Isabella adalah mantan pembunuh bayaran paling berbahaya dan paling di takuti di dunia gelap. Selama bertahun-tahun tangannya telah berlumuran darah.
Namun semuanya berubah saat Isabella menemukan seorang bayi perempuan di depan apartemennya. Sejak saat itu dia memutuskan pensiun demi keselamatan anaknya. Tapi sayangnya sang bos tidak menyukai itu, hingga dia membunuh anak Isabella karena menganggap jika anak itu adalah penghalang Isabella.
Melihat sang putri tewas, Isabella marah dan mulai memburu satu persatu orang yang telah membunuh putrinya. Setelah dendamnya terbayar, Isabella memutuskan untuk mengakhiri hidupnya sendiri.
Namun kematian ternyata bukan akhir baginya, karena setelah membuka mata kembali. Isabella mendapati dirinya berada di tubuh seorang wanita bernama Isabella Iris, seorang ratu yang di buang dari istananya sendiri.
Bagimana kisah Isabella selanjutnya....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nitaastri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13 Pertarungan Melawan Monster
Ketiga monster itu tiba-tiba meraung.
GRRAAAUUURRR!
Suara raungan mereka mengguncang seluruh hutan. Tanpa memberikan kesempatan, monster pertama langsung berlari ke arah Isabella.
"Tuan!" Teriak Aeron.
Isabella segera melompat ke samping, menghindari serangan monster itu.
BOOM!
Tinju monster itu menghantam tanah hingga membuat tanah itu retak.
Isabella tidak membuang waktu.
"Kalau begitu, mari kita mulai." Kata Isabella, seringai tipis menghiasi wajahnya. Lalu Isabella mengangkat tangannya dan udara di sekitarnya tiba-tiba menjadi sangat dingin.
Kristal-kristal es mulai bermunculan di udara membentuk tombak yang sangat rucin.
"Sihir Es, bagaimana mungkin!" Naga itu sangat terkejut saat melihat sihir yang dimiliki Isabella. Karena sihir es sendiri adalah jenis elemen sihir yang telah lama hilang. Bisa di bilang, tidak ada satupun penyihir yang memiliki sihir elemen es saat ini. Apalagi, sihir es yang dimiliki Isabella bukan sihir tingkat dasar tapi ini termasuk sihir tingkat tinggi.
"Menarik." Batin Sang Naga.
Lalu puluhan tombak es melesat dengan kecepatan tinggi.
SWOOSH! SWOOSH! SWOOSH!
Beberapa tombak berhasil menancap di tubuh monster itu. Namun, monster itu hanya mundur beberapa langkah sebelum kembali menyerang.
"Pertahanan mereka cukup kuat juga." gumam Isabella.
Lalu monster kedua datang dari arah belakang.
Aeron langsung bergerak.
"Tuan, awas!"
Aeron menebas monster tersebut dengan cakarnya.
CLANG!
Serangannya mengenai lengan monster itu, tetapi sayangnya serangan Aeron hanya meninggalkan luka tipis.
GRAUUURRR
Monster itu menggeram semakin keras, tatapannya juga semakin tajam. Monster itu kembali mengayunkan tangannya dengan brutal.
Aeron berhasil menghindar, lalu menendang tubuh monster tersebut hingga terdorong beberapa meter.
"Tuan! Serahkan monster yang satu ini padaku. Biat aku yang menanganinya." Kata Aeron.
"Baik!"
Isabella kembali menghadapi monster pertama. Pertempuran mereka berlangsung sengit, hingga Isabella tidak menyadari jika monster ketiga tiba-tiba muncul dari samping dan menyerangnya.
BUAM!
Tubuhnya terpental dan menghantam batang pohon.
"Ugh!"
Isabella terjatuh ke tanah, darah mengalir dari sudut bibirnya. Beberapa luka cukup dalam terlihat di lengannya. Monster itu kembali berlari ke arahnya. Melihat itu, Isabella segera berdiri dan menatap monster itu tajam.
