Lyana Shaqiera, mahasiswi fakultas hukum.
Di tahun keduanya menempuh pendidikan, Qiera justru mendapat gelar baru. Bukan gelar Sarjana Hukum, melainkan "istri" dari dosennya, tepatnya dosennya yang sangat menyebalkan, Ravian Aryasatya?!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon syshy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MAL17. Mulai Terbiasa
Menjelang siang, Qiera bertemu Arga di sekretariat BEM FH. Beberapa pekerjaan telah menumpuk selama ia tidak berada di kampus, terutama koordinasi terkait perkembangan kasus dosen yang sebelumnya mereka kawal. Meski penangkapan telah dilakukan, BEM masih harus memastikan bahwa mahasiswa yang melapor mendapat pendampingan dan tidak menjadi sasaran tekanan atau penyebaran informasi pribadi.
Arga menyerahkan beberapa dokumen kepadanya. “Aku sudah menyelesaikan bagian laporan yang kemarin tertunda. Kamu tinggal memeriksa bagian rekomendasi dan jadwal koordinasi berikutnya.”
Qiera menerima berkas itu. “Terima kasih, Kak. Maaf aku baru kembali sekarang.”
“Tidak perlu minta maaf. Kamu punya urusan keluarga.” Arga berhenti sejenak, lalu menatapnya dengan lebih serius. “Tapi kamu sendiri baik-baik saja?”
Pertanyaan itu membuat Qiera terdiam sesaat. Ia teringat Ravi yang kini berada sendirian di apartemen, mungkin sedang membaca buku atau mencoba mencari alasan untuk menyentuh laptopnya.
“Aku baik-baik saja,” jawabnya. “Cuma sedikit lelah.”
“Kalau begitu, jangan mengambil semua pekerjaan sekaligus. Kita bisa membaginya.”
Qiera mengangguk. “Aku akan mengerjakan bagianku. Kalau ada yang perlu dibantu, nanti aku bilang.”
Arga tersenyum, kemudian mengajaknya duduk untuk membahas dokumen. Mereka segera tenggelam dalam pekerjaan, membandingkan jadwal, memeriksa kembali pernyataan resmi, dan memastikan tidak ada informasi sensitif yang tersebar.
Dari luar sekretariat, keduanya tampak begitu kompak hingga seorang anggota BEM yang melintas sempat berbisik kepada temannya bahwa Ketua dan Wakil Ketua mereka memang pasangan paling serasi di fakultas.
Qiera mendengarnya.
“Kalau kalian punya waktu untuk membicarakan kehidupan pribadi orang lain, berarti pekerjaan kalian sudah selesai, ya?” tegurnya tanpa mengangkat wajah dari dokumen.
Kedua mahasiswa itu langsung terdiam sebelum salah satunya tertawa malu dan menghilang ke balik pintu.
Arga menggeleng. “Kamu tidak pernah bosan menanggapi mereka?”
“Kalau dibiarkan, mereka akan semakin menjadi-jadi.”
“Baiklah. Saya tidak akan mengganggu pasangan paling serasi di fakultas.”
Qiera mengangkat kepala begitu cepat hingga Arga langsung tertawa.
“Kak Arga!”
“Maaf, Wakil Ketua. Saya hanya mengulang pendapat mahasiswa.”
“Kalau Kak Arga masih mengulanginya, aku pindahkan semua tugas administrasi ke kakak.”
“Baik, ancamannya sudah cukup jelas.”
Mereka kembali bekerja sambil tertawa kecil. Bagi Qiera, percakapan itu tidak lebih dari candaan antara dua orang yang sudah terbiasa bekerja bersama.
Ia sama sekali tidak pernah membayangkan jika Ravi berada di sana dan mendengar kalimat Arga barusan, pria itu mungkin akan menghabiskan sisa harinya dengan ekspresi yang sulit dijelaskan.
...🌇🌇🌇...
Pukul tiga sore, Qiera mulai merapikan dokumennya. Ia masih memiliki beberapa materi kuliah yang harus dipelajari, tetapi pikirannya berkali-kali kembali ke apartemen.
Ia bertanya-tanya apakah Ravi sudah makan siang, apakah obatnya diminum tepat waktu, dan apakah pria itu benar-benar mematuhi semua larangannya. Akhirnya, ia mengambil ponsel dan membuka percakapan mereka.
