NovelToon NovelToon
Separuh Jiwa Yang Pergi

Separuh Jiwa Yang Pergi

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Nikahmuda / Cintapertama
Popularitas:389
Nilai: 5
Nama Author: Zian Bachri

Danu, jatuh cinta pada seorang gadis cantik yang modis bernama Qiara. Ia menikahinya hanya karena rupa. Ia tak tau bahwa gadis tersebut berasal dari keluarga sederhana, Ia pun tak tau bahwa Qiara mau menikah dengannya hanya karena tergiur dengan harta kekayaan kedua orang tua Danu.
Danu tak mengindahkan nasehat kedua orang tuanya, hingga mereka memiliki dua orang anak, Danu dilanda kesulitan finansial akibat perusahaan tempatnya bekerja sedang pailit. Saat Danu sedang kesulitan ekonomi, Qiara justru bertemu dengan mantan kekasihnya. Disana lah terjadi pengkhiatan, Namun justru Qiara menuduh Danu yang mengkhianati pernikahan mereka, hingga membuat Qiara tega mengabaikan anak hasil pernikahannya dengan Danu, sebagai bentuk cara membalas pengkhiatan Danu padanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zian Bachri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mbak Yanti Meraup Rupiah

Bisnis haram yang dijalankan Mbak Yanti di persimpangan lampu merah ternyata menghasilkan rupiah yang sangat menggiurkan. Wajah Fanya yang polos, lucu, serta menggemaskan—ditambah pakaian lusuh yang sengaja dipasangkan—sangat mudah memancing rasa iba dari para pengguna jalan. Hanya dalam waktu beberapa jam mengemis dari sore hingga malam, kantong plastik kecil Fanya bisa terisi puluhan hingga ratusan ribu rupiah.

Dalam sebulan, Mbak Yanti berhasil mengantongi uang jutaan rupiah. Uang hasil "keringat" keponakannya itu jauh lebih besar daripada gaji bulanan yang ditunggak oleh Qiara. Uang tersebut di tabung oleh mbak Yanti, ia awalnya tak punya niat jahat terhadap keponakannya sendiri. Namun hak nya tak diberikan oleh Qiara terpaksa ia menemukan cara untuk mendapatkan uang.

Untuk menjaga agar kejahatan ini tidak terbongkar, Mbak Yanti bermain sangat rapi. Setiap kali hendak membawa Fanya mengemis, Mbak Yanti memastikan Qiara sudah pergi melangkah keluar rumah untuk menemui Irwan. Sebelum Qiara pulang malam hari, Mbak Yanti sudah memandikan Fanya hingga wangi, mengenakan pakaian bersih, dan memastikannya tertidur lelap di kamar. Jika Fanya menangis atau rewel, Mbak Yanti tak segan mengancamnya agar balita itu takut dan tidak mengadu pada mamanya.

Qiara sendiri sama sekali tidak menyadari kejanggalan tersebut. Hamil muda tidak menyurutkan niatnya untuk terus berkencan dengan Irwan. Pikirannya sudah sepenuhnya terdistraksi oleh buaian manis sang mantan dan gemerlapnya tempat-tempat hiburan malam. Setiap kali pulang ke rumah dalam keadaan lelah, Qiara hanya melongok sebentar ke kamar Fanya yang sudah tertidur, lalu masuk ke kamarnya sendiri untuk membalas pesan-pesan mesra dari Irwan hingga larut malam.

Di Kalimantan, Danu terus memeras keringat tanpa henti. Di bawah bimbingan dan perhatian tulus dari Aisyah yang selalu memantau kesehatannya, Danu berhasil mengumpulkan tabungan yang lumayan besar dari bonus lembur proyek. Setiap minggu, Danu selalu menyempatkan diri untuk video call dengan Qiara. Namun, Qiara selalu mengarahkan kamera ke wajahnya sendiri atau menunjukkan Fanya yang sengaja diposisikan sedang tidur, dengan alasan Fanya sudah lelah bermain seharian.

"Aku bangga sama kamu, Qi. Kamu telaten banget jaga Fanya dan calon bayi kita," puji Danu lewat layar ponsel dengan senyum tulus, tak tahu bahwa di balik layar itu, istrinya baru saja memoles riasan wajah usai berkencan dan putri kecilnya tertidur lelap karena kelelahan menangis di bawah terik matahari jalanan.

"Iya yank, yang penting kamu fokus cari uang di sana, biar tabungan kita makin banyak," sahut Qiara manis, menyembunyikan kenyataan pahit bahwa kebohongannya dan kejahatan Mbak Yanti kini bergerak makin liar di belakang punggung Danu.

"Gak usah buru-buru pulang, aku nggak apa-apa bisa kontrol sendiri kok yank, ada mas Herman, ada mbak Yanti dan mami yang selalu nemenin aku kalau kontrol ke dokter kandungan " dusta Qiara

"Ya sayang, jangan lupa bayar gaji mbak Yanti ya..beri dia bonus agar dia makin telaten merawat anak kita. Aku disini berjuang untukmu"

***

Waktu terus berjalan hingga usia kehamilan Qiara menginjak bulan ke tujuh. Perutnya kini mulai membuncit, namun gaya hidupnya tak banyak berubah. Irwan, yang makin lihai memanfaatkan kerapuhan Qiara, terus menghujani wanita itu dengan perhatian manis namun manipulatif. Bagi Irwan, memiliki Qiara kembali adalah bukti ego dan kemenangan pribadinya, meskipun ia tahu Qiara sedang mengandung anak pria lain.

