Di tengah guyuran hujan Kota Senja, Arya menemukan lebih dari sekadar buku sejarah di perpustakaan tua—ia bertemu dengan Naya, seorang gadis misterius yang secara tak terduga membuat hatinya berdebar. Pertemuan yang terasa seperti kebetulan itu berubah menjadi awal dari sebuah misteri besar, ketika Arya menemukan foto tua tersembunyi yang mengungkapkan hubungan tak terduga: wajah Naya sangat mirip dengan wanita yang terlihat bersama ibunya, yang menghilang secara misterius setahun lalu tanpa meninggalkan jejak.
Dibakar oleh rasa penasaran dan keinginan untuk menemukan kebenaran di balik hilangnya ibunya, Arya mulai menyelidiki masa lalu keluarga-keluarga besar di kota itu. Semakin ia menggali, semakin ia menyadari bahwa pertemuan dengan Naya bukanlah kebetulan belaka. Di balik ketenangan Kota Senja, tersimpan rahasia kelam, persekutuan tersembunyi, dan kekuatan yang selama ini berusaha ditutup-tutupi. Arya harus berhati-hati, karena setiap langkahnya menuntunnya lebih dekat pada bahaya—dan pada kenyataan yang bisa mengubah seluruh hidupnya selamanya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayu gerimis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1
Hujan deras mengguyur Kota Senja sejak sore, membasahi jalanan berbatu dan membuat suasana terasa kelabu. Di sudut kota yang agak sepi, berdiri sebuah bangunan tua bergaya kolonial yang kini difungsikan sebagai perpustakaan umum. Dindingnya yang berwarna krem mulai mengelupas dimakan usia, namun di dalamnya, ribuan buku tua tersimpan rapi, menyimpan jutaan cerita yang belum terungkap.
Arya melangkah masuk, mengguncang payung basahnya di depan pintu. Ia menghela napas lega karena berhasil berlari cukup cepat untuk menghindari basah kuyup. Pemuda berusia dua puluh tiga tahun itu mengenakan kemeja flanel biru yang digulung hingga siku, dengan tas kulit tua yang selalu ia bawa ke mana-mana. Bagi Arya, perpustakaan ini bukan sekadar tempat mencari buku, melainkan rumah kedua—tempat di mana ia bisa lari dari hiruk-pikuk dunia dan keramaian yang selalu membuatnya merasa sendirian.
Arya berjalan menyusuri lorong rak buku yang tinggi hingga ke langit-langit. Aroma khas kertas tua dan debu yang tercium di udara selalu menenangkan hatinya. Langkah kakinya terhenti di bagian sejarah lokal, sudut favoritnya. Ia sedang mencari buku tua tentang sejarah keluarga-keluarga besar di Kota Senja, sebuah topik yang belakangan ini sangat menarik minatnya, terutama sejak ibunya menghilang secara misterius setahun lalu tanpa pesan apapun.
Tangannya yang ramping mulai menyusuri punggung-punggung buku yang berdebu. Matanya yang tajam meneliti satu per satu judul hingga akhirnya berhenti pada satu buku bersampul kulit berwarna cokelat gelap. “Catatan Keluarga Kota Senja: 1950–2000”.
"Ini dia..." gumamnya pelan.
Arya menarik buku itu keluar. Namun, bersamaan dengan gerakan tangannya, terdengar suara tak! Benda lain ikut terjatuh dari celah rak yang sempit, tepat di atas kepalanya.
"Aduh!"
Terdengar suara erangan halus disertai bunyi benturan pelan. Arya terkejut dan langsung menunduk. Di bawah sana, di antara tumpukan buku yang baru saja jatuh, ada seorang gadis yang sedang memegang keningnya sambil meringis kesakitan. Rambut hitam panjangnya sedikit berantakan, dan sepasang mata besar berwarna cokelat madu itu kini menatapnya dengan bingung dan sedikit kesal.
"Eh, maaf! Aku tidak tahu ada orang di bawah sini," ujar Arya terburu-buru. Ia segera berjongkok dan membantu gadis itu berdiri serta membereskan buku-buku yang berserakan.
Gadis itu mengibaskan rok panjangnya, lalu menatap Arya dengan tatapan tajam namun tetap mempesona. Wajahnya cantik, dengan kulit putih bersih dan hidung mancung. Ada aura dingin namun juga lembut yang terpancar darinya.
"Kamu buta ya? Rak ini kan punya aku, aku sudah di sini dari tadi," ucap gadis itu ketus, namun suaranya tidak terlalu keras, seolah takut mengganggu ketenangan perpustakaan.
Arya terdiam sejenak, tertegun melihat wajah gadis itu. Ada sesuatu yang familier, sesuatu yang membuat jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya. Ia merasa pernah melihat wajah itu, entah di mana, mungkin di mimpi, atau mungkin di dalam ingatan masa kecilnya yang samar.
"Maaf sekali, sungguh. Aku benar-benar tidak sadar. Kepalamu tidak apa-apa?" tanya Arya lagi, nada suaranya melembut. Ia menyodorkan tangannya. "Aku Arya."
Gadis itu menatap tangan Arya sekilas, lalu mengangkat wajahnya kembali. Ia tidak menyambut uluran tangan itu. Ia hanya membenahi letak tas selempang kecilnya di bahu.
"Aku tidak apa-apa. Hanya sedikit terkejut," jawabnya singkat. Ia lalu mengambil satu buku tebal dari lantai, buku yang sedari tadi ia cari. Sebelum berbalik pergi, ia menoleh sekilas. "Dan, aku Naya."
Hanya satu nama. Naya.
Tanpa kata lain, gadis itu—Naya—berjalan pergi menjauh, langkahnya ringan namun penuh rahasia, menghilang di balik deretan rak buku yang gelap. Arya masih terpaku di tempatnya, menatap punggung gadis itu hingga tak terlihat lagi. Ia menatap telapak tangannya sendiri yang tadi tak sempat disambut.
Ada getaran aneh yang menjalar di sekujur tubuhnya. Pertemuan singkat tadi terasa seperti takdir, bukan sekadar kebetulan. Arya kembali menatap buku yang baru saja ia ambil tadi. Saat ia membuka halaman pertamanya, selembar foto tua berwarna sepia melayang jatuh dari dalam sampul buku.
Arya memungut foto itu. Matanya membelalak kaget.
Di dalam foto itu, terlihat dua pasang suami istri yang sedang tersenyum bahagia di depan sebuah rumah besar. Salah satu wanita di foto itu adalah ibunya, wanita yang hilang setahun lalu. Dan di sebelah ibunya, berdiri wanita lain yang wajahnya... persis seperti Naya.
Jantung Arya seakan berhenti berdetak.
Siapa sebenarnya gadis bernama Naya itu? Dan apa hubungannya dengan ibuku?
Hujan di luar masih turun deras, seolah ikut menyaksikan awal mula kisah yang rumit dan penuh bahaya itu. Arya mengepal tangannya erat, menyimpan foto itu di dalam saku, menatap ke arah mana Naya pergi tadi dengan tatapan penuh tekad. Ia tahu, hidupnya takkan pernah sama lagi mulai hari ini.