NovelToon NovelToon
Istriku yang Pernah Kutinggalkan

Istriku yang Pernah Kutinggalkan

Status: tamat
Genre:Perjodohan / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Penyesalan Suami / Pelakor jahat / Menikahi tentara / Tamat
Popularitas:1.4M
Nilai: 4.8
Nama Author: Chandria

Nadira menghabiskan empat tahun menunggu suami yang hanya ia temui saat akad nikah. Saat Arga akhirnya pulang, ia datang bersimbah darah ke IGD, dan Nadira sendiri yang mengoperasinya. Tapi Arga tidak pulang sendirian. Ada nama perempuan lain di bibirnya, dan anak kecil yang memanggilnya Papa. Di tengah luka tembak, gugatan cerai, dan rahasia masa lalu yang mulai terkuak, Nadira memilih pergi. Arga baru sadar bahwa istri yang ia tinggalkan bukan sekadar nama di buku nikah. Tapi mengejar Nadira berarti ia harus rela terbakar oleh penyesalan yang selama ini ia hindari. Dan saat dua keluarga, dua rahasia, dan dua nama Alya bertabrakan, siapa sebenarnya cinta sejati Arga?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chandria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 32

Bab 32 - Sugesti

Nadira tidak langsung pergi ke Semarang.

Itu keputusan paling sulit pagi itu. Kakinya ingin berlari ke Panti Kasih Bunda, mencari map yang hilang, bertanya pada Bu Salmah, memeriksa setiap lemari sampai masa lalunya muncul lagi. Tapi Mama Ratih masih di Jakarta dalam keadaan aneh, Papa Hendra hampir tidak tidur, dan Fadli mulai gemetar setiap kali mendengar suara motor lewat depan rumah.

Arga yang pertama mengatakannya.

"Kita bagi tugas."

Nadira menoleh tajam. "Jangan mengatur."

"Aku menawarkan struktur, bukan mengambil keputusan."

Fadli yang berdiri di dekat tangga berbisik, "Kalimatnya makin rapi."

Papa Hendra memukul pelan bahunya. "Diam."

Arga tetap menatap Nadira. "Bima dan Maya sudah di panti. Mereka bisa mengamankan Bu Salmah dan sisa arsip. Kamu perlu bicara dengan Ibu Ratih sebelum sugesti dari Dewi makin kuat."

Kata sugesti membuat Nadira berhenti.

"Mas pikir ini sugesti?"

"Aku tidak yakin. Tapi perubahan Ibu Ratih terlalu spesifik. Dia mengulang kalimat yang menguntungkan orang yang menyerangmu."

Nadira tahu itu benar.

Ia menelpon Maya. Sahabatnya mengangkat dari Semarang dengan suara berangin.

"Aku di depan panti. Bima sedang bicara dengan Pak RT. Bu Salmah aman, tapi dia ketakutan."

"Gudang?"

"Pintu samping dirusak. Anehnya, pelaku tidak mengambil uang kas atau laptop tua. Cuma map kamu."

"Ada CCTV?"

"Ada kamera jalan milik warung seberang, tapi kualitasnya seperti direkam pakai kentang. Bima sedang minta salinan."

Nadira memejamkan mata. "May, aku mau minta tolong."

"Apa pun."

"Cari tahu siapa Dewi. Jangan tulis dulu. Jangan unggah apa pun."

"Aku sudah janji. Tapi Dir, ada yang aneh."

"Apa?"

"Bu Salmah bilang perempuan bernama Dewi itu bicara lembut sekali. Dia banyak mengulang kalimat. 'Ibu pasti ingin Nadira aman.' 'Keluarga yang baik harus menarik anaknya pulang.' 'Kalau Nadira terus dekat dengan Wijaya, Ibu akan kehilangan dia.' Bu Salmah sampai ingat karena kalimatnya diulang seperti orang membaca naskah."

Nadira merinding.

