11 tahun Yuse dilatih jadi ksatria. Tugas pertamanya membawanya ke Desa Angin yang hancur misterius 5 tahun lalu. Di sana ia bertemu Yamaika, gadis pengendali badai yang menyimpan trauma. Ternyata kehancuran desa itu bukan bencana... tapi pengkhianatan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon andre kurnia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
kebodohan dan kekwatiran
Setelah berkeliling hampir seluruh sudut istana, Cindy mengajak Brisa duduk santai di taman belakang yang penuh dengan bunga-bunga indah dan kolam ikan yang jernih. Pelayan sudah menyajikan minuman segar dan kue-kue manis di atas meja batu, membuat suasana makin nyaman dan hangat.
Cindy menyandarkan punggungnya santai, menatap Brisa dengan mata berbinar penuh rasa penasaran.
"Ngomong-ngomong Brisa… selama kita berpisah dan kamu ikut Yuse, pasti banyak banget kejadian seru ya? Ceritain dong! Apalagi kelakuannya yang aneh-aneh, aku penasaran banget!"
Mendengar itu, mata Brisa langsung menyala. Senyum jahil terukir jelas di bibirnya, seolah-olah dia sudah menunggu waktu yang tepat buat ngomongin ini.
"Wah, kalau soal kebodohan dan kelakuannya yang nggak masuk akal… daftarnya bisa sampai sepanjang jalan dari sini ke desanya, Cindy!"
Cindy langsung tertarik banget, mendekatkan badannya penuh semangat.
"Kisah dong! Kisah dong! Aku mau tau semuanya!"
Brisa menyesap minumannya sedikit, lalu mulai bercerita dengan nada yang makin bersemangat.
"Kamu tau nggak? Orang itu kalau lagi serius ngomong soal pedang atau melindungi orang, mukanya gagah banget, matanya berbinar indah… tapi begitu urusan makanan atau hal sepele, dia berubah jadi orang paling bodoh sedunia!"
"Contohnya apa?!" tanya Cindy makin penasaran sambil menahan tawa.
"Pernah suatu hari," mulai Brisa sambil menahan senyum, "Kita lagi istirahat di hutan, dia bilang mau cari air bersih. Aku tunggu lama banget nggak balik-balik, pas aku cari… tau apa yang dia lakuin? Dia malah asyik ngejar kupu-kupu warna-warni sampai masuk ke semak berduri! Badannya penuh goresan, bajunya robek sana-sini, tapi dia malah senyum lebar sambil pegang kupu-kupu itu dan bilang: 'Lihat Brisa, warnanya cantik banget kan? Sayang banget kalau nggak dibawa pulang buat Ibu!'"
WKWKWKWK!!! 🤣 Cindy langsung ketawa terbahak-bahak sampai bahunya berguncang kencang.
"NGGAK NYANGKA! Ksatria hebat ngejar kupu-kupu?! Hahahaha lucu banget sih dia!"
"Belum selesai lagi!" sambung Brisa makin semangat, matanya berbinar jahil. "Pagi tadi aja dia bikin aku emosi setengah mati! Dia tidur kayak orang mati, dipanggil berkali-kali nggak bangun. Akhirnya aku harus lompat dan nindihin perutnya baru dia bangun. Tau apa katanya pas bangun? Dia ngomong sama ibunya kalau badannya sakit karena 'tertimpa kotoran yang besar dan berat'! Padahal itu aku lho yang bangunin dia!"
Tawa Cindy makin kencang sampai air matanya hampir keluar.
"Hahahaha Konyol banget!
"Dan yang paling bikin aku geleng-geleng kepala," lanjut Brisa dengan nada yang sedikit lebih lembut tapi masih penuh candaan, "Dia itu kadang pintar banget nyusun strategi perang, tapi urusan perasaan sama sekali nggak ngerti! Kadang aku marah atau diam karena kesel, dia malah bingung nanya: 'Kamu sakit apa? Atau kurang makan ya? Sini aku kasih daging banyak!' Hahaha padahal aku cuma pengen dia ngerti aja kenapa aku marah!"
