"Hubungan yang berawal dari reuni kecil itu tumbuh begitu cepat, seolah waktu ingin mengejar ketertinggalan mereka selama di SMA. Arman adalah sosok kekasih yang penuh perhatian. Dia tahu kapan Kanaya sedang lelah hanya dari nada suaranya, dan dia selalu punya cara untuk membuat Kanaya merasa dihargai.
Bagi Kanaya, Arman adalah pelabuhan yang aman. Begitu pula bagi Arman, ketulusan dan kemandirian Kanaya adalah hal yang tidak bisa ia temukan pada perempuan lain."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sarapan
Wisnu meletakkan tabung gas cadangan di sudut dapur dengan napas sedikit terengah-engah. Namun, begitu ia berbalik dan mendapati Kanaya sedang duduk di kursi kayu dengan wajah agak pucat, pandangannya langsung tertuju pada jari manis Kanaya yang kini sudah terbungkus plester rapi.
Raut wajah Wisnu seketika berubah khawatir. Ia melangkah cepat menghampiri Kanaya, mengabaikan rasa lelahnya setelah memikul tabung gas dari warung depan.
"Eh, Kanaya? Jari kamu kenapa? Kok bisa diperban begitu?" tanya Wisnu beruntun, suaranya sarat akan rasa cemas yang tak bisa disembunyikan.
Ia langsung berlutut satu kaki di samping kursi Kanaya, mencoba melihat lebih dekat luka di tangan perempuan itu, membuat jarak di antara mereka menjadi begitu dekat.
"Tadi nggak sengaja tergores pisau pas lagi motong sayur, Kak," jawab Kanaya pelan, berusaha memberikan senyum tipis untuk menenangkan Wisnu. "Tapi nggak apa-apa kok, udah diobatin sama Lisa tadi."
"Ya ampun, Nay... makanya hati-hati. Pisau dapur posko ini kayaknya emang tajam banget karena jarang dipakai," ujar Wisnu, menghela napas lega setelah memastikan lukanya tidak terlalu parah. Ia kemudian mendongak menatap Kanaya dengan tatapan mata yang sangat hangat. "Ya sudah, kamu nggak usah pegang pisau lagi pagi ini. Biar sisa tugas kamu aku yang lanjutin. Kamu duduk istirahat aja di sini, ya?"
Kanaya merasa hatinya sedikit menghangat melihat perhatian tulus yang ditunjukkan Wisnu. Sikap manis pria itu perlahan membantu meredakan keguncangan emosi yang sempat menguasai dirinya beberapa menit lalu. "Makasih banyak ya, Kak Wisnu," bisik Kanaya tulus.
Di belakang mereka, dekat meja konter dapur yang dingin, Arman berdiri mematung membelakangi interaksi tersebut. Tangannya mencengkeram pinggiran wastafel dengan erat hingga buku-buku jarinya memutih.
Mendengar betapa khawatirnya suara Wisnu dan melihat bagaimana Kanaya menerima perhatian itu dengan pasrah, dada Arman rasanya seperti dihantam godam besar. Rasa bersalah, cemburu, dan penyesalan bergolak menjadi satu di dalam hatinya, menciptakan sesak yang teramat sangat di tengah keheningan dapur subuh itu.
Aroma harum dari nasi goreng gila dan telur dadar gulung buatan kelompok satu akhirnya mengudara, memenuhi seluruh penjuru posko dan sukses membangunkan delapan anggota lainnya. Dengan perut yang sudah keroncongan, satu per satu mahasiswa keluar dari kamar dan berkumpul di ruang makan sederhana yang menyatu dengan area tengah.
Meja makan kayu yang tidak terlalu besar itu segera dipenuhi oleh piring-piring. Karena kapasitas kursi tidak cukup untuk dua belas orang, sebagian anggota laki-laki memilih duduk lesehan di atas karpet dengan piring di pangkuan mereka, menciptakan suasana khas KKN yang akrab dan penuh kekeluargaan.
"Wah, mantap banget ini menunya! Bau harumnya sampai masuk ke kamar," puji Mely antusias begitu mengambil piringnya. Matanya kemudian tidak sengaja tertangkap plester yang melingkar di jari manis Kanaya. "Eh, jari kamu kenapa, Nay? Kok diperban?"
"Oh, ini... tadi agak kurang fokus pas motong sayur, jadi kegores pisau sedikit. Tapi aman kok, udah diobatin sama Lisa," jawab Kanaya menenangkan sembari tersenyum tipis.
Wisnu, yang duduk di dekat kepala meja, ikut menimpali sambil mengambil porsi nasinya. "Iya, untung tadi langsung ditanganin cepat. Makanya yang lain kalau piket dapur harus ekstra hati-hati ya, pisau posko kita tajam banget."
Mendengar ucapan Wisnu, Lisa melirik sekilas ke arah Arman yang memilih duduk lesehan di sudut ruangan, agak jauh dari meja makan utama. Lisa sengaja tidak membocorkan kejadian refleks Arman yang mengisap darah Kanaya tadi untuk menjaga perasaan temannya itu.
Sementara itu, Arman hanya menunduk dalam, mengunyah nasi gorengnya perlahan tanpa selera. Setiap suapan terasa hambar di lidahnya. Posisinya yang berada di sudut ruangan membuatnya bisa melihat dengan jelas bagaimana Wisnu duduk tepat di sebelah Kanaya, sesekali memastikan apakah Kanaya kesulitan makan dengan jari yang terluka atau tidak.
"Enak banget ini nasi gorengnya! Siapa nih koki utamanya?" seru salah satu anggota laki-laki, memecah keheningan batin Arman.
"Lisa sama Arman tuh yang bagian ngegoreng dan ngulek bumbu halusnya," sahut Wisnu bangga, memberikan apresiasi pada anggota timnya.
Suasana sarapan pagi itu pun berlangsung riuh dengan canda tawa dan obrolan mengenai persiapan program kerja yang akan mereka bawa ke rumah warga nanti. Di tengah kepungan enam petak sawah yang mulai disorot matahari pagi yang cerah, dua belas mahasiswa itu menikmati momen kebersamaan pertama mereka, mengabaikan pergolakan emosi yang tersembunyi di antara Kanaya, Arman, dan Wisnu.