Di jalanan, "bisnis" Mbak Yanti makin menjadi-jadi. Fanya yang baru berusia 2 tahun makin terlihat kurus dan kusam karena setiap hari terpapar polusi serta terik matahari. Kulit mulusnya kini memerah dan mengelupas. Namun, Mbak Yanti tak peduli. Bagi wanita itu, kepolosan dan raut lelah Fanya adalah tambang emas. Uang hasil mengemis Fanya bahkan kini mampu membelikan Mas Herman sebuah sepeda motor bekas untuk operasional ngojek.

"Kasian Fanya, dek... dia kan masih kecil, makin kurus keliatannya," tegur Mas Herman suatu malam pada istrinya saat memegang lembaran uang ratusan ribu hasil mengemis

"Halah, Mas! Enggak usah sok suci!" potong Mbak Yanti tajam. "Si Qiara aja kagak peduli sama anaknya sendiri! Gaji kita dipotong, ditunggak berbulan-bulan cuma buat dia keluyuran sama selingkuhannya! Ini tuh ganti rugi buat kita!"

Mas Herman akhirnya bungkam, tergiur oleh tumpukan rupiah yang mereka dapatkan tanpa perlu memeras keringat sendiri.

Sementara itu di Kalimantan, kecurigaan mulai tumbuh di benak Aisyah. Sebagai wanita yang peka, Aisyah kerap memperhatikan Danu saat menerima telepon dari Qiara. Ada respon yang tidak wajar dari Qiara—selalu menolak video call secara mendadak, beralasan sinyal buruk, atau dengan cepat mengakhiri pembicaraan ketika Danu menanyakan detail perkembangan Fanya. Selain itu, Aisyah sering mendengar cerita teman-temannya yang sudah berumah tangga, mereka dalam kondisi hamil selalu ingin dekat dengan suaminya, ini Qiara malah melerang Danu pulang? Harusnya kan dia senang kalau suaminya pulang. Aisyah membantin. Ia tak habis pikir dengan alasan Qiara melarang Danu pulang agar uang Danu tidak habis dipakai ongkos, lebih baik dikirimkan saja uangnya untuk biaya hidup Qiara dan anaknya.

Suatu sore di mess proyek, Danu tampak mengusap matanya yang merah karena kurang tidur. Aisyah menghampiri sambil membawa secangkir teh hangat dan dokumen laporan bulanan.

"Mas Danu, kamu keliatan cemas banget beberapa hari ini," kata Aisyah lembut.

Danu menghela napas panjang, menatap layar ponselnya yang menampilkan foto Fanya beberapa bulan lalu. "Nggak tahu kenapa, Ca... perasaan saya nggak enak banget. Sudah dua minggu ini setiap saya minta video call sama Fanya, Qiara selalu bilang Fanya lagi tidur atau lagi main di rumah tetangga. Perasaan seorang ayah nggak bisa bohong, Ca. Saya kangen banget sama Fanya,."

Aisyah menatap Danu dengan iba. Rasa kagum dan cintanya pada Danu makin mendalam melihat betapa tulusnya pria ini menyayangi keluarganya.

"Kalau memang mas Danu rindu anak istri, kenapa nggak ambil cuti beberapa hari?" saran Aisyah pelan. "Pekerjaan lapangan untuk tahap ini sudah stabil. Saya bisa cover tugas Mas Danu selama tiga atau empat hari."

Danu menatap Aisyah dengan binar mata penuh harap. "Kamu serius, Ca? Kamu mau gantiin saya sebentar?"

Aisyah tersenyum tulus dan mengangguk. "Iya, Mas. Pulanglah... tengok Fanya dan pastikan keadaan istri kamu. Dia hamil 7 bulan kan?biasanya orang Jawa kan ngadakan selametan gitu kalau 7 bulan"

"Tapi Qia selalu bilang aku tak perlu khawatir sama kehamilannya, dia selalu melarang aku pulang karena sayang duit habis buang ongkos"

"Mas..kamu laki-laki, kamu imam dalam rumah tangga mu. Kamu pemimpin nya. Kamu yang berhak menentukan keputusan. istrimu bukan pengambil keputusan, dia yang harusnya patuh pada keputusan mu selagi keputusan itu tidak bermaksiat pada Allah"

Hati Danu bergetar. Dadanya seperti disengat listrik, selama ini ia disetir oleh istrinya dan ia menurut saja. Sekarang ia seperti tertampar oleh kata-kata Aisyah. Ya, Aisyah benar. Ia lah kepala rumah tangga. Danu pun memutuskan pulang, walaupun Qia tak membolehkan dengan alasan dia baik-baik saja

Keputusan itu diambil secara mendadak. Danu bertekad akan memberikan kejutan dengan pulang ke Surabaya tanpa memberi tahu Qiara terlebih dahulu.

1
Ariany Sudjana
Danu bodoh, punya istri pelacur murahan, dan masih percaya semua omongan qiara
Zian Bachri🍁
good
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!