Cindy mengusap sudut matanya yang sedikit basah karena kebanyakan ketawa, senyumnya makin lebar dan hangat.
"Dasar ksatria bodoh! Tapi… aneh ya, meskipun kelakuannya konyol dan suka bikin emosi, justru itu yang bikin dia Yuse yang kita kenal. Jujur Brisa… denger kamu cerita gini, aku makin rindu sama dia. Dan aku makin ngerti kenapa kamu bisa betah banget sama dia sampai sekarang."
Brisa tersenyum tipis, menatap langit biru di atas mereka.
"Iya… dia emang bodoh, suka ngomong sembarangan, sering bikin kesel… tapi dia orang paling tulus, paling baik, dan paling rela berkorban yang pernah aku kenal. Kebodohannya itu justru yang bikin dia jadi dia."
****
Setelah cukup lama di jalan, Ibu Cyena akhirnya tiba di rumah sambil memikul semua barang belanjaan sendirian. Ia meletakkan keranjang-keranjang itu di meja dapur, lalu mulai merapikan isinya satu per satu.
Yuse yang sejak tadi duduk santai di beranda langsung bangkit berdiri dan menghampiri ibunya. Matanya segera mencari sosok gadis berambut perak itu, tapi tak ia temukan sama sekali.
"Ibu? Di mana Brisa?" tanyanya langsung dengan nada yang mulai cemas. "Bukankah kalian pergi berdua? Kenapa Ibu pulang sendiri?"
Ibu Cyena menjawab santai sambil menata sayuran. "Eh, dia main duluan kok. Ketemu temannya di pasar, terus diajak mampir ke istana. Katanya nanti sore baru pulang."
Seketika wajah Yuse berubah pucat. Matanya membelalak kaget dan penuh ketakutan. Istana? Di sana banyak orang, banyak prajurit, banyak orang penting… kalau sampai ada yang perhatikan tanda lahir atau tanda khusus di tubuh Brisa, atau kalau identitas aslinya sampai ketahuan, bahayanya bisa tidak terbayangkan!
Rasa takut dan panik langsung memenuhi seluruh dadanya. Ia langsung menatap ibunya dengan nada suara yang tiba-tiba meninggi dan penuh emosi.
"KENAPA IBU MEMBIARKAN DIA PERGI?!" bentaknya tak sadar karena panik. "Dia baru pertama kali ke sini, dia nggak kenal siapa-siapa, dan Ibu malah ngebiarin dia masuk ke tempat yang penuh bahaya seperti istana itu?!"
Tanpa menunggu jawaban ibunya, Yuse langsung berbalik badan. Ia berlari masuk ke dalam rumah, menyambar pedang dan jubahnya dengan tangan gemetar karena cemas. Tak lama kemudian ia sudah melangkah keluar dengan langkah lebar dan cepat, berlari secepat kilat menuju arah Kerajaan Palipurna.
"Yuse! Kamu mau ke mana?!" teriak Ibu Cyena dari belakang, tapi pemuda itu sama sekali tidak menoleh.
Sesampainya di depan gerbang istana yang megah, langkahnya terhenti oleh dua orang prajurit penjaga yang berdiri tegak menghalangi jalan. Wajah Yuse terlihat sangat dingin, matanya tajam menusuk, aura bahaya terpancar kuat dari seluruh tubuhnya.
"Di mana gadis berambut perak yang datang bersama Putri Cindy? Tepatkan dia ada di dalam?!" tanyanya dengan nada datar namun penuh ancaman.
Kedua prajurit itu saling pandang. Melihat wajah Yuse yang tampak marah besar dan penuh ketegangan, mereka jadi curiga dan takut terjadi hal buruk di dalam istana. Karena itu, mereka memilih untuk diam dan tidak menjawab sepatah kata pun demi menjaga keamanan dalam.
"Mundur! Ini tempat keramat, tidak boleh sembarangan orang masuk!" bentar salah satu prajurit.
