"Celah pintu itu hanya terbuka lima sentimeter. Namun, lima sentimeter itu cukup untuk menghancurkan pernikahan sepuluh tahun. Di dalam, lampu tidur berwarna jingga membingkai siluet dua tubuh yang saling membelit dengan penuh nafsu, acuh terhadap badai yang baru saja dimulai tepat di luar pintu kamar mereka."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gendiz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32: Labirin Rahasia di Lorong IGD
Labirin Rahasia di Lorong IGD
Lorong rumah sakit di jam satu pagi adalah tempat paling jujur di dunia. Bau karbol yang tajam bercampur dengan dinginnya AC yang menusuk, menciptakan suasana hampa yang membuat siapa pun merasa kerdil. Aku berdiri di depan pintu kaca IGD yang tertutup rapat, memperhatikan pantulan diriku yang tampak lelah namun tetap terlihat "mahal" dengan tas pemberian Papa yang tersampir di bahu.
Gavin masih di sana. Dia terduduk di kursi tunggu kayu, menunduk dalam-dalam. Setiap kali dia menghela napas, pundaknya bergetar. Dia hancur karena rasa bersalah pada Siska, tapi aku tahu, separuh dari hancurnya itu adalah karena dia tidak bisa memiliki aku sepenuhnya kemarin siang.
"Eumhhh..." Gavin merintih pelan, sebuah suara frustrasi yang tertelan saat dia menjambak rambutnya sendiri.
Aku tidak mendekat. Aku membiarkannya tenggelam dalam neraka ciptaannya sendiri. Aku justru melangkah menuju taman kecil di samping gedung IGD, tempat di mana aku tahu seseorang sedang menungguku dengan kegelisahan yang sama besarnya.
Taman Samping - Sunyi dan Lembap
Raka sedang berdiri menyandar pada pagar besi, menatap lampu-lampu kota yang mulai redup. Begitu mendengar langkah kakiku, dia menoleh. Wajahnya langsung tegang, seolah dia sedang melihat hantu yang paling dia cintai sekaligus dia benci.
"Rum... lo nggak apa-apa?" suaranya serak. Dia tetap di posisinya, menjaga jarak dua meter seolah aku adalah api yang siap membakar kewarasannya.
Aku tidak menjawab. Aku hanya berjalan mendekat, sangat pelan, hingga aroma vanila dari leherku mulai menyapa indra penciumannya. Tanpa berkata-kata, aku menjatuhkan kepalaku, menyandarkannya di bahu kokoh Raka.
Zzzapt.
Aku bisa merasakan tubuh Raka berjengit kecil. Dia mematung. Napasnya yang tadi teratur tiba-tiba terhenti sejenak, lalu berubah menjadi pendek-pendek.
"Rum... jangan gini..." bisiknya parau, tapi tangannya tidak mendorongku. Justru, jemarinya mencengkeram pagar besi lebih kuat, seolah dia butuh pegangan agar tidak rubuh.
Aku memejamkan mata, menggeser sedikit kepalaku agar pipiku bersentuhan dengan kain kaosnya yang hangat. "Bentar aja, Rak. Gue capek. Gue ngerasa sendirian banget di dalam sana."
Raka mendesah panjang. Sebuah desahan "ahhhh..." yang keluar dari relung dadanya yang paling dalam. Dia tidak bisa membohongi dirinya sendiri. Sentuhan kepalaku di bahunya ini memberikan sensasi "mak nyesss" yang menjalar ke seluruh sarafnya. Itu bukan sekadar sentuhan, itu adalah penguasaan.
Di bawah remang lampu taman, Raka merasa seluruh pertahanannya untuk setia pada Bella runtuh seketika. Hanya dengan senderan kepala ini, dia merasa lebih "basah" oleh keringat dingin gairah daripada saat dia berciuman dengan Bella.
"Lo tahu nggak, Rak?" bisikku tepat di bawah telinganya, membuat napas hangatku menyapu kulit lehernya. "Gue selalu ngerasa paling aman kalau deket lo. Jauh lebih aman daripada saat gue sama... Mas Gavin."