"Jangan kira aku akan kalah hanya karena terluka." Desis Isabella, lalu mengelap sisa darah di bibirnya.
Lalu Cahaya keemasan mulai muncul dari tubuhnya dan luka di lengan Isabella perlahan menutup. Darah yang mengalir dari luka itu juga mendadak berhenti. Hingga membuat kulit Isabella kembali seperti semula.
Aeron yang melihatnya sempat terkejut, begitu juga dengan Naga yang sejak tadi menyaksikan pertarungan mereka. Sangat jarang ada yang memiliki kekuatan penyembuh, yang memiliki kekuatan itu hanya satu orang di benua ini dan itu adalah sang saintess.
"Kekuatan penyembuhan, kau juga memilikinya?" Tanya Aeron shock.
Isabella berdiri perlahan, membersihkan sisa-sisa kotoran di bajunya.
"Ya, aku juga memilikinya." Kata Isabella santai, lalu tatapannya berubah tajam.
Monster itu kembali menggeram marah.
GRAUUUUURRRR.
Lalu kembali menyerang Isabella, seakan tidak memberikan Isabella waktu untuk beristirahat.
Melihat monster itu yang kembali bersemangat menyerangnya, Isabella menyeringai.
"Sayangnya kali ini aku tidak akan membiarkanmu menang." Kata Isabella.
Lalu Isabella kembali mengangkat kedua tangannya. Hingga suhu di seluruh area langsung turun drastis, embun beku menyebar di tanah. Pepohonan di sekitar mereka mulai tertutup lapisan es.
CRAAACK!
Es menjulang dari tanah dan langsung membungkus kaki monster tersebut.
Monster itu meraung dan berusaha melepaskan diri.
GRAUUUUURRRR
Namun Isabella tidak memberinya kesempatan.
Ia menggerakkan tangannya ke depan. Beberapa rantai es muncul dan melilit tubuh monster. Merasa tubuhnya semakin terjebak, monster itu semakin mengamuk. Tetapi Isabella terus memperkuat sihirnya. Dalam sekejap, tubuh monster itu mulai tertutup lapisan es tebal.
Sementara itu, Aeron masih bertarung dengan monster lainnya. Pertarungan mereka juga semakin sengit. Aeron menghindari setiap serangan, kemudian menyerang balik pada saat yang tepat. Namun monster itu memiliki kekuatan yang luar biasa. Satu pukulan berhasil mengenai bahu Aeron.
DUK!
Aeron terhuyung beberapa langkah.
Isabella melihatnya.
"Aeron!"
"Aku baik-baik saja." Aeron tersenyum tipis, lalu dia kembali berdiri.
Isabella mengangguk.
"Kalau begitu, kita selesaikan ini bersama."
Aeron mengangguk, mereka lalu berdiri berdampingan.
Tiga monster tersebut kembali meraung dan menyerang secara bersamaan. Isabella mengangkat tangannya lalu hawa dingin mulai menyebar di sekitar mereka. Cahaya berwarna biru juga keluar dari tubuh Aeron.
"Siap?" tanya Isabella.
"Selalu."
Isabella tersenyum.
"Kalau begitu..."
Es mulai berputar di sekeliling tubuh Isabella.
"kita habisi mereka." Perintah Isabella.
Dalam satu gerakan, Isabella melepaskan gelombang es yang menyapu seluruh area di sekitar monster-monster itu. Gelombang es menyebar ke seluruh area hutan.
CRAAASH!
Tanah membeku dalam sekejap. Ketiga monster itu berusaha melawan, tetapi gerakan mereka menjadi semakin lambat karena lapisan es yang terus merambat ke seluruh tubuh mereka.
Aeron juga tidak mau kalah, dia menerjang monster-monster itu lalu membuka mulutnya dan mengeluarkan sihir cahaya dari mulutnya hingga membuat salah satu monster itu berteriak kesakitan. Hingga akhirnya monster itu terpental jauh dan tidak bergerak lagi. Kini hanya tersisa dua monster lagi.