Setelah telepon selesai, Arga menghubungi seseorang di Jakarta. Namanya dr. Shafira, psikiater yang pernah membantu satuan Arga menangani keluarga korban operasi. Siang itu, mereka melakukan panggilan video dari ruang tamu rumah Prameswari.

dr. Shafira tidak banyak basa-basi. Wajahnya tenang, kerudung abu-abu, suara tegas.

"Saya tidak bisa mendiagnosis tanpa bertemu Ibu Ratih. Tapi dari cerita Anda, ini bisa berupa teknik sugesti berulang yang memanfaatkan rasa takut. Bukan hipnosis panggung. Lebih mirip wawancara manipulatif."

Fadli mengangkat tangan seperti murid sekolah. "Dok, berarti Mama dihipnotis?"

"Saya hati-hati memakai kata itu," jawab dr. Shafira. "Di masyarakat, hipnotis sering dibayangkan seperti orang kehilangan kesadaran penuh. Yang lebih mungkin terjadi pada Ibu Ratih adalah tekanan emosional yang diarahkan. Pelaku bertanya, membuat korban bercerita, lalu memilih kalimat tertentu untuk diulang."

"Jadi Mama tetap sadar?"

"Sadar. Tapi rasa takutnya dibuat seperti bukti. Misalnya, 'Ibu takut Nadira direbut. Berarti keluarga Wijaya memang akan merebut.' Padahal takut bukan fakta."

Nadira mencatat kalimat itu di kertas.

Takut bukan fakta.

Ia ingin mengirimnya pada Mama Ratih, tapi dr. Shafira seperti membaca pikirannya.

"Jangan kirim kalimat pendek yang terdengar menggurui. Korban bisa merasa disalahkan. Bicara langsung lebih baik."

Nadira meletakkan ponsel. "Baik."

Nadira duduk tegak. "Jadi Mama tidak sadar dipengaruhi?"

"Bisa sadar sebagian. Korban biasanya merasa itu pikiran sendiri karena pelaku memakai emosi yang memang sudah ada. Ibu Ratih takut kehilangan Anda. Pelaku tidak menciptakan rasa takut itu. Dia memperbesarnya, memberi arah, lalu mengulang kalimat sampai korban merasa harus bertindak."

Papa Hendra menutup wajah. "Ratih keras, tapi dia tidak seperti tadi."

"Justru orang tua yang protektif mudah diserang lewat rasa bersalah," kata dr. Shafira. "Pelaku mungkin sudah mempelajari riwayat keluarga."

Arga bertanya, "Kalau pelaku mengirim rekaman suara setelah pertemuan, apakah efeknya bisa bertahan?"

"Bisa, terutama jika rekaman berisi kalimat pemicu. Misalnya 'kalau kamu sayang anakmu, tarik dia pulang'."

Nadira teringat telepon Mama Ratih.

Kalau kamu sayang Mama, pulang.

Ia merasa mual.

"Bagaimana mengatasinya?" tanyanya.

"Jangan bantah dengan keras. Itu akan membuat korban makin bertahan. Validasi rasa takutnya, lalu pisahkan antara rasa takut dan instruksi. Katakan, 'Mama takut, itu wajar. Tapi kalimat ini mungkin ditanam orang lain.' Ajak dia tidur, makan, jauhkan dari sumber pesan."

"Dia masih di apartemen serviced Kevin," kata Nadira. "Maya tidak di sana sekarang."

Arga langsung menelpon Kevin.

Kevin mengangkat cepat. "Mayor."

"Ibu Ratih masih di apartemen?"

"Saya minta staf perempuan menemani. Kenapa?"

"Periksa apakah ada paket, telepon, atau orang yang datang atas nama Dewi. Jangan biarkan Ibu Ratih menerima panggilan nomor asing."

Kevin tidak bertanya panjang. "Saya urus."

Nadira menatap Arga setelah panggilan selesai. "Terima kasih."

"Belum selesai."

"Aku tahu. Tetap terima kasih."

Arga tampak tidak siap menerima kalimat itu. Ia hanya mengangguk.

