku."

Vera kehilangan senyum.

Dua petugas keamanan sudah menunggu di depan. Mereka mengantar ketiga tamu sampai ke mobil dan mencatat waktu keluarnya.

Adrian berdiri di teras sampai kendaraan Chandra menghilang di ujung jalan. Saat kembali, Kayla masih berada di samping sofa dengan tangan terkepal.

Di dalam mobil, Wilson memukul sandaran kursi depan.

"Kalian bilang dia hanya menikah dengan kapten biasa. Kenapa dia punya semua rekaman hotel?"

"Mungkin dia menggertak," jawab Vera, meski suaranya tidak yakin.

Tante Fen menatap gerbang Cluster Peony yang semakin jauh. "Tidak ada orang biasa yang tinggal di kawasan itu dan bisa menyimpan rekaman Grand Regalia sebelum manajemen menghapusnya. Cari tahu keluarga laki-laki itu sebelum bertindak lagi."

"Sementara itu Kayla bebas mempermalukanku?" Wilson mendesis.

Vera menggenggam ponsel. "Dia bekerja di rumah sakit dan baru masuk lingkaran sosial suaminya. Kita tidak harus menyentuhnya. Cukup buat orang lain bertanya bagaimana mereka sebenarnya bertemu."

Tante Fen menoleh. "Jangan lakukan apa pun sebelum aku memberi perintah."

Vera mengangguk. Namun jempolnya sudah membuka daftar kontak grup arisan.

Di rumah, Adrian menuang segelas air dan menyerahkannya kepada Kayla.

Ia menuang segelas air dan menyerahkannya.

"Minum."

Kayla menerima gelas itu. Airnya bergetar tipis.

"Aku tidak takut kepada mereka," katanya.

"Aku tahu."

"Tanganku hanya..."

"Aku tahu."

Adrian tidak menyentuhnya. Ia duduk di kursi seberang, memberi Kayla ruang sampai getaran air berhenti.

"Apakah semua yang kau katakan tadi benar?" tanya Kayla. "Tentang bukti?"

"Sebagian. Rekaman koridor dan restoran ada. Hasil cairan menunjukkan zat yang tidak seharusnya ada, tetapi rantai buktinya belum cukup kuat. Aku sedang mencari siapa yang mengubah akses kamar."

"Jadi kau menggertak."

"Aku menyampaikan kemungkinan terburuk mereka."

"Itu definisi menggertak."

"Berhasil, kan?"

Kayla menatapnya, lalu tanpa sengaja tertawa pendek. Ketegangan di bahunya turun sedikit.

Adrian mengulurkan tangan. "Ponselmu."

"Untuk apa?"

"Aku akan memasang nomor Nico sebagai kontak darurat dan mengaktifkan rekaman otomatis untuk panggilan nomor tak dikenal. Kau tidak perlu mengganti nomor, tapi jangan menghadapi ancaman tanpa menyimpan jejak."

Kayla menyerahkan ponselnya. "Kau selalu mengubah semua hal menjadi prosedur?"

"Prosedur dibuat agar orang tetap berpikir saat panik."

"Aku tidak panik."

"Tentu. Air tadi bergetar karena pendingin ruangan."

Kayla memelototinya, tetapi tidak mengambil kembali ponsel sampai Adrian selesai mengatur kontak.

Ponsel Adrian berdering.

Nama Martin muncul di layar, disertai label sekretariat keluarga Gunawan.

Adrian menjawab. Ekspresinya kembali dingin setelah mendengar kalimat pertama.

"Kapan?"

Ia mendengarkan, lalu menutup telepon.

"Ada masalah?" tanya Kayla.

"Engkong dan Ema memerintahkan kita datang ke rumah utama. Mereka ingin melihat cucu menantu yang kunikahi tanpa izin."

Kayla meletakkan gelas.

Ancaman keluarga Chandra baru saja keluar dari pintu.

Sekarang keluarga Gunawan memanggil mereka masuk.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!