Loud Girl, Cold Engine

Loud Girl, Cold Engine

Tabrakan Pertama di Tengah Hujan

Hari-hari Kirana terasa seperti puisi yang ditulis dengan tinta basi.

Sama setiap harinya. Bangun tidur. Mandi. Sarapan roti tawar selai cokelat. Naik Transjakarta dari halte dekat kostnya di kawasan Duren Sawit. Turun di halte depan Universitas Wijaya Kertanegara – atau yang lebih dikenal dengan singkatan Uwikerta.

Kampus swasta kecil di Jakarta Timur itu terkenal dengan gedung-gedungnya yang dicat krem dan pohon rindang di sepanjang jalan setapak. Tapi bagi Kirana, mahasiswi baru jurusan Sastra Indonesia, suasana Uwikerta terasa seperti puisi tanpa rima: datar, hambar, dan bikin ngantuk.

Boring sekali.

Hari itu, Kirana baru saja selesai kuliah Pengantar Teori Sastra. Dosennya serius banget sampai Kirana hampir tidak bisa menahan diri untuk tidak melamun memikirkan baris-baris puisi yang gagal ia selesaikan semalam.

Di kantin, dua teman Kirana sudah menunggu.

"Kira, lo lama banget!" seru Maya sambil mengunyah risol mayo. Maya adalah anak komunikasi yang hiperaktif dan suka gosip. Di sebelahnya, Sari yang pendiam – jurusan Psikologi – hanya mengangguk sambil menyedot es teh.

"Maaf, dosennya suka ngelebihin jam," jawab Kirana sambil duduk.

"Eh, lo tau gak," Maya memulai dengan mata berbinar, "hari gue seru banget tadi. Gue hampir ketabrak motor di parkiran!"

Sari mengangkat alis. "Seru?"

"Ya seru lah! Cowoknya ganteng banget, tinggi, jaket jeans belel, mukanya kayak badboy drama Korea. Tapi dinginnya minta ampun. Dia gak minta maaf sama sekali!"

Kirana bergumam tak tertarik. "Biasa aja. Cowok Jakarta mah pada cuek."

"Bukan biasa, Kira! Itu tuh Bima Pratama. Anak teknik mesin semester 5. Panggilannya 'Mekanik Malam'. Katanya dia jago modif motor, suka nongkrong di bengkel sampe larut, dan gak pernah peduli sama siapapun."

Sari menimpali pelan, "Mekanik Malam? Keren juga julukannya."

"Keren apanya," potong Kirana. "Cuek mah gampang. Gue juga bisa cuek."

Maya cekikikan. "Lo? Anak sastra yang nangis baca puisi hujan? Mana bisa cuek."

Kirana mendengus kesal. Tapi dia memilih diam dan menghabiskan es teh manisnya.

Hujan turun tanpa permisi saat Kirana berjalan sendirian menuju halte Transjakarta. Maya dan Sari sudah pulang lebih awal karena ada acara keluarga.

Tas selempang Kirana yang berisi buku Hujan Bulan Juni basah kuyup. Rambutnya yang diikat sebentar mulai menjuntai. Payung lipatnya lupa dia bawa.

Sialan. Kenapa hujan selalu datang di saat paling buruk?

Dia berlari-lari kecil melewati area parkiran motor yang licin. Di tengah langkahnya yang terburu-buru, Kirana tidak melihat apa yang ada di depannya. Tubuhnya membentur sesuatu yang keras, panas, dan beraroma bercampur minyak tanah, bensin, dan sedikit asap rokok.

Buk!

Kirana jatuh terduduk di aspal basah. Buku-bukunya berserakan. Pantatnya sakit, telapak tangannya tergores aspal.

"Anjir, sakit banget sih!" pekiknya sambil mendongak.

Di depannya berdiri sesosok tubuh tinggi besar. Cowok itu tingginya mungkin 180-an, dengan jaket jeans lusuh penuh noda hitam bekas oli. Rambut hitamnya agak panjang, sedikit menutupi dahi.

