NovelToon NovelToon
Warisan Dewa Elemen

Warisan Dewa Elemen

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Sistem / Reinkarnasi
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: LaQuin

Wen Yu sedang berpetualangan dengan mendaki bukit seorang diri di sebuah tempat wisata alam. Lalu sebuah kebetulan, ia bertemu seekor kucing yang memiliki sepasang sayap. Tanpa rasa takut dan hanya memiliki rasa penasaran yang tinggi, Wen Yu mengikuti kucing itu dan berusaha menangkapnya. Alih-alih berhasil, ia malah terperosok pada sebuah goa di dalam tanah yang ternyata sedang mengalami peristiwa aneh. Cahaya kebiruan bersinar melingkar seperti sebuah pintu lorong waktu yang sering ia tonton di film-film fantasi. Tak lagi bisa mengelak, Wen Yu jatuh ke dalam lingkaran biru itu dan menghilang seketika. Dan tiba-tiba terbangun di dunia antah berantah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LaQuin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pinggiran Desa Yang Tersembunyi

Pinggiran Desa yang Tersembunyi

Setelah berjalan berhari-hari jauh dari akademi, Ze Kai tiba-tiba menemukan dirinya berada di pinggiran sebuah desa kecil yang terletak di lereng bukit, dikelilingi oleh pepohonan tinggi dan sungai jernih yang mengalir dengan pelan. Ia berhenti di tepi sungai, melihat pantulan wajahnya di permukaan air yang riak-riak. Wajahnya yang biasanya bersih dan muda kini tampak penuh kesedihan, dan ia tahu bahwa jika ia muncul dengan penampilan yang sama, pasti akan segera dikenali oleh orang-orang yang ingin membunuhnya.

"Kau benar-benar tidak bisa masuk ke desa dengan wajahmu yang sekarang," ujar Genesis dengan suara lembut, melayang di sisinya. "Mereka pasti akan segera mengenalmu jika ada yang pernah melihatmu di akademi."

Ze Kai mengangguk perlahan, menghela napas dalam-dalam. Meskipun perutnya sudah mulai lapar dan tubuhnya merasa lelah, ia tahu bahwa masuk ke desa dengan wajah aslinya adalah hal yang sangat berisiko. Dengan hati yang berat, ia berbalik dan menjauh dari jalur yang mengarah ke desa, memilih untuk mencari tempat tinggal di dalam hutan yang lebih dalam.

Hutan yang luas dan sunyi menjadi tempat tinggalnya selama berbulan-bulan lamanya. Satu-satunya teman yang selalu mengikutinya adalah Genesis yang tidak pernah jauh dari sisinya, dan Xiao Bai yang kini sering berubah bentuk antara kucing kecil yang lucu dan makhluk spiritual yang kuat ketika ada bahaya.

Pada hari pertama, Ze Kai mulai membangun tempat tinggalnya sendiri. Ia menggunakan kekuatan Elemen Tanah yang telah ia kuasai dengan baik untuk menggali batu-batu besar dari bawah tanah, menyusunnya menjadi dinding yang kokoh dan kuat. Dengan bantuan Elemen Air, ia membentuk atap dari tanah liat yang dipadatkan dan diolah hingga kuat seperti batu bata bakar. Ia bahkan membuat sebuah halaman kecil di depan pondok dengan rerumputan yang diatur rapi dan sebuah sumur kecil yang diambil dari sumber air alam di dekatnya.

Ketika pondok sudah siap, Ze Kai membuka cincin ruang di tangannya. Barang-barang peninggalan sang Kakek yang pernah ia simpan, kini bisa ia pergunakan kembali. Ia mengeluarkan kasur empuk yang dibuat dari bulu binatang spiritual, perlengkapan memasak yang terbuat dari logam terbaik, dan beberapa baju cadangan yang pernah dibuat khusus untuknya oleh Kakek. Bahkan ada beberapa buku pengobatan yang pernah diberikan Kakek sebelum wafat, yang kini menjadi teman setia Ze Kai dalam mengisi waktu senggangnya setiap hari.

Setiap pagi, Ze Kai mulai berlatih sebelum matahari muncul dari balik bukit. Ia berlatih mengendalikan Elemen Tanah dengan membuat berbagai bentuk dari batu dan tanah, berusaha untuk meningkatkan tingkat kekuatannya hingga tahap yang lebih tinggi. Ia juga berlatih mengendalikan Elemen Air dengan mengendalikan aliran sungai kecil di dekat pondoknya, mencoba membuat berbagai bentuk dan kekuatan dari air yang ia kendalikan. Dan terkadang, ia juga merasakan kehadiran Elemen Tanaman yang baru saja ia dapatkan – seolah ada hubungan yang mendalam dengan setiap pepohonan dan tanaman di sekitarnya.

Namun meskipun ia berlatih dengan sungguh-sungguh setiap hari, Ze Kai merasa bahwa kultivasinya tidak banyak berkembang seperti yang diharapkan. Ia masih merasa bahwa ada batasan yang tidak bisa ia lewati, seolah ada sesuatu yang kurang agar ia bisa mencapai tingkat yang lebih tinggi.

"Mungkin kau perlu kembali ke dunia luar, Ze Kai," ujar Genesis setelah menyaksikan latihan Ze Kai yang kembali tidak memberikan kemajuan yang signifikan. "Kultivasi tidak hanya bisa ditingkatkan dengan berlatih sendirian di hutan. Kau perlu bertemu dengan orang lain, belajar dari berbagai sumber, dan menghadapi tantangan yang berbeda, agar kekuatanmu benar-benar tumbuh."

