Lily seorang anak yang ditinggal berpisah oleh kedua orang tua nya. tetapi suatu saat, kedua ortunya saling menikah lagi. saat itu ia ikut dengan ibunya, suatu hal yang tak disangka oleh Lily. Ayah tiri nya ternyata mempunyai niat buruk pada nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Unaa, isi konten hanya pandangan pribadi pembuatnya tidak mewakili NovelToon sendiri
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiara lily, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kata Terakhir yang Menggema
Hujan deras kembali mengguyur atap seng rumah Nenek Surti, menciptakan irama bising yang menyamarkan suara langkah kaki berat di teras depan. Lily sedang duduk di ruang tengah, membantu Nenek memilah biji jagung untuk pakan ayam, ketika suara ketukan keras memecah ketenangan sore itu. Bukan ketukan sopan tamu biasa, melainkan gedoran tangan yang penuh amarah dan keputusasaan.
Nenek Surti mengangkat alisnya, meletakkan keranjang jagung di lantai. “Siapa gerangan yang datang saat hujan begini?”
Belum sempat siapa pun bergerak menuju pintu, pintu kayu jati itu didorong terbuka dengan kasar. Angin kencang masuk bersamaan dengan sosok pria basah kuyup yang berdiri di ambang pintu. Jas mahalnya kini kusut dan berlumpur, rambutnya acak-acakan, dan matanya menyala dengan kemarahan yang sudah memuncak.
Itu Ayah.
“Ayah?” Lily terperanjat, berdiri begitu cepat hingga kursinya bergeser mundur dengan suara berdecit.
Ayah tidak menoleh pada Lily. Matanya terkunci tajam pada Ibu, yang baru saja keluar dari dapur membawa teko air panas. Wajah Ibu pucat pasi, tangannya gemetar hingga air dalam teko bergoyang-goyang.
“Kamu…” desis Ayah, suaranya rendah namun sarat racun. Ia melangkah masuk, mengabaikan tetesan air hujan yang mengotori lantai kayu bersih Nenek. “Kamu pikir kamu bisa lari? Kamu pikir dengan membawa anak kita ke tempat kumuh ini, kamu menang?”
Nenek Surti berdiri, menghalangi jalan Ayah dengan postur tubuhnya yang kecil namun tegap. “Jangan bicara kasar di rumah saya, Pak. Ini bukan kantor Anda.”
“Minggir, Bu!” bentak Ayah, mendorong pelan lengan Nenek hingga wanita tua itu terhuyung.
“Yah! Jangan!” teriak Lily, berlari menghampiri Nenek untuk menopangnya. Jantungnya berdegup kencang, rasa takut yang lama kembali merayap naik.
Ibu meletakkan teko di meja dengan keras, wajahnya kini berubah dari ketakutan menjadi ketegaran dingin. Ia menatap suaminya lurus-lurus, tanpa sedikit pun rasa takut tersisa. Hanya ada kelelahan mendalam dan kebencian yang telah mengkristal.
“Aku tidak lari, Bambang,” kata Ibu, menggunakan nama asli ayahnya untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama. Nada bicaranya datar, mematikan. “Aku menyelamatkan diri. Dan aku menyelamatkan Lily dari melihat ayahnya yang semakin gila karena ego.”
Ayah tertawa, tawa yang terdengar histeris dan menyakitkan. “Menyelamatkan? Kamu mencuri anakku! Kamu memanipulasi pikiran Lily agar membenciku! Lihat dia, dia bahkan tidak mau menatap mata ayahnya sendiri!”
“Aku menatapmu, Yah,” sahut Lily, suaranya bergetar namun jelas. “Tapi yang kulihat bukan lagi Ayah yang dulu. Yang kulihat hanya orang asing yang marah-marah.”
Ayah mengalihkan pandangannya sejenak ke Lily, lalu kembali menatap Ibu dengan tatapan yang lebih tajam. “Baiklah. Jika kamu ingin perang, kita akan berperang sampai habis. Tapi ingat satu hal, Ratna. Aku tidak pernah memberikan izin perceraian itu. Secara hukum, kamu masih istriku. Dan selama kamu masih istriku, kamu tidak punya hak untuk menyembunyikan anak kami dariku.”
“Izin?” Ibu menggelengkan kepala, senyum sinis terbentuk di bibirnya. “Kamu bicara tentang izin setelah tiga tahun mengabaikan kami? Setelah kamu memilih meeting penting daripada menjenguk Lily yang operasi usus buntu? Kamu tidak punya moral untuk bicara tentang hak, Bambang.”
Wajah Ayah memerah. Darah mendidih di pelipisnya. Kesabarannya, yang sudah tipis sejak pagi karena urusan bisnis yang gagal, akhirnya putus sepenuhnya di hadapan ketenangan dingin istrinya.
