NovelToon NovelToon
Aku Bahagia

Aku Bahagia

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Fantasi / Mengubah Takdir
Popularitas:106
Nilai: 5
Nama Author: Peachy

"Aku Bahagia." Kata-kata itu selalu diucapkan Evelyne Rochie seperti sebuah mantra untuk menenangkan hatinya yang rapuh. Di dunia nyata, hidup Evelyne terasa datar dan sepi. Setiap kali berkumpul dengan lingkaran pertemanannya, ia justru merasa semakin terasing. Ia melihat Alice Sonya yang hidup bahagia dan penuh tawa bersama Matthias. Ia melihat Azyla Amira yang selalu populer, dicintai banyak orang, dan bersinar di mana pun berada. Ia juga menyaksikan betapa manisnya hubungan Annie dan Samuel yang saling mencintai tanpa cela. Di tengah gelak tawa mereka, Evelyne selalu bertanya-tanya dalam hati: Kapan giliran jiwaku yang mencicipi kebahagiaan? Mengapa bagi orang lain bahagia itu begitu mudah, sementara bagiku, mendapatkan satu kepingan kebahagiaan saja rasanya teramat sulit? Hingga suatu malam, di titik nadir keputusasaannya, sebuah celah dimensi terbuka dan membawanya masuk ke sebuah dunia fantasi yang asing, megah, sekaligus berbahaya. Di dunia baru ini, takdir mempertemukannya dengan Sylus Qinche, seorang pria yang memiliki sejuta misteri namun mampu memberikan kehangatan yang selama ini dicari Evelyne. Untuk pertama kalinya, Evelyne merasa "Aku Bahagia" bukan lagi sebuah kebohongan. Namun, kebahagiaan itu tidak gratis. Ketika takdir berniat memisahkan mereka dan merenggut Sylus kembali ke kedalaman dunia lain yang lebih gelap, Evelyne menolak untuk menyerah lagi pada nasib. Dengan dibantu oleh Kieran dan Luke—dua sosok tangguh di dunia tersebut—Evelyne membuang seluruh ketakutannya. Jika di dunia nyata ia adalah perempuan lemah yang hanya bisa memandang kebahagiaan orang lain, maka di dunia ini, ia siap menerjang badai sihir dan melintasi batas dimensi demi meraih kembali tangan Sylus Qinche. Kali ini, ia yang akan menjemput kebahagiaannya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Peachy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Embun yang menyesakkan

Rasa dingin adalah hal pertama yang menyapa kesadaran Evelyne. Namun, ini bukan dingin yang biasa ia rasakan dari embusan kipas angin tuanya atau sentuhan kaca jendela kamar. Ini adalah dingin yang meresap ke dalam pori-pori, membawa kelembapan yang berat dan aroma tanah basah yang sangat pekat.

Evelyne mencoba menggerakkan jemarinya. Alih-alih menyentuh sprei katunnya yang kasar, ujung jarinya justru tenggelam ke dalam hamparan lumut yang empuk dan basah. Matanya terbuka perlahan, namun pemandangan di hadapannya membuat jantungnya seolah berhenti berdetak selama satu detak yang menyiksa.

Ia tidak lagi melihat langit-langit kamarnya yang bernoda rembesan air hujan. Di atasnya, menjulang kanopi pepohonan raksasa dengan batang-batang berwarna perak keunguan yang meliuk seperti raksasa yang membeku. Daun-daunnya tidak berwarna hijau, melainkan biru tua pekat yang sesekali berkilau keperakan saat tertimpa cahaya redup yang entah datang dari mana. Kabut tebal merayap di antara batang-batang pohon itu, menyembunyikan apa pun yang berada lebih dari lima meter di depannya.

Evelyne tersentak bangun, namun rasa pening yang luar biasa menghantam kepalanya. Ia terbatuk, menghirup udara yang terasa terlalu kaya akan oksigen, hampir membuatnya sesak.

"Di mana..." suaranya pecah, hilang ditelan kesunyian hutan yang mencekam.

Ia menunduk melihat dirinya sendiri. Ia masih mengenakan celana rami longgar dan kaos tipis yang ia pakai untuk tidur semalam. Penampilannya yang sangat modern dan rapuh tampak begitu kontras dengan lingkungan sekitarnya yang terasa purba dan agung. Ia meraba sakunya—kosong. Ponselnya, jendela satu-satunya menuju kebahagiaan semu teman-temannya, telah hilang.

Seketika, rasa panik yang sudah menjadi teman setianya di dunia nyata meledak. Namun kali ini, tidak ada dinding kamar untuk menahan ledakan itu.

