Dua hari menjelang pernikahan megahnya, Cinderella Huntington harus menelan kenyataan pahit: sang tunangan mengkhianatinya bersama adik kandungnya sendiri.
Dijatuhi tuduhan tak adil dan selalu dituntut mengalah oleh keluarganya, Cinderella memilih pergi melintasi dinginnya malam untuk meluapkan amarah dan rasa sakitnya hingga mengakhiri hidup.
Namun takdir berkehendak lain. Ia terbangun dalam raga Marcella Ember Vitiello—gadis 18 tahun yang tewas mengakhiri hidup akibat pengabaian orang tuanya.
Di tengah keputusasaan, takdir mempertemukannya kembali dengan Draxler Lutolf Ashford—pemuda 19 tahun berparas tampan yang ia kira hanyalah mahasiswa biasa.
Cinderella bertekad membalas setiap ketidakadilan.
Bisakah ia benar-benar menghapus jejak Draxler dari hidupnya ketika takdir pria muda itu ternyata jauh lebih rumit dari yang pernah ia bayangkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#22
Malam di kawasan elite perbukitan California berembus dingin, membelai deretan jendela kaca raksasa milik Mansion Vitiello—sebuah kediaman megah berarsitektur modern-minimalis yang berdiri kokoh dan amat terisolasi dari jangkauan publik.
Nama Vitiello—marga dari raga Marcella Ember Vitiello—tidak pernah dihilangkan.
Meskipun kini Cinderella menguasai imperium bisnis raksasa mantan keluarganya dan dikenal publik sebagai penguasa tunggal Huntington Group, di dalam kehidupan pribadinya, ia memilih tetap menyandang nama Marcella Ember Vitiello.
Nama itu bukan sekadar pengingat akan pengorbanan masa lalu, melainkan simbol lahirnya kembali kehidupan baru yang ia bangun dari puing-puing pengkhianatan.
Langkah kaki bersepatu hak tinggi berketuk halus di atas lantai marmer hitam aula utama. Cinderella melangkah anggun mengenakan gaun rumah berbahan sutra kelabu yang jatuh pas di tubuhnya.
Rambut hitam lurusnya dibiarkan terurai bebas, memancarkan pesona matang seorang wanita berusia 25 tahun yang memegang kendali atas ribuan nyawa di dunia bisnis.
Namun, begitu ia melangkah mendekati ruang makan keluarga yang temaram oleh pendar lampu gantung kristal yang hangat, raut wajahnya yang biasanya sedingin es perlahan melunak.
Di sana, di meja makan kayu jati berukuran panjang, duduk seorang gadis kecil berusia enam tahun.
Gadis kecil itu mengenakan piyama katun bergambar kelinci, duduk tegak dengan kaki mungilnya yang terayun-ayun di udara.
Rambut hitamnya yang tebal diikat dua dengan pita merah, memperlihatkan wajah porselen yang teramat sangat familiar: alis tebal yang tegas, hidung bangir yang menggemaskan, serta manik mata tajam berwarna cokelat gelap—pencerminan sempurna dari garis wajah sang ayah, Draxler Lutolf Ashford.
Cinderella Vitiello. Putri tunggal yang lahir dari malam penyatuan panas di kamar hotel mewah tujuh tahun lalu.
Cinder—begitu ia biasa dipanggil di dalam rumah—adalah rahasia terbesar dan paling sakral yang dijaga ketat oleh Ember.
Tak satu pun media nasional, detektif swasta, ataupun publik yang tahu bahwa sang ratu bisnis berdarah dingin memiliki seorang anak perempuan.
Di mata dunia, Marcella Ember Vitiello adalah perawan tua yang tak tersentuh, seorang diktator tanpa belas kasihan.
Namun di balik dinding kokoh Mansion Vitiello, Cinder adalah satu-satunya alasan mengapa jantung Ember masih berdetak dan bernapas di tengah sepinya puncak kejayaan.
"Mommy..." panggil Cinder halus begitu melihat sosok ibunya mendekat. Suaranya kecil, jernih, dan sangat lembut.
Ukiran senyum tulus yang teramat jarang terlihat terbit di bibir Ember. Ia melangkah mendekat, mengusap lembut kepala putri kecilnya, lalu mendaratkan satu kecupan hangat di pelipis Cinder sebelum duduk di kursi sebelah kanan.
"Kenapa belum disentuh makan malamnya, Sayang?" tanya Ember dengan suara lembut, amat bertolak belakang dengan nada tajam yang biasa ia lontarkan di ruang rapat direksi.
"Mommy kan sudah bilang, Cinder boleh makan duluan kalau Mommy terlambat."
Cinder menggelengkan kepalanya pelan, menyunggingkan senyum tipis yang memperlihatkan lesung pipi mungilnya.
"Cinder mau tunggu Mommy. Prilly bilang, makan bersama keluarga itu bikin makanan terasa seratus kali lebih enak."
Ember tertawa kecil—sebuah tawa lirih yang menenangkan.
Dari arah dapur, Prilly—yang kini menjabat sebagai kepala pengelola Mansion Vitiello sekaligus sahabat kepercayaan Ember yang tinggal di sana—melangkah keluar membawa nampan berisi sup jagung hangat.
