Vero terjebak dalam Time Loop. Dia adalah satu-satunya orang yang mengingat ledakan itu. Dia harus menemukan pelakunya, menjinakkan bom, dan menyelamatkan seisi kota Jakarta. Namun, takdir memiliki aturan main yang kejam: Setiap kali Vero gagal dan mati, waktu yang dimilikinya berkurang satu menit.
Loop pertama: 60 menit.
Loop kedua: 59 menit.
Loop ketiga: 58 menit.
Dengan waktu yang terus tergerus, Vero dipaksa belajar menjadi detektif, tentara, dan penyusup dalam hitungan jam yang berulang. Di tengah kepanikan massal dan teror psikologis, dia menyadari satu hal mengerikan: Pelakunya mungkin bukan orang asing, dan ledakan ini hanyalah permulaan.
Ketika hitungan mundur mendekati nol, Vero tak hanya bertaruh nyawa—dia bertaruh pada keberadaan itu sendiri.
Bisakah dia menghentikan kiamat kecil ini sebelum waktunya habis total?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tanty rahayu bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 8: DETIK YANG HILANG
07:08:05
Mata Vero terbuka.
Dia tidak bangun dari tidur. Dia bangkit dari kematian.
Otot-ototnya tegang, siap meledak dalam aksi. Dia tidak menoleh ke wanita tua. Dia tidak melihat ke arah Sarah. Dia tidak peduli pada pengamen atau anak sekolah.
Di kepalanya hanya ada satu warna: Kuning.
Vero melesat berdiri. Dia bergerak menyusuri lorong gerbong dengan kecepatan yang mengkhawatirkan penumpang lain. Dia menabrak bahu seorang pria pekerja kantoran tanpa meminta maaf.
"Woy! Jalan pakai mata!"
Vero tuli terhadap cacian itu. Dia sampai di ujung gerbong. Ibu perajut itu baru saja mengeluarkan benang dari tasnya. Gunting kecil yang berkilau ada di sana, di pangkuannya.
Vero menyambarnya. Gerakannya kasar, hampir melukai paha si ibu.
"Eh! Maling! Tolong!" teriak ibu itu histeris.
Teriakan itu memicu reaksi berantai. Beberapa pria di gerbong berdiri. Petugas keamanan di stasiun yang sedang dilewati mungkin akan mendengar keributan ini jika kereta tidak sedang melaju kencang di antara stasiun.
Vero tidak peduli. Dia sudah menjadi buronan di dalam lingkaran waktu ini.
Dia berlari menuju pintu penyambung ke Gerbong 4.
Napasnya memburu. Keringat dingin bercampur dengan sisa adrenalin kematian sebelumnya.
Merah salah. Biru salah. Kuning... tolong jadilah Kuning.
Vero menendang pintu penyambung hingga terbuka.
Suara benturan pintu membuat semua orang di Gerbong 4 menoleh, termasuk Pria Jaket Hitam.
Pria itu melihat Vero yang berlari ke arahnya dengan gunting teracung. Ekspresinya bukan takut, tapi waspada penuh. Tangan kanannya masuk ke saku jaket—memegang pemicu manual. Tangan kirinya bergerak ke saku dalam—mengambil pisau.
"Jangan bergerak!" teriak Pria Jaket Hitam itu, menarik perhatian penumpang lain. "Dia bawa senjata!"
Vero tidak berhenti. Dia tidak punya waktu untuk bernegosiasi. Dia tahu dia hanya punya jendela waktu sekitar 3 detik sebelum pria itu menekan tombol pemicu atau menusuknya.
Vero melempar tas ranselnya sendiri ke arah wajah pria itu sebagai pengalih perhatian.
Bruk!
Pria Jaket Hitam itu menepis tas Vero dengan tangan kirinya. Gerakan refleks yang fatal. Itu membuka celah pertahanannya.
Vero menjatuhkan diri, meluncur di lantai gerbong yang kotor. Dia mendarat tepat di depan tas hijau itu.
Tanpa ragu, dia merobek ritsleting tas itu. Kain kanvas robek, memperlihatkan isinya yang mematikan.
Empat kabel menatapnya seperti ular berbisa.
Merah (putus di ingatan).
Biru (putus di ingatan).
Kuning.
Hitam.
"MATI KAU!" teriak Pria Jaket Hitam, pisau sudah di tangan, siap menghujam punggung Vero.
Vero tidak melihat ke atas. Matanya terkunci pada kabel Kuning.
Guntingnya menutup.
Ceték.
Kabel Kuning terputus.
Vero memejamkan mata, menahan napas, menunggu api neraka menjilat wajahnya.
Satu detik.
Dua detik.
Tiga detik.
Hening.
Tidak ada ledakan.
Tidak ada panas.
Tidak ada rasa sakit tubuh yang terurai.
Jantung Vero berdegup liar. Berhasil?
Apakah dia benar-benar berhasil? Apakah kabel Kuning adalah pemutus arus utama?
Perlahan, Vero membuka matanya.
