NovelToon NovelToon
SATU -SATUNYA BUANGA DI TENGAH HUTAN.

SATU -SATUNYA BUANGA DI TENGAH HUTAN.

Status: sedang berlangsung
Genre:Beda Usia / Karir / Persahabatan
Popularitas:249
Nilai: 5
Nama Author: Komiatun Atun

hidup ini seringkali begitu kejam dan Mestrius. ada yang lah dalam kemewahan, ada yang tumbuh dalam hangatan kasih sayang. namun, takdir berkata lain bagiku.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Komiatun Atun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

"SATU-SATUNYA BUNGA DI TENGAH HUTAN" BAB 10: PELUKAN YANG MENGOBATI Lang

 

"SATU-SATUNYA BUNGA DI TENGAH HUTAN"

BAB 10: PELUKAN YANG MENGOBATI

Langit mulai berubah warna menjadi jingga kemerahan, tanda matahari hendak terbenam. Ria berjalan melangkah pelan mendekati rumah, tak menyadari bahwa di beranda, enam pasang mata sedang menatapnya dengan perasaan yang tak terlukiskan — campuran antara rasa sesal, rindu, dan kasih sayang yang meluap-luap.

Begitu Ria sampai di halaman, Bang Hamza, Bang Arefin, dan Bang Ardiansyah serentak berdiri. Langkah mereka mendekat, membuat Ria otomatis berhenti dan menegang. Ia menunduk, tubuh kecilnya sedikit gemetar, teringat betapa dingin dan tajamnya tatapan mereka selama dua tahun ini.

"Ma... maaf... Ria pulang agak sore..." ucap Ria pelan, suaranya hampir tak terdengar. Ia bersiap melewati mereka, berharap tak ada masalah.

Namun, tiba-tiba tangan besar Bang Hamza menyentuh bahu Ria dengan sangat lembut, seolah takut menyakiti. Ria terkejut dan mendongak. Di matanya, ia melihat sesuatu yang berbeda — bukan kebencian, melainkan air mata yang menggenang.

"Jangan takut, Dik..." suara Bang Hamza bergetar. "Kami cuma mau bicara sebentar sama kamu, boleh ya?"

Bang Arefin dan Bang Ardiansyah pun ikut berjongkok di hadapan Ria, menyamakan tingginya. Di belakang mereka, Dimas, Bagas, dan Fajar ikut mendekat dengan wajah memelas.

"Kak... maafin kami ya..." ucap Dimas kecil, matanya sudah berkaca-kaca.

Ria bingung, hatinya berdebar kencang. Apa ini? Kenapa mereka menangis? Kenapa mereka begitu lembut? batinnya bertanya-tanya penuh kebingungan.

Bang Hamza menarik napas panjang, berusaha menahan isak tangisnya. Ia memegang kedua tangan Ria yang kasar dan penuh kapalan karena bekerja berat.

"Dik Komariah... Adik kami yang paling sabar, paling kuat, dan paling tabah..." mulainya perlahan. "Kami datang kemari, kami berdiri di depan kamu ini, cuma satu tujuan: MEMINTA MAAF."

Kata terakhir itu terucap jelas dan tegas, namun penuh kepedihan.

"Kami sadar, kami sadar banget kalau selama dua tahun ini kami jahat banget sama kamu," sambung Bang Arefin, air matanya mulai menetes jatuh ke pipi. "Kami benci kamu tanpa alasan, kami jauhi kamu, kami diamkan kamu seolah kamu bukan bagian dari keluarga ini. Kami biarkan kamu sakit hati, kami biarkan kamu menangis sendirian, kami biarkan kamu bekerja keras sampai kurus kering begini."

Bang Ardiansyah mengusap pipi Ria yang mulai basah oleh air mata kebingungan. "Kami malu banget sama diri kami sendiri, Dik. Kami ini kakak-kakakmu, pelindungmu, tapi kami malah jadi sumber sakit hatimu. Maafkan kami ya... maafkan kebodohan kami, maafkan kekejaman kami."

Ria diam terpaku. Air matanya jatuh deras, tapi ia masih belum berani percaya. Dua tahun rasa sakit tak bisa hilang sekejap mata.

"Ka... Kakak... nggak benci Ria lagi?" tanyanya lirih, suaranya tercekat.

"Benci? Dik... kami yang pantas dibenci sama kamu," jawab Bang Hamza parau. "Kami nggak pantas jadi kakakmu. Tapi kami mohon, beri kami kesempatan. Beri kami waktu buat memperbaiki semuanya. Biarkan kami bahagiakan kamu, biarkan kami ganti rasa sakit itu dengan kasih sayang kami."

Tanpa sadar, keenam orang itu — tiga kakak dan tiga adik — langsung memeluk Ria bersamaan. Pelukan yang erat, hangat, dan penuh rindu. Ria yang semula kaku, perlahan ikut merengkuh tubuh-tubuh itu, menangis sejadi-jadinya di tengah pelukan saudara-saudaranya.

"Ria pikir... Ria pikir Ria nggak punya siapa-siapa lagi..." isaknya.

"Maafkan kami... maafkan kami..." bisik mereka berulang kali di telinga Ria.

Malam itu, di beranda rumah sederhana itu, terjadi penyembuhan hati yang besar. Rasa benci, dingin, dan jarak yang ada selama ini perlahan runtuh, digantikan oleh kasih sayang yang tumbuh kembali, lebih kuat dan lebih dalam dari sebelumnya. Mereka berjanji dalam hati, tak akan pernah lagi membiarkan satu-satunya bunga di keluarga mereka itu layu sedikit pun.

 

1
KOMIATUN
"alhamdulillah,.... terimakasih banyak ya kak atas dukungan nya senang banget deh ada yang mampir dan kasih saya semangat, rasanya capek pulang kerja jadi hilang seketika lho, nanti kalau ada waktu luang pasti saya kunjungi profil nya kakak ya. sihat selalu dan sukses terus buat kakak. 🙏🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!