"Aku akan menanggung semua kebencian di dunia ini sendirian."
Kalimat itu lahir saat dadamu ditembus cahaya.
Duniaku runtuh seketika tanpa suara,
Meninggalkan kepal tangan yang mengutuk semesta.
Kau adalah detak jantung dari raga yang pincang,
Satu-satunya alasan bagi sepasang kaki untuk pulang.
Kini, kau terbujur kaku di bawah langit yang menghitam,
Membuat seluruh kenyataan ini tak lagi berarti untuk dipandang.
Dunia yang membiarkanmu mati adalah dunia yang salah,
Maka biarlah sejarah kukoyak hingga menyerah.
Aku akan membangun surga di atas puing yang bersimbah,
Tempat di mana bayangmu tak akan pernah lagi berdarah.
Dunia sihir ini tidak akan bisa dihancurkan hanya dengan kegelapan yang ada di dalamnya. Sebelum mencapai tahap kedua di mana dunia terbebas dari siklus kebencian, seseorang harus menjadi target bagi dunia.
"Seseorang harus memikul semua rasa sakit dan dendam itu sendirian, dan akulah orangnya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ilfar Aksara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 15 - Situasi Di Kerajaan Slyph
Di ufuk kelam tempat samudera mendidih, Emberwind terjaga dalam dekapan abu.
Pulau indah dengan hutan tersembunyi yang kini menyala lirih, menyimpan sisa takdir di balik tungku.
Akar-akar kuno adalah urat petir, mengalirkan darah sihir yang enggan mati,
Para elf menenun angin menjadi tabir, menjaga bara terakhir di jantung bumi.
Ketika segel jelaga mulai mengelupas, takdir lama bangkit menuntut balas.
Kabut tipis menyelimuti Pulau Emberwind, berpadu sempurna dengan cahaya merah keemasan dari hutan kristal yang menjadi ciri khas wilayah kekuasaan elf tersebut. Di sebuah paviliun terbuka yang menghadap langsung ke arah matahari terbit, Sang Penjaga Hutan Emberwind bernama Thranduil Emberwind duduk berhadapan dengan sosok yang kehadirannya tak pernah dibayangkan siapa pun, Magus Magnus, mantan Raja Sihir Flameheart yang kini hidup mengembara.
Pagi itu mereka tidak membicarakan hangatnya matahari terbit yang menyapa Pulau Emberwind, melainkan konflik yang sedang terjadi di Kerajaan Slyph.
"Thranduil, sebenarnya apa yang ingin kau bicarakan semalam?" Magus Magnus bertanya, ia menyadari Thranduil menyembunyikan sesuatu.
Thranduil menatap Magus Magnus sesaat, sebelum akhirnya memberitahu tentang diskriminasi yang terjadi di Ras Elf.
Elf biasa atau yang lebih dikenal dengan Wood Elf dan Dark Elf berencana melakukan kudeta.
Alasan Wood Elf dan Dark Elf melakukan kudeta karena merasa didiskriminasi dan diasingkan dari kerajaan.
Dark Elf mendapatkan perlakuan yang sangat parah karena pihak kerajaan membatasi ruang gerak mereka dengan memindahkan Dark Elf ke Hutan Terkutuk, Naggarond.
Sejarah lama antara Dark Elf dengan High Elf dan Wood Elf sudah terjadi sejak ribuan tahun. Sejarah lama yang menjadi titik balik berdirinya kerajaan para peri yang dikenal sebagai Kerajaan Slyph.
Dahulu kala, ketiga ras elf hidup dalam harmoni di bawah satu peradaban leluhur. Namun, kesombongan, ambisi, dan intrik politik memicu Perang Saudara yang berlangsung selama ribuan tahun.
Konflik berdarah ini memisahkan mereka menjadi tiga faksi, High Elf yang menjunjung tinggi sihir dan tatanan, Wood Elf yang hidup menyatu dengan alam liar, serta Dark Elf yang terjerumus dalam jalan kegelapan dan haus akan kekuasaan.
Selama milenia, ketiga ras saling bantai, menghancurkan peradaban mereka sendiri hingga berada di ambang kepunahan.
Titik balik terjadi ketika ancaman kehancuran total memaksa para pemimpin mereka untuk melakukan gencatan senjata.
Melalui pertemuan agung dimasa lalu, ketiga ras sepakat untuk mengakhiri siklus dendam. High Elf menyumbangkan kebijaksanaan dan sihir, Wood Elf memberikan ketahanan dan kekuatan alam, sementara Dark Elf membawa keteguhan dan kemampuan adaptasi. Dari perjanjian suci ini, lahirlah Kerajaan Elf yang Abadi, bernama Kerajaan Slyph.
Keluarga Slyvaris yang mewarisi sihir suci dari Alfheim dan dicintai mana Yggdrasil, dipilih menjadi keluarga kerajaan yang memimpin Slyph selama berabad-abad.
Namun perjanjian suci yang telah dijaga selama berabad-abad oleh leluhur mereka mulai runtuh. Dewan Tetua yang hampir seluruhnya diisi oleh ras High Elf memonopoli sihir suci dan membuat mereka menjadi angkuh.
