Sebagian besar cerita berdasarkan TEORI KONSPIRASI ELIT GLOBAL nyata.
(SERI KE 7 DARI UNIVERSE NOVEL TIRAKAT)
Sepuluh tahun berlalu.
Kini Harumi bertugas sebagai penyidik Jatanras, sementara Haruma menjadi dokter forensik kepolisian. Di balik meja autopsi dan olah TKP, dua bersaudara ini menghadapi serangkaian pembunuhan sadis dan aneh.
Petunjuk misterius pada jasad para korban membawa mereka membongkar konspirasi gelap sebuah keluarga Taipan (penguasa bisnis) yang diam-diam menjadi bagian dari sekte penyembah iblis internasional bernama "THE ONE".
Berbekal keahlian forensik, analisis hukum, serta mata batin spiritual, Haruma dan Harumi berjuang meruntuhkan cengkeraman sihir hitam dan kekuasaan elit global demi menegakkan keadilan.
Sanggupkah mereka berdua menghentikan sekte penyembah iblis "THE ONE" tersebut?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DENI TINT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 12 PERJALANAN PULANG KE RUMAH
Lampu-lampu penerangan jalan raya yang berjajar di sepanjang jalur utama Kecamatan Parung membiaskan pendaran cahaya keemasan di atas kap mesin mobil MPV hitam milik Haruma dan Harumi. Deru halus mesin mobil meluncur mulus membelah pekatnya udara malam yang mulai terasa dingin.
Setelah seharian bergelut dengan ruang otopsi yang serba steril dan ruang interogasi yang penuh tekanan emosi, suasana di dalam kabin mobil yang hangat dan kedap suara itu terasa bagaikan sebuah Oase ketenangan.
Haruma yang duduk di kursi penumpang depan mengulurkan tangannya yang sedikit kaku, menyingkap lengan jaket dokter forensik dinasnya untuk melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. Jarum pendek jam tangan mekaniknya sudah menunjuk tepat di angka 9, sementara jarum panjangnya menyentuh angka 10.
"Duh, udah mau jam 9 malam ternyata, Rumi..." gumam Haruma pelan, suara lembutnya mengalun hangat di dalam kabin.
Harumi yang sedang fokus memegang kemudi mobil melirik sekilas ke arah jam di dashboard lalu menyunggingkan senyuman renyah.
"Iya nih, Kak. Gak berasa ya, tadi pas kita jalan dari kantor Dokpol kan baru jam 8 lewat dikit. Jalur malam ini lumayan padat juga tadi di depan pasar Parung," sahut Harumi santai. Kaki kanannya menekan pedal gas perlahan, membawa mobil MPV hitam mereka bergerak stabil menyusuri jalanan yang kian lengang.
Haruma menyandarkan kepalanya pada sandaran kursi kulit yang empuk, matanya menatap pendaran lampu-lampu toko dan warung warga di pinggir jalan yang perlahan meredup. "Hampir 1 jam penuh kita di jalan. Pantesan aja perut Kakak dari tadi udah cacingan, keroncongan terus. Bayangan gulai ayam buatan Ibu di meja makan rumah udah menari-nari dari tadi di kepala."
Harumi tertawa renyah membayangkan aroma masakan ibu mereka. "Sama banget, Kak! Rumi juga dari tadi pas nungguin lampu merah cuma ngebayangin kuah gulai ayam Ibu yang gurih pedes itu disiram di atas nasi hangat. Beeehhh, mantap banget pasti!"
"Tapi kasihan Ayah sama Ibu di rumah, pasti dari tadi nungguin kita makan malam bareng," timpal Haruma penuh rasa bersalah. "Harusnya tadi pas selesai dari ruang otopsi, Kakak langsung kabari Ibu ya kalau kita bakalan agak telat."
"Udah Rumi kabari kok tadi pas Kakak masih beres-beres berkas foto otopsi," balas Harumi menenangkan. "Rumi udah WA Ibu, bilang kalau kita jalan dari kantor jam 8 lewat. Kata Ibu, 'Iya Nduk, hati-hati di jalan. Makanan udah Ibu tutupin di meja makan, nanti pas nyampe tinggal diangetin dikit.' Nah, gitu kata Ibu tadi."
Haruma menghembuskan napas lega, senyuman hangat mengembang di wajah cantiknya. "Alhamdulillah kalau gitu. Jadi gak enak kalau bikin Ibu kepikiran terus di rumah."