Setelah memikirkannya dengan matang selama beberapa hari, Ze Kai akhirnya memutuskan untuk berpindah tempat tinggal. Ia merapikan barang-barangnya ke dalam cincin ruang, memastikan bahwa pondoknya tetap terjaga dengan baik, lalu memulai perjalanannya lagi. Kali ini tujuannya untuk mencari informasi tentang apa yang sedang terjadi di dunia luar dan mencari cara untuk meningkatkan kultivasinya.

Setelah berjalan selama beberapa hari, Ze Kai sampai di sebuah kota kecil yang ramai. Rambutnya sudah tumbuh panjang hingga menyentuh bahu, dan wajahnya ditutupi oleh janggut dan kumis yang tebal. Sengaja dibiarkan untuk menutupi wajahnya yang sudah dikenal banyak orang. Pakaiannya yang lusuh dan tubuhnya yang sedikit kurus membuatnya tampak seperti pengembara yang telah lama berkeliaran.

Ia masuk ke sebuah kedai makan yang terletak di pinggir jalan, di mana aroma makanan lezat sudah bisa dirasakan dari jauh. Namun ketika ia memasuki kedai dan hendak memesan makanan, pelayan muda yang menjaga kasir melihatnya dengan pandangan sinis.

"Berhenti! Kami tidak melayani orang yang tidak punya uang seperti mu," ujar pelayan itu dengan suara kasar, menunjukkan tangannya ke arah pintu keluar. "Silakan pergi mencari makanan di tempat lain!"

Ze Kai hanya tersenyum lembut, kemudian mengeluarkan sebuah batu kecil dari saku bajunya. Batu spiritual berwarna biru muda yang kecil namun mengkilap dengan sangat indah. Ia meletakkannya dengan lembut di atas meja kasir, dan segera suasana di dalam kedai berubah total.

Wajah pelayan muda menjadi pucat karena terkejut, sementara pemilik kedai yang sedang duduk di sudut segera berdiri dan mendekat dengan langkah yang tergesa-gesa. Batu yang Ze Kai berikan bukanlah batu biasa. Itu adalah Batu Air Biru tingkat tinggi yang sangat langka dan berharga, bahkan hanya seukuran ibu jari saja sudah bisa membeli seluruh kedai ini berkali-kali lipat.

"Tuan, mohon maaf atas kelalaian kami!" ujar pemilik kedai dengan suara penuh rasa hormat, segera menarik sebuah kursi empuk untuk Ze Kai. "Silakan duduk dengan nyaman. Kami akan menyajikan hidangan terbaik kami untukmu!"

Pelayan yang membentak Ze Kai tadi di marahi habis-habisan. Lalu setelah itu, hidangan lezat mulai datang satu per satu. Daging panggang yang empuk, sayuran segar yang dimasak dengan bumbu spesial, dan minuman buah segar yang menyegarkan. Ze Kai makan dengan lahap, merasa puas setelah bisa menikmati makanan yang enak setelah lama hidup di hutan.

Tidak sia-sia Ze Kai mengambil semua batu berharga di goa dulu dan menyimpannya di dalam cincin ruangnya. Kini batu itu sangat berguna untuknya.

Namun di balik sudut kedai, beberapa orang pria dengan wajah kasar sedang mengamatinya dengan cermat. Mereka melihat bagaimana Ze Kai dengan mudah memberikan batu berharga yang sangat mahal hanya untuk satu makanan. Dan mata mereka mulai menyala dengan hasrat untuk mengambilnya dengan paksa.

"Lihat," bisik salah satu pria kepada yang lain dengan suara rendah. "Orang itu membawa batu berharga sendirian dan tampak lemah. Pasti masih ada beberapa yang dia sembunyikan. Kita bisa mengambil semua yang dia miliki dengan mudah setelah dia keluar dari sini."

Yang lain mengangguk dengan senyum kejam, sudah mulai merencanakan bagaimana cara mereka akan menyerang Ze Kai ketika dia pergi dari kedai. Mereka tidak menyadari bahwa orang yang mereka anggap lemah dan tidak berdaya sebenarnya adalah seorang kultivator berbakat yang telah menguasai tiga elemen sekaligus, dan siap menghadapi setiap ancaman yang datang padanya. Apalagi hanya melawan preman-preman biasa seperti mereka.

-

-

-

Bersambung...

1
༄༅⃟𝐐.𝓪𝓱𝓷𝓰𝓰𝓻𝓮𝓴_𝓶𝓪
orang dewasa tau resikonya memilih lari, kalo anak2 pantang pulang sebelum menang
༄༅⃟𝐐.𝓪𝓱𝓷𝓰𝓰𝓻𝓮𝓴_𝓶𝓪
apa senjata leluhur?
༄༅⃟𝐐.𝓪𝓱𝓷𝓰𝓰𝓻𝓮𝓴_𝓶𝓪
nih biar yu sdar yg suka petualang itu anak kecil 😂
༄༅⃟𝐐.𝓪𝓱𝓷𝓰𝓰𝓻𝓮𝓴_𝓶𝓪
namanya sekarang jadi kai yu
Sangat Licin
tjakeup
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!