Rasa sabar Yuse sudah habis sepenuhnya. Tanpa basa-basi lagi, dengan gerakan yang sangat cepat dan kuat, ia melangkah maju lalu menendang kedua prajurit itu sekaligus.
BRAAAK!!!
Tubuh kedua penjaga itu terlempar jauh dengan kecepatan tinggi, menabrak pintu gerbang kayu besar yang terukir indah hingga terbuka lebar karena benturan keras itu. Yuse sama sekali tidak sadar kalau di balik gerbang itu sudah berjaga puluhan prajurit istana lainnya yang siap siaga.
Melihat rekannya terlempar dan terluka parah, seluruh pasukan istana yang ada di sana langsung bergerak serentak. Dengan teriakan perang, mereka menyerang Yuse secara bersamaan dari segala arah. Suara benturan besi dengan besi, suara teriakan, dan langkah kaki yang riuh langsung memenuhi seluruh halaman depan istana.
Suara pertempuran yang keras itu segera terdengar sampai ke taman belakang tempat Cindy dan Brisa sedang duduk bersantai. Mendengar keributan yang tidak biasa, mereka berdua langsung bangkit berdiri dengan wajah kaget.
"Ada apa itu?!" seru Cindy, lalu mereka berdua segera berlari cepat menuju sumber suara.
Sesampainya di dekat halaman depan, pemandangan di depan mata membuat mereka berdua terpaku. Terlihat Yuse sedang bertarung melawan puluhan prajurit istana sendirian, bajunya sedikit kusut, napasnya terengah-engah tapi gerakannya tetap cepat dan tajam.
Melihat pemandangan itu, Brisa sama sekali tidak terlihat kaget atau takut. Sebaliknya, seulas senyum tipis yang bercampur rasa kesal terukir di bibirnya. Ia menoleh ke arah Cindy yang berdiri di sampingnya, lalu berkata dengan nada suara yang sangat jelas dan terdengar sampai ke telinga Yuse:
"LIHAT CINDY… SEKARANG KAU TAU KAN, BETAPA BODOHNYA ORANG ITU?!"
Suara benturan besi dan teriakan prajurit masih terus bergema, sampai akhirnya Cindy yang melihat banyak anak buahnya terkapar lemas di tanah akhirnya sadar dan langsung berteriak sekuat tenaga.
"BERHENTI!!! SEMUA BERHENTI SEKARANG!!!"
Teriakan nyaring itu langsung mematikan seluruh keributan seketika. Para prajurit yang masih mau menyerang langsung berhenti langkahnya, menunduk hormat saat menyadari kehadiran putri mereka.
Cindy segera berlari mendekat ke arah Yuse yang masih berdiri tegak di tengah halaman, pedangnya masih meneteskan titik-titik air, matanya tajam dan napasnya masih memburu.
"Yuse?! Ada apa denganmu?!" tanya Cindy dengan nada kaget bercampur bingung. "Kenapa kamu bisa bertindak sekejam ini di halaman istana?!"
Namun Yuse sama sekali tidak menjawab pertanyaannya. Matanya langsung terkunci pada sosok Brisa yang berdiri tak jauh dari sana. Tanpa mempedulikan siapa pun, ia langsung melangkah lebar mendekat, aura marahnya belum hilang sedikit pun.
Ia berdiri tepat di depan Brisa, menatapnya tajam dari atas ke bawah memastikan tidak ada luka sedikit pun di tubuh gadis itu. Setelah yakin aman, kemarahan yang sempat tertahan langsung meledak keluar.
"Kau ini kenapa sih?!" bentak Yuse dengan suara keras. "Kenapa kau mau ikut pergi sembarangan sama orang yang belum kau kenal baik?! Kau tau tidak betapa bahayanya tempat ini?! Bagaimana kalau ada orang yang perhatikan tanda di tubuhmu?! Bagaimana kalau kau ketahuan dan terjadi sesuatu padamu?! Kau pikir kau ini masih anak-anak yang tidak tau bahaya?!"
