NovelToon NovelToon
MAS BAHLIL GANTENG

MAS BAHLIL GANTENG

Status: sedang berlangsung
Genre:Pelakor / Konglomerat berpura-pura miskin / Menikah dengan Kerabat Mantan
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: DityaR

Rumah tangga Puann hancur seketika saat wanita dari masa lalu suaminya datang membawa kabar kehamilan, ditambah lagi fitnah bertubi-tubi yang membuatnya dikucilkan bahkan oleh keluarganya sendiri.

Di saat kepercayaannya sudah habis dan ia mulai bersandar pada laki-laki lain yang jauh lebih tulus, Bahlil, suaminya berjuang membuktikan bahwa semua itu hanyalah jebakan. Namun, kebenaran tentang masa lalu dan trauma besar yang disembunyikan Bahlil justru membuka luka yang jauh lebih dalam.

Di ambang perceraian dan di tengah pengakuan yang hampir menyatukan mereka kembali, sebuah skandal video pun muncul dan mematikan segala harapan.

Apakah cinta yang penuh kebohongan dan rasa sakit ini layak diperjuangkan, atau lebih baik diakhiri selamanya sebelum hati mereka benar-benar hancur lebur?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DityaR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kamu Benar-Benar Mau Pergi?

Hari pertemuan yang ditunggu akhirnya tiba. Bahlil menunggu di depan kamar tempat Puann menginap dengan penampilan rapi, namun wajahnya tampak sangat lelah, pucat, dan matanya menatap pintu itu dengan rasa cemas.

Pintu terbuka perlahan, dan Puann melangkah keluar. Wanita itu tampak tenang tanpa ekspresi berlebih, tetapi sorot matanya telah berubah, terasa dingin dan jauh dari sosok istri yang dulu dikenalnya.

“Mau ngomong apa lagi? Sebentar lagi sidang dimulai. Kalau cuma minta batalin gugatan, jawabanku tetep nggak berubah,” ucap Puann duluan dengan nada datar dan tegas.

“Aku nggak datang buat maksa kamu balikan. Aku cuma mau jelasin semuanya buat terakhir kalinya, dengerin sampai selesai, abis itu keputusan ada di kamu, aku terima apa aja,” jawab Bahlil pelan, suaranya terdengar serak dan berat.

Keduanya duduk di bangku panjang di pinggir halaman dengan jarak yang cukup jauh. Suasana hening sejenak, hanya terdengar suara angin berhembus pelan, sementara Bahlil menatap wajah istrinya lekat-lekat, ini adalah kesempatan terakhir melihatnya dari dekat.

“Aku tahu kamu udah capek banget. Aku tahu selama ini kamu ngerasa sendirian, dibohongin, dan nggak dihargai. Semua rasa sakit itu bener, dan aku satu-satunya orang yang salah dan bersalah atas semuanya,” kata Bahlil sambil menahan air mata yang hampir jatuh.

“Terus apa lagi yang belum aku denger? Mau bilang Arifatul bohong? Foto itu palsu? Semua itu udah nggak penting, Mas. Yang nyata itu luka yang udah terlanjur ada di hatiku,” potong Puann dengan nada dingin.

“Memang semuanya bohong. Arifatul nggak hamil, dia sama Citra sengaja jebak aku, foto itu diedit. Aku punya bukti, tapi aku sadar itu nggak bakal ngilangin sakit hati kamu, makanya aku mau bahas alasan kenapa aku bohong dari awal,” ucap Bahlil tegas.

Puann diam dan menoleh sedikit, lalu menatap Bahlil dengan pandangan bertanya. Selama ini ia hanya mengetahui alasannya soal ujian kesetiaan, namun merasa ada hal lain yang lebih dalam di balik semua kelakuan suaminya.

“Waktu aku kecil, keluargaku hancur gara-gara harta. Orang yang aku percaya dan sayang meninggalkan kami saat jatuh miskin, padahal mereka sangat dekat saat kami masih kaya,” suara Bahlil bergetar saat membuka rahasia yang disimpan lama.

“Itu bikin aku trauma parah, Puann. Aku takut banget dikhianatin, takut disayang cuma karena apa yang aku punya, bukan karena diri aku sendiri. Dulu aku putus sama Arifatul juga gara-gara itu, dia lebih milih harta dan posisi daripada aku.”

Bahlil menarik napas panjang, lalu menatap Puann dengan pandangan penuh kepedihan dan kejujuran.

“Pas ketemu kamu, aku udah jatuh cinta duluan. Tapi aku takut banget kamu bakal sama kayak mereka, sama kayak Arifatul. Makanya aku pura-pura miskin dan nggak punya apa-apa, cuma pengen buktiin satu hal, apa kamu bakal tetep ada pas aku lagi nggak punya apa-apa?”

Air mata akhirnya jatuh membasahi pipi Bahlil. Ia menyeka kasar, lalu melanjutkan bicara dengan suara makin parau.

“Kamu lulus ujian itu, Puann. Kamu tetep di samping aku, tetep sayang dan setia walaupun aku cuma laki-laki biasa di rumah kecil. Pas aku mulai ngasih tahu kebenaran itu pelan-pelan, itu karena aku udah yakin banget kamulah wanita yang aku cari. Tapi aku telat, caraku nyari kebenaran malah bikin kamu sakit dan ngerasa nggak dipercaya.”

Puann diam seribu bahasa. Matanya mulai memanas tetapi ia masih berusaha menahan diri, baru menyadari semua ini bukan soal ego atau gengsi, melainkan luka masa lalu yang sangat dalam.

