Mereka membunuhnya perlahan.
Meracuni hidupnya, mencuri kasih sayangnya, lalu menguburnya sebagai putri yang tak diinginkan.
Ketika tubuhnya membuka mata, jiwa dari dunia modern terbangun di dalam tubuh Arcelia Vareinne putri keluarga duke yang mati secara misterius sebelum hari pernikahannya.
Semua orang menganggap Arcelia lemah.
Ayahnya mengabaikannya.
Ibu tirinya memanipulasinya.
Saudara tirinya merebut seluruh hidupnya sedikit demi sedikit.
Namun kali ini berbeda.
Sebuah sistem misterius muncul, memberinya kesempatan kedua:
mengungkap pengkhianatan, menghancurkan musuh-musuhnya, dan merebut kembali semua yang telah dirampas darinya.
Di tengah permainan politik kerajaan, rahasia keluarga bangsawan, dan konspirasi perebutan tahta, Arcelia perlahan berubah menjadi wanita yang ditakuti seluruh kerajaan.
Tetapi semakin dekat ia pada balas dendam, semakin dekat pula dirinya dengan pria paling berbahaya di kerajaan Pangeran Kael Draven. pangeran dingin yang dijuluki monster peran
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DRR_LOVE, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rumor
Beberapa hari setelah kunjungan Arcelia ke kediaman keluarga Albright, kota utama wilayah Vareinne menjadi jauh lebih ramai.
Festival Musim Semi tinggal menghitung hari.
Para pedagang mulai menghiasi toko mereka dengan pita warna-warni dan bunga segar. Jalanan dipenuhi kereta bangsawan yang datang dan pergi. Pengrajin, penjahit, penjual perhiasan, hingga musisi jalanan menikmati masa tersibuk mereka sepanjang tahun.
Di mana ada banyak orang berkumpul di sana juga ada rumor. Dan tanpa disadari Arcelia, namanya kini menjadi salah satu topik favorit di kalangan bangsawan.
Di sebuah kedai teh yang cukup terkenal, beberapa wanita bangsawan muda sedang berkumpul.
Mereka awalnya membicarakan festival, lalu beralih ke gaun kemudian perhiasan. Dan akhirnya seperti biasa mereka mulai membicarakan orang lain.
"Aku mendengar Lady Serena Albright mengundang Arcelia Vareinne secara pribadi."
"Benarkah?"
"Tentu saja."
"Aku mendengarnya dari sepupuku."
Salah seorang gadis mengernyit. "Aneh."
"Kenapa?"
"Serena biasanya sangat selektif dalam memilih teman."
"Itu benar."
Serena memang terkenal ramah, namun bukan berarti ia mudah mempercayai orang lain.
Justru karena berasal dari keluarga Albright, ia memiliki insting yang cukup baik dalam menilai seseorang.
"Kalau begitu..." Salah satu gadis menurunkan suaranya. "Mungkin memang ada sesuatu yang istimewa tentang Arcelia."
Keheningan singkat muncul, karena beberapa bulan lalu, kalimat seperti itu mungkin akan dianggap lelucon.
Namun sekarang? Tidak ada yang tertawa.
Karena semakin banyak orang mulai memperhatikan perubahan Arcelia. Dan semakin banyak yang merasa penasaran.
Sementara itu... Di kediaman Duke Vareinne. Arcelia sedang menikmati ketenangan di perpustakaan keluarga, atau setidaknya berusaha menikmatinya.
Rak-rak tinggi berisi ribuan buku menjulang di sekelilingnya. Aroma kertas tua memenuhi udara. Tempat ini menjadi salah satu lokasi favoritnya sejak kembali hidup. Karena perpustakaan menyimpan sesuatu yang lebih berharga daripada emas. Informasi.
Dan Arcelia sangat menyukai informasi. Ia sedang membaca buku sejarah lama ketika Auriel muncul dari balik rak.
Rubah kecil itu membawa ekspresi sangat serius yang biasanya berarti sesuatu akan terjadi.
"Ada masalah?" tanya Arcelia.
"Aku lapar."
Arcelia menutup bukunya perlahan. "Tentu saja."
"Aku pikir kau akan lebih khawatir."
"Kau selalu lapar."
"Itu tidak mengurangi tingkat bahayanya."
Arcelia mengabaikannya. Namun Auriel tiba-tiba melompat ke meja. "Tapi aku memang menemukan sesuatu."
Arcelia mengangkat alis nada suaranya berubah. "Menemukan apa?"
Auriel duduk tegak. "Apakah kau memperhatikan?"
"Memperhatikan apa?"
"Rumor."
Arcelia bersandar di kursinya. "Rumor tentangku?"
Auriel mengangguk. "Rumor itu menyebar terlalu cepat."
Kalimat tersebut membuat Arcelia terdiam, karena sebenarnya ia juga sudah menyadarinya.
Perubahan reputasinya terjadi jauh lebih cepat daripada yang diperkirakan.
Biasanya dunia bangsawan membutuhkan waktu lama untuk mengubah pendapat mereka.
Namun kali ini berbeda. Seolah ada sesuatu yang mendorong penyebaran informasi tentang dirinya.
"Aku juga memikirkannya."
Auriel mengibaskan ekornya. "Dan aku tidak menyukainya."
"Itu alasan yang cukup buruk."
"Insting rubah suci tidak pernah salah."
"Kau baru saja menemukan alasan itu."
"Detail kecil."
Meski begitu, Arcelia tetap mencatat ucapan Auriel dalam pikirannya. Karena selama ini insting makhluk itu sering kali terbukti benar.