Mobil MPV hitam itu kini melaju kian dekat dengan gerbang persimpangan menuju jalan desa tempat tinggal mereka.
Jalanan beraspal mulus yang baru dibangun pemerintah daerah beberapa bulan lalu membentang rapi, diapit oleh pepohonan rindang dan deretan rumah-rumah warga Parung yang asri.
Namun, saat mobil mereka baru saja berbelok memasuki mulut jalan Desa Mawi, mata tajam Harumi menangkap pendaran lampu patromaks yang terang benderang dari sebuah gerobak kayu di pinggir jalan.
Dari dalam cerobong asap gerobak tersebut, membumbung uap harum adonan roti panggang, mentega meleleh, dan wangi kacang sangrai yang sangat menyengat hidung. Aromanya sampai memenuhi area kabin mobil milik Haruma dan Harumi yang kacanya memang dibuka.
Harumi seketika menepuk pelan paha kakaknya. "Eh, Kak Haruma! Lihat deh di depan situ!"
Haruma menoleh ke arah pinggir jalan yang ditunjuk adiknya. "Lho, itu kan gerobak Martabak Manis Bang Asep?"
"Tepat sekali!" seru Harumi penuh semangat, matanya berbinar-binar. "Kakak tahu gak? Tadi sore pas Rumi baru selesai interogasi tersangka kasus lain, Dek Niza kan sempet kirim pesan suara ke HP Rumi pakai HP Ibu?"
Haruma menaikkan alisnya. "Oh... Anak jahil itu ngomong apa tadi pas di pesan suara?"
Harumi terkekeh, menirukan nada suara polos adik laki-laki mereka yang berusia 9 tahun itu. "---'Mbak Rumi cantiiik, nanti kalau pulang dinas, tolong beliin Niza martabak manis keju-kacang yang banyak susunya yaaa! Niza tadi dapet nilai 100 lho di sekolah!'--- Hahahaha, gitu tuh kata dia tadi sore, Kak!"
Haruma seketika tertawa geli mendengar celotehan adiknya. "Aduuuh, si Niza itu emang paling pinter kalau udah nyari celah buat dapet jajan. Ya udah, Rumi, pinggirin dulu mobilnya. Kita mampir beli martabak buat adek kesayangan kita itu. Kasihan kalau dia udah nungguin sambil nahan ngantuk."
"Siap, Komandan!" jawab Harumi dengan gaya khasnya.
Harumi menyalakan lampu sein kiri, lalu memutar kemudi dengan sangat lincah dan halus.
Mobil MPV hitam mengkilap milik mereka perlahan merapat dan berhenti sempurna di bahu jalan yang lapang, tepat beberapa meter di samping gerobak Martabak Manis Bang Asep.
Haruma dan Harumi mematikan lampu utama mobil, melepas sabuk pengaman, lalu bersama-sama melangkah keluar dari kabin mobil yang sejuk menyambut hembusan angin malam Desa Mawi yang segar.
Aroma mentega yang dilelehkan di atas loyang tembaga panas langsung menyergap penciuman mereka. Udara malam yang dingin terasa hangat begitu mendekati gerobak martabak tersebut.
"Assalamu'alaikum, Bang Asep!" sapa Harumi dengan suara nyaring dan ramah.
"Wa'alaikumussalam warahmatullah... Eh, Mbak Rumi! Mbak Ruma!" sahut Bang Asep—pria paruh baya asal Garut yang sudah belasan tahun berjualan martabak di mulut desa itu. Wajah sumringah Bang Asep seketika mengembang melihat dua langganannya datang. "Waduuuh, baru pulang dinas malam ini, Mbak-Mbak yang cantik?"
"Iya nih, Bang Asep. Baru aja kelar urusan di markas," jawab Haruma lembut sembari merapikan kerudung dan jaket dinasnya.
Namun, sebelum Bang Asep sempat menanyakan pesanan mereka, dari arah bangku kayu panjang di samping gerobak yang agak remang-remang, mendadak terdengar suara pekikan kaget dari dua orang wanita setengah baya yang sedang duduk mengantre.
"Laaah... dalahhh! Baru pulang kerja Mbak Haruma sama Mbak Harumi?!" seru sebuah suara wanita dengan logat Jawa-Sunda yang sangat khas dan heboh.