“Aku nyembunyiin semuanya bukan karena nggak percaya sama kamu, tapi karena aku kebanyakan percaya sama ketakutanku sendiri. Aku takut banget kehilangan kamu, tapi justru malah jadinya bikin kamu pergi. Aku nyesel banget udah jadikan kamu korban dari traumaku sendiri.”

Bahlil berlutut di depan Puann sambil menundukkan kepala sangat rendah. Segala harga diri dan gengsi ia buang jauh-jauh saat itu juga.

“Aku nggak minta dimaafin sekarang. Aku cuma mau kamu tahu kebenarannya. Kamu berhak pergi, berhak bahagia sama siapa aja, apalagi sama orang yang bisa kasih rasa aman yang nggak pernah aku kasih. Tapi ingat satu hal, Puann... Kamu satu-satunya wanita yang bikin aku berani jatuh cinta lagi setelah bertahun-tahun hidup dalam rasa takut. Kamu rumah tempat aku pulang.”

Hening panjang menyelimuti keduanya. Puann menatap punggung Bahlil yang bergetar menahan tangis, rasa marah dan benci yang tadinya menguasainya perlahan luluh berubah menjadi perasaan campur aduk antara haru dan sakit hati.

“Kenapa baru ngomong sekarang? Kenapa dipendem sendirian sampai jadi masalah sebesar ini?” tanya Puann pelan, air matanya akhirnya ikut menetes juga.

“Aku malu. Malu ngakuin aku lemah, malu ngakuin aku penakut. Aku kira bisa atur semuanya sendiri, ternyata aku salah besar, malah hancurin hal paling berharga yang aku punya,” jawab Bahlil lirih.

Puann mendongak menatap langit yang mulai mendung. Perasaannya kacau balau, ia masih sakit hati dan ingat betapa menderitanya dirinya kemarin-kemarin, tetapi rasa cintanya ternyata belum mati , begitu pula keinginan untuk menenangkan luka batin suaminya.

“Aku nggak janji bakal batalin semuanya. Aku nggak janji bakal lupa sama rasa sakitku. Tapi makasih, makasih udah jujur sama aku buat pertama kalinya,” ucap Puann pelan.

Keduanya bangkit berdiri. Suasana berubah drastis dari kebencian menjadi rasa saling memahami, meski jarak dan luka di hati belum sepenuhnya hilang. Bahlil berjalan mundur perlahan, membiarkan Puann mengambil keputusan sendiri sambil berharap ada keajaiban.

Tepat saat Puann hendak berbalik masuk ke kamar, ponselnya berdering keras. Sebuah pesan video masuk dari nomor yang tidak dikenal.

Dengan tangan gemetar, Puann membuka pesan itu. Detik berikutnya, wajahnya yang sempat melunak langsung berubah pucat, penuh kekecewaan yang sangat dalam.

Di dalam video itu terlihat jelas Bahlil berada di sebuah kamar hotel. Ia duduk di tepi ranjang, dan di sebelahnya ada Arifatul yang berbaring dengan rambut berantakan dan telanjang, keduanya mengobrol akrab, lalu di akhir rekaman Bahlil tampak menyentuh wajah Arifatul dengan lembut dan mesra.

Video itu langsung menghapus seluruh penjelasan, pengakuan, dan kebenaran yang baru saja diucapkan Bahlil. Bagi Puann, ini adalah bukti mutlak bahwa semua omongan tadi hanya sandiwara, luka masa lalu sekadar alasan, dan pengkhianatan itu nyata adanya.

Puann menjatuhkan ponsel ke meja dengan tangan yang sangat gemetar. Ia menatap Bahlil yang masih berdiri di sana dengan pandangan yang sudah mati rasa dan penuh kepahitan.

“Kamu ... kamu beneran nggak ada habisnya ya. Aku kira kamu berubah, aku kira kamu jujur. Ternyata aku salah lagi,” ucap Puann dengan suara bergetar campur amarah dan kesedihan yang meluap.

Bahlil sama sekali tidak mengetahui apa apa, ia menatap bingung dan khawatir melihat perubahan sikap Puann yang sangat drastis.

“Puann? Ada apa?!” seru Bahlil sambil hendak mendekat.

“JANGAN DEKET DEKET AKU! PERGI SANA! SEMUA YANG KAMU OMONGIN TADI ITU SAMBARA BELAKA! KAMU PENGKHIANAT! AKU BENCI BANGET SAMA KAMU!” teriak Puann histeris, air matanya tumpah ruah seolah hatinya dirobek habis-habisan untuk terakhir kalinya.

1
ᴹᴿˢ ᵁᴹᴵ
cek sja puan tapi jgn gegabah plaa takut slah fhm jdinya
ᴹᴿˢ ᵁᴹᴵ
mak aii judul karyaa nya 🤣🤣🤣
DityaR: Awkwwkwkwkwk🤣
total 1 replies
Ara
puan dan Bahlil banget nih kak? 😭😭😭😭
DityaR: iya dong
total 1 replies
novi juita
my little bolu ketan 🤭😄
DityaR: my little cilok pentol kecap dinda
total 1 replies
Sky
alamak judulnya 😄
DityaR: kenapa emang?
total 1 replies
Linee Alice
Ananda Bahlil🤣
DityaR: iya dinda
total 1 replies
Linee Alice
Bahlil😭😭
Tasya
wahhh mbg😍
DityaR: buah apa yang paling manis, buahhliiill
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!