NovelToon NovelToon
Obsesi Sang Mafia Kejam

Obsesi Sang Mafia Kejam

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Mafia / Diam-Diam Cinta
Popularitas:4.7k
Nilai: 5
Nama Author: Blueby Skyfly

Rosline gadis berusia 20 tahun yang terlahir bukan dari keluarga berada. Dia memiliki hidup yang sulit, bukan hanya menanggung beban hidupnya sendiri, tapi juga menanggung beban keluarganya. Suatu ketika Rosline mendapat tawaran kerja partime di salah satu rumah mewah untuk menjaga kakek tua, tapi tanpa diduga rumah itu ternyata rumah seorang Mafia kejam...

Rosline semakin bingung harus bertahan atau harus pergi dari sana. Sementara dia sangat butuh uang untuk keluarganya....
Apa yang terjadi selanjutnya dengan Rosline?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blueby Skyfly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 2 : Menjadi perawat

Pria itu menatap Rosline tajam beberapa detik sebelum akhirnya membuka suara.

“Sedang apa kau di sini?” Nada suaranya dingin dan berat hingga membuat Rosline sedikit gugup.

Gadis itu langsung menunduk pelan sambil memegang kardus di tangannya erat. “S-saya hanya ingin mengirim paket ini saja, Tuan.”

Rosline segera meletakkan kardus itu di dekat pintu. “Kalau begitu… saya permisi.”

Namun saat Rosline hendak berbalik, suara pria itu kembali menghentikannya.

“Tunggu.”

Langkah Rosline langsung terhenti.

Pria itu kini memperhatikan Rosline dari atas sampai bawah. Tatapannya tajam, tetapi entah mengapa tidak terlihat mengerikan. Hanya… sulit ditebak.

“Apa kau bisa membantuku merawat seseorang?”

Rosline terdiam sesaat. “Maksud Tuan?”

“Ikut aku.”

Pria itu langsung berjalan masuk ke dalam rumah tanpa menjelaskan apa pun lagi.

Rosline sempat ragu. Jujur saja, rumah besar itu terasa sangat asing dan sedikit menyeramkan baginya. Namun entah kenapa kakinya tetap mengikuti pria itu masuk ke dalam.

Interior rumah tersebut terlihat sangat mewah. Lampu kristal besar menggantung di langit-langit tinggi, sementara lantai marmer mengkilap memantulkan cahaya ke seluruh ruangan.

Tetapi anehnya, rumah sebesar itu justru terasa sepi. Tidak banyak pelayan ataupun penjaga di sana. Hanya ada seorang wanita paruh baya yang sedang membersihkan pecahan gelas di lantai dengan wajah pasrah.

Rosline lalu mengalihkan pandangannya ke arah ruang tengah. Di sana terlihat seorang pria tua duduk di kursi roda sambil menatap kosong ke arah taman.

Pria di samping Rosline kemudian berbicara pelan. “Dia kakek dari pemilik rumah ini.”

Rosline menoleh pelan.

“Tidak ada perawat yang sanggup merawatnya,” lanjut pria itu sambil mendekat sedikit. “Karena dia terlalu bawel… dan terkadang seperti anak kecil.”

Belum sempat Rosline menjawab...

“Hei… Edwin!” Suara berat pria tua itu tiba-tiba terdengar.

Pria di samping Rosline langsung melangkah mendekat. “Iya, Opa. Ada apa?”

Pria tua itu menunjuk Rosline dengan wajah penasaran. “Siapa gadis itu?”

Pria bernama Edwin itu menjawab santai. “Oh… dia perawat baru yang akan merawat Opa mulai hari ini.”

Mata Rosline langsung membesar kaget. “Apa?!”

Rosline refleks menoleh cepat ke arah Edwin. Padahal ia sama sekali belum mengatakan setuju.

“Maaf, Tuan… saya masih harus kembali ke toko,” ucap Rosline buru-buru.

Namun Edwin justru terlihat tenang. “Urusan itu biar aku yang selesaikan.”

“Tapi...”

“Kamu sekarang tugasnya merawat Opa.”

Rosline mulai panik. Ia bahkan belum mengerti apa yang sebenarnya terjadi.

Edwin lalu mengambil kunci mobil di meja. “Aku tinggal sebentar.”

“Tuan, tapi saya...”

BRAKK!