“Kamu berani menghina aku di depan ibumu?” geram Ayah, jarinya menunjuk wajah Ibu. “Kamu lupa siapa yang menafkahimu selama ini? Siapa yang membayar sekolah Lily? Siapa yang membelikan rumah mewah itu?”
“Aku tidak minta kemewahan itu!” teriak Ibu, akhirnya melepaskan emosinya. Air mata mengalir deras, namun suaranya tetap lantang. “Aku minta kehadiran! Aku minta rasa dihargai! Tapi kamu terlalu buta oleh uangmu sendiri. Sekarang, pergilah dari sini. Kamu tidak diinginkan di sini.”
Kalimat itu seperti bensin yang disiramkan ke api. Ayah maju selangkah, jarak mereka kini hanya beberapa sentimeter. Atmosfer di ruangan menjadi begitu tegang hingga Lily merasa sulit bernapas.
“Tidak diinginkan?” gumam Ayah, suaranya tiba-tiba menjadi sangat tenang, sebuah ketenangan yang mengerikan. Ia mengeluarkan dompetnya, namun bukan uang yang ia ambil, melainkan ia hanya menatap Ibu dengan pandangan kosong. “Baik. Jika itu maumu. Jika kamu merasa begitu jijik padaku, maka aku akan memberimu kebebasan yang kamu inginkan. Tapi bukan dengan cara damai.”
Ayah menarik napas dalam-dalam, lalu mengucapkan kata-kata yang selama ini menjadi momok terbesar dalam pernikahan mereka, kata yang dulunya hanya berupa ancaman kosong di malam-malam pertengkaran, namun kali ini terucap dengan kejelasan yang mematikan.
“Aku talak kau, Ratna. Satu. Dua. Tiga.”
Dunia seolah berhenti berputar.
Lily merasakan lututnya lemas. Ia memegang erat tangan Nenek yang juga gemetar hebat. Kata-kata itu menggantung di udara, lebih berat dari batu, lebih tajam dari pisau. *Talak.* Pemutusan ikatan suci yang diucapkan secara langsung, final, dan tanpa kemungkinan untuk ditarik kembali dalam konteks emosional saat itu.
Ibu terpaku. Mulutnya terbuka, namun tidak ada suara yang keluar. Wajahnya kehilangan sisa-sisa warna terakhir. Ia menatap suaminya dengan disbelief, seolah menunggu candaan pahit atau pembatalan. Namun, wajah Ayah tetap datar, dingin, dan penuh dendam.
“Kamu… kamu serius?” bisik Ibu, suaranya pecah.
“Aku belum pernah seserius ini dalam hidupku,” jawab Ayah dingin. Ia menatap sekeliling ruangan, menatap Lily sekilas dengan pandangan yang sulit diartikan—campuran antara penyesalan sesaat dan kepuasan sadis karena telah berhasil melukai lawan bicaranya. “Mulai detik ini, kamu bebas. Bebas dari nafkahku, bebas dari namaku, dan bebas dari hidupku. Jangan pernah menghubungi aku lagi kecuali melalui pengacara.”
Tanpa menunggu balasan, Ayah berbalik badan. Ia berjalan keluar menembus hujan deras, meninggalkan jejak sepatu berlumpur di lantai kayu yang bersih. Suara mobilnya menderu pergi, semakin jauh, hingga akhirnya hilang ditelan suara hujan dan raungan angin.
Keheningan yang menyusul jauh lebih menakutkan daripada teriakan sebelumnya.
Ibu ambruk ke lantai, tubuhnya lunglai. Lily segera memeluk ibunya, menangis tersedu-sedu. Nenek Surti duduk di samping mereka, memeluk kedua perempuan itu, matanya menatap kosong ke arah pintu yang masih terbuka.
“Sudah… sudah…” bisik Nenek, meski suaranya sendiri parau menahan tangis. “Dia sudah memilih jalannya. Kita harus kuat.”
Lily menatap pintu itu, hatinya hancur berkeping-keping. Ia tahu pernikahan orang tuanya sudah rusak, namun mendengar kata akhir itu diucapkan dengan begitu mudah, begitu kejam, membuatnya menyadari bahwa cinta yang dulu ia percaya ada, mungkin memang sudah mati lama sebelum hari ini. Ayah tidak hanya meninggalkan mereka; ia menghapus keberadaan mereka dari hidupnya dengan satu kalimat.
Di luar, hujan terus turun, seolah langit turut menangisi runtuhnya sisa-sisa harapan terakhir keluarga kecil itu. Lily memeluk ibunya lebih erat, menyadari bahwa mulai hari ini, mereka benar-benar hanya bertiga: dirinya, ibunya, dan neneknya. Tidak ada lagi bayangan ayah yang akan pulang. Tidak ada lagi janji-janji palsu. Hanya ada kenyataan pahit yang harus mereka telan, dan kekuatan baru yang harus mereka bangun dari abu kehancuran ini.