NovelToon NovelToon
Rahasia Di Balik Seragam Pelayan

Rahasia Di Balik Seragam Pelayan

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Obsesi / Pembantu / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:19.7k
Nilai: 5
Nama Author: SunRise510k

-Spin off 'NOVEL PURA-PURA JADI SUPIR'-

Sepuluh tahun mendekam di penjara mengubah Bianca Adytama dari nona muda angkuh menjadi wanita yang haus akan ketenangan. Membuang nama besarnya, ia pergi ke sebuah desa di Jawa Barat dan menyamar sebagai pelayan bernama Gita.
Di sebuah villa mewah milik seorang juragan perkebunan, Gita berharap bisa hidup tenang. Namun, kedatangan Arlan Dirgantara—putra sulung sang juragan yang baru bercerai—mengacaukan segalanya.
Arlan tidak buta. Ia tahu Gita bukan pelayan biasa. Gerak-geriknya terlalu elegan, bicaranya terlalu cerdas, dan sorot matanya menyimpan rahasia gelap. Dari rasa penasaran menjadi obsesi, Arlan mulai menjerat Gita dalam permainan cinta yang menegangkan.
Sanggupkah Bianca mempertahankan penyamarannya saat masa lalu yang ia kubur mulai tercium oleh pria yang terobsesi memilikinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SunRise510k, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12

Matahari Jakarta menyusup malu-malu di balik kabut polusi, memantul pada dinding kaca penthouse yang angkuh. Pagi itu, sarapan berlangsung dalam keheningan yang berbeda. Tidak ada lagi suara denting sendok yang canggung; yang ada hanyalah ketegangan yang tenang, seperti senar biola yang ditarik terlalu kencang.

Arlan menyesap kopi hitamnya, matanya menatap Bianca yang sedang merapikan piring-piring di meja makan. Wanita itu mengenakan cardigan rajut krem yang sama dengan yang ia pakai di desa. Warnanya sudah memudar, dan di bagian sikunya, serat kainnya mulai menipis. Arlan meletakkan cangkirnya dengan bunyi denting yang tegas, sebuah tanda bahwa ia telah mengambil keputusan.

"Siapkan dirimu, Gita. Kita berangkat sepuluh menit lagi," ujar Arlan tanpa menoleh.

"Baik, Tuan. Saya akan segera menyiapkan tas kerja Anda," jawab Bianca patuh.

Mobil sedan mewah itu membelah jalanan protokol menuju sebuah kawasan di Jakarta Selatan, tempat di mana deretan butik desainer internasional berdiri dengan etalase yang mengintimidasi. Arlan menghentikan mobilnya tepat di depan sebuah butik dengan pintu kaca tinggi dan logo minimalis yang sangat Bianca kenali sebagai salah satu langganannya di masa lalu.

Bianca menahan napas. "Tuan, untuk apa kita ke sini?"

"Turunlah," perintah Arlan. Pria itu tidak menunggu jawaban; ia keluar dan membukakan pintu untuk Bianca—sebuah gestur yang sangat tidak biasa dilakukan oleh seorang majikan kepada pelayannya.

Begitu mereka melangkah masuk, aroma parfum ruangan yang eksklusif dan sapaan hormat dari para pramuniaga menyambut mereka. Arlan melambaikan tangan dengan gestur berwibawa, memberi isyarat kepada manajer butik yang langsung menghampiri.

"Tolong carikan setelan kerja, gaun koktail, dan beberapa pakaian harian untuk wanita ini. Pilihkan bahan terbaik. Sutra, kasmir, apa pun yang nyaman," ucap Arlan sambil menunjuk Bianca.

Bianca melangkah mundur, matanya membelalak kecil. "Tuan Arlan, ini terlalu berlebihan. Pakaian saya masih layak pakai. Saya datang ke sini untuk bekerja sebagai asisten, bukan untuk menjadi manekin."

Arlan memutar tubuhnya, menatap Bianca dengan tatapan yang sangat intens—tatapan yang memancarkan keinginan untuk memiliki sekaligus melindungi. Ia melangkah mendekat, memperpendek jarak hingga Bianca bisa mencium aroma sandalwood yang maskulin.

"Pakaianmu di desa mungkin cukup untuk memetik teh, tapi di kantorku, kamu adalah representasi dariku. Aku tidak membiarkan orang-orangku terlihat kusam," bisik Arlan, suaranya rendah dan penuh otoritas.

"Kalau begitu, biarkan saya membelinya sendiri dengan gaji saya nanti," balas Bianca tegas, dagunya terangkat sedikit, memperlihatkan sisa-sisa kebanggaan seorang putri Adytama yang tidak sudi menerima belas kasihan. "Saya ingin hidup mandiri, Tuan. Saya tidak ingin berhutang kemewahan pada siapa pun."

