NovelToon NovelToon
Jatuh Cinta Bukan Dalam Kontrak

Jatuh Cinta Bukan Dalam Kontrak

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir / Nikah Kontrak
Popularitas:815
Nilai: 5
Nama Author: Royo Ekek

Anya Anandita tidak pernah menyangka hidupnya akan sekacau ini. Di tengah himpitan utang medis mendiang ayahnya dan ancaman kehilangan tempat tinggal, ia justru dipertemukan lewat insiden memalukan dengan Devan Alfarezel CEO muda berhati dingin, arogan, dan perfeksionis yang paling dihindari semua karyawan di perusahaannya. Pertemuan pertama mereka berjalan buruk, menyisakan kekesalan mendalam di hati masing-masing.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Royo Ekek, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Detak Jantung dan Bayang-bayang Zurich

Pukul enam pagi di penthouse Alfarezel, embun fajar masih menempel ketat di dinding kaca raksasa yang menghadap langsung ke panorama pencakar langit Jakarta. Suasana yang biasanya dipenuhi oleh ketenangan ritual minum kopi bersama, mendadak pecah oleh suara derap langkah terburu-buru dari arah kamar mandi utama.

Hoek... hoek...

Devan yang baru saja selesai memakai kemeja putihnya langsung melempar jas abu-abunya ke atas tempat tidur. Dengan langkah lebar yang sarat akan kepanikan, ia bergegas masuk ke kamar mandi. Di sana, ia menemukan Anya sedang bertumpu pada wastafel marmer, wajahnya pucat pasi dengan keringat dingin yang membasahi pelipisnya.

"Anya!" Devan langsung berlutut di samping istrinya, mengumpulkan rambut panjang Anya dengan satu tangan sementara tangan lainnya mengusap punggung wanita itu dengan kelembutan yang sangat kontras dengan kepanikannya. "Kau sakit? Kita ke rumah sakit sekarang. Aku akan menyuruh Randi menyiapkan mobil."

Anya menarik napas dalam-dalam, membasuh mulutnya dengan air mengalir sebelum bersandar lemas pada dada bidang Devan. Ia tersenyum tipis, mencoba meredakan gumpalan kecemasan di mata elang suaminya. "Aku tidak apa-apa, Devan. Hanya sedikit pusing dan mual. Mungkin... hanya salah makan malam di rumah Kakek kemarin."

"Tidak ada salah makan yang membuat wajahmu seputih kapas begini," bantah Devan mutlak. Ia langsung menggendong tubuh ramping Anya ala bridal style, membawanya kembali ke atas ranjang king-size mereka. Devan menyelimuti Anya hingga sebatas dada, lalu mengecup keningnya yang terasa agak hangat. "Hari ini kau tidak boleh ke kantor. Diam di sini, aku akan memanggil dokter pribadi keluarga ke penthouse."

Anya tidak membantah. Rasa pening yang berputar di kepalanya memang membuatnya kehilangan energi untuk berdebat. Namun, di dalam lubuk hatinya, ada sebuah firasat kecil yang mulai bersemi sebuah kemungkinan yang membuat jantungnya berdegup dengan ritme yang sangat berbeda.

Sementara itu, di lantai eksekutif Menara Alfarezel, atmosfer pagi ini mendadak berubah menjadi sangat dingin. Keputusan Devan untuk menolak mentah-mentah investasi 500 USD dari Vanguard Holdings rupanya telah memicu gelombang kejut di lantai bursa efek Zurich.

Randi masuk ke ruang kerja Devan dengan wajah yang sangat tegang, membawa sebuah tablet yang menampilkan enkripsi surat elektronik resmi dengan tanda pengenal diplomatik Swiss.

"Pak Devan," Randi meletakkan tablet itu di atas meja kerja kaca. "Vanguard Holdings baru saja mengirimkan nota protes resmi melalui perwakilan kamar dagang mereka. Dan bukan itu saja... pemilik mayoritas saham Vanguard, seorang miliarder tertutup bernama Maximilian Vance, dilaporkan telah mendarat di Bandara Halim Perdanakusuma menggunakan jet pribadinya satu jam yang lalu."