Isabella kembali mengangkat tangannya lebih tinggi. Lalu dinding-dinding es raksasa muncul dan mengurung kedua monster yang tersisa. Tapi monster ketiga berhasil melompat keluar dan langsung berlari ke arah Isabella.
"Tuan!" teriak Aeron.
Isabella menoleh, tapi sayangnya Isabella terlambat karena monster itu sudah berada tepat di depannya.
BOOM!
Cakar monster itu menghantam tubuh Isabella.
Namun sebelum tubuhnya terlempar jauh, Isabella menahan serangan tersebut dengan sebuah perisai es.
KRRAAK!
Perisai itu retak, Isabella mengerutkan keningnya.
"Kuat sekali..."
Monster itu kembali menyerang Isabella dengan sekuat tenaga. Isabella melompat ke belakang dan mengangkat tangannya. Lalu puluhan anak panah es melesat.
WUSH! WUSH! WUSH!
Semuanya anak panah itu menghantam tubuh monster. Hingga dia merauang kesakitan dan pada saat yang sama Aeron muncul dari belakang Isabella.
"Tuan, sekarang!"
Isabella langsung memahami maksudnya. Ia menepukkan kedua tangannya.
CRAAASH!
Pilar-pilar es muncul dari tanah dan menghantam tubuh monster tersebut dari bawah. Monster itu terlempar ke udara. Aeron segera melompat tinggi dan mengeluarkan sihir anginnya.
"Ini yang terakhir!"
SLASH!
Serangannya menghantam monster tersebut dan membuatnya jatuh keras ke tanah. Hutan akhirnya kembali sunyi. Ketiga monster berhasil mereka kalahkan, Isabella berdiri sambil mengatur napas.
Hingga Aeron mendekatinya.
"Kau terluka."
Isabella melihat lengannya, beberapa luka kecil masih terlihat di sana.
"Ini?" Tanya Isabella, lalu tersenyum santai.
"Sebentar lagi sembuh." Lanjutnya.
Kemudian cahaya keemasan kembali menyelimuti tubuhnya dan luka-luka tersebut perlahan menghilang.
Aeron hanya bisa menghela napas.
"Kalau aku tidak melihatnya sendiri, mungkin aku tidak akan percaya seseorang bisa menyembuhkan luka secepat itu."
Isabella tertawa kecil.
"Jangan terlalu kagum. Kekuatanku tetap memiliki batas." Kata Isabella, lalu dia berjalan ke arah Aeron dan mengarahkan tangannya di kening Aeron. Perlahan cahaya keemasan menyelimuti tubuh Aeron hingga membuat seluruh lukanya sembuh bahkan tubuh Aeron kembali bertenaga.
"Tuan, kau menyembuhkan ku?" Tanya Aeron terkejut, hari ini terlalu banyak kejutan yang di berikan tuannya dan sepertinya dia telah mendapatkan tuan yang kuat.
"Berhentilah memanggilku tuan, Aeron." Kata Isabella, dia tidak suka jika Aeron terus memanggilnya tuan. Seakan-akan hubungan mereka hanyalah sebatas pelayan dan majikan saja. Isabella tidak menyukainya.
"Lalu aku harus memanggilmu apa?" Tanya Aeron bingung.
"Isabella, cukup Isabella." Kata Isabella tegas.
"Isabella? Baiklah Isabella." Ucap Aeron, senyum tipis muncul di wajahnya.
"Sekarang kita lanjutkan perjalanan."
Namun sebelum Aeron menjawab—
DUM...
Tanah tiba-tiba bergetar.
Isabella dan Aeron langsung terdiam.
DUM... DUM...
Getaran itu semakin kuat.
Isabella dan Aeron saling berpandangan, entah makhluk seperti apa lagi yang kini akan menyerang mereka.
Isabella mulai berpikir, jika pertarungan ini terus berlangsung. kapan dia akan sampai ke kota dan menjual monster beruang yang dia bunuh kemarin. selain itu dia juga sudah berjanji akan pulang sebelum makan malam pada kedua anaknya. Tapi sepertinya pertarungan ini akan memakan waktu yang cukup lama.
Bersambung