"Anak ini benar-benar keras kepala seperti ibunya, Ember," celetuk Prilly seraya meletakkan mangkuk di depan Cinder. "Dia tidak mau menyentuh sendoknya sebelum mendengar suara mobilmu masuk ke pelataran."
"Terima kasih, Prilly," ucap Ember hangat pada sahabatnya.
Prilly mengangguk penuh kasih, lalu menarik kursi di seberang Cinder dan duduk bergabung bersama mereka.
Di mansion ini, tidak ada batas antara pelayan dan pemilik rumah; mereka adalah sebuah keluarga kecil yang saling menguatkan di tengah kejamnya dunia luar.
Cinder mulai menyuap supnya dengan gerakan yang teramat sangat anggun—sebuah gestur alami yang diwarisi dari darah bangsawan kedua orang tuanya.
"Mommy..." panggil Cinder lagi di sela-sana makannya. Manik matanya yang tajam menatap lurus ke dalam mata sang ibu.
"Ya, Cinder?"
Gadis kecil itu memiringkan kepalanya tipis, menatap gambar di tablet yang tergeletak di ujung meja—sebuah majalah bisnis yang menampilkan profil terbaru Huntington Group.
"Tadi Prilly membaca berita di tablet. Katanya Huntington Group baru saja membeli perusahaan pelayaran besar di utara. Apakah Mommy tidak capek bekerja terus?"
Ember menyunggingkan senyum tipis seraya merapikan poni putri kecilnya.
"Mommy tidak capek. Semua yang Mommy kerjakan... itu untuk memastikan bahwa Cinder punya masa depan yang aman. Agar tidak ada satu orang pun di dunia ini yang bisa meremehkan atau menyakiti putri Mommy."
Cinder diam sejenak. Ia mengunyah makanannya perlahan, lalu menunduk menatap jemari tangannya yang mungil.
"Mommy..." bisik Cinder ragu-ragu. "Tadi di sekolah... teman-teman Cinder menceritakan tentang ayah mereka. Mereka bilang ayah mereka suka menggendong mereka di bahu saat jalan-jalan ke taman."
Atmosfer di meja makan itu mendadak hening seketika.
Prilly yang sedang mengunyah makanan langsung menghentikan gerakannya, menatap Ember dengan raut cemas.
Ember meremas serbet kain di pangkuannya.
Tenggorokannya mendadak terasa kering.
Pertanyaan mengenai sosok 'Ayah' adalah satu-satunya topik yang paling ia hindari selama enam tahun merawat Cinder. Namun, seiring tumbuhnya sang putri, garis wajah dan rasa penasaran Cinder makin tidak bisa dibendung.
Ember menghembuskan napas pelan, menatap lurus pada manik mata Cinder yang berkilat polos—manik mata yang selalu mengingatkannya pada pemuda berusia 19 tahun yang dulu berteriak histeris di taman belakang asrama.
"Cinder..." panggil Ember dengan intonasi serak yang tertahan. Ia meraih kedua tangan kecil putrinya, menggenggamnya erat.
"Mommy kan sudah pernah bilang... Cinder hanya punya Mommy, dan Mommy hanya punya Cinder. Kita adalah satu-satunya keluarga yang kita miliki di dunia ini."
"Apakah... Ayah sudah meninggal?" tanya Cinder polos, dengan keberanian anak-anak yang polos.
Ember terdiam sejenak.
Pikiran tentang Draxler yang malam ini mungkin sedang meneguk alkohol di kelab malamnya—mengutuk dan membenci namanya hingga ke liang lahat—berputar singkat di benaknya.
"Tidak, Sayang," jawab Ember lirih, memilih untuk tidak membohongi putrinya tentang kematian, namun juga tidak akan pernah membawa Draxler masuk ke dalam kehidupan mereka.
"Ayahmu tidak meninggal. Tapi dia berada di dunia yang sangat jauh dari kita. Dunia di mana kita tidak bisa menyapanya, dan dia tidak bisa memeluk kita."
Cinder menatap ibunya dengan tatapan dewasa yang melampaui usianya.
Paham akan riak kesedihan dan ketegangan di wajah sang ibu, gadis kecil yang cerdas itu tidak bertanya lebih jauh. Ia menyunggingkan senyum manisnya, membalas genggaman tangan Ember dengan hangat.
"Tidak apa-apa, Mommy," ucap Cinder lembut seraya menyandarkan kepalanya di lengan Ember. "Cinder tidak butuh Ayah. Cinder cuma butuh Mommy dan Prilly. Cinder janji akan cepat besar agar bisa menjaga Mommy dari orang-orang jahat."
Kata-kata dari bibir mungil itu menghantam dada Ember dengan gelombang kehangatan yang amat dalam, hingga sudut matanya berkaca-kaca menahan haru.
Ember memeluk tubuh mungil putrinya erat-erat, menyembunyikan wajahnya di perpotongan leher Cinder.
Di balik kejayaan bisnisnya yang dingin, di balik reputasinya sebagai wanita paling kejam yang ditakuti seluruh konglomerat Amerika, putri kecil inilah benteng terakhirnya.
Satu malam penyatuan panas tujuh tahun lalu tidak hanya meninggalkan luka dan skandal uang sepuluh juta dolar, melainkan juga karunia terindah yang tidak akan pernah ia penyesali seumur hidupnya: seorang Cinderella Vitiello kecil yang memicu seluruh kekuatannya untuk terus bertahan di atas puncak dunia.