"Ini mimpi. Ya, ini pasti mimpi," bisiknya dengan bibir gemetar. Ia mulai mencubit lengannya sendiri dengan keras, berkali-kali hingga kulitnya memerah dan perih. Namun, hutan itu tidak kunjung lenyap. Pohon-pohon perak itu tetap tegak menertawakan ketakutannya.

Evelyne mulai merangkak mundur, menjauh dari tempatnya terbangun. Pikirannya yang terbiasa dengan kegagalan segera memproses situasi ini dengan cara yang paling pesimis. Aku diculik? Tidak, tidak mungkin ada penculik yang membawaku ke tempat seperti ini. Apa aku sudah mati? Apa ini neraka bagi orang-orang yang tidak berguna sepertiku?

Trauma akan pengabaian yang ia terima dari keluarganya kembali muncul ke permukaan. Ia merasa seolah-olah dunia lama benar-benar telah membuangnya karena ia tidak lagi memiliki fungsi. Ayahnya telah melupakannya, ibunya membencinya, dan sekarang, takdir tampaknya memutuskan untuk membuangnya ke antah-berantah ini.

"Tolong!" teriaknya, namun suaranya terdengar sangat kecil di tengah hutan yang luas ini. "Alice? Azyla? Siapa pun... tolong aku!"

Evelyne mulai berlari dengan kaki telanjang di atas tanah yang lembap. Ia tidak tahu ke mana ia pergi, ia hanya ingin menemukan sesuatu yang masuk akal—jalan aspal, lampu jalan, atau bahkan sekadar suara bising kendaraan. Namun, yang ia temukan hanyalah keheningan yang sesekali dipecahkan oleh suara kepakan sayap makhluk besar yang lewat di balik kabut.

Lelah dan putus asa, Evelyne tersandung akar pohon yang melintang dan jatuh terjerembap. Ia memeluk lututnya, menenggelamkan wajahnya, dan mulai terisak. Di dunia nyata, ia merasa seperti sampah yang tak diinginkan. Di sini, di tempat yang tidak dikenalnya ini, ia merasa lebih kecil lagi. Ia merasa seperti debu yang bisa tersapu kapan saja tanpa meninggalkan jejak.

"Kau tahu, biasanya makhluk yang menangis di Hutan Aetheria hanyalah anak Sylph yang kehilangan arah, bukan seorang gadis dengan pakaian... seaneh itu."

Sebuah suara berat dan tenang memecah tangisan Evelyne

Evelyne tersentak kaget hingga hampir terjungkal ke belakang. Ia mendongak dengan napas memburu. Berdiri beberapa meter darinya adalah seorang pria tinggi dengan jubah kulit berwarna cokelat tua dan aksen logam di bahunya. Pria itu memegang sebuah busur panjang yang diukir dengan sangat detail. Rambutnya yang berwarna gelap tertata rapi, dan matanya yang tajam menatap Evelyne dengan campuran antara kewaspadaan dan rasa ingin tahu.

"Si-siapa kau?" Evelyne terbata, suaranya gemetar hebat. Ia mencoba bangkit namun kakinya terasa seperti jeli.

Pria itu menurunkan busurnya, namun tidak menyarungkannya. "Namaku Kieran. Aku adalah penjaga perbatasan wilayah selatan. Pertanyaan yang lebih penting adalah, siapa kau? Dan bagaimana kau bisa melewati gerbang perlindungan tanpa terdeteksi oleh para ksatria sihir?"

Evelyne hanya bisa menggeleng cepat, air mata masih mengalir di pipinya. "Aku tidak tahu... aku sedang tidur, lalu... lalu aku di sini. Tolong, aku ingin pulang. Di mana ini? Apa ini semacam taman nasional yang baru?"

Kieran mengernyitkan dahi. Ia melangkah maju, membuat Evelyne mundur selangkah karena ketakutan. Kieran berhenti, menyadari bahwa gadis di depannya benar-benar sedang ketakutan secara tulus, bukan sedang bersandiwara.

"Taman nasional?" Kieran mengulang kata itu dengan nada asing. "Kau berada di wilayah kedaulatan Aetheria, tepat di pinggiran distrik Shadowfell. Dan melihat pakaianmu yang... sangat tipis dan tidak praktis ini, kau pasti bukan berasal dari daratan ini."

Kieran memperhatikan Evelyne dari ujung kepala sampai ujung kaki. Ia melihat kakinya yang kotor dan tergores, wajahnya yang pucat, dan matanya yang dipenuhi keputusasaan yang begitu dalam—jenis keputusasaan yang jarang ia temukan pada orang-orang di dunianya.

"Kau terlihat seperti baru saja melewati neraka, Nona," ujar Kieran, suaranya sedikit melunak. "Tapi kau beruntung aku yang menemukanmu, bukan Luke. Jika Luke yang melihatmu pertama kali, kau mungkin sudah diikat dan dibawa ke menara pengawas karena dianggap mata-mata dari klan pemberontak."

