NovelToon NovelToon
Takdir Gelap Huang

Takdir Gelap Huang

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Balas Dendam / Budidaya dan Peningkatan
Popularitas:10.8k
Nilai: 5
Nama Author: Zerro One

Kisah ini adalah perjalanan pilu seorang anak yang ditempa oleh kehilangan. Huang adalah perwujudan dari ketabahan dalam kesunyian, dipaksa dewasa oleh kematian tragis orang tuanya. Pohon beringin menjadi saksi bisu atas kesedihan abadi, sementara tidur enam tahun di dasar kolam adalah simbol kematian masa kecilnya dan kelahiran kembali sebagai seseorang yang sama sekali baru. Huang melangkah bukan hanya untuk mencari pembunuh, tetapi juga untuk menemukan arti dari hidup yang tersisa.

Tema pembalasan dendam, kesepian, dan keinginan untuk menjadi kuat demi melindungi yang tersisa... menjadi nyawa dalam cerita.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zerro One, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3. Tidur Enam Tahun

Huang terus tenggelam.

Tubuh kecilnya meluncur perlahan di dalam kolam yang dingin dan sunyi. Gelembung udara keluar dari mulutnya sedikit demi sedikit. Dadanya mulai terasa terbakar. Tangannya bergerak lemah, berusaha berenang kembali ke atas, tetapi sesuatu yang tidak terlihat menahan tubuhnya agar tetap turun.

Bayangan manusia di dasar kolam semakin jelas.

Itu seorang pria tua.

Rambutnya putih panjang menjuntai hingga dasar batu. Janggutnya lebat seperti helaian benang perak yang melayang di dalam air. Tubuhnya kurus, mengenakan jubah hitam kusam yang tampak telah melewati waktu sangat panjang. Kedua matanya tertutup rapat saat duduk bersila di atas batu besar.

Huang ingin berteriak.

Namun mulutnya hanya mengeluarkan gelembung udara.

Dadanya semakin sakit. Pandangannya mulai kabur. Nalurinya menjerit agar segera naik ke permukaan, tetapi tubuhnya tidak bisa bergerak menjauh. Namun sia sia, dia kini tepat di depan pria tua itu.

Lalu...

Pria tua itu membuka mata.

Sepasang pupil abu-abu pucat menatap langsung ke arah Huang. Tatapan itu begitu dalam hingga membuat tubuh Huang membeku.

Pria tua itu perlahan mengangkat satu jari.

Tun!

Ujung jarinya menunjuk tepat ke dahi Huang.

Pada saat itu juga, seluruh tubuh Huang melemah. Rasa sakit di dadanya menghilang seketika. Kelopak matanya terasa sangat berat, seolah ada tangan lembut yang menutupnya perlahan.

Pikiran Huang mulai gelap.

Sebelum kesadarannya lenyap sepenuhnya, samar-samar dia mendengar suara tua yang berat bergema di dalam kepalanya.

“Tidurlah... anak kecil...”

Kesadaran Huang tenggelam sepenuhnya.

Pria tua itu menatap tubuh Huang yang melayang diam di hadapannya. Untuk beberapa saat, dasar kolam kembali sunyi. Hanya riak kecil energi tak terlihat yang berputar di sekitar tubuh renta itu.

Kemudian...

Mata pria tua tersebut tiba-tiba memancarkan cahaya redup. Ingatan Huang mulai muncul satu per satu di hadapannya.

Seorang anak kecil membawa ramuan ke pasar. Anak-anak desa melempari batu sambil tertawa. Seorang ibu tersenyum lembut di depan tungku. Seorang ayah diam-diam menghentikan pekerjaannya saat Huang berpamitan.

Lalu darah...

Tubuh dingin. Tangisan yang menggema di rumah bambu. Seorang anak kecil menggali kuburan dengan tangan berdarah di bawah pohon beringin.

Pria tua itu terdiam lama.

Tatapannya yang semula tenang perlahan berubah sayu. Kerutan di wajahnya tampak semakin dalam. Matanya yang telah melihat begitu banyak kematian selama hidupnya kini justru melembut saat memandang Huang.

“Anak yang malang...”

Suaranya berat dan serak, bercampur desahan panjang yang penuh kelelahan.

“Takdir memang selalu kejam terhadap mereka yang tidak memiliki kekuatan.”

Tatapan pria tua itu kembali tertuju pada wajah Huang yang tertidur lelap di dalam air. Bocah itu masih sangat kecil. Namun hidupnya telah dihancurkan hanya dalam satu hari.

Awalnya pria tua itu hanya berniat menyelamatkan Huang dari beruang di atas. Setelah itu dia akan melempar bocah tersebut kembali ke daratan ketika keadaan aman.

Namun sekarang...

Pikirannya berubah.

Pria tua itu perlahan mengangkat tangan kanannya. Jemarinya membentuk segel aneh yang bergerak sangat cepat. Cahaya redup mulai muncul di sekitar tubuhnya.

“Aku tidak memiliki warisan agung. Tidak juga memiliki kitab langit ataupun pusaka yang mampu mengguncang dunia...”

“Tetapi... aku masih bisa memberimu sesuatu yang paling kau butuhkan.”

Cahaya di ujung jarinya semakin terang. Lalu pria tua itu mengarahkan telapak tangannya ke tubuh Huang.

Byar!

Getaran besar tiba-tiba mengguncang dasar kolam. Air di sekeliling mereka berputar liar membentuk pusaran besar. Batu-batu di dasar kolam mulai retak satu demi satu.

Tubuh Huang mengambang perlahan. Pada saat itu, jalur-jalur tersembunyi di dalam tubuhnya terbuka dengan paksa.

Satu demi satu.

Bukan hanya beberapa.