****
Saat sore hari, Lilian datang membawa beberapa surat. "Nona."
"Hm?" Arcelia mengernyit.
"Beberapa undangan mulai berdatangan." kata Lilian sambil membawa beberapa tumpukan surat yang dikirim untuk dirinya.
Arcelia menatap tumpukan amplop di tangan pelayannya. Kemudian menghela napas panjang. "Sudah dimulai."
Lilian tersenyum canggung. Sebagian besar surat berasal dari keluarga bangsawan yang sebelumnya bahkan tidak pernah menyebut nama Arcelia.
Kini mereka mendadak ingin berkenalan dan ingin menjalin hubungan dengan mengundangnya menghadiri berbagai acara kecil.
Auriel langsung tertawa. "Lihat?"
"Apa?"
"Mereka seperti merpati yang mencium bau roti."
"Itu perumpamaan yang aneh." ujar Arcelia. "Tapi akurat."
Arcelia langsung membuka beberapa surat secara acak dan hampir semuanya memiliki isi serupa.
Pujian. Kesopanan. Dan rasa ingin tahu yang dibungkus dengan kata-kata indah.
Padahal beberapa bulan lalu orang-orang yang sama mungkin bahkan tidak mengingat wajahnya.
Dunia bangsawan memang lucu dan terkadang menjengkelkan.
—
Malam harinya Arcelia sedang membaca salah satu surat ketika ketukan terdengar dari pintu.
"Masuk."
Pintu terbuka secara perlahan, namun yang masuk bukan Lilian dan bukan pula pelayan lain. Melainkan Duke Cedric Vareinne. Ayahnya.
Arcelia sedikit terkejut, karena sejak kejadian racun, hubungan mereka memang membaik. Namun Duke Cedric masih jarang datang langsung ke kamarnya.
"Apakah aku mengganggu?" tanya Duke itu.
"Tidak."
Duke Cedric masuk perlahan. Untuk beberapa saat, suasana menjadi canggung. Hal yang cukup ironis, marena mereka adalah ayah dan anak. Namun bertahun-tahun pengabaian tidak bisa diperbaiki hanya dalam beberapa minggu.
"Aku mendengar kau menerima banyak undangan."
Arcelia mengangguk. "Benar."
Duke Cedric tampak berpikir sejenak kemudian berkata, "Festival nanti mungkin tidak akan mudah."
Arcelia memandangnya. "Karena perhatian yang datang?"
"Ya." Duke Cedric menghela napas. "Dan karena banyak orang mulai tertarik padamu."
Kata-kata itu terdengar sederhana, namun Arcelia memahami maksudnya. Perhatian dalam dunia bangsawan bukan selalu hal baik. Semakin menonjol seseorang semakin banyak pula yang ingin menjatuhkannya.
"Terima kasih atas peringatannya." ujar Arcelia.
Duke Cedric tersenyum tipis. Lalu, setelah ragu beberapa saat, ia berkata, "Aku mendengar gaunmu sudah selesai."
Arcelia berkedip, topik itu datang tiba-tiba. "Ya."
Duke Cedric terlihat sedikit canggung. "Aku yakin gaun itu akan terlihat bagus."
Kini Arcelia benar-benar terdiam. Karena untuk sesaat ia teringat kenangan lama.
Di kehidupan Arcelia yang asli, Duke Cedric hampir tidak pernah memperhatikan hal-hal seperti itu.
Bahkan ulang tahunnya juga sering terlupakan. Namun sekarang pria itu sedang berusaha. Mungkin dengan cara yang kikuk meskipun terlambat. Tetapi ia sedang berusaha. Dan Arcelia bisa melihatnya.
"Terima kasih." ucap Arcelia dengan sangat tulus.
Senyum kecil muncul di wajah Duke Cedric, senyum yang tampak lega. Seolah jawaban sederhana itu memiliki arti besar baginya.
Di sisi lain... Ibu kota Kekaisaran Astrael.
Di sebuah ruangan luas dalam istana, Putra Mahkota Elias Astrael sedang berdiri di depan jendela.
Lampu-lampu kota mulai menyala di kejauhan. Festival Musim Semi tinggal beberapa hari lagi. Artinya para bangsawan dari seluruh kekaisaran akan segera memenuhi ibu kota.
Marcus Vale berdiri tidak jauh darinya. "Tuan Putra Mahkota."
"Hm?"
"Daftar tamu festival telah selesai." Marcus menyerahkan sebuah dokumen.
Putra Mahkota Elias menerimanya. Tatapannya bergerak cepat membaca nama demi nama, kemudian berhenti. Arcelia Vareinne lagi.
Marcus memperhatikan perubahan kecil di wajah tuannya. Yang sebenarnya hampir tidak terlihat. Namun karena telah mendampingi Putra Mahkota Elias selama bertahun-tahun, ia tetap menyadarinya. "Yang Mulia mengenalnya?"
"Tidak."
"Lalu kenapa terlihat tertarik?"
Putra Mahkota Elias menutup dokumen tersebut. "Aku hanya penasaran."
Marcus hampir tertawa. Karena dalam seluruh hidupnya, sangat sedikit orang yang mampu membuat Putra Mahkota merasa penasaran.
Dan kini nama seorang gadis bangsawan terus muncul berulang kali. Tanpa diketahui keduanya takdir perlahan sedang menyusun pertemuan pertama mereka. Pertemuan yang akan mengubah masa depan kekaisaran.
Dan semuanya akan dimulai... di Festival Musim Semi.