Haruma dan Harumi seketika memutar tubuh mereka ke arah bangku kayu tersebut.
Mata kedua saudari itu membelalak gembira begitu mengenali dua sosok wanita yang sedang mengenakan daster kain berdandan santai dengan kerudung kaos di kepala mereka.
"Ya Allah! Bu Ningrum?! Bu Dinda?!" seru Harumi setengah tak percaya, wajahnya langsung sumringah lebar.
"Aduh, Emak-emak penguasa Parung lagi pada ngumpul di sini ternyata! Hahahaha..." timpal Haruma tertawa gembira.
Dua wanita setengah baya itu—Bu Ningrum dan Bu Dinda—langsung berdiri dari bangku kayu dan melangkah mendekati Haruma dan Harumi dengan wajah penuh kehangatan.
Bu Ningrum dan Bu Dinda adalah dua tetangga terdekat, sekaligus sahabat karib Nisa sejak mereka pertama kali tinggal di Desa Mawi puluhan tahun lalu. Mereka sudah menganggap Haruma dan Harumi seperti anak kandung mereka sendiri sejak kedua gadis itu masih remaja.
.....
((Sedikit pengingat dari penulis: Bu Ningrum dan Bu Dinda adalah dua sahabat karib Nisa, dan mereka berdua sudah ada sejak seri novel TIRAKAT 1 sampai TIRAKAT 3))
.....
"Aduuuuh, Mbak Rumi! Mbak Haruma! Sini, sini!" seru Bu Ningrum penuh rasa kangen, langsung merangkul dan memeluk Haruma serta Harumi secara bergantian. "Makin cantik-cantik banget anak-anaknya Nisa nih! Dah lama banget Ibu gak ketemu kalian berdua langsung begini!"
Bu Dinda ikut mengelus bahu Harumi dengan wajah berbinar-binar. "Iya lho, Mbak Rumi! Tiap hari Ibu cuma bisa lihat mukanya Mbak Rumi sama Mbak Haruma di berita TV atau dengar cerita dari Ibumu pas lagi pengajian gabungan di masjid raya Parung."
Harumi terkekeh manja, mencium punggung tangan Bu Ningrum dan Bu Dinda secara bergantian, diikuti oleh Haruma yang melakukan hal yang sama dengan sangat takzim.
"Iya nih, Bu Ningrum, Bu Dinda... Maaf banget ya, belakangan ini tugas di kantor kepolisian lagi padat-padatnya," ujar Haruma lembut dan santai. "Jadi jarang sempet keliling sapa tetangga kalau pagi."
"Halah, nggak apa-apa, Mbak Haruma! Kita semua warga desa di sini tuh paham banget," sahut Bu Ningrum sambil mengibaskan tangannya dengan gaya hebohnya yang khas. "Siapa sih yang gak bangga punya tetangga kaya kalian? Yang satu dokter ahli forensik di rumah sakit polisi, yang satu lagi komandan polwan Jatanras yang suka nangkepin penjahat di TV! Wah, top markotop banget deh keluarga Pak Zaki sama Nisa!"
Harumi tertawa renyah menyenggol lengan Bu Ningrum. "Ah, Bu Ningrum bisa aja nih mujinya. Rumi jadi terbang tinggi nih nanti kalau dipuji terus, wkwk!"
"Lho, beneran lho, Mbak Rumi!" celetuk Bu Dinda tak mau kalah. "Ibu tuh kemarin pas belanja di pasar sayur pagi-pagi, dengar Ibu-Ibu blok sebelah pada ngomongin Mbak Rumi. Katanya, ---'Itu lho, anaknya Pak Zaki yang polwan itu, udah cantik, gagah, bawa pistol lagi! Cowok mana yang berani ngelamar kalau ceweknya kaya gitu?'--- Hahahaha!"
Gelak tawa seketika pecah di pinggir jalan desa yang sepi itu. Bang Asep yang sedang mengocok adonan martabak di gerobak pun ikut tertawa geli mendengar obrolan khas warga desa tersebut.
Harumi memegangi perutnya yang mulas karena tertawa. "Aduh, Bu Dinda! Yaaa pantesan aja Rumi jomblo terus sampai sekarang! Ternyata cowok-cowok di luar sana pada takut duluan gara-gara Rumi bawa pistol, wkwk!"