Mendengar nama Gavin, Raka mengerang kecil. "Eumhhh... Arum, tolong... gue bisa gila kalau lo terus-terusan gini."
Aku tersenyum tipis dalam diam. Aku tidak bergerak, tetap menyandar, membiarkan Raka tersiksa dalam kenyamanan yang mematikan ini. Aku tahu, malam ini Raka tidak akan pernah bisa melupakan aroma rambutku yang menempel di bahunya.
Ruang Tunggu - Pukul 02.00 WIB
Aku kembali ke dalam dan duduk di samping Mama. Papa sedang duduk agak jauh, tampak sangat sibuk dengan ponselnya. Wajah Papa terlihat serius, jempolnya bergerak cepat mengetik sesuatu.
Mama melirik Papa dengan tatapan penuh curiga. "Pa, siapa sih yang telepon malam-malam begini? Kok dari tadi senyum-senyum sendiri di depan layar? Siska lagi di dalam, lho."
Papa tersentak, buru-buru mematikan layar ponselnya. "Hanya klien, Ma. Proyek besar yang tertunda karena kejadian Siska ini. Mereka butuh kepastian."
Mama hanya mendengus, tidak percaya sepenuhnya. Dan memang, insting Mama benar. Di dalam saku celana Papa, ponsel itu terus bergetar.
Chat dari "T-Shadow" (Tiara):
"Mas... aku nggak bisa tidur. Masih kerasa getaran tangan Mas di mobil tadi. Kenapa aku ngerasa lebih nyaman sama Mas daripada sama cowok mana pun di kampus?"
Papa membalas dengan mengetik di bawah kolong meja, jemarinya bergetar kecil karena adrenalin.
Papa Wirawan: "Karena Mas tahu cara menghargaimu, Sayang. Jangan dipikirkan sekarang, tidurlah. Nanti Mas kirimkan sesuatu lagi lewat kurir pagi-pagi sebagai pengantar mimpimu. Mas juga... masih merindukan kehangatan tanganmu."
T-Shadow: "Ahhhh... Mas nakal. Aku jadi makin penasaran gimana rasanya kalau kita beneran kencan tanpa ada Arum di antara kita. Mas janji ya, rahasia ini cuma milik kita berdua? Eumhhh... aku deg-degan banget setiap liat notif dari Mas."
Papa tersenyum tipis, sebuah senyum yang sangat jarang dia tunjukkan di rumah. Dia merasa hidup kembali. Dia merasa seperti pria muda yang sedang memenangkan piala berharga. Sementara di sampingnya, Mama terus memperhatikan gerakan tangan Papa dengan mata yang menyipit curiga.
Aku memperhatikan drama kecil antara Mama dan Papa dari sudut mataku. Aku tahu segalanya. Aku tahu Tiara sedang "bermain api" dengan Papaku, dan aku tahu Papa sedang membeli kesetiaan Tiara dengan kemewahan yang tidak pernah Tiara bayangkan.
Lalu aku melirik Gavin yang masih merana, dan Raka yang duduk di barisan belakang dengan tatapan kosong, masih merasaka bekas kepalaku di bahunya.
"Ahhhh..." desahku pelan sambil membetulkan posisi tas Hermès-ku.
Rumah sakit ini penuh dengan orang sakit, tapi rasanya tidak ada yang lebih sakit daripada rahasia-rahasia yang kami simpan. Siska mungkin sedang bertaruh nyawa di dalam sana dengan bantuan oksigen, tapi kami semua yang di luar sini juga sedang bertaruh kewarasan demi hasrat yang tidak pernah ada ujungnya.
"Bangunlah, Mbak Siska," gumamku dalam hati. "Bangun dan liatlah betapa indahnya kehancuran yang aku tata dengan sangat rapi ini. Semua orang sudah 'basah' dalam dosanya masing-masing."
Malam semakin larut, lorong putih itu semakin dingin, namun rahasia di baliknya semakin membara, siap untuk membakar siapa saja yang berani menyentuhnya.
jngan y thor