Kenanga mengabdikan hidupnya pada sang suami dan anak sambungnya, tapi pada akhirnya dia dihianati juga. Suami yang dia kira mencintainya dengan tulus nyatanya hanya kebohongan. Di dalam hatinya ternyata masih tersimpan nama sang mantan yang kini telah kembali dari luar negeri.
Rahasia yang selama ini ditutupi sang suami dan keluarga pun terbongkar. Kenanga memilih mundur dan memulai kehidupan yang baru meskipun semua itu terasa sulit.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon husna_az, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11
Kenanga dan Bima duduk berdampingan di sofa yang berada di kamar mereka. Keduanya masih terdiam. Bima menunggu istrinya untuk bicara lebih dulu, sementara Kenanga mencoba mengatur kalimat agar sang suami tidak mempersulit dirinya.
Hingga akhirnya Bima pun tidak tahan dan bertanya, "Bukankah tadi kamu bilang ingin bicara? Kamu mau bicara apa?"
Kenanga menarik napas dalam-dalam dan membuangnya secara perlahan. Dia pun berkata, "Aku ingin kita bercerai saja."
Bima terkejut mendengarnya. Tidak ada angin, tidak ada hujan tiba-tiba saja Kenanga berbicara soal perceraian. Padahal selama ini mereka tidak ada masalah sama sekali, bahkan terlihat begitu harmonis. Bertengkar juga hampir tidak pernah, hanya sesekali berdebat, itu pun berakhir tanpa ada pertikaian.
"Apa maksudmu? Kamu bercanda!"
"Apa aku terlihat sedang bercanda? Aku sudah mengetahui semuanya, Mas, jadi kamu tidak usah berpura-pura lagi."
Bima terlihat bingung. "Mengetahui apa? Kamu ini sebenarnya sedang membicarakan apa?"
"Mengenai mamanya Davina, aku sudah mengetahuinya. Aku tidak ingin berlama-lama di rumah ini, yang nantinya malah akan semakin melukaiku. Lagi pula kamu juga sudah berniat untuk menceraikan aku 'kan? Jadi sebaiknya dipercepat saja."
"Dari mana kamu mendengar hal itu? Itu hanya fitnah saja."
"Kenapa kamu masih saja berkilah, Mas? Kenapa tidak berkata jujur saja? Aku akan menghargainya. Aku juga tidak akan mempersulit keinginan kamu."
"Kenapa kamu semakin ngawur? Aku tidak pernah berpikir untuk bercerai. Kamu ini sebenarnya kenapa? Siapa yang mempengaruhi kamu?" tanya Bima dengan kesal.
"Tidak ada yang mempengaruhiku, Mas. Justru aku sadar jika selama ini kamu tidak pernah mencintaiku. Yang ada dalam hatimu selama ini hanyalah wanita yang bernama Alicia itu, yang menjadi cinta pertamamu dan juga ibu dari anakmu. Lebih baik kamu jujur daripada terus berbohong dan malah akan menyakiti kita semua."
"Kenanga, sepertinya kamu sedang ada masalah. Lebih baik kamu tenangkan pikiranmu terlebih dahulu. Nanti kita bicara lagi."
Bima ingin berdiri. Namun, Kenanga lebih dulu mencekal pergelangan tangan pria itu agar tidak pergi. Kenanga sudah memikirkan semua ini dan tidak perlu ada lagi yang harus dipikirkan. Semuanya sudah menjadi keputusannya tanpa ada campur tangan orang lain.
"Tidak perlu, Mas. Aku tidak perlu memikirkannya lagi. Aku sudah memikirkan semua ini dari jauh-jauh hari. Lagi pula Davina juga menginginkan mama kandungnya. Dia ingin kamu dan mamanya bersatu, jadi buat apa lagi kamu mempertahankan aku di sini? Aku mohon lepaskan aku! Keberadaanku di sini hanyalah penghalang untuk kebahagiaan kamu dan Davina. Tolong lepaskan aku!"
Bima merasa gelisah. Seharusnya dia senang karena Kenanga meminta bercerai darinya, tapi entah kenapa di sudut hatinya yang terdalam Bima merasa sedih. Dia tidak ingin kehilangan Kenanga yang selama ini menemani hidupnya dalam keadaan apa pun.
Dua puluh tahun bukan waktu yang sebentar. Selama ini istrinya juga selalu melakukan kewajibannya dengan baik. Sekarang apakah harus berpisah begitu saja?
"Kenanga, tolong pikirkan baik-baik keinginan kamu itu! Ingatlah kebersamaan kita. Aku tidak tahu apa yang menjadi penyebab kamu mengatakan perceraian, tapi cobalah berpikir lebih jauh lagi, apa akibatnya jika kita benar-benar bercerai nantinya."
Kenanga menundukkan kepalanya. Air matanya pun menetes semakin deras, terlintas bayangan kebersamaan mereka sejak dulu. Teringat beberapa tempat di mana mereka menghabiskan waktu liburan bersama. Saat itu benar-benar membahagiakan. Sampai akhirnya masa lalu Bima datang dan itu memberi jarak di antara mereka.