Matanya tajam, dingin, seperti pisau yang baru digosok. Di tangannya tergenggam helm hitam kusam. Dari balik tubuhnya, terlihat motor matic hitam modifikasi dengan knalpot brong yang masih mengepulkan asap tipis.

Cowok itu hanya menatap Kirana sekilas. Lalu... pergi.

Tanpa menunduk. Tanpa mengulurkan tangan. Tanpa satu kata "maaf".

Dia berjalan ke parkiran, menyalakan motor, dan melesat pergi dengan suara knalpot memekakkan telinga.

"MAKSUD LO APA, COK?!" teriak Kirana, tapi cowok itu sudah lenyap.

Dasar brengsek.

Dua hari kemudian, Kirana masuk ke Fotokopi Cepat Jaya di samping koperasi mahasiswa. Dia mau mengopi bahan ujian Apresiasi Puisi yang tebalnya seratus empat puluh halaman.

Begitu pintu fotokopian terbuka, Kirana langsung membeku.

Bima ada di sana.

Cowok itu sedang berdiri menyandar di dinding dekat mesin fotokopi. Masih dengan jaket jeans lusuh yang sama, masih dengan noda oli di tangannya, dan masih dengan wajah dingin tidak ekspresif. Dia menunggu hasil fotokopian sambil memainkan ponsel.

Mata mereka bertemu.

Kirana berharap cowok itu setidaknya mengangguk atau menunjukkan ekspresi "oh, lu yang kemarin". Tapi tidak. Bima hanya menatapnya sekilas, lalu kembali ke ponselnya dengan wajah datar seperti beton.

Cuek amat sih.

Kirana mengambil nomor antrean. Dan tepat saat dia mencari tempat duduk, hanya ada satu kursi plastik merah yang tersisa: di samping Bima.

Dengan perasaan kesal campur sebal, Kirana duduk. Jarak mereka hanya selebar satu telapak tangan. Bau oli dan rokok samar-samar tercium.

Suasana hening. Hanya suara mesin fotokopi yang berdengung.

Kirana membuka buku puisinya – Hujan Bulan Juni – dan membaca dalam hati untuk menghilangkan rasa canggung.

Tiba-tiba, suara berat dan rendah terdengar.

"Sapardi."

Kirana tersentak. Dia menoleh. Bima sedang melirik ke sampul buku itu sekilas.

"Lo tahu?" tanya Kirana, sedikit terkejut.

"Adik gue suka puisi," jawab Bima datar. Matanya kembali ke ponsel.

"Oh."

Hening lagi.

Fotokopian Bima selesai lebih dulu. Dia mengambil setumpuk kertas tebal penuh skema mesin dan rumus termodinamika, lalu berjalan ke kasir.

Begitu sampai di pintu, dia berhenti sejenak. Tidak menoleh, hanya berkata singkat:

"Hati-hati pulang. Jalanan licin."

Lalu dia pergi, meninggalkan Kirana yang mulutnya setengah terbuka.

Apa-apaan ini?

Keesokan harinya, Kirana cerita ke Maya dan Sari di kantin.

"Gue ketemu lagi tuh cowok mesin. Bima namanya."

Maya langsung semangat. "WAH! Terus? Terus?"

"Ya gitu. Cuek. Gak minta maaf. Tiba-tiba bilang 'hati-hati pulang'."

Sari tersenyum kecil. "Berarti dia perhatian, cuma gak bisa nunjukin."

"Perhatian apaan, sih," Kirana membantah, tapi pipinya terasa hangat.

Maya menepuk meja. "Lo harus deketin dia, Kira!"

"Gila lo. Gue benci cowok cuek kayak gitu."

"Tapi lo senyum-senyum sendiri, anjir."

Kirana buru-buru menutup mulutnya. Sial. Ketahuan.

Sejak hari itu, kebetulan mulai terasa seperti kutukan.