"Lha makanya itu, Mbak Rumi!" timpal Bu Ningrum tertawa lebar. "Makanya kalau nyari calon suami tuh jangan ditembak pakai pistol, tapi ditembak pakai senyuman manisnya Mbak Rumi yang bikin kicep!"
Haruma ikut tertawa renyah mendengar lelucon Bu Ningrum. "Aduh, Bu Ningrum ada-ada aja penjelasannya. Biarin aja lah Bu, Rumi biar fokus nangkepin penjahat dulu, biar gak makin banyak kriminil di kota."
"Nah, kalau Mbak Haruma gimana nih?" ganti Bu Dinda yang melirik Haruma dengan senyuman menggoda. "Dokter cantik forensik kepolisian kaya Mbak Haruma pasti udah banyak dokter-dokter ganteng atau perwira polisi yang ngantre mau ngelamar, kan?"
Haruma tersenyum simpul, menggelengkan kepalanya dengan tenang dan anggun. "Belum ada yang pas di hati, Bu Dinda. Lagian Haruma masih betah ngerawat Ayah, Ibu, sama nemenin Dek Niza belajar di rumah. Masih fokus ngabdi dulu di laboratorium forensik."
"Wah, bener-bener ya... mantap banget anak-anaknya Nisa sekarang," puji Bu Ningrum dengan mata berbinar bangga. "Oh iya, ngomong-ngomong soal Dek Niza... Kalian ke sini pasti mau beliin martabak buat si ganteng Niza, kan?"
"Tepat banget, Bu Ningrum!" jawab Harumi cepat. "Si Niza tadi sore minta dibeliin martabak manis keju-kacang, gara-gara dia dapet nilai 100 di sekolah."
"Waaah! Si Niza dapet nilai 100 lagi?!" seru Bu Dinda kagum. "Masya Allah... Pinter banget anak itu ya! Masih kelas 3 SD tapi otaknya encer banget kaya Pak Zaki sama Nisa."
"Iya tuh, Bu Dinda," timpal Haruma hangat. "Anak itu kalau udah belajar sama Ayah di ruang tengah, antusiasnya luar biasa. Makanya pas denger dia dapet nilai 100, kita berdua langsung beliin martabak manis ini."
Harumi lalu berbalik menatap Bang Asep di gerobak. "Bang Asep! Bikin martabak manisnya satu porsi ya! Keju-kacang yang banyak, susunya melimpah, martabaknya dibuat agak tebel biar si Niza puuasss makannya!"
"Siap laksanakan, Bu Kanit Harumi!" sahut Bang Asep penuh semangat sambil menyiramkan adonan martabak manis beraroma pandan ke atas loyang besi yang membara.
Ssssshhh...
Uap wangi manis seketika membumbung tinggi, menguar makin harum di udara malam.
"Nah, kalau Bu Ningrum sama Bu Dinda beli martabak apa nih?" tanya Haruma ramah, berdiri berdampingan dengan dua wanita yang seumuran dengan Nisa itu.
"Ibu beli martabak telur daging sapi dua porsi, Mbak Haruma," jawab Bu Ningrum sambil menunjuk dua bungkus martabak yang sudah selesai dikemas rapi oleh Bang Asep di atas meja gerobak. "Buat cemilan suami sama anak-anak saya di rumah sambil nonton bola."
"Ibu juga sama, beli martabak manis cokelat-kacang buat anak-anak di rumah," tambah Bu Dinda menunjuk bungkusannya.
Bang Asep menyerahkan dua kantong plastik berisi martabak telur dan martabak manis itu kepada Bu Ningrum dan Bu Dinda. "Ini pesanan Bu Ningrum sama Bu Dinda udah siap semuanya!"
"Alhamdulillah... Berapa semuanya, Bang Asep?" tanya Bu Ningrum sambil merogoh dompet kain dari saku dasternya.
Namun, sebelum Bu Ningrum sempat mengeluarkan uang kertasnya, Harumi dengan gesit merogoh dompet kulit hitamnya dari saku jaket dinas, lalu menyerahkan dua lembar uang 100 ribuan kepada Bang Asep.
"Udah, Bang Asep! Sekalian potong dari uang saya aja buat punya Bu Ningrum sama Bu Dinda!" seru Harumi cepat sambil tersenyum lebar.