Devan yang sedang memeriksa berkas internal langsung mendongak. Rahajangnya mengetat sempurna. "Maximilian Vance? Pria yang disebut-sebut sebagai 'Hantu Keuangan' Eropa Tengah itu? Mengapa dia repot-repot datang sendiri ke Jakarta hanya karena sebuah penolakan proyek panel surya?"

"Itu yang membuat saya khawatir, Pak," jawab Randi, suaranya merendah. "Tim intelijen siber kita mencoba menelusuri latar belakang Maximilian Vance. Pria ini berusia sekitar enam puluh tahun, sangat jarang muncul di media Barat. Namun, kami menemukan satu dokumen arsip tua dari tahun 1970-an. Sebelum mengubah namanya di Swiss, Maximilian memiliki nama lahir Indonesia: Maximilianus Bramanta Vance."

Devan seketika berdiri dari kursi kebesarannya. Matanya menyipit berbahaya. "Bramanta? Dia menggunakan nama Kakek?"

"Benar, Pak. Dia adalah anak luar nikah dari mendiang adik kandung Kakek Bramanta yang dulu diasingkan ke Eropa karena kasus penggelapan aset keluarga besar Alfarezel lima puluh tahun lalu," jelas Randi, menyingkap tabir konspirasi lama yang terkubur dalam. "Maximilian datang bukan untuk berbisnis, Pak Devan. Dia datang untuk menuntut apa yang dia sebut sebagai 'hak waris dinasti Alfarezel' yang sah."

Sebelum Devan sempat membalas, ponsel pribadinya di atas meja bergetar nyaring. Layar menampilkan panggilan video dari dokter pribadi yang tadi pagi dipanggilnya ke penthouse untuk memeriksa Anya.

Devan langsung mengangkatnya dengan kecemasan yang kembali memuncak. "Dokter? Bagaimana keadaan istri saya? Apakah dia harus dirawat di rumah sakit?"

Di layar ponsel, sang dokter senior tersenyum sangat lebar, sebuah ekspresi yang sama sekali tidak sinkron dengan ketakutan Devan.

"Selamat pagi, Pak Devan Alfarezel,"* ucap dokter itu dengan nada penuh takzim. *"Nyonya Anya tidak perlu dirawat di rumah sakit. Gejala mual dan pusing yang dialaminya adalah hal yang sangat wajar bagi seorang ibu yang sedang berada di minggu-minggu awal kehamilannya. Hasil tes urine dan darah menunjukkan positif. Selamat, Pak Devan... Nyonya Anya sedang mengandung anak pertama Anda. Usia kandungannya baru memasuki minggu keempat."

Deg!

Dunia di sekitar Devan seolah berhenti berputar. Kalimat dokter itu memantul di dinding otaknya, meruntuhkan seluruh wibawa dingin sang CEO dalam sekejap. Devan tertegun, bibirnya sedikit terbuka, dan untuk pertama kalinya dalam hidup, seorang Devan Alfarezel kehilangan kata-kata.

Randi yang berdiri di depan meja ikut melebarkan matanya, menahan napas karena terkejut sekaligus bahagia melihat ekspresi membatu bosnya.

"Anya... hamil?" bisik Devan, suaranya terdengar sangat bergetar, sarat akan rasa tidak percaya yang bercampur dengan kebahagiaan yang begitu meledak-ledak di dalam dadanya.

"Benar, Pak Devan. Nyonya Anya butuh istirahat total dan tidak boleh mengalami stres emosional yang berat selama trimester pertama ini," tambah dokter sebelum mengakhiri panggilan.

Devan langsung menoleh ke arah Randi. Wajahnya yang tadi tegang karena ancaman Maximilian Vance, kini memancarkan tekad yang jauh lebih mengerikan dan protektif dari biasanya.

"Randi," ucap Devan, suaranya merendah namun bergetar hebat oleh emosi. "Siapa pun Maximilian Vance itu... apa pun dendam masa lalu yang dibawanya dari Zurich... katakan padanya bahwa aku tidak akan membiarkan satu kotoran pun mengganggu ketenangan istriku. Lipat gandakan pengamanan penthouse menjadi tiga lapis. Jika pria Swiss itu berani mendekati radius satu kilometer dari Anya... habisi dia tanpa perlu persetujuanku."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!