"Aku tentu tidak akan pernah melupakan kenangan kita bersama, tapi aku juga tidak mungkin bisa mempertahankan rumah tangga ini," ucap Kenanga tanpa melihat ke arah sang suami.
Semakin dirinya ingat masalalu, justru semakin membuat hatinya terasa sakit. Bayangan pengkhianatan sang suami terus saja berputar di kepalanya. Pembicaraan Bima dan Devina di kamar juga terus terngiang di telinganya. Belum lagi pembicaraan para pembantunya yang langsung menghujam ke dalam hatinya, sungguh perpaduan yang sangat sempurna membuat hati dan jiwanya benar-benar hancur.
"Kenapa tidak bisa?"
"Karena Alicia dan juga karena kamu."
"Karena Alicia dan aku? Kenapa denganku? Apa yang aku lakukan terhadap kamu?"
"Apa perlu aku jelaskan apa saja yang sudah kamu lakukan padaku selama dua puluh tahun? Kamu jelas tahu tanpa harus aku beberkan satu persatu semuanya."
Tubuh Bima menegang. Dia memang banyak melakukan kecurangan terhadap Kenanga, tapi apakah mungkin wanita itu mengetahuinya, mengingat selama ini dirinya sudah sangat berusaha untuk menutupi semuanya hingga sampai dua puluh tahun lamanya. Apakah sekarang semuanya akan terbongkar?
Mengenai Alicia, apakah Kenanga juga mengetahui mengenai mantan istrinya itu, tapi kapan? Mereka bahkan belum pernah bertemu secara langsung satu sama lain. Saat dirinya bertemu dengan Alicia pun secara tertutup, tidak pernah di tempat umum.
"Kamu ini bicara apa, sih! Semakin bicara malah semakin tidak jelas arahnya."
"Mengenai pil KB, apa aku perlu menjelaskannya secara detail?"
Bima melebarkan matanya ke arah Kenanga. Ternyata benar tebakannya, istrinya itu mengetahui saru kecurangannya. Entah siapa yang sudah memberitahunya, mengingat selama ini dirinya selalu berhati-hati, bahkan tidak pernah melibatkan orang lain dalam rencananya itu. Hanya ada dua pembantu yang ada di rumah.
Apakah mungkin mereka yang sudah membocorkan rahasianya, tapi rasanya tidak mungkin karena selama ini mereka selalu tutup mulut. Itu karena uang yang diberikan Bima jumlahnya tidak sedikit untuk memenuhi kebutuhan mereka.
"Da–dari mana kamu tahu mengenai hal itu?" tanya Bima dengan gugup.
"Tidak perlu kamu tahu, yang pasti aku juga sudah tahu lebih banyak hal, lebih dari itu jadi, lebih baik kita bercerai."
Bima berdiri dari duduknya dan menatap tajam ke arah Kenanga. "Aku akui jika sudah melakukan kesalahan, tapi sampai kapan pun aku tidak akan pernah menceraikan kamu, ingat itu baik-baik!"
Bima segera keluar dari sana meninggalkan Kenanga dengan perasaan yang hancur. Wanita itu tidak habis pikir, kenapa sang suami harus menahannya? Bukankah sebelumnya pria itu mengatakan akan menceraikannya? Sekarang saat dirinya yang menginginkan perceraian justru pria itu menolak. Kenanga semakin tidak mengerti jalan pikiran suaminya itu.
Sementara itu, Bima pergi ke ruang kerjanya. Dia begitu marah mendengar apa yang diucapkan Kenanga, hingga menghancurkan beberapa barang yang ada di sekitarnya. Padahal ini juga menjadi keinginannya, tapi kenapa dirinya justru melarang.
"Kenapa aku harus marah? Seharusnya aku senang dengan begini aku bisa kembali bersama dengan Alicia. Davina pun juga akan senang bisa bersama mamanya, tapi kenapa saat Kenanga mengatakan perceraian, hati ini begitu sakit? Apa yang terjadi pada diriku?"
Bima memejamkan sejenak, mencoba untuk menenangkan pikiran agar dirinya tidak salah arah. Dia tidak ingin keputusannya akan menjadi penyesalan seumur hidupnya.
"Mungkin karena Kenanga yang mengajukan gugatan cerai. Seharusnya 'kan laki-laki yang mengajukan perceraian. Sudah pasti karena itu alasannya, tidak mungkin karena aku memiliki perasaan terhadap Kenanga. Buktinya selama dua puluh tahun, aku menganggap dia biasa saja. Pasti karena alasan itu. Nanti saja aku bilang pada Kenanga jika aku yang akan mengajukan gugatan cerai."
Bima yakinkan hatinya jika memang itulah alasannya. Tanpa pria itu sadari jika nama Kenanga sebenarnya sudah terukir dalam di hatinya. Entah bagaimana perasaannya jika dirinya benar-benar kehilangan sang istri.
semoga iya dan berjodoh dan bisa punya baby sekarang banyak bngt usia puber ke dua pada tekdung
tapi jaman sekarang yg kepala 4 tuh lagi wow kaya umur 25 th ga kelihatan tuir
ayo kenangan do something temui tuh wanita yg di cintai suamimu