Bu Ningrum dan Bu Dinda seketika terbelalak kaget.
"Eh! Eh! Mbak Rumi! Kok malah dibayarin?!" seru Bu Ningrum panik, mencoba menahan tangan Harumi. "Jangan, Mbak Rumi! Ibu ada uangnya kok ini!"
"Iya lho, Mbak Rumi! Jangan repot-repot begini!" timpal Bu Dinda merasa tidak enak.
Haruma tertawa lembut, menahan tangan Bu Ningrum dengan penuh rasa kasih sayang. "Udah, Bu Ningrum, Bu Dinda... Nggak apa-apa, terima aja ya. Ini anggap aja syukuran kecil dari Haruma sama Harumi karena tadi adik kita Niza dapet nilai 100 di sekolah. Anggap aja rezeki dari Dek Niza."
Mendengar penjelasan Haruma yang begitu lembut dan tulus, Bu Ningrum dan Bu Dinda tak mampu lagi menolak. Wajah kedua wanita paruh baya itu tampak begitu terharu dan berseri-seri.
"Aduuuh, makasih banyak ya, Mbak Haruma, Mbak Rumi..." ucap Bu Ningrum dengan mata berkaca-kaca penuh rasa syukur. "Ya Allah... Gusti Allah memang memberkahi banget keluarga Pak Zaki sama Nisa. Kalian berdua udah sukses jadi pejabat polisi sama dokter, tapi sopan santunnya sama tetangga gak pernah berubah sedikit pun dari dulu pas masih remaja."
"Moga-moga rezekinya Mbak Haruma sama Mbak Rumi makin melimpah ya, makin berkah, dijauhkan dari segala marabahaya pas lagi bertugas di luar sana," doa Bu Dinda dengan penuh ketulusan jiwa keibuannya.
"Aamiin ya Rabbal 'Alamin... Makasih banyak ya doanya, Bu Ningrum, Bu Dinda," balas Haruma dan Harumi serempak dengan senyuman yang teramat hangat.
"Ya udah kalau gitu, Ibu-Ibu pamit pulang duluan ya," ujar Bu Ningrum sambil menenteng kantong martabaknya. "Kasihan bapak-bapak sama anak-anak di rumah udah pada nungguin."
"Iya, Bu. Hati-hati di jalan ya," pesan Haruma sopan.
"Salam hangat ya buat Pak Zaki, Nisa, sama si ganteng Niza di rumah!" seru Bu Dinda sambil melambaikan tangannya saat mereka berdua mulai melangkah menyusuri jalan desa yang tenang.
"Siap, Bu Dinda! Nanti disampaikan!" sahut Harumi melambaikan tangan balasan.
Dua tetangga terbaik keluarga mereka itu perlahan-lahan berjalan menjauh, menghilang di balik tikungan jalan desa yang diterangi lampu-lampu rumah warga.
Suasana hangat khas keakraban desa yang murni itu menyisakan kedamaian yang teramat dalam di dada Haruma dan Harumi.
Tak berapa lama kemudian, Bang Asep mengangkat martabak manis keju-kacang yang baru selesai dipanggang dari atas loyang tembaga.
Dengan mahir, Bang Asep melumasi permukaan martabak yang mengembang sempurna itu menggunakan mentega tebal, menaburkan parutan keju keemasan yang melimpah, remukan kacang sangrai yang gurih, serta siraman susu kental manis cukup banyak sebelum melipat dan memotongnya menjadi belasan bagian yang tebal dan menggoda selera.
Sret... sret... sret.
Bang Asep memasukkan kotak martabak tebal yang masih mengepulkan uap panas itu ke dalam kantong plastik merah.
"Ini pesanan khusus buat Dek Niza udah siap, Bu Kanit!" ujar Bang Asep menyerahkan kantong martabak itu kepada Harumi dengan senyuman ramah.
Harumi menerima kantong martabak yang terasa berat dan hangat di tangannya. Aroma harum keju dan vanila seketika menyeruak memenuhi udara.
"Makasih banyak ya, Bang Asep! Kembaliannya ambil aja buat Bang Asep," kata Harumi tersenyum lebar.
Bang Asep terkejut lalu membungkuk berkali-kali penuh rasa syukur. "Aduh, makasih banyak ya, Mbak Rumi! Moga-moga karirnya Mbak Rumi sama Mbak Haruma makin sukses dan berkah selalu!"