Sore harinya, Kevin menelpon balik. Suaranya lebih tegang.

"Ada paket dikirim ke apartemen untuk Ibu Ratih. Isinya ponsel murah dan earphone. Staf saya belum menyerahkan."

Nadira berdiri. "Ponsel?"

"Ada satu pesan suara masuk."

dr. Shafira yang masih tersambung meminta, "Jangan putar di dekat Ibu Ratih. Kirim ke saya dan ke penyidik."

Kevin mengirim file itu.

Mereka mendengarkan dari laptop Fadli, suara kecil.

Suara perempuan lembut terdengar.

Bu Ratih, anak yang baik akan pulang kalau ibunya memanggil. Nadira akan hilang kalau dia tetap bersama keluarga Wijaya. Kalau Ibu diam, Ibu akan kehilangan dia lagi.

Nadira menutup mulut.

Papa Hendra memukul meja. "Lagi? Kenapa dia bilang kehilangan dia lagi?"

dr. Shafira berkata, "Pelaku tahu Nadira anak angkat. Dia memakai trauma lama Ibu Ratih."

Arga menatap layar. "Suara ini bisa diidentifikasi?"

"Bisa dibandingkan dengan rekaman lain," jawab dr. Shafira. "Tapi ada yang lebih penting. Cara bicaranya terlatih."

Bima menelpon beberapa menit kemudian dari Semarang.

"Komandan, Maya menemukan nama di buku tamu panti. Dua minggu lalu ada pengunjung yang menulis sebagai konsultan keluarga. Nama: Dewi Lestari."

Nadira mencatat cepat. "Alamat?"

"Jakarta Selatan. Tapi kemungkinan palsu."

Bima berhenti sebentar.

"Ada catatan lain. Enam bulan lalu, Vania Hartono pernah mengikuti program privat di klinik komunikasi dan hipnoterapi milik Dewi Lestari."

Ruangan itu senyap.

Arga menatap Nadira.

Nadira tidak lagi gemetar. Marahnya sudah menemukan bentuk.

"Berarti Vania tidak cuma mencuri gelang," katanya.

Arga mengangguk.

"Dia belajar cara membuat ibuku melukaiku."

dr. Shafira belum memutus panggilan. "Dokter Nadira, jangan kejar pelaku hanya untuk membuktikan ibu Anda tidak salah. Itu akan membuat Anda mudah dipancing."

"Lalu saya harus bagaimana?"

"Pisahkan dua tugas. Tugas hukum: kumpulkan bukti terhadap Dewi, Vania, dan Reza. Tugas keluarga: bantu Ibu Ratih kembali percaya pada pikirannya sendiri."

Malam itu Mama Ratih menelpon lagi. Suaranya lebih pelan.

"Nad, tadi Ibu hampir membuka pesan dari nomor asing."

"Mama buka?"

"Tidak. Ibu ingat suaramu. Ibu kasih ponsel ke staf Kevin."

Nadira menggenggam ponsel lebih erat. "Mama hebat."

"Ibu merasa bodoh."

"Tidak. Orang yang sedang takut tapi masih bisa berhenti itu hebat."

Arga mendengar kalimat itu dari seberang meja. Ia sadar Nadira masih punya rumah yang tidak menuntutnya menjadi istri siapa pun, dan ia tidak berhak iri pada rumah itu.

Fadli yang duduk di lantai akhirnya berkata, "Kak, kalau nanti Mama bicara aneh lagi, aku rekam?"

dr. Shafira menjawab sebelum Nadira. "Minta izin kalau bisa. Tapi catat waktu, pemicu, dan kalimat yang berulang."

Fadli mengambil buku tulis. "Baik, Dok."

Maya berbisik, "Keluarga ini berubah jadi tim investigasi."

Nadira menatap buku di tangan adiknya. "Lebih baik begitu daripada jadi korban yang menunggu diselamatkan."