Evelyne tidak mengerti satu pun istilah yang diucapkan pria itu, tapi satu hal yang ia tangkap: ia sedang dalam bahaya. "Aku bukan mata-mata. Aku tidak punya apa-apa. Aku bahkan tidak punya pekerjaan di duniaku... aku hanya... orang gagal," bisiknya, lebih kepada dirinya sendiri.

Kieran terdiam sejenak, menatap gadis itu dengan tatapan yang sulit diartikan. Ia belum pernah melihat seseorang yang begitu rendah diri hingga menyebut dirinya sendiri "gagal" saat baru saja terdampar di dunia asing.

"Dengarlah," kata Kieran sambil merogoh sesuatu dari kantung di pinggangnya—sebuah botol kecil berisi cairan berwarna emas redup.

"Minum ini. Ini akan meredakan syok dan rasa peningmu. Kita tidak bisa berlama-lama di sini. Kabut ini akan segera berubah menjadi beracun saat matahari terbenam."

Evelyne ragu-ragu, teringat pesan ibunya (meski jarang) untuk tidak menerima apa pun dari orang asing. Namun, melihat tidak ada pilihan lain dan rasa sakit di kepalanya yang kian menjadi, ia menerima botol itu dengan tangan gemetar dan meminumnya. Rasanya hangat, seperti madu yang dicampur dengan rempah-rempah, dan seketika rasa hangat itu menjalar ke dadanya, menenangkan detak jantungnya yang liar.

"Ikutlah denganku. Aku akan membawamu ke pemukiman sementara. Kita perlu melaporkan keberadaanmu," perintah Kieran.

"Apa aku akan dipenjara?" tanya Evelyne cemas.

Kieran mulai berjalan, memberi isyarat agar Evelyne mengikutinya. "Tergantung pada siapa yang akan memutuskan nasibmu. Jika kau beruntung, kau hanya akan dianggap sebagai pengungsi dimensi. Tapi jika situasi politik di ibu kota sedang memanas, kau mungkin akan dibawa menghadap ke Dewan."

Evelyne mengikuti Kieran dengan langkah tertatih. Hutan itu tampak sedikit tidak terlalu menyeramkan saat ada seseorang yang berjalan di depannya. Namun, rasa tidak aman itu tetap ada. Ia merasa seperti beban bagi pria bernama Kieran ini.

"Siapa... siapa orang paling kuat di sini?" tanya Evelyne pelan, mencoba memecah keheningan yang canggung. "Maksudku, siapa yang memimpin tempat ini?"

Kieran berhenti sejenak, menoleh sedikit ke arah Evelyne. "Pemimpin kami adalah Yang Mulia Kaisar. Tapi jika kau bertanya tentang siapa yang paling ditakuti sekaligus dihormati di daratan ini—sosok yang memegang kendali atas keseimbangan sihir dan militer—hanya ada satu nama."

Kieran menjeda kalimatnya, matanya menatap ke arah gunung-gunung gelap yang menjulang di kejauhan, di balik kabut yang mulai menipis.

"Sylus Qinche," ucap Kieran dengan nada yang penuh dengan rasa hormat, bercampur sedikit ketegangan. "Dia adalah Panglima Tertinggi dari Orde Bayangan. Ada yang bilang dia adalah ksatria yang tidak bisa mati, ada juga yang bilang dia adalah kutukan yang berjalan. Dialah yang memastikan musuh-musuh Aetheria tetap berada di balik kegelapan. Jika kau ingin bertahan hidup di dunia ini, Evelyne, kau harus berdoa agar tidak pernah berurusan dengannya... atau, kau justru harus sangat berharap dialah yang akan memperhatikan keberadaanmu."

Evelyne mengulang nama itu dalam hati. Sylus Qinche. Nama itu terdengar tajam namun memiliki rima yang aneh di telinganya. Untuk pertama kalinya sejak ia terbangun di hutan ini, rasa penasaran yang kecil muncul di antara tumpukan rasa takutnya.

Sylus Qinche... apakah dia juga bahagia di dunia yang sekeras ini? batin Evelyne.

Ia terus berjalan di belakang Kieran, menembus kabut yang kian pekat. Evelyne Rochie, wanita yang merasa gagal di dunianya sendiri, kini sedang melangkah masuk ke dalam pusaran takdir yang jauh lebih besar dari sekadar layar ponsel dan kecemburuan sosial. Perjalanannya baru saja dimulai, dan di ujung sana, nama yang baru saja ia dengar akan menjadi kunci dari segala jawaban atas pertanyaannya tentang kebahagiaan.

Bersambung

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!