Dianggap "gadis bangkrut yang beruntung", diperlakukan seperti janda selama tiga tahun pernikahan rahasianya. Tapi begitu Renata melepas cincin dan pergi, topeng demi topeng terbuka: peretas nomor satu, putri hilang konglomerat permata, penyelamat nyawa sang Kapten. Saat semua yang menghinanya bertekuk lutut—Kapten Nathan Halim justru jatuh paling dalam, mengejar istri yang telah ia sia-siakan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elara Aisyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 1
Bab 1
Janda Tiga Tahun
Masker-masker oksigen masih bergelantungan di atas kepala ketika Renata meminta penumpang terakhir meninggalkan kabin.
“Pelan-pelan, Bu. Pegang sandaran kursinya. Jangan lihat ke belakang.”
Perempuan setengah baya itu mengangguk sambil menangis. Jemarinya mencengkeram lengan kanan Renata, lalu buru-buru dilepaskan setelah melihat perban di lengan kirinya sudah berubah merah di satu sisi.
“Mbak juga terluka.”
“Cuma goresan. Tim medis sudah menunggu di bawah.”
Suara Renata tetap tenang. Hanya wajahnya yang terlalu pucat untuk meyakinkan siapa pun.
Bau antiseptik bercampur dengan aroma plastik panas dan kopi yang tumpah di karpet kabin. Satu jam sebelumnya, lorong kelas ekonomi AG2331 masih dipenuhi keluhan biasa. Seorang penumpang memanggilnya tiga kali hanya karena kopinya belum datang. Penumpang lain mengembalikan makanan sambil memutar mata, seolah Renata yang menentukan menu penerbangan.
Lalu pesawat kehilangan ketinggian secara tiba-tiba.
Troli menghantam sisi kursi. Masker oksigen jatuh. Orang-orang menjerit dan sabuk pengaman mengunci pinggang mereka. Dalam guncangan keras itu, penutup logam dari kompartemen atas menyayat lengan kiri Renata. Darah langsung membasahi manset seragamnya, tetapi ia masih harus mengamankan troli, memastikan pintu galley terkunci, lalu merunduk di antara kursi untuk memasangkan masker pada seorang anak yang ibunya sudah nyaris pingsan.
Sekarang pesawat telah mendarat darurat di Bandara Soekarno-Hatta. Semua orang selamat.
Seharusnya itu cukup untuk membuatnya bersyukur.
“Rena, sudah kosong.” Seorang pramugara muncul dari ujung lorong. Kerah seragamnya terbuka, matanya merah. “Tim darat minta kita turun. Mereka mau periksa kabin.”
Renata mengedarkan pandangannya sekali lagi. Kabin sempit itu tampak seperti baru dilanda badai. Selimut berserakan, gelas plastik menggelinding di bawah kursi, satu tas tangan tergeletak tanpa pemilik. Lampu darurat di lantai masih menyala.
Ia menekan telapak kanan ke sandaran kursi agar tubuhnya tidak oleng.
“Tas itu milik penumpang 27C. Serahkan ke petugas barang tertinggal.”
“Kamu masih sempat ingat nomor kursi?”
“Aku kepala kabin. Memangnya harus ingat apa?”
Pramugara itu menatap perbannya. “Setidaknya ingat kalau kamu juga manusia.”
Renata menarik sudut bibir, tetapi senyumnya tidak sampai ke mata.
Di bawah tangga pesawat, petugas medis kembali menyuruhnya pergi ke IGD. Renata membiarkan mereka membersihkan luka dan mengganti perban, tetapi menolak dibawa dengan ambulans. Sayatannya panjang, namun tidak dalam. Ia masih bisa menggerakkan jari. Besok pagi ia akan memeriksakannya lagi.
Malam ini, ia hanya ingin pulang.
Bus khusus membawa para kru dari apron menuju gedung terminal. Tak seorang pun banyak bicara. Bunyi notifikasi bersahutan dari ponsel mereka. Grup kru penuh dengan pesan keluarga yang menanyakan keadaan, diselingi ucapan syukur dari berbagai sudut layar.
Puji Tuhan, kamu selamat.
Alhamdulillah sudah mendarat.
Mama tunggu di pintu kedatangan.
Renata membuka percakapan yang namanya ia simpan paling atas. Pesan terakhir dari Nathan dikirim tiga hari lalu, hanya dua kata.
Pulang terlambat.
Tak ada pertanyaan tentang jadwal terbangnya. Tak ada pesan setelah kabar pendaratan darurat AG2331 mulai tersebar di akun berita bandara. Tak ada satu pun tanda bahwa Nathan menyadari istrinya berada di dalam pesawat itu.
Renata menekan tombol panggil.
Nada sambung terdengar dua kali, kemudian berubah menjadi suara operator yang datar.
Nomor yang Anda tuju sedang tidak dapat dihubungi.