Belum sempat Rosline menyelesaikan ucapannya, Edwin sudah berjalan pergi keluar rumah. Rosline langsung berdiri kikuk di tempat. Ia menoleh ke kanan dan kiri bingung. Sementara pria tua di kursi roda itu kini memperhatikan Rosline lekat.

Beberapa detik kemudian…

“Hm...” Pria tua itu mendengus pelan. “Kamu kurus sekali.”

Rosline langsung menatapnya kaget. “Eh?”

“Saya tidak suka orang kurus. Kelihatannya gampang pingsan.”

Rosline langsung salah tingkah.

Sedangkan wanita paruh baya yang tadi membersihkan pecahan gelas hanya menahan senyum kecil melihat ekspresi Rosline.

Rosline berdiri canggung di tengah ruang tamu besar itu. Tangannya saling menggenggam gugup, sementara matanya sesekali melirik ke arah pintu rumah yang sudah tertutup sejak Edwin pergi. Ia masih tidak percaya bisa terjebak dalam situasi seperti ini.

“Namamu siapa?” tanya pria tua itu tiba-tiba.

Rosline langsung tersadar dari lamunannya. “R-Rosline, Tuan…”

Pria tua itu memperhatikan wajah Rosline beberapa detik sebelum akhirnya mendecak pelan.

“Ternyata kau cantik juga.”

“Eh?”

Rosline langsung salah tingkah sampai pipinya sedikit memerah.

Wanita paruh baya di sudut ruangan sampai terkekeh kecil melihat ekspresi polos gadis itu.

“Saya Bibi Rena,” ucap wanita itu ramah sambil menyimpan sapu. “Saya sudah lama bekerja di sini.”

Rosline langsung membungkuk sopan. “Salam kenal, Bi…”

Bibi Rena mengangguk pelan lalu berbisik kecil. “Hati-hati sama Tuan Besar. Kalau sedang marah bisa buang barang sembarangan.”

Rosline langsung melirik pecahan gelas di lantai. Pantas saja tadi ada suara benda pecah. Belum sempat Rosline berbicara lagi, pria tua itu kembali bersuara.

“Hei gadis kurus.”

Rosline langsung menoleh cepat. “Iya?”

“Saya lapar.”

“Hah?”

“Saya mau makan.”

Rosline panik sendiri. “Tapi… saya tidak tahu harus masak apa.”

“Buatkan saya makanan yang enak.”

Rosline langsung mati kutu.

Bibi Rena akhirnya tertawa pelan. “Tenang saja. Makanannya sudah ada di dapur. Tinggal dipanaskan.”

Rosline menghela napas lega. “Iya, Bi.”

Beberapa menit kemudian, Rosline terlihat sibuk di dapur besar rumah itu. Ia sampai kagum sendiri melihat isi dapurnya yang sangat lengkap dan modern.

Bahkan satu kulkas rumah itu ukurannya hampir sama seperti lemari di kosannya. Rosline perlahan memanaskan sup dan beberapa lauk sederhana sesuai arahan Bibi Rena.

Tak lama kemudian, ia mendorong troli makanan kecil menuju ruang tengah.

“Nah… sudah siap…”

Namun baru saja Rosline mendekat...

“Saya tidak ingin makan itu!”

Rosline langsung tersentak kaget saat pria tua itu memalingkan wajah dengan kesal seperti anak kecil.

“Saya ingin bubur ayam.”

Rosline langsung bingung. “Tapi tadi katanya ingin makan…”

“Sekarang maunya bubur ayam.”

Rosline melongo.

Bibi Rena yang berdiri di belakang sampai menggeleng pasrah. “Tuh kan selalu begitu…” bisiknya pelan.

Rosline menelan ludah gugup. “Kalau… saya beli dulu bagaimana?”

Pria tua itu langsung menatap Rosline tajam. “Kamu tahu bubur ayam favorit Saya?”

Rosline langsung terdiam. Ya mana mungkin dia tahu.

Melihat ekspresi bingung Rosline, pria tua itu mendengus pelan. “Dasar perawat tidak berguna.”

Rosline langsung panik. “Ma-maaf…”

Namun anehnya, beberapa detik kemudian pria tua itu malah tertawa kecil. “Hahaha!”

Rosline berkedip bingung.

“Saya hanya bercanda.”

Rosline hanya terdiam pasrah.

“Lucu juga lihat wajah panikmu.”

Rosline benar-benar tidak tahu harus tertawa atau menangis sekarang.