Pria Jaket Hitam itu berdiri mematung di atasnya, pisau masih terangkat di udara. Wajah pria itu pucat, matanya menatap ke dalam tas dengan ekspresi yang sulit diartikan—kaget, bingung, dan... takut?
Vero mengikuti arah pandangan pria itu.
Dia melihat ke kotak sirkuit digital pada bom itu.
Layar digital yang tadinya gelap (mati), kini menyala terang.
Angka-angka merah muncul, berkedip cepat dengan irama yang membuat darah membeku.
00:10
00:09
"Apa..." bisik Vero.
Pria Jaket Hitam itu mundur selangkah, menjatuhkan pisaunya. "Kau bodoh... Kau memicu Countdown darurat."
"Aku kira..." suara Vero tercekat.
00:08
00:07
Kabel Kuning bukan penjinak. Kabel Kuning adalah akselerator. Jika dipotong, bom akan masuk ke mode peledakan otomatis dalam 10 detik.
"LARI!" teriak Pria Jaket Hitam itu. Ironis. Sang pembom kini berteriak menyuruh orang lari dari bomnya sendiri. Dia berbalik dan mencoba mendobrak pintu gerbong yang tertutup rapat, melupakan misinya, dikuasai oleh insting bertahan hidup murni.
Penumpang lain mulai menjerit histeris melihat angka hitung mundur itu.
Kepanikan massal pecah. Orang-orang saling injak, mencoba menjauh dari tas itu. Tapi di dalam tabung logam yang melaju 80 km/jam ini, tidak ada tempat untuk lari.
Vero tetap berlutut di depan bom itu. Kakinya lemas. Dia tidak bisa lari.
Dia menatap angka itu.
00:05
00:04
"Merah jebakan. Biru jebakan. Kuning akselerator," gumam Vero, merekam data itu ke dalam otaknya yang hampir gila.
Dia menatap satu kabel terakhir yang masih utuh.
Hitam.
Biasanya Hitam adalah Ground. Netral.
Tapi di tangan perakit bom gila ini, apakah Hitam benar-benar jawabannya? Atau hanya bentuk kematian yang lain?
00:02
Vero mengangkat guntingnya lagi. Dia ingin memotong kabel Hitam sekarang juga. Mumpung dia masih punya 2 detik. Dia ingin tahu jawabannya sebelum mati.
Tangannya gemetar mendekati kabel Hitam.
00:01
Ujung gunting menyentuh isolator kabel hitam.
00:00
Terlambat.
Cahaya putih itu datang lagi. Menyapu keraguan, menyapu harapan, dan menyapu keberadaan Vero dari garis waktu ini.
Sentakan kasar.
Vero menarik napas panjang, paru-parunya terasa sakit seolah baru saja menghirup api.
Dia terbatuk keras, membungkuk memegangi lututnya. Air mata keluar dari sudut matanya—bukan karena sedih, tapi reaksi fisiologis murni dari tubuh yang menolak kematian berulang.
"Mas? Mas kenapa?"
Suara wanita tua itu terdengar jauh, seperti dari balik air.
Vero mengangkat kepalanya. Pandangannya berbayang.
Dia melihat jam tangannya. Jarum jam terlihat kabur, tapi dia tahu posisinya.
07:09:05.
Dia kehilangan satu menit lagi.
Dia kehilangan tiga nyawa karena kabel.
"Merah. Biru. Kuning," desis Vero, suaranya terdengar seperti geraman hewan yang terluka. "Semuanya salah. Semuanya bohong."
Hanya tinggal satu.
Hitam.
Tapi keraguan itu kini tumbuh menjadi monster di kepalanya.
Bagaimana kalau Hitam juga salah?
Bagaimana kalau memotong kabel bukan solusinya?
Bagaimana kalau ini teka-teki tanpa jawaban?
Vero tertawa. Tawa kecil yang kering dan mengerikan.
Penumpang di sekitarnya mulai menjauh, takut melihat pria yang tertawa sendirian dengan wajah penuh keringat dan air mata.
"Tinggal satu," bisik Vero. Dia menatap tangannya yang gemetar. "Tinggal satu cara untuk memastikan."
Dia harus memotong kabel Hitam.
Dan jika itu juga meledak... maka tamatlah riwayatnya. Dia akan kehabisan opsi. Dia akan kehabisan kabel.
Vero berdiri. Tapi kali ini, dia tidak berlari.
Langkahnya gontai. Bahunya turun. Beban dari 8 kematian menumpuk di punggungnya.
Dia menoleh ke arah Sarah. Wanita itu sedang mengetik, tidak sadar bahwa pria yang berdiri di lorong itu baru saja mati di depannya di masa depan yang batal terjadi.
"Sekali lagi, Sarah," batin Vero lelah. "Temani aku mati sekali lagi."
...****************...
...Bersambung.......
...Terima kasih telah membaca📖...
...Jangan lupa bantu like komen dan share❣️...
...****************...
about a time,project almanac ,edge of tomorrow,the butterfly effect,until dawn dsb...time loop sendiri didunia nyata mustahil terjadi ..🤔🤔🤔