Di kantin: Bima sedang makan bakso sendirian di pojok, Kirana duduk tak jauh darinya bersama Maya dan Sari. Di perpustakaan: Bima tertidur di atas buku Termodinamika, Kirana mengambil buku puisi di rak sebelah.

Di parkiran: Kirana hampir keserempet motornya lagi – Bima hanya mengangkat tangan sedikit, semacam "maaf tanpa kata", lalu melesat.

Dan setiap kali, Bima tidak pernah minta maaf. Paling banter tatapan sekilas atau anggukan kecil.

Tapi ada satu hal yang aneh: setiap kali mereka berpapasan, Bima selalu melirik buku yang Kirana bawa. Seperti ada rasa ingin tahu yang dia pendam.

Sampai suatu sore, Maya menarik tangan Kirana.

"Kira, yuk ke bengkel teknik! Gue mau liat-liat."

"Ngapain? Bau oli."

"Biar bisa liat si Bima lagi, dong!"

Kirana ingin menolak, tapi kakinya sudah melangkah mengikuti Maya. Sari ikut di belakang sambil tersenyum tahu.

Di teras bengkel, Bima sedang nongkrong dengan dua temannya. Suara knalpot brong dan tawa mereka terdengar dari kejauhan. Bima sedang memegang kunci pas dan membongkar sesuatu dari motornya. Tangannya lincah, penuh yakin.

Salah satu teman Bima menyadari keberadaan mereka.

"Wah, Bim, ada cewek ngintip lo nih!"

Bima mendongak. Mata mereka bertemu lagi. Kirana sedikit gugup, tapi dia berusaha tegar.

"Gue cuma lewat," ucap Kirana cepat, meskipun jelas dia tidak sedang lewat.

Bima tidak menjawab. Dia hanya menatap beberapa saat, lalu kembali ke motornya. Tapi sebelum menunduk, sudut bibirnya terangkat tipis – hampir tidak terlihat.

Senyum?

Maya menggamit lengan Kirana. "Lihat tuh! Dia senyum! LO BIKIN DIA SENYUM!"

"Diem, Ya!" Kirana menarik Maya pergi, dadanya berdebar tidak karuan.

Sari berbisik pelan, "Aku lihat kok. Dia memang tertarik sama kamu."

Kirana tidak menjawab. Tapi di dalam dadanya, ada sesuatu yang berdegub aneh.

Kenapa sih gue harus panas begini?

Dan di belakangnya, Bima masih memegang kunci pas, matanya sesekali melirik ke arah Kirana yang menjauh, diikuti oleh dua teman ceweknya.

Episodes
1 Tabrakan Pertama di Tengah Hujan
2 Cowok Dua Wajah
3 Topeng Baru Sang Playboy
4 Bidadari Lapangan Basket
5 Colelat, Orasi, dan Geng Komunikasi
6 Tentang Pangeran Lab dan Sang Mekanik
7 Pangeran Lab dan Gejolak di Balik Meja Kantin
8 Es Jeruk yang Salah Alamat
9 Debu Parkiran dan Gengsi yang Runtuh
10 Deru Mesin dan Aroma Americano
11 Distorsi di Balik Kaca Kantin
12 Percikan Api di Lab
13 Garis yang Semakin Buram
14 Sirkuit yang Terhubung Kembali
15 Anomali di Antara Deru Mesin
16 Notifikasi yang Diamati
17 Presisi di Antara Sela Rantai
18 Sinteksis Mesin dan Metafora
19 Singa Sastra di Kandang Mesin
20 Riuh di Bengkel Mesin
21 Efek Samping 32 Pesan
22 Titik Temu di Jam Empat
23 Gesekan Frekuensi
24 Dua Sisi Perhatian
25 Rahasia di Balik Senyum
26 Parameter Sederhana
27 Gesekan di Koridor Dekanat
28 Variabel di Luar Rencana
29 Batas Akhir Dokumentasi
30 Hangat di Kamar Sari
31 Sinyal Baru di Hari Selasa
32 Interupsi Grekuensi
33 Titik Koordinat yang Bergeser
34 Paket Tengah Malam
35 Koordinat Menuju Rumah
36 Ruang Tamu Beraroma Lavender
37 Resep di Dapur Ibu
38 Frekuensi yang Selaras
39 Antara Dua Ritme
40 Selasar yang Ramai
41 Lembar Baru di Kantin Sastra
42 Awal Dari Sebuah Draf Baru
43 Sabtu Pagi dan Deru Mesin
44 Variabel Hijau di Pasar Bunga
45 Bagasi Penuh dan Aroma Tanah Basah
46 Senja di Teras Rumah
47 Sidang Pleno di Kamar Maya
48 Tekanan di Lorong Senyap
49 Riuh yang Terbaca
50 Distorsi di Koridor Sastra
51 Tumpukan Kekesalan di Rumah Kirana
52 Operasi Tangkap Kamera
53 Ledakan di Garis Beranda
54 Frekuensi yang Kembali Selaras
55 Klarifikasi di Batas Lorong
56 Kejujuran di Bawah Pohon Rindang
57 Genggaman Hangat di Balik Rindang
58 Riuh Godaan dan Janji yang Mengakar
59 Langkah Pertama di Atas Toda Dua
60 Akhir dari Sebuah Keraguan
Episodes

