Ini bukan tentang pengkhianatan atau perselingkuhan.
Ditinggal kabur calon suami sehari sebelum pernikahan demi wanita lain adalah hal memalukan bagi Kanaya. Namun, terjebak dalam pernikahan darurat dengan Yudha, calon adik iparnya yang 7 tahun lebih muda dari usianya, jauh di luar bayangannya.
Tanpa cinta, tanpa persiapan, dia harus memulai hidup seatap dengan laki-laki yang lebih pantas menjadi adiknya.
Inilah kisah dua jiwa yang dipaksa bersatu demi sebuah nama baik. Apa yang terjadi dengan kisah mereka setelah menikah? Akankah rumah tangga mereka bisa bertahan? Apakah rasa cinta akhirnya tumbuh di antara mereka berdua?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon REZ Zha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kelihatan Beda
Tiga hari absen dari kantor, membuat Yudha fokus pada jobdesk yang tertunda beberapa hari ini. Karena cutinya sangat mendadak, membuatnya ia sibuk hari ini.
Di usianya yang terbilang muda, tapi sudah menduduki posisi sebagai Manager Keuangan merupakan prestasi yang luar biasa bagi Yudha. Keuletan dan ketekunannya dengan pekerjaannya membuat ia bisa mencapai posisi bergengsi itu.
Jelang jam istirahat, Yudha keluar dari ruangannya. Dia diminta menghadap Pak Benny, bos besarnya di perusahan tempat ia bekerja.
"Zak, saya mau ke Pak Benny dulu." Yudha memberitahu Zakaria lalu 4melangkah meninggalkan ruangan keuangan.
"Baik, Pak," jawab Zakaria cepat.
Ayumi menatap kepergian Yudha. Pria itu sama sekali tak menoleh padanya, seperti tak menganggap keberadaannya di ruangan itu. Tak seperti biasanya, Yudha selalu menyempatkan mencuri pandang dan tersenyum padanya. Namun, hari ini terlihat berbeda, hal itu membuatnya mendadak gelisah.
Di ruang CEO
Tok tok tok
"Siang, Pak." Yudha masuk ke ruangan Pak Benny.
Dalam ruangan itu, tak hanya ada Benny, big bos di perusahaan itu, tapi juga Gusti, wakil Pak Benny. Mereka terlihat mengobrol santai di sofa.
"Wah, pengantin baru, apa kabarnya nih?" tanya Gusti meledek.
Yudha tersenyum, berjalan menghampiri kedua atasannya itu lalu berjabatan tangan.
"Baik, Pak. Alhamdulillah ..." jawab Yudha.
"Duduk sini, Yud. Saya sama Pak Gusti penasaran dengan masalah yang terjadi." Sebenarnya Benny penasaran. Saat Yudha menghubunginya sehari sebelum pernikahan. Yudha meminta izin cuti dan memberitahu akan menggantikan sang kakak di pelaminan. Hal itu tentu saja membuatnya terkejut. Dia, Gusti dan kepala HRD memang mendapat kartu undangan pernikahan Yogi dan Kanaya, karena Yudha mengundangnya. Tak menyangka kalau justru Yudha lah yang akhirnya menikah hari itu.
"Saya dan Pak Benny sampai bertanya-tanya beberapa hari ini. Ada masalah apa sebenarnya?" Bukan bermaksud turut campur dalam urusan pribadi dan rumah tangga Yudha. Hanya merasa penasaran, apalagi Yudha adalah anak buahnya.
Yudha menghempas nafas panjang. Sebenarnya masalah ini sangat memalukan untuk diceritakan pada orang lain. Tapi, pergantian pengantin pria memang akan menjadi pertanyaan banyak orang.
"Kakak saya membatalkan pernikahan dan pergi menemui mantan kekasihnya yang kecelakaan di Bali, Pak." Mau tak mau Yudha menceritakan hal yang sebenarnya terjadi.
Benny dan Gusti saling pandang. Mereka ingin tahu lebih banyak tentang tindakan yang diambil Yogi, Namun, tak etis rasanya jika menanyakan hal itu lebih jauh.
"Lalu, bagaimana pernikahanmu? Kamu menggantikan kakakmu apa itu jadi masalah?" tanya Benny lebih memfokuskan pada pernikahan yang dijalankan Yudha.
"Alhamdulillah lancar, Pak. Nama saya yang dicatat di KUA sebagai pengantin pria," jawab Yudha menerangkan, jika pernikahan berjalan lancar meskipun berbeda mempelai pria dari yang direncanakan sebelumnya.
"Berarti kalian benar-benar sudah sah sebagai pasangan suami istri?" Gusti memastikan.
"Benar, Pak. Saya dan istri saya sudah terdaftar sebagai suami istri yang sah secara hukum dan agama." Yudha menjelaskan.
"Syukurlah kalau begitu." Gusti menarik nafas lega.
"Belum banyak yang tahu kalau kamu menikah, Yud. Secepatnya kamu harus mengkonfirmasikan statusmu ini, agar karyawan wanita di sini berhenti mengharapkanmu lagi," ujar Benny dengan terkekeh. Bisa dibilang Yudha adalah pria yang banyak diidamkan wanita di kantor itu, sehingga Benny yakin banyak staff wanita yang berminat menjadi istri Yudha.
Yudha tersenyum menanggapi ucapan bosnya.
"Benar, Pak. Secepatnya saya akan mengumumkan status baru saya ini," sahutnya kemudian.