Arga menatap keluarga kecil itu dan menyimpan satu kesadaran pahit: dulu Nadira menunggu sendirian karena ia tidak pernah membangun tim di sekelilingnya. Sekarang, ketika ia akhirnya ingin berdiri di sana, ia harus belajar masuk sebagai anggota baru, bukan pusat perintah.

Itu pelajaran yang terlambat, tapi masih harus ia jalani.

1
neni supraptini
seorang ibu bisa merasakan keresahan anaknya meski ditutupi
Wa Sarah
kalau Vania suka Kevin trus siblaras suka Arga....ya sudah atuh....ambil aja.
ayok Nadira selesaikan perceraiannya lalu pindah ketempat lain, punya ijazah dokter mau kerja di rumah sakit mana aja sama aja.
Wa Sarah
benar2x ye.....ceritanya. kan mau cerai, trus hubungannya sama si Vania tu apa kok ceritanya malah melenceng🙏
Wa Sarah
ini si Arga komndan ya....jadi ceritanya ni....soal parcntaan atau pekerjaan yg gak masuk dalam alur ceritanya.🙏🙏🙏
Amelia suhartono
wanita bodoh,sok kuat,tinggal lepas yg bukan urusannya
Nyagus Gunawan
𝙠𝙡𝙤 𝙢𝙖𝙨𝙖𝙡𝙖𝙝 𝙠𝙚𝙡𝙪𝙖𝙧𝙜𝙖 𝙣𝙖𝙙𝙞𝙧𝙖 𝙨𝙚𝙡𝙚𝙨𝙖𝙞 𝙗𝙚𝙧𝙝𝙖𝙧𝙖𝙥 𝙨𝙞𝙝 𝙘𝙚𝙧𝙖𝙞 𝙖𝙟𝙖 𝙙𝙖𝙧𝙞 𝘼𝙧𝙜𝙖...𝙟𝙜𝙣 𝙢𝙖𝙪 𝙟𝙖𝙩𝙪𝙝 𝙙𝙞 𝙡𝙪𝙗𝙖𝙣𝙜 𝙮𝙜 𝙨𝙖𝙢𝙖...𝙣𝙖𝙙𝙞𝙧𝙖 𝙢𝙚𝙣𝙙𝙞𝙣𝙜 𝙘𝙖𝙧𝙞 𝙤𝙧𝙜 𝙗𝙖𝙧𝙪...
Sintaram Keumala
2in broo🗿👍
Dokkan Battle
nama Arga emang goblok dan tukang selingkuh amit amit
Si Memeh
bagus cerita nya thor
Wakana
arga kena azab
Wakana
nadira kamu malaikat atau apa
Hamdiah Arrahim
makanya jangan cepat2 ambil keputusan... kalau begini baru sadar... ternyata istrinya hebat...
Hera sasuwe
👍
Nurul Syahriani
ini cerita kenapa sih? vania gak suka nadira kenapa? karna kevin? kok sampe segitu misterius nya
Annie Soe..
Makin belibet, rumit tapiii aku sukaaa. Genre romance tapi jadi misteri ato apalah tapi selama benang merahnya terjaga ga masalah..
Jadi ga membosankan ga melulu romance, masalah rumah tangga,
Semangaatt thor..
😍💪
Andri Yeni
komunikasi nadira sama raka padahal dah nikah lama punya nak.kok msh kaku.kayak percakapan AI
Eka Anam
Nadira di telantarin 4 tahun tp nyamperin Laras bisa,udah gitu 4 th gaji nya di TF kesiapa?
Econ Ibrahim Latawa
♥️♥️
Annie Soe..
Ini bukan sekedar bacaan novel atau karya tulis biasa,,
Ada banyak pembelajaran yg bisa diambil, terutama di dialog dr. shafira sebagai psikiater. Thanks thor ..
Anita Shabrina
Kapan malam pertamanya...tau2 sdh hamidun sj... diskip yaaa ninaninuuuu nya thor... kan pengen tau awal ciuman dkk nya 🤣🤣🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!