Updated 60 Episodes

1
Tabrakan Pertama di Tengah Hujan
2
Cowok Dua Wajah
3
Topeng Baru Sang Playboy
4
Bidadari Lapangan Basket
5
Colelat, Orasi, dan Geng Komunikasi
6
Tentang Pangeran Lab dan Sang Mekanik
7
Pangeran Lab dan Gejolak di Balik Meja Kantin
8
Es Jeruk yang Salah Alamat
9
Debu Parkiran dan Gengsi yang Runtuh
10
Deru Mesin dan Aroma Americano
11
Distorsi di Balik Kaca Kantin
12
Percikan Api di Lab
13
Garis yang Semakin Buram
14
Sirkuit yang Terhubung Kembali
15
Anomali di Antara Deru Mesin
16
Notifikasi yang Diamati
17
Presisi di Antara Sela Rantai
18
Sinteksis Mesin dan Metafora
19
Singa Sastra di Kandang Mesin
20
Riuh di Bengkel Mesin
21
Efek Samping 32 Pesan
22
Titik Temu di Jam Empat
23
Gesekan Frekuensi
24
Dua Sisi Perhatian
25
Rahasia di Balik Senyum
26
Parameter Sederhana
27
Gesekan di Koridor Dekanat
28
Variabel di Luar Rencana
29
Batas Akhir Dokumentasi
30
Hangat di Kamar Sari
31
Sinyal Baru di Hari Selasa
32
Interupsi Grekuensi
33
Titik Koordinat yang Bergeser
34
Paket Tengah Malam
35
Koordinat Menuju Rumah
36
Ruang Tamu Beraroma Lavender
37
Resep di Dapur Ibu
38
Frekuensi yang Selaras
39
Antara Dua Ritme
40
Selasar yang Ramai
41
Lembar Baru di Kantin Sastra
42
Awal Dari Sebuah Draf Baru
43
Sabtu Pagi dan Deru Mesin
44
Variabel Hijau di Pasar Bunga
45
Bagasi Penuh dan Aroma Tanah Basah
46
Senja di Teras Rumah
47
Sidang Pleno di Kamar Maya
48
Tekanan di Lorong Senyap
49
Riuh yang Terbaca
50
Distorsi di Koridor Sastra
51
Tumpukan Kekesalan di Rumah Kirana
52
Operasi Tangkap Kamera
53
Ledakan di Garis Beranda
54
Frekuensi yang Kembali Selaras
55
Klarifikasi di Batas Lorong
56
Kejujuran di Bawah Pohon Rindang
57
Genggaman Hangat di Balik Rindang
58
Riuh Godaan dan Janji yang Mengakar
59
Langkah Pertama di Atas Toda Dua
60
Akhir dari Sebuah Keraguan

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!