📲Mas, sudah makan?
Balasan datang tidak sampai semenit kemudian.
📲Sudah.
Qiera tersenyum lega, lalu mengetik lagi.
📲Obatnya?
📲Sudah.
📲Mas tidak bekerja, kan?
Kali ini, balasannya sedikit lebih lama.
📲Saya membaca buku.
Qiera menyipitkan mata.
📲Buku apa?
📲Buku yang tidak membutuhkan laptop.
Ia mendengus, setengah kesal sekaligus geli. Ravi memang selalu menemukan cara untuk menjawab pertanyaan dengan kalimat yang secara teknis benar, tetapi tetap membuatnya ingin mengomel.
📲Bagus. Lanjutkan istirahat. Aku sebentar lagi pulang.
Beberapa detik kemudian, sebuah pesan baru muncul.
📲Baik. Hati-hati, Lily.
Qiera menatap pesan itu cukup lama. Panggilan sederhana tersebut entah bagaimana membuat rasa lelahnya sedikit berkurang. Ia memasukkan ponsel ke dalam tas, lalu berpamitan kepada Arga dan anggota BEM lainnya.
.
Sepanjang perjalanan pulang, ia memikirkan banyak hal. Tentang tugas kuliah yang menumpuk, tentang rahasia pernikahannya yang semakin sulit dijaga, tentang Ravi yang mulai menunjukkan sisi berbeda di balik sikap menyebalkannya. Namun, di antara semua pikiran itu, ada satu hal yang terasa paling jelas.
Ia ingin segera sampai di rumah.
Ketika Qiera membuka pintu apartemen, ia mendapati Ravi duduk di sofa dengan buku terbuka di tangannya. Posisi duduknya tampak nyaman, dan tidak ada laptop di dekatnya. Untuk sesaat, Qiera merasa bangga karena suaminya ternyata bisa mematuhi peraturan tanpa harus diawasi terus-menerus.
“Mas, aku pulang!”
Ravi mengangkat wajah. “Sudah selesai kuliahnya?”
“Sudah. Aku juga menyelesaikan sebagian pekerjaan BEM.”
“Bagus. Bagaimana keadaan di kampus?”
Qiera meletakkan tasnya, lalu duduk di samping Ravi. Ia menceritakan singkat tentang Nisa yang masih curiga, pekerjaan BEM yang menumpuk, dan Arga yang kembali menggoda mereka soal candaan mahasiswa.
Ia tidak bermaksud menyembunyikan sesuatu dari Ravi. Hanya saja, ia menganggap semua itu tidak terlalu penting untuk diceritakan panjang lebar.
Namun, ketika nama Arga disebut, Ravi yang semula tampak santai mendadak menutup bukunya.
“Jadi, kamu menghabiskan waktu bersama Arga lagi?”
Qiera menoleh. “Iya, kami mengurus pekerjaan BEM. Memangnya kenapa?”
“Tidak apa-apa.”
Jawaban itu terlalu cepat.
Qiera memperhatikan wajah Ravi, kemudian senyum jahil perlahan muncul di bibirnya. “Mas cemburu?”
Ravi langsung menatapnya. “Saya tidak cemburu.”
“Aku belum bilang Mas harus cemburu.”
“Saya hanya bertanya tentang kegiatanmu.”
“Dengan ekspresi seperti itu?”
“Ekspresi seperti apa?”
Qiera menahan tawa. “Ekspresi dosen yang sedang mempertanyakan jawaban mahasiswa karena menemukan celah dalam argumennya.”
Ravi terdiam, lalu mengembuskan napas pendek. “Kamu benar-benar tidak bisa berhenti menghubungkan segala sesuatu dengan pekerjaan saya, ya?”
“Sulit, Mas. Apalagi dosennya memang menyebalkan.”
“Kalau begitu, mungkin saya harus memberikan tugas tambahan.”
Qiera langsung menegakkan tubuh. “Jangan! Aku baru kembali setelah tiga hari absen!”
Ravi akhirnya tertawa kecil. “Tenang. Saya tidak akan memberikan tugas apa pun.”
“Bagus.” Qiera tersenyum puas, lalu mengambil buku yang tadi diletakkan Ravi di meja. “Sekarang, pasien harus istirahat. Buku ini juga sudah cukup lama dibaca.”