Tak lama kemudian, suara mobil terdengar dari luar rumah, Edwin kembali. Pria itu masuk dengan langkah tenang sambil melepas jas hitamnya. Tatapannya langsung tertuju pada Rosline yang masih berdiri di dekat kursi roda Opa.

“Apa dia merepotkan?”

Rosline belum sempat menjawab.

“Dia bodoh,” sahut Opa cepat.

Rosline langsung membulatkan mata.

“Tapi lucu.”

Edwin terdiam sesaat. Kini untuk kalinya, sudut bibir pria dingin itu terangkat tipis membentuk senyuman kecil.

Rosline langsung terpaku beberapa detik. Entah kenapa, senyum kecil di wajah Edwin justru membuat pria itu terlihat jauh lebih tampan dibanding sebelumnya.

“Opa mau bubur ayam.” Kalimat pria tua itu langsung memecah keheningan.

Edwin menghela napas pelan sambil memijat pelipisnya.

“Tuan baru saja marah, karena makanannya tidak sesuai.”

“Karena aku tidak suka!”

“Tuan bahkan belum mencobanya.”

“Pokoknya tidak suka.”

Rosline hanya berdiri kikuk di samping kursi roda sambil menunduk pelan. Ia merasa seperti sedang melihat anak kecil yang merajuk.

Edwin lalu menatap Rosline. “Kamu sudah makan?”

Rosline sedikit terkejut mendengar pertanyaan itu. “Eh… belum.”

“Duduk.”

“Hah?”

“Aku bilang duduk.”

Rosline langsung gugup. “Tidak usah, Tuan… saya nanti saja.”

Namun Edwin malah menarik kursi di dekat meja makan. “Duduk.”

Nada suaranya memang tetap datar, tetapi kali ini tidak terdengar menyeramkan. Dengan canggung Rosline akhirnya duduk perlahan.

Bibi Rena sampai tersenyum kecil melihat pemandangan langka itu. Sudah lama sekali Edwin tidak membiarkan orang asing duduk makan bersama di rumah tersebut.

Edwin kemudian membuka beberapa kotak makanan yang tadi ia bawa. Aroma makanan hangat langsung memenuhi ruangan.

Mata Rosline sedikit membesar. Ada bubur ayam, dimsum, sup hangat, sampai beberapa lauk mahal yang bahkan belum pernah Rosline coba sebelumnya.

“Opa, makan.”

“Hm...”

Meski masih merajuk, pria tua itu akhirnya mulai makan perlahan.

Sementara Rosline hanya menatap makanan di depannya ragu-ragu.

“Kenapa tidak dimakan?” tanya Edwin.

Rosline langsung tersadar. “Saya… tidak enak.”

“Kenapa?”

“Ini terlalu mahal…”

Edwin menatap Rosline beberapa detik sebelum akhirnya duduk di kursi seberangnya.

“Bagiku ini biasa.”

Kalimat sederhana itu membuat Rosline diam. Tentu saja biasa. Rumah ini saja mungkin lebih mahal daripada seluruh hidupnya. Rosline perlahan menunduk sambil menggenggam sendoknya pelan.

Melihat itu, Edwin kembali berbicara. “Bibi Rena bilang sudah hampir satu tahun tidak ada yang bertahan merawat Opa.”

Rosline menoleh pelan.

“Kebanyakan menyerah dalam tiga hari.”

“Apa Tuan sesulit itu?”

“Mungkin.”

“Hei!” protes pria tua itu cepat.

Edwin hanya menggelengkan kepala melihat kelakuan pria tua itu.

1
Indri
Sukaaaa🤣
It's me Sky: wkwkwkkw/Proud/
total 1 replies
Keenan41
semangat thor
It's me Sky: Pasti dong, mksh dukungannya✌🏻/Hey/
total 1 replies
Hennyy exo
semangat rosaline🤭🤭
It's me Sky: Hihihihi, mksh/Smile/
total 1 replies
Hennyy exo
wow sampai sini alurnya bagus thor
It's me Sky: terimakasih bnykk/Smile/
total 1 replies
Amoera
semakin menegangkan thoor, lanjutkan dong😍
It's me Sky: hrs dong/Chuckle/
total 1 replies
Amoera
ceritanya sangat menarik, lanjutkan ceritanya thoor... semangat ratusan bab
It's me Sky: psti dong, mksh/Doge//Rose/
total 1 replies
Amoera
woww... ada cerita baru nih, wajib baca sih kayanya... semangat thoor😍
It's me Sky: iya dong, sni¹ mmpir/Hey/
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!