Dijadikan keset kaki, diabaikan oleh ayah kandungnya, hingga dikhianati oleh pria yang berjanji akan menikahinya. Hidup Shen Xianle berakhir tragis di dasar tebing dingin setelah tubuhnya dilemparkan tanpa belas kasihan.
Mereka mengira Xianle telah lenyap dan dilupakan. Namun, mereka salah besar. Sebuah kekuatan kuno membangunkannya dari ranjang salju yang berdarah. Kali ini, tidak ada lagi putri teratai yang lemah lembut. Yang ada hanyalah Shen Xianle yang terlahir kembali dengan hati sedingin es dan tekad membalas dendam yang membara.
Bagaimanakah cara Xianle membalas setiap tetes darah yang pernah mereka tumpahkan? Ikuti kisah pembalasan dendam terdahsyat sang putri yang terlupakan!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S RIANA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
konspirasi di balik bayangan
Asap hitam sisa ledakan perlahan menipis, meninggalkan bau belerang yang menyengat di dalam lorong makam kuno. Shen Xianle menatap lencana logam yang kini telah bengkok di tangan Lin Cang. Otaknya berputar cepat, berusaha mencerna informasi yang baru saja ia dengar.
"Cabang terlarang yang dibuang?" Xianle mengulangi ucapan Lin Cang, suaranya menggema rendah di antara dinding batu yang lembap. "Jika mereka adalah bidak yang dibuang, lalu siapa tangan yang menggerakkan mereka sekarang?"
Lin Cang tidak langsung menjawab. Ia memasukkan lencana yang rusak itu ke dalam jubahnya, lalu kembali mendekap kotak batu peninggalan ibu Xianle dengan sangat protektif.
"Dunia kultivasi tidak pernah seputih yang kau lihat dari luar, Xianle," kata Lin Cang sembari memberi isyarat kepada para pengawal keluarga Lin untuk memeriksa mayat penyerang yang tewas. "Ketika sebuah klan besar memotong salah satu cabangnya karena dianggap melakukan praktik terlarang, cabang itu tidak selalu mati. Kadang, mereka hanya bergerak di bawah tanah. Menjual kesetiaan mereka kepada penawar tertinggi."
Xianle berjalan mendekati mayat pria berpakaian hitam itu. Dengan ujung belatinya, ia menyingkap kerah baju sang penyerang. Di kulit leher pria itu, terdapat tato samar berbentuk rantai yang mengikat seekor serigala.
"Mereka dikendalikan oleh segel budak," gumam Xianle, mengenali tanda sihir hitam tersebut. "Orang yang mengirim mereka tidak hanya menginginkan fragmen magnolia ini, tetapi juga memastikan mereka tidak akan bisa bicara jika tertangkap."
"Tepat," Lin Cang mengangguk, tatapannya menyapu kegelapan lorong di depan mereka. "orang yang memiliki kemampuan serta sumber daya untuk mempekerjakan sisa-sisa Serigala Hitam... adalah seseorang yang sangat dekat dengan lingkaran dalam kultivasi kita. orang yang tahu persis kapan kita akan bergerak dari makam."
Mendengar hal itu, Inti Magnolia Spiritual di dalam dada Xianle kembali berdenyut samar. Bukan karena ancaman bahaya fisik, melainkan karena gejolak emosi yang tertahan. Bisikan wanita misterius yang ia dengar sebelumnya—Jangan percaya Lin Cang—kembali terngiang di sudut benaknya.
Xianle menatap punggung Lin Cang yang mulai berjalan mendahuluinya. Jika semua orang menyembunyikan sesuatu, bagaimana aku bisa tahu siapa musuh yang sebenarnya? Apakah pria di depanku ini benar-benar melindungiku, atau dia hanya menungguku mengaktifkan fragmen ini untuk kepentingannya sendiri?
"Kita harus bergegas," seru Lin Cang tanpa menoleh. "Dua orang yang lolos tadi pasti akan melapor. Formasi pelindung tempat ini sudah tidak stabil setelah getaran Gerbang Surga Terlarang. Jika kita terperangkap di dalam lorong bawah tanah ini saat penyerang gelombang kedua datang, kita akan menjadi sasaran empuk."
Rombongan kembali bergerak dengan kecepatan dua kali lipat dari sebelumnya. Suasana di dalam kelompok itu kini jauh lebih tegang. Para pengawal keluarga Lin menghunus senjata mereka, mata mereka waspada memandai setiap celah di langit-langit dan dinding lorong.
Xianle sengaja menjaga jarak beberapa langkah di belakang Lin Cang. Sembari melangkah, ia memusatkan fokusnya ke dalam batin. Ia mencoba berkomunikasi dengan Inti Magnolia Spiritual di dalam tubuhnya, mencari tahu dari mana asal suara peringatan tadi. Namun, inti spiritual itu kini kembali tenang, seolah-olah mengunci rapat rahasianya sendiri.
Setelah melewati labirin lorong yang berliku selama hampir satu jam, udara di sekitar mereka mulai terasa lebih segar. Bau tanah basah dan hutan perlahan menggantikan bau apek makam kuno.
Di ujung lorong, seberkas cahaya alami mulai terlihat.
"Kita hampir sampai di pintu keluar rahasia," kata salah seorang pengawal senior keluarga Lin dengan nada lega.
Namun, tepat ketika mereka melangkah keluar dari mulut gua yang tersembunyi di balik rimbunnya tanaman merambat, langkah Lin Cang mendadak terhenti.
Di hadapan mereka, di sebuah hutan yang berkabut tipis, sesosok siluet tinggi tengah berdiri membelakangi mulut gua. Sosok itu mengenakan jubah putih bersih yang tampak beda dengan lingkungan hutan yang liar. Di pinggangnya, tergantung sebuah seruling bambu berwarna hijau giok.
Xianle merasakan Inti Magnolia Spiritual di dadanya mendadak memanas—sebuah reaksi yang sangat berbeda dari saat ia mendeteksi musuh tadi. Reaksi ini lebih menyerupai rasa rindu yang mendalam sekaligus kepedihan yang teramat sangat.
Sosok berjubah putih itu perlahan membalikkan tubuhnya. Wajahnya yang rupawan tampak tenang, namun sepasang matanya menyimpan kedalaman langit malam yang tak berdasar.
"Kau terlambat, Lin Cang," ucap pria berjubah putih itu, suaranya terdengar lembut namun bergetar dengan energi spiritual yang luar biasa kuat hingga membuat dedaunan di sekitar mereka berdesir.
Lin Cang mempererat cengkeramannya pada kotak batu di tangannya, wajahnya menegang seketika. "Junwei..."