Di dunia di mana kekuatan kultivasi menentukan segalanya, di mana kemampuan dan kekuasaan menjadi ukuran keberhasilan, ada seorang pemuda yang namanya perlahan mulai menancapkan akarnya dan menimbulkan getaran di seluruh wilayah. Dia adalah Xiao Xuan—pria yang tenang, penuh perhitungan, dengan tatapan mata yang tajam yang bisa menilai setiap situasi dalam sekejap, namun menyimpan kelembutan dan perlindungan yang hanya terlihat bagi orang-orang yang dia sayangi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RavMoon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11.Riak Emas dan Tarian Seulas Senyum di Lapangan Suci
Sinar matahari pagi yang pucat menembus kisi-kisi jendela kayu berukir, memantulkan debu-debu halus yang melayang di atas ranjang sutra hitam. Di balik selimut beludru tebal, Xiao Xuan perlahan membuka kelopak matanya. Embusan napasnya yang berat dan dalam menyiratkan sisa-sisa kelelahan fisik yang belum sepenuhnya menguap. Rasa perih yang menjalar di punggungnya akibat luapan amarah Kakek Ye Mo dua hari lalu masih menyisakan sensasi hangat yang konyol. Pria dewasa itu mendengus pelan, lalu bangkit dan bersandar pada kepala ranjang dengan dahi berkerut samar, menatap langit-langit kamar dengan tatapan mata yang dipenuhi rasa dongkol yang matang.
Belum sempat ia mengumpulkan seluruh kesadarannya, seberkas getaran energi spiritual yang teramat murni mendadak berdesir di dalam benaknya. Suara gaib yang melengking jenaka memecah keheningan fajar, membawa untaian kata yang bergaung lembut dalam kesadarannya.
[Ding! Selamat kepada Pembawa Acara yang terhormat! Tindakan nekatmu bermain api di sarang singa rupanya membuahkan hasil. Pengakuan resmi dari Keluarga Angin Salju telah dikunci dengan sukses! Hadiah: 500.000 Poin Penjahat telah ditransfer ke dalam perbendaharaan jiwamu. Silakan dinikmati, Wahai Ayah yang berambisi besar! (`★ω★´)b]
Xiao Xuan baru saja hendak menghela napas lega demi mendengar tambahan kekuatan spiritual tersebut, namun getaran aura di dalam kepalanya kembali bergejolak, kali ini dengan nada suara yang sengaja dilembut-lembutkan namun sarat akan intonasi ejekan yang tajam.
[Oh, astaga... Tuan Rumah yang agung, dingin, dan berwibawa, bagaimana rasanya mendapat belaian kasih sayang berupa tamparan keras di bagian belakang tubuh dari seorang ahli peringkat Legenda? (*≧▽serif)ノ!! Sistem yang baik hati ini bahkan dengan sukarela mengabadikan momen bersejarah itu dalam rekaman visual yang sangat jernih di lembar memori giok. Apakah Anda memiliki nyali yang cukup besar untuk menontonnya kembali pagi ini? Kebetulan aku sedang senggang untuk menemanimu meratapi nasib! ┐( ̄∀ ̄)┌]
Mendengar *roasting* sarkas dari suara gaib yang tertanam di jiwanya, sudut bibir Xiao Xuan berkedut. Sepasang manik matanya yang hitam legam memancarkan kilat dingin yang berbahaya, meski ia tahu ia tidak bisa menyentuh wujud tak kasat mata tersebut.
"Sistem, simpan rekaman konyolmu itu," jawab Xiao Xuan dalam hati, suaranya terdengar rendah dan penuh tekanan yang tenang namun mengunci. "Percayalah pada kata-kataku, begitu fondasi tubuh ini sepenuhnya menyatu dengan hukum dunia luar, aku sendiri yang akan memastikan lelaki tua dari Keluarga Angin Salju itu membayar setiap jengkal rasa perih ini dengan harga yang teramat mahal. Sekarang, diamlah. Aku butuh ketenangan mutlak untuk memecah belenggu kultivasiku."