Arlan tertawa kecil, suara tawa yang dingin namun terselip rasa kagum. "Mandiri? Dengan gaji pelayan, kamu butuh sepuluh tahun untuk membeli satu stel pakaian di ruangan ini, Gita. Sekarang, masuk ke ruang ganti, atau aku sendiri yang akan memilihkan dan memakaikannya untukmu."

Ancaman itu membuat Bianca terdiam. Ia tahu Arlan bukan tipe pria yang suka dibantah. Dengan perasaan dongkol yang tertahan, Bianca mengikuti pramuniaga menuju ruang ganti.

Satu per satu pakaian dicoba. Sebuah gaun kerja berwarna charcoal berbahan wol ringan yang membalut tubuhnya dengan sempurna, membuat aura "berkelas" Bianca memancar tanpa celah. Saat ia keluar dari ruang ganti untuk menunjukkan hasilnya, Arlan yang sedang duduk di sofa kulit sambil membaca majalah bisnis, mendadak membeku.

Pria itu meletakkan majalahnya perlahan. Matanya menyapu sosok Bianca dari ujung kaki hingga ujung kepala. Ia melihat bagaimana pakaian itu seolah menemukan pemilik aslinya. Bianca tidak terlihat seperti pelayan yang sedang menyamar; ia terlihat seperti wanita yang memang dilahirkan untuk berada di puncak hierarki.

Arlan berdiri, berjalan mendekati Bianca. Ia berhenti tepat di depan wanita itu, tangannya terangkat untuk membetulkan kerah gaun Bianca yang sedikit miring. Jemarinya yang hangat bersentuhan dengan kulit leher Bianca, mengirimkan getaran yang membuat napas Bianca tertahan.

"Jangan pernah katakan padaku bahwa kamu ingin hidup susah, Bianca," bisik Arlan tepat di telinganya.

"Kemewahan ini adalah penjara, Tuan Arlan," balas Bianca lirih, matanya menatap pantulan dirinya di cermin besar.

"Bungkus semua yang dia coba tadi. Masukkan ke mobil." Ia berpaling pada pramuniaga.

Bianca ingin memprotes, namun Arlan sudah menarik tangannya, menuntunnya keluar butik dengan genggaman yang tidak bisa dilepaskan.

**

Lantai teratas Gedung Dirgantara Group pagi itu terasa lebih dingin dari biasanya. Bukan karena pendingin ruangan yang dipasang maksimal, melainkan karena atmosfer yang mendadak tegang saat pintu lift eksekutif terbuka. Arlan melangkah keluar dengan langkah panjang dan berwibawa, namun bukan itu yang menjadi pusat perhatian. Di sisinya, seorang wanita berjalan dengan dagu terangkat namun sorot mata yang rendah hati.

Setelan wol ringan yang dibelikan Arlan membungkus tubuhnya dengan sempurna, mempertegas siluetnya yang ramping. Meski ia berusaha menyembunyikan identitasnya di balik polesan riasan tipis yang natural, aura "bangsawan" yang ia miliki justru memancar lebih kuat daripada saat ia memakai seragam pelayan di desa.

Meta, sekretaris senior Arlan yang dikenal memiliki insting setajam silet, sudah berdiri di depan meja jati besar ruang kerja Arlan. Matanya yang jeli sempat membelalak selama sepersekian detik saat melihat wanita di samping bosnya. Ia mengenali kain berkualitas yang melekat di tubuh wanita itu, dan ia mengenali cara wanita itu menapakkan kaki—tenang, tidak terburu-buru, dan sangat anggun.

"Meta, Gita akan bekerja sebagai asisten pribadiku mulai hari ini," ucap Arlan singkat, nadanya tidak menerima bantahan. "Siapkan meja tambahan untuknya di area kerjamu."

Meta segera menetralkan ekspresinya, ia tersenyum profesional meski matanya terus menyelidik. "Selamat datang, Gita. Luar biasa... Tuan Arlan benar, kamu tampak sangat berbeda dari apa yang saya bayangkan. Kamu cantik sekali pagi ini."

Bianca mengangguk sopan, sebuah senyum tipis yang tulus terukir di wajahnya. "Terima kasih, Mbak Meta. Mohon bimbingannya, karena saya harus banyak belajar menyesuaikan diri dengan ritme kerja di sini."

"Oh, saya yakin kamu akan belajar dengan sangat cepat," balas Meta dengan nada yang sulit diartikan.

Pukul sebelas siang, kesibukan di dalam ruangan itu mencapai puncaknya. Arlan dan Doni, sahabat sekaligus pengacara pribadinya, tenggelam dalam diskusi intens di area sofa mengenai sengketa aset yang dipicu oleh Stella. Sementara itu, Meta dan Bianca duduk di meja yang berseberangan, dipisahkan oleh tumpukan map korporasi.

Meta sengaja memberikan beberapa berkas laporan analisis pasar yang cukup rumit kepada Bianca, sekadar ingin menguji sejauh mana "pelayan desa" ini bisa memahami angka. Namun, yang ia lihat justru membuatnya semakin curiga.