Semua jalur yang selama ini tertutup langsung terbuka bersamaan seperti bendungan yang dihantam badai besar. Cahaya tipis mulai muncul di bawah kulit Huang. Garis-garis redup bergerak menyebar ke seluruh tubuhnya.

Pria tua itu sedikit mengernyit.

“Tubuh ini... ternyata lebih cocok dari dugaanku.”

Tangannya kembali membentuk segel lain.

Di bagian bawah perut Huang, perlahan muncul pusaran kecil yang terus berputar. Pusaran itu awalnya kabur dan tidak stabil, tetapi semakin lama semakin padat.

Hingga akhirnya...

Terbentuk sempurna.

Meskipun kecil, pusaran itu sangat stabil. Energi di dalamnya berputar dengan tenang tanpa sedikit pun kekacauan.

Pria tua tersebut menatapnya cukup lama sebelum akhirnya tersenyum tipis. “Aku ingin melihat sejauh mana kau akan melangkah di masa depan. Tetapi untuk sekarang... tubuhmu harus ditempa terlebih dahulu.”

Pria tua itu menutup matanya sesaat. Wajah renta itu tampak begitu lelah. Ada kesedihan samar yang sulit dijelaskan muncul di sana.

“Aku melakukan semua ini... karena kita pernah merasakan rasa sakit yang sama.”

Setelah mengatakan itu, kedua tangan pria tua tersebut kembali bergerak cepat membentuk segel. Cahaya besar muncul di dasar kolam. Seluruh air bergetar hebat.

Lalu cahaya itu masuk ke dalam tubuh Huang.

Tubuh bocah itu langsung diselimuti lapisan energi tipis berwarna pucat. Rambut hitamnya bergoyang pelan di dalam air. Luka-luka kecil di tubuhnya mulai menghilang satu demi satu.

Waktu mulai berlalu.

Hari berganti hari.

Tubuh Huang tetap tertidur di dasar kolam bersama pria tua misterius itu. Namun tanpa disadari, tubuhnya terus berubah perlahan.

Tulang-tulangnya menjadi semakin kuat. Otot-otot kecilnya mulai terbentuk lebih kokoh. Kulitnya yang dahulu pucat dan lemah perlahan dipenuhi tenaga hidup yang stabil.

Di sekitar kolam, energi tak kasat mata terus mengalir masuk ke dalam tubuh Huang tanpa henti.

Lalu...

Satu tahun berlalu.

Rambut Huang mulai memanjang melewati bahunya. Wajah kecilnya kehilangan kesan kekanak-kanakan yang dulu rapuh.

Dua tahun berlalu.

Tubuhnya bertambah tinggi. Jemarinya yang dulu penuh luka kini tampak lebih kuat. Bahkan aliran energi di sekitar dasar kolam mulai bergerak mengikuti ritme napasnya.

Tiga tahun.

Empat tahun.

Lima tahun.

Pria tua itu tetap duduk bersila tanpa bergerak sedikit pun. Kadang-kadang dia membuka mata dan memandang Huang dalam diam. Tatapannya selalu tenang, tetapi ada sesuatu yang sulit dijelaskan di sana.

Enam tahun berlalu.

Tubuh Huang kini tidak lagi tampak seperti bocah kecil desa miskin. Bahunya lebih tegap, tubuhnya padat dan kokoh. Rambut hitam panjang tergerai di dalam air seperti helaian sutra gelap.

Di sekeliling tubuhnya, samar-samar muncul aliran energi tipis yang bergerak perlahan.

Kelopak mata Huang bergerak kecil.

Untuk pertama kalinya dalam enam tahun... jarinya bergetar.

1
yos helmi
tamat.. jgn tunggu up.. thornya dah modaaar 🤣🤣🤣
yos helmi
💪💪💪💪
yos helmi
👍👍👍👍👍
yos helmi
😄😄😄😄
yos helmi
🤣🤣🤣🤣
yos helmi
👍👍👍👍👍
yos helmi
💪😄😄😄💪💪
yos helmi
🤣🤣🤣🤣
yos helmi
😄😄😄😄👍👍👍
yos helmi
💪💪💪💪
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣
yos helmi
👍👍👍🤣🤣🤣
yos helmi
🤣🤣🤣😄😄
yos helmi
yg anehnya ko lan dong bisa di murid dalam.. ??? thor jgn terlalu tolol buat cerita..
Tinta Abadi: Ini komentar nya juga aneh. Padahal udah ada narasi. Huang heran mengapa Lan Dong yang murid luar bisa ikut eksplorasi murid dalam. Kau tolol, tapi ngatain orang tolol. Padahal cerita pengenalan Dhu Yan udah dijelaskan. kalau dhu yan itu orang yang memiliki banyak koneksi.

ngakak banget bro ini salah mulu🤣
kok bisa ya kek gitu. bacanya di lompat lompat kah?
total 1 replies
yos helmi
banyak yg ketinggalan dlm cerita ini.. ilmu dari org misterius..
Tinta Abadi: Otak bro yang ketinggalan. Literasi minus. Jadi pembaca itu yang teliti sedikit bro. Jangan dungu.

Saran: Baca ulang bab 4 berulang-ulang sampai paham. Mungkin anda sudah tua, jadi otaknya lemot, saya memahami🙏

Kasihan authornya ditanya mulu. Kebiasaan baca novel warisan, jadi beberapa pembaca nganggep warisan itu kekuatan sakti. Padahal pemahaman dasar loh tentang kultivasi.
total 1 replies
yos helmi
👍👍👍💪💪
yos helmi
😄😄😄😍😍😍
yos helmi
😄😄😄😄😄💪💪💪👍👍
yos helmi
🤣🤣🤣🤣
yos helmi
👍👍👍👍🙏🙏🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!