Menikah muda terdengar indah di mata banyak orang—tentang cinta, perhatian, dan hidup bahagia bersama pasangan. Namun, bagi Elvara Naomi Wijaya, kenyataannya jauh berbeda. Setelah resmi menjadi istri Arsen Rafael Mahardika, pria dingin dan ambisius yang sangat ia cintai, Elvara mulai menyadari bahwa pernikahan bukan hanya soal rasa cinta.
Di balik rumah mewah dan status sebagai pasangan sempurna, mereka perlahan terjebak dalam kesalahpahaman, ego, luka batin, dan rahasia yang tidak pernah terungkap sebelumnya. Arsen yang sulit mengekspresikan perasaan membuat Elvara merasa sendirian di dalam hubungan mereka sendiri.
Saat masalah demi masalah datang menghancurkan ketenangan rumah tangga mereka, Elvara harus memilih—bertahan demi cinta yang masih ia perjuangkan, atau melepaskan semuanya sebelum dirinya hancur lebih dalam.
Karena terkadang, realita menikah tidak seindah janji di hari akad.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cattygril, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 04 (Masa lalu yg datang kembali)
...HAPPY READING...
...🧸💕...
Arsen terdiam beberapa saat setelah Vivian pergi meninggalkan ruang kerjanya, Pintu tertutup pelan, dan ruangan itu kembali sunyi.
Pria itu mengusap wajahnya kasar sambil menghela napas panjang. Kepalanya terasa penuh sejak pagi. Pertengkarannya dengan Elvara belum selesai, lalu Vivian tiba-tiba datang membawa masa lalu yang selama ini berusaha ia kubur rapat-rapat.
Tok. Tok.
“Masuk.”
Pintu kembali terbuka, kali ini menampilkan seorang wanita muda berpenampilan rapi dengan map di tangannya, Sekretaris pribadi Arsen: Celine Audrey Hartanto.
“Pak Arsen, jadwal meeting dengan investor dari Singapura dimajukan tiga puluh menit,” ucap Celine profesional.
Arsen langsung kembali memasang ekspresi dinginnya seperti biasa. “Siapkan ruang meeting.”
“Baik, Pak.” Celine sebenarnya menyadari suasana hati atasannya sedang buruk. Aura dingin Arsen hari ini bahkan terasa lebih menekan dari biasanya.
Namun sebagai sekretaris yang sudah bekerja hampir tiga tahun dengannya, ia tahu satu hal— Jangan terlalu banyak bertanya saat Arsen Rafael Mahardika sedang kesal.
“Dan satu lagi,” lanjut Celine hati-hati. “Nona Vivian tadi sempat meminta jadwal makan malam bisnis malam ini tetap dilanjutkan.”
Tatapan Arsen langsung berubah tajam. “Aku nggak pernah setuju ada makan malam.”
Celine sedikit gugup. “Tapi pihak sana bilang itu penting untuk pembahasan kerja sama.”
Arsen terdiam beberapa detik sambil mengetuk meja perlahan, Pikirannya langsung teringat wajah Elvara pagi tadi. Kalau ia datang makan malam dengan Vivian sekarang…
Masalah rumah tangganya pasti akan semakin buruk, Namun di sisi lain, proyek kerja sama itu memang penting bagi perusahaan.
“Pak?” panggil Celine pelan.
Arsen akhirnya menarik napas panjang. “Pindahkan meeting malam jadi di hotel conference room. Formal. Dan pastikan ada tim lain ikut.”
Celine langsung mengangguk paham. “Baik, Pak.”
Setelah sekretarisnya keluar, Arsen menyandarkan tubuhnya pelan di kursi kerja, tatapannya kosong mengarah ke jendela besar di belakang meja.
Entah kenapa…
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Arsen merasa kehilangan kendali atas semuanya.
Sementara itu, di sisi lain gedung perusahaan Pt Arkantha Group, Vivian berdiri diam di depan jendela lift dengan tatapan kosong, Ucapan Arsen tadi terus terngiang di kepalanya: Aku nggak akan ninggalin istri aku.
Vivian tersenyum kecil pahit, dadanya terasa sesak. Ia memang sudah menduga Arsen akan marah. Bahkan membencinya. Namun tetap saja, mendengar penolakan langsung dari pria itu terasa jauh lebih menyakitkan daripada yang ia bayangkan.
Pintu lift terbuka perlahan.
Vivian melangkah masuk sendirian sambil memeluk lengannya sendiri, Bayangan Arsen di masa lalu terus memenuhi pikirannya. Pria dingin yang diam-diam selalu memperhatikannya, Pria yang dulu rela menunggu berjam-jam hanya untuk memastikan ia pulang dengan aman, dan pria yang akhirnya ia tinggalkan begitu saja tanpa penjelasan.
“Aku bodoh…” bisiknya lirih.
Kalau saja waktu itu ia tidak pergi…
Mungkin sekarang yang berdiri di samping Arsen sebagai istrinya adalah dirinya, Namun penyesalan selalu datang terlambat.
Vivian menutup matanya pelan saat lift mulai bergerak turun. Tetapi semakin ia mencoba menyerah, semakin jelas ia menyadari satu hal— Ia masih mencintai Arsen Rafael Mahardika.
Sangat mencintainya, dan melihat pria itu bersama wanita lain membuat dadanya dipenuhi rasa iri yang perlahan berubah menjadi obsesi.
Pintu lift kembali terbuka di lobby utama.
Vivian melangkah keluar sambil menghapus air mata yang sempat jatuh di pipinya, Tatapannya perlahan berubah tegas.