Bianca tidak terlihat bingung. Jemarinya yang lentik membalik halaman demi halaman dengan kecepatan yang konstan. Saat Meta meletakkan sebuah draf kontrak di depan Bianca, wanita itu membacanya sejenak sebelum berkomentar tanpa sadar.

"Mbak Meta, sepertinya ada sedikit celah di klausul arbitrase poin 4.2 ini. Jika kita menggunakan standar hukum Singapura, frasa 'keadaan memaksa' di sini terlalu ambigu. Ini bisa menjadi bumerang jika pihak vendor mengalami keterlambatan logistik yang tidak terduga."

Meta tertegun. Ia meletakkan pulpennya dan menatap Bianca lekat-lekat. "Gita, itu observasi yang sangat teknis. Dari mana kamu tahu tentang standar arbitrase internasional?"

Bianca seketika membeku. Ia tersadar bahwa ia baru saja menggunakan pengetahuan yang ia dapatkan saat masih belajar di perusahaan ayahnya dulu. Ia segera menunduk, mencoba mencari alasan yang masuk akal.

"Saya... saya dulu sering membaca buku-buku hukum milik mendiang majikan saya di tempat lama, Mbak Meta. Beliau suka mengoleksi jurnal bisnis," jawab Bianca, suaranya sedikit bergetar namun tetap stabil.

Meta menyipitkan mata, namun sebelum ia bisa mengejar lebih jauh, suara Arlan menginterupsi dari seberang ruangan.

"Gita, ke sini sebentar."

Bianca segera beranjak, merasa lega bisa keluar dari tatapan intimidatif Meta. Saat ia berdiri di samping meja Arlan, pria itu menatapnya dengan pandangan yang tidak lagi dingin. Ada sesuatu yang lebih lembut di sana, sesuatu yang posesif.

"Bagaimana pekerjaanmu? Apa Meta memberimu terlalu banyak tugas?" tanya Arlan, suaranya merendah, hanya untuk didengar oleh Bianca.

"Tidak, Tuan. Saya menikmatinya. Menghadapi angka-angka ini membuat saya merasa... berguna lagi," jawab Bianca jujur.

Arlan meraih sebuah kotak kecil di laci mejanya dan menyerahkannya pada Bianca. "Gunakan ini. Di dalamnya ada ponsel kantor dan kartu akses khusus. Aku tidak ingin kamu kesulitan menghubungi jika terjadi sesuatu."

“Terima kasih, Tuan.” Bianca menerima kotak itu dengan tersenyum tipis.

***

1
Anisa Sudarwanto
lnkut thorr
Mundri Astuti
Kirana coba muncul sama Raditya yak
Verawati Naycyl
Stella kamu salah memilih lawan.....bisa bisa kamu sama Mahendra bakalan di bikin nangis darah
fatmawati (pipit)
stella kamu blm mengenal keluarga adytama, jari lentik seseorang bisa membuka tabir kebusukan mu dan keluarga mu dlm pencurian aset milik arlan
Mundri Astuti
lanjut thor 🙏
Mukeseh
stella belum ae siapa gita ivara 🤣🤣 apalagi kalau mahendra tau apa gak syok dia 🤭
Sri Murtini
Byanka tenang saja blm saatnya kau kembali ke Surabaya
ryuka
adduuhhh duuhh bianca gimana ini 🤭🤭🤭🤭🤭
Mukeseh
lagi thorr
fatmawati (pipit)
stella kau blm mengenal bianca secara seluruhnya, mungkin dia di penjara bukan karna kemauannya karna ada seseorang yg menjebak dia dan keluarga adytama hancur
mungkin juga karna musuh raditya
fatmawati (pipit): yg itu aku lupa🤣🤣🤣🤣🤣🤣
total 2 replies
fatmawati (pipit)
kau blm mengenal biaca adytama (gita Ivana) kau ingin menjatuhkan bianca maka kau akan berhadapan dengan sisi lainnya bianca
ryuka
aduuhhh bianca kamu berhak bahagia 🫠🫠🫠🫠🫠
Mundri Astuti
Mahendra minta dikepret ma Kirana dan raditya
Mundri Astuti
jangan harap bisa nyentuh Bianca kaya si bunglon Stella Mahendra, krn da Raditya, Kirana dan Aditama ...
mudah"an Kirana cepet tau dan mintol Radit buat kasih bodyguard jaga Bianca dari jarak jauh
Mukeseh
huuuu 😂😂semoga atrlan bisa mrlindu gi
Verawati Naycyl
gak sabar nunggu kelanjutannya thor....bakalan di apain Bianca sama Arlan..
Verawati Naycyl
lanjut thor..
Mundri Astuti
diihhhh Arlan, Gita atau Bianca ga terus terang itu krn privasinya, emang selama ini dia ngerugiin kamu kaya mantanmu itu...ngga kan
Sri Murtini
Arlan...siapapun Gita kamu harus hati " bikin dia nyaman disisimu jgn sampai lepas
Mukeseh
deg deg thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!