[Hmph! Dasar manusia pendendam yang kaku! ┐(´д`)┌] Suara gaib itu mendengus malas, kembali bergetar dengan nada *tsundere* yang khas. [Baiklah, baiklah, Sistem yang agung ini tidak akan mengganggu ritual agungmu. Namun, sebagai pengingat kecil, setelah Anda berhasil menyentuh ambang Peringkat Emas nanti, fitur 'Untaian Rasa' akan terbuka secara otomatis untuk membantumu membaca kebenaran di balik topeng emosi orang-orang di sekitarmu. Selamat berjuang, jangan sampai membuat pantatmu mekar untuk kedua kalinya! ( ゚∀゚)o彡°]
Setelah riak energi dari Sistem Penjahat Takdir itu benar-benar mengendap dan menyatu kembali dengan hukum alam, Xiao Xuan mengembuskan napas panjang. Aura kamarnya yang luas mendadak mendingin seiring dengan fokus jiwanya yang menajam. Ia menegakkan posisi duduknya, lalu bersuara dengan nada yang datar namun memiliki daya jangkau yang luas hingga menembus daun pintu.
"Siapa pun yang berada di luar, sampaikan pesan pada Tetua Agung. Aku akan mengasingkan diri di ruang bawah tanah selama beberapa hari ke depan. Perintahkan seluruh faksi untuk mengunci perimeter dan bersiap."
"Baik, Tuan Muda. Perintah Anda akan segera dilaksanakan," sahut seberkas suara rendah dari seorang pelindung faksi yang berjaga di luar pintu, diikuti oleh suara derit langkah kaki yang teratur dan cepat menjauh.
Di sisi lain kompleks kediaman, Tetua Agung Wang Tian yang sedang memeriksa lembaran gulungan kuno urusan faksi segera meletakkan kuasnya begitu mendengar laporan tersebut. Sebagai seorang pria tua yang telah melewati banyak badai politik, ia tahu betul arti penting dari setiap jangkauan kultivasi sang tuan muda bagi masa depan Keluarga Wang. Dengan lambaian tangannya yang tegas, ia memerintahkan para pelayan untuk mengeluarkan simpanan Pil Obat penopang jiwa terbaik dari dalam gudang bawah tanah. Tidak hanya itu, dua sosok tetua berambut perak dengan riak energi yang luar biasa pekat—Tetua Wang Long dan Tetua Wang Hu, yang keduanya telah lama bertengger di Peringkat Emas Hitam—ditunjuk langsung untuk berdiri sebagai benteng pelindung gaib di depan pintu ruang pengasingan Xiao Xuan.
Tiga hari berlalu dalam keheningan yang mencekam di dalam ruang bawah tanah yang dingin. Udara di sekeliling tubuh Xiao Xuan berputar hebat, membentuk pusaran aura ungu yang kuno dan mistis khas dari Seni Hongmeng. Untaian prasasti emas dan es saling mengunci di sekeliling pundaknya, menempa tulang dan pembuluh darahnya dengan kejam namun terukur. Hingga pada fajar hari ketiga, sebuah dentuman spiritual yang tak terdengar oleh telinga biasa bergetar hebat di dalam dadanya.
Belenggu itu hancur. Aliran Kekuatan Jiwanya melonjak hebat seumpama air bah yang berhasil menjebol bendungan, mengkristal menjadi sebutir inti energi yang berkilau keemasan di dalam wilayah jiwanya. Xiao Xuan telah resmi menginjakkan kakinya di **Peringkat Emas Bintang 1**.
"Sistem, tunjukkan lembaran jiwaku," gumam Xiao Xuan perlahan sembari menyeka setitik keringat dingin di dahinya.