"Aamiin... Mari ya, Bang Asep! Assalamu'alaikum!" pamit Haruma dan Harumi serempak.
"Wa'alaikumussalam warahmatullah!"
Kedua bersaudara itu melangkah kembali menuju mobil MPV hitam mereka. Harumi membuka pintu penumpang dan meletakkan kotak martabak yang hangat di pangkuan Haruma, lalu berjalan memutari kap mobil dan masuk ke kursi pengemudi.
Cklek... brrrmmm!
Mesin MPV hitam menderu halus kembali. Harumi menyalakan lampu utama dan membawa kendaraan mereka bergerak perlahan menelusuri jalanan beraspal mulus di dalam desa Parung.
Di sepanjang jalan desa yang tenang, deretan rumah-rumah warga tampak teduh di balik pepohonan rindang.
Tidak ada lagi suasana mencekam...
Tidak ada lagi hawa ghaib yang menakutkan seperti 10 tahun lalu saat desa ini pernah diteror oleh ilmu hitam.
Desa Mawih, Kecamatan Parung, Kabupaten Bogor itu, kini telah menjelma menjadi sebuah pemukiman yang damai, tempat di mana nilai-nilai keagamaan, kekeluargaan, dan gotong royong warga tumbuh dengan sangat subur.
Haruma memangku kotak martabak yang hangat di tangannya, menatap keluar kaca jendela dengan pendaran keharuan di matanya.
"Rumi..." panggil Haruma pelan.
"Iya, Kak?" sahut Harumi melirik kakaknya.
"Rasanya adem banget ya pas balik ke desa kita begini," gumam Haruma tulus. "Seberat apa pun kasus pembunuhan yang kita hadapi di ruang otopsi sama ruang interogasi kota, begitu kaki kita ngerasa dinginnya udara Parung dan ketemu sama tetangga kaya Bu Ningrum sama Bu Dinda tadi... semua rasa capek sama tegang di kepala seketika sirna."
Harumi menyunggingkan senyuman manisnya yang paling hangat. Jemarinya mencengkeram setir mobil dengan santai.
"Betul banget, Kak," setuju Harumi. "Rumah kita itu memang tempat terbaik di dunia buat kita pulang. Di sana ada Ayah yang selalu ngasih petunjuk bijak, ada Ibu yang selalu meluk kita pakai doa, dan ada Dek Niza yang selalu bikin rumah rame pakai tawanya."
Harumi menambah sedikit kecepatan mobilnya saat melewati lapangan desa.
Hanya dalam waktu lima menit kemudian...
Di ujung jalan setapak berpagar tanaman hijau yang rapi...
Tampaklah sesosok bangunan rumah yang sangat anggun dan teduh.
Rumah keluarga Zaki dan Nisa.
Lampu teras depan rumah menyala terang memancarkan pendaran cahaya keemasan yang hangat, menerangi tanaman-tanaman bunga melati dan mawar di pekarangan yang tertata rapi.
Di dalam garasi sebelah kiri rumah itu, mobil MPV perak milik Ayah mereka, Zaki, sudah terparkir manis.
Dan dari balik kaca jendela ruang tengah yang transparan, tampak bias cahaya lampu gantung menerangi suasana di dalam rumah.
Harumi menghentikan mobil MPV hitam mereka di garasi sebelah kanan rumah.
"Alhamdulillah... akhirnya kita sampai di rumah, Kak!" seru Harumi penuh kegembiraan.
Haruma meraih kotak martabak manis keju-kacang yang terasa hangat di pangkuannya, lalu memutar gagang pintu mobil.
Kedua bidadari penegak keadilan itu melangkah keluar dari dalam kabin, menghirup dalam-dalam udara malam Desa Mawih yang teramat bersih dan damai.
Langkah kaki Haruma dan Harumi menapak mantap menyeberangi lantai teras rumah.
Pintu utama rumah kayu yang kokoh itu telah menanti di hadapan mereka, siap membukakan gerbang kehangatan bagi dua putri terbaik yang baru saja menuntaskan tugas mulia mereka di garis depan keadilan seharian tadi.
intinya korbannya itu yg sekiranya bisa jadi saksi kejahatan mereka gitu ya
berat juga ya wkwkwk sihir modern mungkin klo zaman.
penampilan nya udah elit kok nama nya itu