NovelToon NovelToon
Loud Girl, Cold Engine

Loud Girl, Cold Engine

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta
Popularitas:781
Nilai: 5
Nama Author: minttea_

Kirana, seorang maba cerewet dan nggak bisa diem, langsung membenci Bima—cowok teknik cuek dan dingin yang nggak mau minta maaf setelah menabraknya di pertemuan pertama mereka. Sejak itu, hidup Kirana dipenuhi omelan tentang si cowok teknik bau oli tersebut bersama gengnya yang hobi bergosip itu. Di tengah hari-hari kuliah yang penuh gebrakan, tingkah absurd teman-teman mereka, sampai pasangan bucin yang bikin geli satu kampus, hadir Danu—kakak tingkat sempurna yang mulai mendekati Kirana. Di sisi lain Bima justru diam-diam mulai jatuh hati dan terus mencuri pandang pada gadis cerewet itu. Lalu, akankah Kirana memilih Danu si pangeran kampus, atau Bima si cowok teknik acak-acakan yang selalu berhasil membuat harinya kacau?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon minttea_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Interupsi Grekuensi

Sore itu, pusat kota sedang cantik-cantiknya. Langit di atas kompleks pameran seni membiaskan warna jingga kemerahan yang hangat, sangat serasi dengan konsep ekshibisi luar ruangan yang sedang Kirana dan Danu kunjungi. Alunan musik akustik yang lembut mengalun dari panggung kecil di sudut area, menyatu dengan riuh rendah suara langkah kaki pengunjung yang mengagumi deretan instalasi seni dan stan buku langka.

Danu berjalan di sisi kiri Kirana, sesekali menggunakan tubuhnya untuk memberi ruang agar gadis itu tidak tersenggol oleh pengunjung lain yang berpapasan dengan mereka. Karakter Danu yang sangat teratur dan peka membuat perjalanan ini terasa begitu mulus. Ia tahu kapan harus menjelaskan latar belakang sebuah karya seni, dan tahu kapan harus diam membiarkan Kirana menikmati barisan diksi dalam buku-buku tua yang mereka lewati.

"Kamu suka tempatnya, Ra?" tanya Danu lembut, menatap Kirana yang matanya masih berbinar-binar memandangi deretan novel klasik edisi terbatas di salah satu stan.

"Suka banget, Kak! Ini referensinya mahal banget kalau dicari di perpustakaan kampus. Makasih ya udah maksa ngajak aku ke sini," jawab Kirana tulus, mendongak sambil memberikan senyuman terbaiknya.

Danu tertawa kecil, tangannya bergerak pelan seolah ingin mengacak rambut Kirana, namun ia menahannya di udara dan memilih untuk menyelipkannya ke dalam saku celana. "Kan aku sudah bilang, pilihan tempatku nggak akan mengecewakan kamu. Setelah ini, kita cari tempat makan malam yang tenang, ya? Aku tahu tempat makan pasta yang enak di dekat sini."

Kirana baru saja akan mengangguk setuju ketika ponsel di dalam tas selempangnya bergetar. Bukan hanya sekali, melainkan dua kali ketukan getar yang panjang—tanda ada pesan pribadi yang masuk.

Kirana meminta izin sejenak kepada Danu dengan isyarat tangan, lalu merogoh tasnya. Begitu layar ponsel menyala, nama **Bima Teknik** terpampang jelas di baris paling atas notifikasi. Jantung Kirana mendadak berdegup dengan ritme yang berantakan. Ia buru-buru membuka pesan tersebut, bersiap jika ada masalah darurat. Namun, begitu membaca isinya, dahi Kirana langsung berkerut dalam.

> **Bima Teknik:** *Kucing oren yang waktu itu sering lo kasih makan di kantin Sastra, tadi masuk ke lab mesin.*

> **Bima Teknik:** *Dia tidur di atas meja asisten. Gak mau turun. Lo tahu cara ngusirnya tanpa bikin dia ngamuk?*

Kirana mengerjapkan matanya beberapa kali, memastikan bahwa ia tidak salah membaca nama pengirim. Seorang Bima—manusia kalkulator yang biasanya hanya mengirim pesan penuh angka, instruksi, dan efisiensi waktu—malam-malam mengirim pesan tentang seekor kucing oren kantin?

Sebuah senyuman geli tanpa sadar terukir di sudut bibir Kirana. Bayangan seorang Bima yang berwajah garang, bertubuh tegap, dan kaku, harus berhadapan dengan seekor kucing oren yang malas di dalam lab Teknik benar-benar merusak seluruh citra dingin cowok itu.

Kirana dengan cepat mengetik balasan dengan ibu jarinya.

> **Kirana:** *Hah? Kok bisa sampai ke lab Teknik, Bim? Jauh banget jalan kakinya hahaha. Lo elus aja dagunya pelan-pelan, tar juga dia luluh sendiri terus turun. Jangan dikasarin, ntar lo dicakar.*

Hanya butuh waktu kurang dari satu menit, ponselnya kembali bergetar.

> **Bima Teknik:** *Gue gak bisa ngelus kucing. Tangannya gak sinkron.*

> **Bima Teknik:** *Lagian lo balik jam berapa? Ini kucingnya nungguin lo katanya.*

Kirana menahan tawa di balik telapak tangannya, wajahnya mendadak terasa sedikit menghangat. Alasan Bima yang membawa-bawa nama si kucing oren terasa sangat tidak masuk akal, namun anehnya berhasil membuat dada Kirana berdesir aneh. Cowok itu jelas-jelas tidak sedang membicarakan kucing; ada cara lain yang sedang Bima gunakan untuk mendeteksi keberadaannya tanpa harus menurunkan gengsi Tekniknya.

"Ra? Ada masalah penting?"

Suara Danu seketika memutus fokus Kirana dari layar ponsel. Kirana tersentak, buru-buru mematikan layar ponselnya dan mendapati Danu sedang menatapnya dengan tatapan penuh selidik yang lembut. Meskipun Danu tetap tersenyum, kilat kompetitif di matanya tidak bisa menyembunyikan rasa penasarannya.

"Eh, nggak kok, Kak. Ini... cuma pesan gak jelas dari temen," kilah Kirana canggung, buru-buru memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas.

Danu mengangguk pelan, walaupun ia tahu betul siapa satu-satunya orang di kampus yang bisa membuat ekspresi Kirana berubah sedrastis itu dalam hitungan detik. Danu tidak ingin merusak suasana, maka ia kembali mengalihkan perhatian gadis itu. "Ya sudah, yuk ke stan sebelah sana. Katanya ada pameran pembatas buku rajut yang unik."

"Ah, iya Kak, yuk!" jawab Kirana, mencoba mengembalikan fokusnya pada langkah kaki Danu di sampingnya.

Namun, usaha Kirana malam itu tidak sepenuhnya berhasil. Di tengah temaram lampu pameran seni yang estetik dan perhatian Danu yang begitu manis di sisinya, pikiran Kirana justru melayang jauh ke area lab mesin yang dingin.

Ia terus membayangkan bagaimana tangan kaku Bima mencoba bernegosiasi dengan seekor kucing oren, dan kalimat *"Ini kucingnya nungguin lo katanya"* terus berputar di kepalanya seperti bait puisi yang menolak untuk selesai ditulis.

1
Taro
akhirnya up thor🥹
minttea_: huhu iya nihh kemaren author lagi sibuk, maaf yaa🥺
total 1 replies
Taro
teringat sama film pupus kalau baca novel ini. semangat thor
minttea_: wahhh iya kahhhh, makasihh banyak atas dukungannya🥰✨
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!