Yudha sendiri berpikir akan mengadakan pesta kecil untuk mengumumkan pernikahannya kepada rekan sejawat juga staff di kantor, hanya saja ia perlu membicarakan hal ini dengan Kanaya.
***
Karena Yudha belum selesai dengan pekerjaannya di kantor dan tidak bisa menjemput Kanaya, Yudha memesan mobil ojek online untuk mengantar istinya itu pulang. Dia tak ingin lepas tanggung jawab begitu saja pada sang istri, karena pagi tadi ia melarang Kanaya membawa mobil sendiri ke sekolah.
Sambil menunggu Yudha sampai di rumah, Kanaya sengaja menyiapkan menu makan malam mereka. Dia sempat bertanya pada Yudha, tentang makanan-makanan kesukaan suaminya itu. Ternyata ia dan Yudha sama-sama gemar makanan pedas, akan lebih mudah baginya mengatur menu makanan untuk sang suami.
Sementara di kantor Yudha.
Klik
Suara notif pesan masuk terdengar dari ponsel yang tergeletak di meja.
Yudha mengambil benda pipih itu untuk melihat siapa yang mengirim pesan kepadanya.
"Belum selesai di kantornya, Yud? Aku mau masak balado telur dan perkedel kentang kornet, kamu suka, nggak?"
Ternyata pesan dari Kanaya yang muncul di ponselnya.
Yudha tersenyum membaca pesan Kanaya. Dia pun segera membalas pesan istrinya itu.
"Apa pun yang kamu masak, pasti aku makan, kok. Aku sih, suka-suka aja."
Klik
Notif pesan masuk kembali terdengar.
"Oke." Singkat balasan dari Kanaya.
"Istri yang baik. Makasih udah mau melayani suamimu dengan membuatkan makanan. Nanti malam giliran aku yang akan melayani kamu." Yudha sengaja mengirim pesan yang menggoda Kanaya.
Kanaya terlihat membaca pesan yang ia kirim. namun tak membalasnya. Bisa Yudha bayangkan wajah Kanaya pasti sedang merona membaca pesannya tadi.
Yudha memutuskan untuk segera pulang. Dia menutup laptop dan merapihkan mejanya terlebih dahulu sebelum meninggalkan ruangannya. Saat ini waktu menunjukkan pukul 17.15 menit. Beberapa staff-nya pun sudah meninggalkan kantor.
Saat keluar dari ruangannya, Zakaria dan Ayumi terlihat masih ada di ruangan itu. Zakaria memang selalu pulang lebih akhir, tapi Ayumi? Entah, apa yang menahannya hingga masih berada di ruangan.
"Zak, saya pulang dulu," ujar Yudha memberitahu Zakaria.
"Baik, Pak," jawab Zakaria.
Yudha kini menoleh pada Ayumi yang sedang menatapnya. "Kamu kenapa belum pulang? Yang lain sudah pada bubar," tanyanya kemudian.
"Umm, ini baru mau pulang, Pak." Ayumi bangkit dan menyampirkan tas di pundaknya.
"Oh ... Ya udah, saya duluan." Yudha melangkah meninggalkan ruangan.
Melihat Yudha tak menunggunya, Ayumi bergegas ikut meninggalkan ruangan menyusul langkah Yudha, agar ia bisa turun satu lift dengan Yudha. Sejujurnya ia penasaran, kenapa Yudha terlihat acuh tak acuh padanya.
"Pak Yudha kelihatan beda hari ini," ujar Ayumi, ketika mereka sudah berada di dalam lift yang membawa mereka ke lantai bawah.
"Oh ya? Memangnya apa yang tampak berbeda?" tanya Yudha berpura-pura tak mengerti arti ucapan Ayumi. Padahal ia menyadari kalau dirinya sedang memasang jarak dengan wanita itu.
"Pak Yudha kelihatan nggak banyak bicara, nggak seperti biasanya," jawab Ayumi.
"Oh ... saya baru beraktivitas kembali setelah tiga hari cuti, jadi sibuk urusan pekerjaan." Yudha berasalan.
"Katanya kemarin acara pernikahan saudara Bapak. ya? Pantas Pak Yudha repot dan mengambil cuti lama." Ayumi mendengar dari Zakaria soal rencana pernikahan kakak Yudha sebelumnya.
Yudha menoleh pada Ayumi, menatapnya beberapa saat. "Ya, memang ada acara pernikahan beberapa hari lalu dan sangat melelahkan," jawab Yudha.
Ting
Pintu lift terbuka dan mereka sudah sampai di lantai tujuan.
"Saya duluan, ya!" Yudha melangkah meninggalkan Ayumi yang berjalan ke luar lift setelahnya.
Ayumi mendesah kecewa. Tidak biasanya Yudha bersikap seperti itu padanya. Beberapa hari tak bertemu, secara tiba-tiba sikap Yudha berubah terhadapnya, itu membuat Ayumi penasaran.
❤️❤️❤️
Bersambung ...
apa harus melihat perbedaan usia di saat menikah ya
mau Naya lebih tua dari Yudha apa hak kamu,,toh mereka serasi ko,,
julid amat loh
seolah olah Kanaya yang salah padahal pihak keluarga Yogi dan Yudha yang bikin masalah.
besoknya anggap angin lalu. siapa tau jodoh sebenarnya udah deket
terima nasib aja ayy,positif thinking aja kalau Yudha bukan jodohmu. jangan coba2 buat nikung ya,..