"Aku hanya ingin Putri Katherine Raventhal menjadi istriku." -Salvatore Ardan.
"Kau pikir aku hadiah lotre?" -Katherine Raventhal.
Menjadi hadiah perang untuk Jenderal Agung yang dingin dan berhati batu adalah hal terakhir yang diinginkan Putri Katherine. Salvatore Ardan mungkin dipuja sebagai pahlawan perang, tapi di mata Kate, pria itu adalah monster arogan!
Demi mendapatkan kebebasannya kembali, Kate menyiapkan berbagai cara gila untuk mempermalukan dan menyingkirkan suaminya dari rumah. Namun, sekeras apa pun usaha Kate( mulai dari jebakan ulat bulu, sabotase dokumen militer, hingga perang dingin di kamar tidur) Salvatore selalu punya cara overpower untuk mengatasinya.
Bagaimana cara menundukkan seorang istri galak yang memusuhi seluruh keberadaanmu? Salvatore punya caranya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jingrd24, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18: Berubah Rencana
Seperti yang kita tahu, Kate bukanlah wanita yang mudah menyerah. Meski sekarang statusnya sudah resmi menjadi seorang istri, apakah pertarungan Kate untuk melepaskan ikatan dengan Salvatore sudah selesai? Jawabannya: tentu tidak. Justru kini perjalanannya terasa lebih panjang dan membuat Kate makin termotivasi.
"Jika aku gagal mencegah pernikahan ini, maka aku bisa membuat pernikahan ini menjadi pernikahan yang selesai paling cepat di kerajaan!" gumam Kate sambil mengepalkan kedua tangannya dengan tekad bulat.
Ya. Perceraian.
Jika sudah terlanjur menjadi istri begini, pilihannya kan tinggal satu: melakukan perceraian agar ia bisa kembali menjadi putri yang bebas melakukan apa saja tanpa perlu terikat dengan Jenderal batu menyebalkan yang memiliki barisan penggemar sebanyak Salvatore Ardan.
"Dia pikir aku sudah menyerah? Tidak. Aku selalu punya banyak strategi yang bisa kulakukan dengan giat," kata Kate dengan senyuman miring yang sangat mirip karakter antagonis di drama-drama panggung kerajaan.
Tentu saja mereka tidak bisa bercerai dengan mudah. Apalagi mengingat pernikahan ini terjadi sebagai hadiah atas kemenangan Salvatore dalam peperangan. Jelas hampir mustahil mengajukan perceraian hanya karena Kate mengaku ingin berpisah dari Salvatore. Perceraian hanya bisa disetujui jika kedua belah pihak—suami dan istri—sama-sama sepakat untuk berpisah.
Tapi dalam hal ini, cuma aku yang berniat bercerai, batin Kate sambil menggigit bibirnya pelan.
Solusi yang mungkin bisa Kate lakukan kali ini hanya satu: membuat Salvatore sendiri yang ingin menceraikannya. Jika Kate tidak bisa menceraikan Salvatore, maka Salvatore-lah yang harus mendesak agar mereka berpisah.
Senyum Kate kembali terukir tajam—sebuah senyuman miring yang penuh dengan teka-teki serta strategi yang biasanya akan runtuh seketika begitu diterpa realita dari dayang pribadinya sendiri, Rhea.
"Aku akan menyusun seribu satu rencana untuk membuat Salvatore merasa malu memiliki istri sepertiku, lalu mendesaknya menceraikanku karena tidak tahan punya istri gila!"
Kate tertawa puas, nyaris mirip nenek sihir yang baru saja merencanakan kudeta besar. Gadis itu menatap pantulan dirinya di cermin dengan bangga. "Kau memang jenius, Kate!" pujinya pada diri sendiri.
Sebagai seorang Jenderal perang yang dipatuhi semua orang, cerdas, dan cerdik, Salvatore pasti akan merasa sangat malu jika memiliki istri gila seperti Kate. Maka dari itu, tema aksinya kali ini sudah sangat jelas: menjadi wanita gila yang membuat Salvatore berpikir dua kali untuk melanjutkan pernikahan mereka!
Kate langsung menunduk. Tangannya yang memegang pena bulu angsa dengan cekatan mulai menulis daftar hitam baru. Tenang saja, daftar kali ini sudah ditingkatkan kualitasnya. Ia telah memikirkan rencana matang-matang yang dijamin akan mempermalukan Salvatore.
"Aku sendiri pasti akan sangat malu kalau melakukan ini. Tidak akan ada yang menyangka..." gumam Kate saat membaca ulang rencana-rencana yang menurutnya sangat brilian.