Ia memutuskan panggilan sebelum kalimat itu selesai.
Di terminal, pintu khusus kru baru saja terbuka ketika istri kopilot berlari mendekat sambil menggendong anak mereka. Perempuan itu menangis keras, memukul dada suaminya sekali, lalu memeluknya seolah laki-laki itu bisa hilang kalau dilepaskan.
“Papa jangan terbang lagi!” si kecil terisak.
Kopilot itu tertawa dengan mata basah. “Besok juga Papa terbang lagi, Sayang.”
Di sisi lain, seorang pramugari langsung dikerubungi ibu dan dua adiknya. Pramugara yang tadi bersama Renata disambut ayahnya dengan tepukan keras di bahu. Bahkan petugas yang biasanya paling malas mengangkat telepon kini sibuk mengirim voice note panjang kepada istrinya.
Satu per satu mereka dibawa pulang.
Renata berdiri di bawah cahaya putih terminal dengan tas kabin di kaki. Di sekelilingnya ada tangis, tawa, omelan, pelukan, dan tangan-tangan yang memastikan orang yang mereka cintai benar-benar utuh.
Tak ada satu tangan pun terulur kepadanya.
Ponselnya tetap dingin.
Ia mencoba menelepon Nathan untuk kedua kalinya.
Kali ini sambungan bahkan tidak sempat berdering. Hanya suara operator yang sama, sopan dan tidak berperasaan.
Seorang pramugari yang belum dijemput suaminya melirik layar ponsel Renata. “Suamimu nggak datang, Ren?”
Renata memasukkan ponselnya ke saku rok.
“Dia sibuk.”
“Sibuk apa sampai nggak lihat berita? Video pesawat kita sudah masuk akun gosip. Suamiku yang paling cuek saja telepon tujuh kali.” Perempuan itu menggeleng, lalu merendahkan suara. “Aku dari dulu penasaran. Suamimu siapa, sih? Kok nggak pernah kelihatan?”
Dua kru lain yang masih berdiri di dekat mereka ikut menoleh. Pertanyaannya terdengar seperti perhatian, tetapi rasa ingin tahu berkilat jelas di mata mereka.
Renata sudah terbiasa.
Tiga tahun bekerja di Angkasa Air, tak seorang pun pernah melihat suaminya mengantar atau menjemput. Tak ada foto pernikahan di media sosial. Tak ada cincin di jari manisnya saat berseragam. Bahkan di formulir kantor, ia sengaja meminta data keluarga hanya dapat diakses bagian HR.
Pernikahannya sah di catatan sipil, tetapi hidupnya dijalani seperti sebuah rahasia yang memalukan.
Ia menatap pintu kaca terminal. Hujan menebal di luar, membuat lampu kendaraan terlihat kabur.
“Aku sudah kayak janda selama tiga tahun, kok,” katanya ringan.
Mereka tertawa.
“Mulutmu, Ren!”
“Jangan ngomong sembarangan. Nanti kejadian beneran.”
“Kalau suamimu dengar, bisa ngamuk.”
Renata ikut tersenyum. Tipis. Tepat seperti yang dibutuhkan agar semua orang mengira itu hanya lelucon setelah hari yang buruk.
Tak seorang pun tahu bahwa ia sama sekali tidak sedang bercanda.
Tiga tahun menjadi istri Nathan Halim, ia lebih sering tidur sendirian daripada mendengar suara napas suaminya di rumah. Tiga tahun menunggu di meja makan, lalu meminta Bik Inah menyimpan makanan yang sudah dingin. Tiga tahun menghafal obat lambung, suhu pendingin ruangan, dan kopi tanpa gula yang disukai Nathan, sementara laki-laki itu bahkan tidak tahu penerbangan mana yang membawanya pulang hari ini.
Pramugari tadi akhirnya dijemput. Sebelum pergi, ia meremas bahu kanan Renata.
“Aku tunggu sampai Grab-mu datang?”
“Nggak usah. Suamimu sudah menunggu.”
“Yakin?”
“Yakin. Pulang sana.”
Setelah mereka pergi, terminal terasa jauh lebih luas.
Renata menunduk dan membuka aplikasi Grab. Tarif melonjak karena hujan. Angka di layar membuatnya teringat tagihan rumah perawatan Mama Yolanda yang jatuh tempo lusa. Ia menutup aplikasi itu sebentar, menghitung sisa saldo, lalu membukanya kembali.
Di luar sana, keluarga Halim memiliki hanggar pribadi, jet dengan kabin berlapis kulit, pengemudi yang siaga dua puluh empat jam, dan staf yang akan membentangkan payung sebelum satu tetes hujan menyentuh sepatu mereka. Nathan hidup di dunia tempat sampanye bisa dibuka hanya karena sebuah rapat berakhir baik.
Renata hidup di lorong kelas ekonomi, mendorong troli melewati lutut penumpang, tersenyum ketika dimarahi, lalu membandingkan tarif kendaraan sebelum pulang.