Sekitar seratus tahun lalu, Dewan Tetua mengusir ras Dark Elf dari tanah yang dicintai mana ke hutan tak terjamah yang dikenal dengan sebutan Hutan Terkutuk, karena ras Dark Elf terbukti melakukan percobaan kudeta dengan banyaknya perkembangan pesat penyihir berbakat dari ras mereka.
Ras Dark Elf merasa dituduh dan mengajukan banding, namun ras Wood Elf yang mendukung keputusan ras High Elf membuat mereka terusir dari rumah mereka di Alfheim yang telah mereka huni ribuan tahun.
Sama halnya dengan ras Dark Elf, ras Wood Elf diberikan wilayah khusus disetiap perbatasan dan tempat paling ujung di kerajaan.
Wood Elf menghuni empat pulau yang ada di Kerajaan Slyph dan jauh dari Alfheim. Hal ini membuat kecemburuan dan diskriminasi menjadi sangat terasa.
Puncaknya dimasa ini, banyak elf yang tidak puas dengan kepemimpinan Raja Elf sebelumnya yang terlalu lembek dan gagal mengambil keputusan yang tegas, sehingga keputusan mutlak Dewan Tetua yang selalu diunggulkan.
Ras Wood Elf dan Dark Elf mengadakan pertemuan tersembunyi, mereka berniat bekerjasama untuk melakukan kudeta. Tentu saja Thranduil yang menjadi Sang Penjaga Hutan Emberwind mendapatkan undangan, namun Thranduil tidak ingin terlibat.
"Eiselfen di Utara, Tessia di Selatan dan Teldrassil telah bergabung menjadi satu. Mereka yang ada disini juga tidak semuanya sependapat denganku dan lebih banyak ingin melakukan kudeta." Thranduil menjelaskan, lalu menghela nafas panjang karena situasi ini diluar kendalinya.
"Situasi yang terjadi sekarang sangat diluar kendaliku..." ucap Thranduil seperti menyembunyikan sesuatu.
Magus Magnus sudah menebak suatu saat Kerajaan Slyph akan terjadi perang saudara, tetapi ia tidak menyangka akan terjadi disaat dirinya masih hidup.
"Dewan Tetua di kerajaan ini sama seperti Tetua Ignis di Flameheart, apa mereka memberikan sebuah misi rahasia padamu?"
Thranduil terdiam untuk sesaat saat Magus Magnus bertanya padanya, sebelum akhirnya ia memberitahu Magus Magnus bahwa dirinya diberi tugas sebagai mata-mata untuk mengamati ras Dark Elf dan Wood Elf yang akan melakukan kudeta.
Mendengar itu, Magus Magnus tersedak saat meminum teh hangat yang disajikan Thranduil. Magus Magnus mengetahui beban yang dibawa Thranduil dan situasi yang terjadi lebih buruk dari yang ia perkirakan.
"Apakah tidak ada jalan untuk berdamai dan melakukan pembicaraan tanpa pertumpahan darah, kawanku?"
"Tidak ada Magus. Dewan Tetua juga sudah berniat untuk menyingkirkan mereka yang memberontak."
Thranduil terlihat mengepalkan tangannya erat dan sorot matanya tajam menatap kedepan.
"Pertumpahan darah akan terjadi di tanah ini. Aku sudah tidak mengerti apa yang ada dipikiran Dewan Tetua. Kau pasti sudah mengetahuinya bukan kematian istriku..." Thranduil memasang wajah sedih mengingat sosok mendiang istrinya.
"Aku tidak membencimu, Magus. Tapi kau pasti menyadarinya, jika manusia diluar sana menjadikan ras Elf sebagai budak. Kedamaian yang sekarang terjadi hanyalah sebuah kepalsuan, dengan mengorbankan nyawa istriku dan saudara-saudaraku yang telah terbunuh."
Menyadari dirinya tidak dapat ikut campur lebih jauh, Magus Magnus pun tidak mengatakan sesuatu dan mendengarkan cerita Thranduil tentang rencana yang akan ia lakukan.
Hari pun berganti, hingga akhirnya Pulau Emberwind pun terlihat lebih ramai daripada hari biasanya.
Pagi itu sejumlah pemuda yang ada disana mulai mendekorasi jalan dan bangunan yang ada disekitar pulau.
Penduduk pulau pun terlihat lebih ramai dari biasanya disana. Mereka semua menanti kedatangan Sang Raja Elf bersama Dewan Tetua.
Sinar matahari pun mulai menembus awan yang menutupi Pulau Emberwind. Kehangatan dipagi hari itu berubah saat hembusan mana menerpa tubuh mereka semua.
Semua orang menatap keatas langit dan memperhatikan apa yang akan terjadi disana. Suara kicauan burung pun mulai terdengar lebih ramai dan bersahut-sahutan, seperti mereka ikut menyambut kedatangan sosok Raja Elf yang diagungkan di negeri ini.