"Tapi tidak apa-apa. Terkadang kita harus mengorbankan hal besar demi mendapatkan hasil yang jauh lebih besar," lanjut Kate dengan senyum puas. "Tak masalah jika aku harus menanggung malu yang luar biasa. Karena kalau aku saja malu, Salvatore pasti akan jauh lebih malu menghadapi istri gila yang setiap hari menyusun rencana agar suaminya ingin menceraikannya sekarang juga!" terkikiknya gembira.
Di tengah-tengah kesenangannya menyusun rencana, Kate mendadak terhenti saat menyadari bahwa sebentar lagi waktu sarapan utama tiba. Ia langsung bangkit dari duduknya dan merapikan gaunnya. Kali ini ia sudah menyiapkan mental untuk menyerang Salvatore dengan strategi terbarunya.
Teh Asin Jilid Dua!
Ya, oke. Kate mengakui bahwa itu adalah rencana usang yang pernah ia coba dan gagal total. Tapi jujur saja, ia belum menemukan ide lain yang lebih spektakuler! Dan waktu terus berjalan. Daripada ia diam saja tanpa melancarkan aksi, lebih baik ia mengulang ide lamanya untuk kedua kali—siapa tahu kali ini berhasil.
Ceklek.
Kate langsung menyembunyikan kertasnya begitu mendengar suara pintu kamar mandi terbuka. Dari sana, muncullah sosok Salvatore yang tinggi tegap mengenakan kemeja santai sembari mengeringkan rambutnya dengan handuk. Pria itu tampak rapi bahkan sebelum mengenakan seragam militernya.
"Ada apa?" tanya Salvatore sambil mengerutkan dahi.
Sebenarnya Salvatore bisa saja tidak curiga jika Kate bersikap tenang seperti manusia normal. Masalahnya, Kate selalu gagal bersikap wajar jika sedang merencanakan sesuatu. Gadis itu menyembunyikan kertas di belakang punggungnya dengan gerak-gerik yang terlampau mencolok. Tentu saja hal itu membuat Salvatore yang menatapnya heran.
Namun karena Kate adalah Kate, meskipun tahu suaminya sempat melirik ke belakang punggungnya, ia tetap yakin keberadaannya tidak ketahuan. Dengan gaya santai yang dibuat-buat, Kate membalas pertanyaan suaminya.
"Ah, tidak ada apa-apa, Sal. Bukan masalah besar," sahutnya sok tenang.
Salvatore tahu persis istrinya sedang menyembunyikan sesuatu. Tapi dari gelagatnya, Kate jelas tidak akan mengaku. Salvatore pun tidak ingin ambil pusing, jadi ia hanya mengangguk kecil, berjalan melewati Kate untuk mengambil seragam militernya di lemari.
"Kau ikut sarapan bersama Ayah?" tanya Kate tiba-tiba di tengah keheningan.
Sebenarnya sangat tidak biasa seorang Kate menunjukkan perhatian hingga menanyakan hal semacam ini. Namun mengingat strateginya membutuhkan sajian Teh Asin, ia harus tahu apakah Salvatore ikut sarapan di meja makan atau tidak. Kalau tidak, bisa gugur duluan rencana besarnya!
Salvatore yang sedang mengancingkan kemeja militernya dengan membelakangi Kate tidak langsung menjawab. Pria itu tampak berpikir sejenak. "Aku harus segera ke barak karena ada urusan mendadak. Duke Raventhal juga sudah tahu, jadi sepertinya aku tidak bisa ikut sarapan."
Mendengar jawaban dari Salvatore, Kate terdiam. Sial. Kalau dia tidak sarapan di sini, bagaimana caranya aku menyajikan teh asin kepadanya?
"Jadi kau tidak mau sarapan?" tanya Kate lagi, berhati-hati.
Salvatore yang selesai merapikan seragamnya berbalik menghadap Kate, lalu mengangguk pelan. "Ya, tidak di sini. Aku biasa sarapan di barak atau mungkin melewatkannya sesuai kondisi."
Kate mengangguk kecil, berpura-pura santai.
Padahal di dalam hatinya, ia sedang berteriak panik mencari celah. Tidak, tidak bisa begini! Bagaimana caranya aku mengerjai Salvatore kalau dia langsung pergi ke barak? Aku tidak mungkin menyusup ke barak seperti orang gila. Ayo berpikir, Kate! Berpikir cepat!
"Kalau begitu, aku berangkat—"
"TUNGGU!"
