Zinnia Arunika terlahir tanpa suara. Tapi malam itu, di tepi pantai saat perpisahan kampus, bahkan jika ia bisa berteriak sekalipun, mungkin tak akan ada yang mendengar.
Niatnya menolong seorang pria yang diduganya hendak mengakhiri hidup justru berakhir menjadi malam paling kelam dalam hidupnya.
Pria itu, Arvid Danendra, berada di bawah pengaruh obat dan kehilangan kendali. Ia merenggut kesucian Zinnia.
Sebelum pergi karena keadaan darurat, ia meninggalkan sebuah cincin dan janji tanggung jawab.
Siapa sangka, Zinnia malah mengandung anak dari malam yang ingin ia lupakan. Ia memilih diam, tak menuntut haknya karena dunia pria itu berbeda darinya. Arvid pewaris keluarga konglomerat dan keluarganya tak pernah dirancang untuk menerima gadis sepertinya.
Zinnia yang bisu memilih membisu. Namun bagaimana saat takdir memaksa mereka kembali bertemu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana 17 Oktober, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
10. Jarak yang Tak Terucapkan
Zinnia baru saja tiba di kamar kontrakannya ketika ponselnya menyala. Bunyi notifikasi pesan masuk terdengar.
Ia mengambil ponsel dari dalam tas, lalu terdiam saat melihat nama pengirimnya. Dandy.
Dandy:
> Zin, kamu lagi apa?
Dengan enggan, Zinnia mengetik balasan.
Zinnia:
> Lagi ada urusan.
Balasan datang begitu cepat.
Dandy:
> Urusan apa?
Zinnia memejamkan mata sejenak sebelum kembali mengetik.
Zinnia:
> Kerja.
Di tempat lain, Dandy menatap layar ponselnya beberapa saat. Biasanya, Zinnia memang tidak banyak bicara lewat pesan. Namun, ia selalu membalas dengan hangat. Sesekali ia mengirim foto kegiatannya atau menanyakan balik apa yang sedang Dandy lakukan.
Belakangan ini, tidak lagi. Hampir setiap kali Dandy menghubunginya, Zinnia hanya menjawab seperlunya.
Dandy:
> Kamu akhir-akhir ini sibuk banget, ya?
Zinnia:
> Iya.
Dandy mendesah pelan sebelum kembali mengetik.
Dandy:
> Ibumu bilang kamu pergi ke kota buat cari kerja. Kok gak bilang ke aku, sih?
Di kamar kontrakannya, Zinnia terdiam cukup lama.
Zinnia:
> Mendadak.
Dandy:
> Mendadak sampai pacarmu sendiri gak dikasih tau?
Zinnia membaca pesan itu tanpa menjawab. Beberapa detik kemudian, pesan berikutnya masuk.
Dandy:
> Sekarang kamu tinggal di mana?
Zinnia:
> Kenapa?
Dandy:
> Kita tinggal di kota yang sama, 'kan? Aku bisa jenguk kamu.
Zinnia menatap pesan itu. Jarinya sempat bergerak di atas layar, tetapi berhenti. Ia tidak ingin bertemu Dandy. Bukan sekarang.
Zinnia:
> Nggak perlu.
Dandy:
> Kenapa gak perlu?
Zinnia menarik napas sebelum mengetik.
Zinnia:
> Aku masih ada yang harus dikerjain. Lagi pula, aku tinggal di kos putri. Nggak bebas kalo kamu ke sini.
Balasan dari Dandy tidak langsung muncul. Lalu—
Dandy:
Zin—
Zinnia segera mengetik sebelum percakapan itu berlanjut.
Zinnia:
> Aku lanjut dulu, ya.
Ia menatap pesan yang baru diketiknya beberapa detik. Ada rasa bersalah yang menekan dadanya, tetapi akhirnya ia tetap menekan tombol kirim.
Zinnia:
> Nanti aku kabari.
Percakapan itu berakhir.
Dandy masih menatap layar ponselnya. Keningnya berkerut. Sejak Zinnia pulang dari acara di luar kota itu, ada sesuatu yang berubah.
Bukan hanya karena Zinnia pergi ke kota tanpa memberitahunya. Cara Zinnia membalas pesan pun berbeda. Lebih singkat. Lebih dingin. Seolah-olah setiap percakapan dengannya ingin segera diakhiri.
Dandy mengembuskan napas panjang sebelum kembali mengetik pesan dan mengirimnya.
Dandy:
> Sejak kamu ke luar kota kemarin, kamu berubah, Zin.
Zinnia hanya membaca pesan itu dari notifikasi tanpa berniat membukanya.
"Maaf," gumam Zinnia dalam hati.
Hanya satu kata. Bahkan jika ia bisa bicara, mungkin kata itu pun akan sulit terucap dari bibirnya.