Sebuah hamparan cahaya keemasan yang redup sehalus permukaan giok spiritual perlahan melayang di depan tatapannya, menampilkan untaian aksara kuno yang bergetar lembut:
[ Nama: Xiao Xuan ]
[ Usia: 13 Tahun ]
[ Teknik Inti: Seni Hongmeng, Metode Cermin Tubuh Utama-Sub ]
[ Manifes Roh Iblis: Naga ]
[ Ranah Kultivasi: Peringkat Emas Bintang 1 ]
[ Pusaka Jiwa: Kitab Roh Iblis Duniawi ]
[ Otoritas Khusus: Hukum Angin dan Salju, Hukum Api ]
Melihat setiap baris pencapaian tersebut, sudut bibir Xiao Xuan terangkat membentuk seulas senyuman tipis yang sarat akan kepuasan matang. Batas usia tiga belas tahun dengan tingkat kekuatan setara tetua faksi menengah adalah modal yang lebih dari cukup untuk mulai menggerakkan bidak-bidak caturnya di panggung Kota Glory.
Begitu pintu batu ruang pengasingan bergeser terbuka dengan suara derit yang berat, aroma tanah basah dan udara segar langsung menyergap indra penciumannya. Di hadapannya, belasan tetua Keluarga Wang telah berlutut dengan satu kaki di atas tanah, dipimpin oleh ketiga tetua peringkat Legenda.
"Selamat atas keberhasilan Tuan Muda menembus batas langit! Kejayaan Keluarga Wang akan abadi bersama Anda!" teriakan serempak dari para tetua itu bergaung kuat, menggetarkan daun-daun pohon kuno di halaman.
Xiao Xuan melangkah maju dengan jubah hitamnya yang berkibar anggun, sepasang matanya yang tenang menatap jajaran orang-orang tua yang telah mendedikasikan hidup mereka untuk faksi ini. Sisi dewasanya tahu betul bagaimana cara mengikat kesetiaan tanpa harus terlihat naif.
"Kalian semua telah mengorbankan banyak hal demi menjaga fondasi keluarga ini selama aku berada di luar," tutur Xiao Xuan, suaranya terdengar berat, berwibawa, namun memiliki kehangatan yang proporsional. "Setelah pertemuan ini selesai, pergilah ke perbendaharaan dalam faksi. Masing-masing dari kalian berhak mengambil 500.000 koin roh iblis sebagai penopang kultivasi. Aku berharap, dedikasi kalian tidak akan pernah kendur."
Mendengar nominal yang begitu besar dialokasikan tanpa keraguan sedikit pun, kilat gairah dan rasa hormat yang mendalam memancar dari wajah para tetua. "Kami rela menumpahkan darah dan bertarung hingga akhir hayat demi jalan yang Tuan Muda tunjukkan!"
"Semuanya bubar dan kembali ke pos masing-masing. Tetua Wang Tian, Wang Yan, dan Wang Sen, tetaplah di sini. Ada urusan faksi yang harus kita selaraskan," perintah Xiao Xuan dengan lambaian tangan yang tenang.
Setelah halaman kembali sunyi, hanya menyisakan deru angin musim gugur yang lembut, Xiao Xuan berbalik menatap ketiga tetua inti. "Aku berencana untuk menguji ketajaman tempurku dengan menantang para penerus muda dari berbagai faksi besar di Kota Glory. Bagaimana pandangan kalian?"
Ketiga tetua itu saling pandang sejenak, membaca ketenangan yang mutlak di mata Xiao Xuan sebelum akhirnya mengangguk taktis. "Kami tidak memiliki keberatan sedikit pun, Tuan Muda. Langkah ini justru akan mempertegas dominasi nama faksi kita di mata publik."
"Bagus. Persiapkan segala keperluan diplomatik. Mulai esok fajar, kita akan mendatangi mereka satu per satu," ucap Xiao Xuan dengan nada mengunci.
Keesokan paginya, sebuah kereta kuda mewah yang terbuat dari kayu cendana hitam berukir lambang naga emas meluncur membelah jalanan Kota Glory yang masih diselimuti kabut tipis. Tujuan pertama dari perjalanan taktis Xiao Xuan adalah kompleks kediaman **Keluarga Suci**—salah satu dari tiga faksi utama yang memiliki pengaruh mengakar di kota ini.