Sorakan keras yang memotong kalimat Salvatore itu membuat sang Jenderal tertegun. Tangannya yang masih memegang sisir rambut terhenti di udara, terkejut dan bingung melihat reaksi kaget istrinya.
"Ada apa?" tanya Salvatore penasaran.
Kate langsung memasang senyum canggungnya, lalu perlahan-lahan mengubah nada suaranya menjadi sangat manis. "Kalau kau tidak bisa sarapan di sini, biar kubawakan bekal sarapan!"
Salvatore mengerutkan dahi, tidak menyangka. "Eh, tidak perlu-"
"Tunggu di sini, ya!"
Lagi-lagi kalimat Salvatore dipotong begitu saja oleh Kate. Gadis itu dengan cepat bangkit dari kursinya dan bergegas keluar kamar menuju dapur utama. Rencananya sudah bulat: membuatkan bekal sarapan ajaib yang akan membuat suaminya berpikir dua kali untuk mempertahankan pernikahan mereka.
Bagus sekali, Kate! batin Kate dengan senyuman yang makin lebar. Karena aku tidak bisa menyajikan teh asin, aku akan membawakannya roti panggang dengan siraman sup ikan! Kombinasi rasa ini dijamin akan membuatnya mual setengah mati!
Kate tertawa kegirangan dalam hati membayangkan reaksi menderita yang mungkin dipamerkan Salvatore saat menerima bekal buatan tangannya.
Seluruh koki di dapur kediaman Raventhal saling bertatapan kebingungan saat melihat sang Putri—yang selama hidupnya tidak pernah menyentuh alat masak—tiba-tiba menerobos masuk ke area dapur. "Menyingkir! Aku ingin membuatkan bekal sarapan untuk suamiku!" serunya menggebu-gebu.
Mendengar penuturan sang Nona, para koki justru menatapnya dengan mata berbinar terharu. Mereka mengira setelah melewati malam pertama, sang Putri yang sebelumnya gencar menolak pernikahan akhirnya luluh juga oleh kegagahan sang Jenderal. Mereka sama sekali tidak tahu bahwa Kate sedang melancarkan aksi konyolnya.
Dengan cekatan, Kate memasukkan roti panggang yang sudah dilumuri kuah sup ikan ke dalam wadah bekal. Dijamin tekstur rotinya menjadi lembek tak berkaruan, sementara perpaduan rasa gandum dan gurih-amis sup ikan akan menghasilkan cita rasa yang sangat aneh.
Tidak butuh waktu lama bagi Kate untuk menyiapkan bekal tersebut. Setelah selesai, ia tersenyum puas sembari mengelap tangannya. "Sempurna, akhirnya selesai juga."
Bisik-bisik kagum dari para koki terdengar riuh di telinganya.
"Wah, Nona Besar manis sekali ya, sampai membuatkan sarapan untuk Tuan Jenderal. Romantis sekali!" dan berbagai pujian sejenisnya membumbung di udara. Namun Kate tidak peduli. Ia bergegas membawa kotak bekal itu kembali ke kamar utama.
Ceklek.
Beruntung Salvatore belum berangkat. Pria itu sudah rapi dan siap melangkah. Mungin Salvatore sengaja menunggu karena menghargai niat istrinya yang tadi menawarkan masakan.
"Nih, sarapanmu. Dimakan, ya," kata Kate datar sembari menyodorkan kotak bekal itu ke tangan Salvatore.
Salvatore menerima kotak bekal tersebut dengan anggukan kecil. Ekspresi wajahnya tetap tenang seperti biasa. "Terima kasih, Kate. Aku berangkat sekarang."
Sang Jenderal Agung pun melangkah pergi sembari membawa kotak bekal aneh dari istrinya. Sementara Kate tersenyum puas membayangkan Salvatore akan muntah karena cita rasa bekalnya, Salvatore justru merasa tersentuh di dalam hati. Bagi pria yang terbiasa hidup keras di medan perang, disiapkan bekal makanan oleh seseorang adalah sebuah keistimewaan yang amat disyukurinya.
Tanpa Kate sadari, setiap kali ia berusaha keras membuat Salvatore membencinya, sang Jenderal justru makin jatuh hati padanya.
Minta es batu seember ga tuhh! Kate lagian sok-soakn mau acuh tak acuh, dikasih roti sobek 8 petak langsung bengek kan wkwkw! Sal tolong sering-sering latihan gpake bju demi ketenangan jiwa pembaca 🤭
jangan lupa mampir juga ya Thor di ceritaku🤗