“Lily, saya baru membacanya selama dua puluh menit.”
“Dua puluh menit terlalu lama untuk orang yang baru pulang dari rumah sakit.”
“Sepertinya kamu perlu membuat aturan baru tentang berapa lama saya boleh membaca.”
Qiera mengangguk serius. “Ide bagus. Besok aku buatkan jadwalnya.”
Ravi memandangnya dengan ekspresi tidak percaya. “Kamu benar-benar akan melakukannya?”
“Tentu.”
“Kalau begitu, saya menyerah.”
Qiera tersenyum lebar, merasa telah memenangkan perdebatan penting hari itu. Ia meletakkan buku di rak, kemudian membantu Ravi membenarkan bantal di belakang punggungnya. Setelah semuanya terasa nyaman, ia duduk kembali di samping suaminya.
“Mas,” panggilnya pelan.
“Ya, Lily?”
“Kalau nanti aku harus pergi kuliah lagi, Mas jangan merasa ditinggalkan, ya. Aku tetap akan pulang. Aku cuma tidak bisa terus berada di rumah.”
Ravi menatapnya. Ia menyadari bahwa di balik semua sikap protektif Qiera, perempuan itu juga sedang berusaha menyeimbangkan banyak tanggung jawab. Ia tidak ingin Qiera mengorbankan kuliah dan organisasi hanya karena merasa harus menjaga suaminya setiap saat.
“Saya tahu. Kamu tidak perlu mengkhawatirkan saya sepanjang waktu,” jawabnya. “Kamu punya kehidupanmu sendiri, Lily. Kuliahmu, teman-temanmu, dan pekerjaan BEM yang kamu sukai. Saya tidak ingin kamu kehilangan semua itu karena harus merawat saya.”
Qiera menunduk, memainkan ujung lengan bajunya. “Aku cuma takut sesuatu terjadi lagi.”
Ravi terdiam sejenak sebelum mengulurkan tangan. Qiera menyambutnya tanpa ragu, menggenggam jemari pria itu dengan hati-hati.
“Saya akan menjaga diri sebaik mungkin,” ujar Ravi. “Dan kalau saya membutuhkan bantuan, saya akan bilang. Kamu tidak harus menanggung semuanya sendirian.”
Qiera mengangguk pelan. “Janji?”
“Janji.”
Ia menyandarkan kepala sebentar pada bahu Ravi yang tidak terluka, lalu segera memperbaiki posisinya agar tidak mengganggu luka di punggung pria itu. Ravi membiarkannya, menatap wajah Qiera yang perlahan kehilangan ketegangan.
“Mas?” panggilnya lagi.
“Ya?”
“Aku senang Mas sudah pulang.”
Kalimat itu begitu sederhana, tetapi Ravi merasakannya jauh lebih dalam daripada yang ditunjukkan wajahnya. Ia mengusap lembut punggung tangan Qiera dengan ibu jarinya, lalu menjawab dengan suara tenang.
“Saya juga senang bisa pulang bersama kamu.”
Qiera mengangkat wajah, hendak membalas, tetapi tatapan mereka bertemu lebih lama daripada biasanya. Untuk beberapa detik, tidak ada candaan, tidak ada perdebatan, dan tidak ada alasan bagi mereka untuk berpura-pura bahwa semua ini hanyalah kewajiban dalam pernikahan yang datang mendadak.
Hanya ada dua orang yang perlahan belajar saling menjaga.
Qiera akhirnya tersenyum, kemudian kembali menyandarkan kepalanya dengan hati-hati. Ravi membiarkan tangannya tetap menggenggam tangan perempuan itu.
Di luar, senja mulai menggelapkan langit. Di dalam apartemen, sebuah buku terbengkalai di rak, laptop masih tersembunyi di lemari, dan jadwal istirahat Ravi mungkin akan terus diperketat oleh istrinya.
Namun, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Ravi tidak merasa terganggu oleh rutinitasnya yang berubah.
Sebab kini, ketika ia membuka mata, ada seseorang yang menyambutnya pulang.
Dan tanpa Qiera sadari, ia pun mulai menemukan tempat yang sama di dalam hati pria itu.
saling support yuk,
biar semangat nulisnya😊