Brisa yang biasanya suka membalas atau menyindir, kali ini justru hanya menunduk diam mendengar setiap kalimat itu. Ia sadar sepenuhnya kalau Yuse marah karena sangat mengkhawatirkannya. Rasa bersalah memenuhi dadanya, membuatnya tak mampu membantah sepatah kata pun.
"Maaf… aku salah," ujar Brisa pelan, lalu perlahan mendongak menatap wajah Yuse yang masih merah karena marah. Ia mencoba tersenyum manis, matanya berkilat jenaka berusaha meluluhkan hati pemuda itu. "Aku janji nggak bakal lagi deh… Jangan marah terus dong, nanti wajahmu makin jelek lho."
Melihat senyum itu, kemarahan di dada Yuse perlahan tapi pasti mulai mencair. Ia mendengus pelan, tapi tangannya refleks terulur merapikan rambut Brisa yang sedikit berantakan.
Di samping mereka, Cindy yang melihat pemandangan itu berdiri kaku di tempat. Hatinya terasa seperti dicubit kuat-kuat, rasa cemburu yang panas menjalar cepat ke seluruh tubuhnya. Ia mengepalkan tangannya erat di sisi badan, menatap tajam ke arah mereka berdua.
"ENAKNYA… DIPERDULIKAN SEPERTI ITU!!!" gerutu Cindy pelan, tapi cukup jelas terdengar oleh orang di dekatnya. Matanya berkaca-kaca menahan rasa iri yang besar.
Namun, suasana hangat itu seketika terpecah saat terdengar suara langkah kaki berat dan tegas mendekat. Semua orang langsung menunduk hormat, bahkan napas pun seolah tertahan saat sosok itu muncul dari balik gerbang. Sosok yang gagah, berwibawa, dengan aura yang membuat siapa saja merasa kecil di hadapannya — Panglima Aloska.
Ia melangkah perlahan ke tengah halaman, menatap sekelilingnya dengan tatapan tajam, lalu akhirnya berhenti tepat di depan Yuse.
"Berani sekali kau membuat keributan dan melukai anak buahku di wilayah istana," ujar Aloska dengan suara berat yang bergetar, matanya menatap tajam ke arah Yuse. "Siapa kau sebenarnya, dan apa maksudmu datang ke sini hanya untuk menimbulkan kekacauan?"
Mendengar suara itu, seketika kemarahan dan segala hal lain di kepala Yuse langsung lenyap. Ia menatap lekat-lekat wajah pria di depannya ini — sosok yang selama ini jadi panutannya, sosok yang jadi alasan ia memilih jalan ksatria, sosok yang selama ini cuma bisa ia dengar ceritanya saja. Jantungnya berdegup kencang karena kagum dan haru yang luar biasa.
Cindy yang panik melihat situasi itu langsung maju ke depan membela.
"Panglima! Ini hanya salah paham semata! Dia itu teman saya, dia hanya terlalu khawatir jadi bertindak gegabah! Tolong jangan hukum dia ya!"
Namun Aloska sama sekali tidak menoleh ke arah Cindy. Matanya masih terpaku pada Yuse, meneliti setiap gerakan dan tatapan pemuda itu. Ada rasa penasaran yang tumbuh di hatinya — dia melihat bakat dan kekuatan yang luar biasa besar dalam diri pemuda di depannya ini.
"Kau punya kekuatan yang lumayan bagus," ujar Aloska pelan, sudut bibirnya sedikit terangkat membentuk senyum menantang. "Kalau kau yakin kekuatanmu cukup besar untuk melindungi orang yang kau sayang… buktikan padaku. Ayo kita bertarung satu lawan satu."
Seketika mata Yuse berbinar terang. Rasa senang dan antusiasme meledak di dadanya. Mendapat tantangan langsung dari idola terbesarnya adalah hal yang paling ia impikan selama bertahun-tahun.
Dengan wajah penuh semangat dan hormat, Yuse langsung menjura hormat dalam.
"SIAP! Saya Yuse Yattama… saya terima tantangan ini dengan senang hati, Panglima!"