Zinnia akhirnya meletakkan ponsel di atas meja, lalu beranjak ke kamar mandi.
Setelah membersihkan diri, ia duduk di depan meja kecil di kamarnya. Ia mengambil buku gambar dan alat-alat desain yang dibawanya dari rumah.
Kalau terus memikirkan Dandy, kepalanya tidak akan tenang.
"Lebih baik bekerja," pikir Zinnia.
Zinnia mulai menggambar. Garis pertama. Kemudian garis berikutnya. Ia membuat sketsa sebuah gelang, menghapus bagian yang tidak sesuai, lalu menggantinya dengan bentuk lain. Tangannya terus bergerak, seolah-olah setiap garis dapat menenggelamkan pikirannya dari percakapan dengan Dandy.
Namun, setiap kali pikirannya mulai kosong, kejadian di pantai kembali menyelusup.
Zinnia mengeratkan genggaman pada pensil. Ia memaksa dirinya kembali berkonsentrasi. Garis demi garis dibuat sampai akhirnya malam berlalu tanpa ia sadari.
***
Pagi itu, Arvid terbangun dengan kepala terasa berat. Perutnya mual. Ia buru-buru bangkit dan berjalan menuju kamar mandi. Begitu sampai di depan wastafel, rasa mual itu semakin kuat.
Arvid membungkuk di depan kloset. Tidak ada yang keluar selain cairan bening dan sedikit sisa makanan.
Ia membuka keran, berkumur, lalu mengangkat wajah. Pantulan di cermin memperlihatkan wajahnya yang pucat.
"Jangan-jangan masuk angin."
Arvid mengusap wajah sebelum kembali ke kamar.
Beberapa menit kemudian, ia sudah mengenakan pakaian kerja dan turun ke ruang makan.
Danendra dan Merry sudah duduk di tempat masing-masing.
Merry langsung menoleh begitu melihat putranya. "Kamu kenapa, Ar? Kok pucet banget?"
"Kayaknya masuk angin, Ma." Arvid menarik kursi dan duduk.
Danendra memerhatikannya sebentar. "Kalo sakit, berobat. Kerjaanmu banyak dan tanggung jawabmu besar. Jangan sampai pekerjaanmu terbengkalai gara-gara sakit."
"Iya, Pa." Arvid menatap hidangan yang tersaji di hadapannya.
Biasanya ia akan tetap makan meskipun sedang tidak berselera. Namun, pagi ini baru mencium aromanya saja sudah membuat perutnya kembali terasa tidak nyaman. Ia akhirnya hanya mengambil cangkir teh hangat dan menyesapnya sedikit.
Merry mengernyit. "Loh, gak sarapan?"
"Nggak selera, Ma." Arvid berdiri. "Aku berangkat."
Merry menatap punggung putranya yang semakin menjauh. "Ar."
Arvid berhenti dan menoleh.
"Kalau tambah parah, jangan dipaksain."
Arvid mengangguk. "Iya, Ma."
Ia kemudian melangkah keluar. Namun, baru beberapa langkah, pikirannya kembali pada perempuan yang terpaksa ia tinggalkan di tepi pantai.
Arvid membuka pintu mobil, masuk, lalu duduk diam di balik kemudi. Tangannya terangkat mengusap wajah dengan kasar.
"Bodoh." Ia menundukkan kepala. "Kenapa aku tinggalin dia?"
Saat itu pikirannya kacau. Tubuhnya belum sepenuhnya pulih dari pengaruh obat yang membuat kesadarannya tidak utuh. Kemudian telepon dari kantor datang bertubi-tubi, membawa masalah yang menuntutnya segera kembali.
Namun, apa pun alasannya, sekarang Arvid tahu satu hal. Ia telah meninggalkan seorang perempuan sendirian di pantai pada malam hari.
Perempuan yang baru saja ia nodai. Perempuan yang bahkan tidak sempat memberitahukan namanya.
Rasa bersalah menghantam dadanya.
"Harusnya aku bawa dia."
Arvid memejamkan mata. Seharusnya ia memastikan perempuan itu pulang dengan selamat. Seharusnya ia tidak membiarkannya sendirian.
Dan untuk pertama kalinya sejak malam itu, sebuah kemungkinan lain muncul di kepalanya.
Bagaimana kalau sesuatu terjadi padanya setelah ia pergi?
Arvid membuka mata. Tangannya mencengkeram kemudi lebih erat.
"Di mana aku harus nyari kamu?"
...🔸🔸🔸...
...“Kesalahan sering kali baru terasa berat ketika kita menyadari bahwa akibatnya tidak hanya ditanggung oleh diri sendiri.”...
..."Nana 17 Oktober"...
...🌸❤️🌸...
.
To be continued
semoga Arvid bida menyelidiki dan mengetahui kebenarannya dan mengakuinya di depan ibunya...
Keburu kehamilanmu membesar