“Kalau masih ada sedikit aja rasa itu…” gumamnya pelan, “aku nggak bakal nyerah.”
Karena Vivian tahu satu hal tentang Arsen— Pria itu mungkin sudah menikah. Namun luka masa lalu mereka belum benar-benar selesai.
…
Sedangkan di sisi lain…
Elvara Naomi Wijaya memilih menghabiskan harinya di butik miliknya sendiri dibanding terus berada di apartemen yang terasa semakin sesak.
Butik bernama Elvéra Atelier itu berdiri di salah satu kawasan pusat kota dengan konsep elegan dan hangat. Tempat itu bukan sekadar bisnis bagi Elvara.
Melainkan tempat pelariannya, tempat di mana ia bisa melupakan sejenak rumitnya rumah tangga yang perlahan menguras emosinya.
“Aku mau revisi bagian pinggang dress ini sedikit,” ucap Elvara pelan sambil fokus menandai kain menggunakan kapur jahit.
“Baik, Kak El,” jawab salah satu pegawainya. Elvara memang dikenal perfeksionis soal pekerjaan.
Tangannya bergerak teliti saat menjahit detail payet di kain satin berwarna emerald di depannya. Bahkan beberapa pelanggan lebih memilih menunggu berbulan-bulan demi hasil jahitan langsung dari tangannya, dan untuk pertama kalinya hari itu Pikirannya terasa sedikit lebih tenang.
“Astaga, Kak El serius bikin ini sendiri?” salah satu pegawai lainnya memuji gaun yang sedang dikerjakannya.
Elvara tersenyum kecil. “Belum selesai.”
“Tapi cantik banget…” Elvara hanya tertawa pelan. Namun senyum itu perlahan memudar saat tanpa sengaja matanya menangkap pantulan dirinya di kaca besar butik Ia terlihat lelah, Sangat lelah. Bahkan concealer tipis pun tidak bisa sepenuhnya menyembunyikan mata sembabnya.
Lamunan Elvara buyar saat sahabat sekaligus manajer butik tersebut datang menghampiri: Nayla Azarine Pratama.
Wanita itu langsung mengernyit melihat wajah Elvara. “Kamu habis nangis lagi?”
Elvara langsung menggeleng cepat. “Nggak.”
“Bohong.” Nayla menyilangkan tangan di dada. “Muka kamu nggak bisa bohong.” Elvara terdiam beberapa detik sebelum akhirnya menghela napas panjang.
“Nay…”
“Hm?”
“Pernikahan itu emang sesulit ini ya?” Pertanyaan itu membuat Nayla langsung kehilangan senyum kecil di wajahnya, tatapannya berubah khawatir, Karena dari cara Elvara bicara saja. Ia tahu rumah tangga sahabatnya sedang tidak baik-baik saja.
Nayla menatap Elvara cukup lama sebelum akhirnya menghela napas pelan. “Kalian berantem lagi?”
Elvara menunduk sambil merapikan kain di meja jahitnya. “Biasa.”
“Kalau sampai bikin kamu nangis tiap hari, itu bukan biasa namanya.”
Elvara tersenyum kecil pahit, tetapi belum sempat menjawab— Ponselnya tiba-tiba berdering.
Nama tidak dikenal muncul di layar, Elvara segera mengangkat panggilan itu sambil berusaha menormalkan suaranya.
“Selamat siang, Elvéra Atelier dengan Elvara.”
“Selamat siang.” Suara wanita di seberang terdengar lembut dan berkelas. “Saya dapat rekomendasi butik Anda dari teman saya.”
Elvara langsung duduk lebih tegak. “Baik, Kak. Ada yang bisa saya bantu?”
“Saya mau buat wedding dress.”
Nayla yang berdiri di dekatnya langsung melirik antusias.
“Elvéra Atelier memang spesialis gaun custom, Kak,” jawab Elvara profesional. “Konsep seperti apa yang diinginkan?”
“Saya mau yang elegan. Mewah, tapi tetap kelihatan simple.” Wanita itu terdengar cukup detail menjelaskan. “Saya nggak suka model yang terlalu ramai.”
Elvara langsung mengambil buku sketsanya. “Untuk tema warna dan konsep venue pernikahannya bagaimana, Kak?”
“White and gold.”
“Hm… cocok kalau pakai cutting yang lebih clean dengan detail payet tangan.” Elvara mulai menjelaskan dengan fokus. “Jadi kesannya mahal tapi tetap classy.”
Nayla tersenyum kecil melihat perubahan ekspresi sahabatnya, untuk pertama kalinya sejak tadi, mata Elvara kembali terlihat hidup saat membahas desain.
“Wah, saya suka cara Anda jelasin,” puji wanita di seberang telepon. “Kapan saya bisa datang fitting?” Elvara langsung membuka jadwal di tabletnya.
“Besok sore masih kosong, Kak.”
“Oke. Saya datang besok.”
Setelah panggilan berakhir, Nayla langsung mendekat sambil tersenyum jahil.
“Nah tuh. Kalau lagi kerja begini kan wajah kamu lebih cerah.”
Elvara terkekeh pelan sambil memeluk buku sketsanya. “Aku emang lebih tenang kalau kerja.”
“Daripada mikirin suami?” Senyum Elvara perlahan memudar lagi, namun kali ini ia memilih diam. Karena sesibuk apa pun dirinya mencoba mengalihkan pikiran nya— Pada akhirnya, bayangan Arsen tetap selalu kembali memenuhi kepalanya.
Bersambung…..