Ia melayani mimpi orang lain di udara. Untuk dirinya sendiri, sebuah telepon penjemputan pun terlalu mahal untuk diharapkan.
Rasa perih di lengan kirinya berdenyut lagi. Renata berjalan menuju toilet terdekat, membasuh wajah, lalu mengunci diri di salah satu bilik.
Baru setelah benar-benar sendirian, ia membuka dua kancing teratas blus seragamnya.
Sebuah rantai tipis meluncur keluar dari balik kain. Di ujungnya tergantung cincin dengan berlian merah muda yang menangkap cahaya lampu dalam kilau lembut. Desainnya hanya satu di dunia, karya terakhir seorang desainer yang telah pensiun. Opa William menyerahkannya pada hari Renata menandatangani dokumen pernikahan dengan Nathan.
Nathan sendiri tidak pernah memasangkannya ke jarinya.
Karena pernikahan itu harus disembunyikan, Renata mengenakan cincin tersebut sebagai liontin. Dekat dengan jantung, jauh dari pandangan siapa pun.
Jari kanannya menyentuh tulisan kecil di bagian dalam cincin. Logamnya dingin, tetapi ujung jarinya justru terasa terbakar.
Lepaskan saja.
Pikiran itu datang begitu jelas hingga napasnya tersangkut.
Renata membuka pengait rantai. Untuk pertama kali dalam tiga tahun, cincin itu terlepas dari lehernya dan jatuh ke telapak tangan.
Ia seharusnya membuangnya ke tempat sampah. Atau meninggalkannya di wastafel agar siapa pun mengambil benda yang selama ini tak pernah benar-benar menjadi miliknya.
Namun jemarinya menutup rapat.
Satu detik.
Dua detik.
Luka di lengannya berdenyut mengikuti detak jantung. Di balik pintu bilik terdengar suara orang tertawa, air mengalir, dan koper diseret melintasi lantai. Hidup terus bergerak, sementara ia masih menggenggam sisa tiga tahun yang tidak pernah diakui.
Renata mengembuskan napas perlahan. Ia memasukkan cincin itu ke saku dalam seragam, tidak lagi mengembalikannya ke leher.
Belum sanggup membuang bukan berarti masih ingin bertahan.
Ketika keluar dari toilet, hampir semua kru sudah pergi. Renata mencoba menghubungi Nathan untuk ketiga kalinya.
Tidak dapat dihubungi.
Kali ini ia tidak langsung mematikan layar. Ia memandangi nama Nathan sampai huruf-hurufnya tampak asing, lalu menggeser percakapan itu ke bawah. Jempolnya sempat berhenti di nama Tania. Sahabatnya pasti akan datang sambil memaki siapa pun yang dianggap bersalah. Namun apartemen Tania berada di Tangerang Selatan, dan Renata tak mau menyeretnya menembus hujan hanya untuk sebuah penjemputan.
Ia juga tak mungkin menelepon Opa. Lelaki tua itu akan membuat seluruh rumah gempar.
Mama Yolanda pun tidak boleh mendengar kabar kecelakaan ini. Kondisinya di rumah perawatan mudah memburuk jika terkejut.
Pada akhirnya, Renata tetap sendirian.
Ia menarik koper kecilnya dengan tangan kanan menuju area penjemputan. Pintu otomatis terbuka, lalu angin basah langsung menghantam wajahnya. Hujan mengguyur atap kanopi begitu keras hingga pengumuman kendaraan nyaris tak terdengar.
Mobil datang dan pergi. Keluarga saling melambai. Pengemudi mengangkat papan nama. Seorang anak kecil melompat ke pelukan ibunya yang baru keluar dari terminal.
Renata berdiri di ujung kanopi, memeluk siku kirinya agar perban tidak terkena tempias. Aplikasi Grab masih mencari pengemudi. Satu orang membatalkan pesanan. Pengemudi kedua berhenti bergerak di peta.
Layar ponselnya memantulkan wajah yang pucat dan mata yang terlalu kering.
Lalu sebuah mobil hitam berhenti di jalur khusus.
Pintunya terbuka. Seorang pria tinggi turun lebih dulu, mengenakan kemeja gelap dan celana yang masih rapi meski hari sudah malam. Ia membuka payung hitam, kemudian membungkuk sedikit untuk melindungi perempuan yang turun dari sisi lain.
Cheryl Chandra tersenyum sambil mengatakan sesuatu.
Tangannya melingkar akrab di lengan pria itu.
Pria yang ponselnya tidak dapat dihubungi tiga kali.
Pria yang tidak tahu istrinya baru saja turun dari pesawat dengan lengan berdarah.
Kapten Nathan Halim.
Di bawah satu payung, Nathan dan Cheryl berjalan ke arah Renata sambil tertawa pelan.